Hilang Arah

1074 Kata
“Lubna, tunggu!” Sonia berteriak memanggilnya. Langkah gadis Sunda itu tak sedetik pun terhenti; meninggalkan lokasi diselenggarakannya peragaan busana koleksi beberapa desainer ternama di Indonesia. Lubna menjadi salah satu tamu undangan, bersama kedua sahabatnya yang sudah datang lebih dulu. Berurai air mata dia mempercepat langkah. Sonia terus mengejar. “Na, kita harus bicara ... aku mohon!” ujarnya saat berhasil menghalau jalan Lubna dan mencengkeram pergelangan tangannya. “Terima kasih, Mbak ... rasanya itu tidak perlu!” jawabnya, menatap nanar, menjauhkan tangannya dari perempuan itu. Lubna kembali lanjutkan langkah. Ponselnya terus berdering, Maria meneleponnya berulang kali. Namun, sama sekali tak diindahkan olehnya. “Na, aku mohon ...! Aku bisa jelaskan!” Lagi, Sonia berhasil mencengkeram pergelangan tangannya. “Cukup, Mbak! Jangan katakan apa pun lagi! Dasar pengkhianat!” teriaknya di depan wajah. “Aku bisa jelaskan, Na ...!” Terisak Sonia mengatakannya. Suara perempuan itu bergetar. Keduanya kini menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas. Lubna tidak peduli, dia terus meluapkan emosinya; memaki dengan kata-k********r. “Cukup, Lubna!” Tiba-tiba Arka muncul. Lubna menoleh, menatap nanar kepada pria yang begitu dicintainya. Sepanjang bersamanya, dia tidak pernah bersikap kasar. Pertama kalinya pria itu meninggikan suara. Lubna pun tersenyum getir. “Kamu bukan siapa-siapaku lagi, Na. Kamu sama sekali tidak berhak untuk marah, bahkan kecewa pun kamu tak berhak, Na.” “Ka ...!” lirih Sonia. Arka menoleh. “Kamu tidak perlu merasa bersalah, Son. Antara aku dan dia sudah tak ada hubungan apa-apa lagi.” Hati Lubna seperti tersayat sembilu mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut laki-laki yang selama lima tahun sempat menjadi pelanginya. “Salah satu penyesalan terbesarku adalah pernah jatuh cinta padamu, Mas.” Lubna lantas melirik Sonia, “dan aku bodoh sudah sangat percaya padamu, Mbak.” “Dasar w************n!” makinya kemudian. Tiba-tiba saja satu tamparan dilayangkan Arka dan mendarat di pipi kiri Lubna. “Arka!” teriak Sonia spontan. Lubna terdiam dengan tangan mengelus pipi yang terasa panas. Sonia lalu mendekat dan menanyakan kondisinya. Semua pasang mata menatap kepada mereka. Arka menatap sekitar dan menyadari semuanya. Dia raih tangan Sonia, tetapi perempuan itu menepisnya. “Na ... kamu baik-baik saja?” tanyanya, saat Lubna tak juga bergerak. Lubna langsung menepis tangannya, seraya menoleh. “Berhenti memasang topeng, Mbak! Berhenti pura-pura baik di depanku!” “Aku tidak bermaksud untuk ....” “Tidak perlu menjelaskan apa pun, Son. Kita pergi dari sini!” Arka meraih pergelangan tangannya, membawa Sonia pergi. Lubna menatapnya dengan perasaan berkecamuk antara marah, benci dan kecewa semua beradu jadi satu. Dia putuskan untuk pulang. Ponselnya kembali berdering. Puluhan panggilan dan pesan masuk dari kedua sahabatnya. Lubna hanya melihatnya, kemudian mematikan ponsel tersebut. Di antar taksi online Lubna pulang. Rencana untuk melihat pameran busana malam ini gagal, setelah tidak sengaja dia melihat Arka dan juga Sonia. Keduanya berjalan dengan jari-jemari saling bertaut; tidak menyadari ada seseorang tengah memperhatikan. Keduanya tampak serasi dengan pakaian senada berwarna hitam Mereka rupanya datang atas undangan penyelenggaraan acara. Lubna masih berdiri di belakang mereka saat itu. Seorang perempuan bertubuh jangkung, tampak elegan dengan gaun hitam tanpa lengan yang melekat menutupi tubuh indahnya. “Terima kasih, sudah berkenan untuk datang Pak Dokter,” ujarnya tersenyum ramah. “Suatu kehormatan bisa diundang diacara sehebat ini. Perkenalkan, ini Sonia ... calon istri saya.” Kembali netra Lubna mengeluarkan cairan bening, tatkala mengingat semua yang dia lihat dan dengar saat itu. Sesampainya di rumah, Lubna langsung pergi mengurung diri di dalam kamar. Perempuan itu frustrasi. Kembali hatinya patah dan hancur. Di lantai, dengan bersandar pada meja, Lubna duduk sembari memeluk lutut. Matanya mulai terpejam beberapa saat. Bayangan itu kembali hadir dan dia membencinya. Lubna berteriak histeris; melempar barang-barang di sekitarnya. Dia seperti seorang yang hilang separuh warasnya; menangis tanpa henti. Semua amarahnya tumpah malam itu. Tiba-tiba saja ide gila melintas dalam benak Lubna. Perempuan itu bangkit mencari sesuatu yang tajam. Didapatinya silet di dalam laci. Tubuhnya kembali terduduk di lantai. Benda tajam itu perlahan digoreskan pada sekitar pergelangan tangan. Dia gigit bibir bawah untuk menahan sensasi perih yang mulai terasa. Setelah merasa puas, mata Lubna kembali terbuka menatap kosong ruangan gelap yang hanya bercahayakan sinar yang menembus celah ventilasi. Seketika hatinya merasa lega setelah melakukannya. Meski harus merasakan sakit dan perih ulah sayatan pisau kecil itu. Noda merah itu menghiasi lantai, pada gamisnya juga. Setelah tersadar, Lubna segera beranjak untuk membersihkannya. Di saat dirinya berada dalam kamar mandi, Maria dan Nusa pulang. Keduanya memanggilnya. Namun, dia tak merespons. “Ada suara air, itu artinya Lubna ada di dalam,” ujar Nusa. “Syukurlah dia baik-baik saja. Ya, sudah ... istirahat, yuk. Capek!” keluh Maria, lantas pergi kemudian disusul Nusa. Tanpa teras malam pun semakin larut. Lubna masih terjaga dengan sedih yang masih tersisa; kantuk tak juga datang. Di tempat tidur Lubna berbaring dengan posisi menyamping dengan keadaan kamar yang gelap. *** Keesokan harinya, di meja makan Nusa dan Maria sudah hampir menyelesaikan sarapannya. Namun, Lubna masih belum keluar kamar juga. Perempuan berjilbab moka itu merasa tak enak hati. Sejak semalam perasaan itu mengganggunya; membuat tidurnya tidak nyenyak. “Mar ... Lubna kenapa masih belum keluar kamar, ya?” “Paling juga dia masih siap-siap. Kamu tahu sendiri, ‘kan, kalau dia mandi dan dandan itu pasti lama,” jawabnya sembari mengunyah nasi goreng buatan Nusa. “Dia kemarin kenapa gak jadi datang? Apa dia baik-baik saja?” “Sudahlah ... nanti kita tanyakan. Kenapa dia tidak datang? Ayo, makan ... keburu macet nanti. Aku harus menemui suplier terus ngecek barang di gudang. Lubna, biar dia menyusul naik motor.” Nusa menyuapkan nasi dan mengunyahnya pelan. Pikirannya melayang jauh, memikirkan Lubna. Semalam perempuan itu tidak keluar kamar, padahal jelas kedua sahabatnya berulang kali mengetuk pintu dan memanggilnya. Tidak lama kemudian Lubna muncul, membuat Maria tersedak begitu melihatnya. “Minum, Mar. Kamu ini kenapa, sih?” Nusa serahkan air putih dalam gelas. Maria tidak menjawab. Pandangannya tak lepas tertuju kepada Lubna yang sesaat kemudian menarik satu kursi di samping Nusa. Perempuan berjilbab moka itu pun menoleh. Sepasang netranya membeliak. Sementara itu Lubna tetap memasang wajah datar; tidak peduli dengan reaksi kedua sahabatnya. Tangannya kemudian sibuk mengalas sarapan. Semenjak kehilangan Arka, perempuan itu seperti hilang arah dan tak b*******h. Dia lebih banyak diam, mudah marah, dan tidak lagi menampakkan keceriaannya. Suasana meja makan hening tanpa obrolan. Antara Nusa dan Maria, keduanya saling memandang. Maria melempar isyarat, agar dia tetap diam. Putri kedua dari tiga bersaudara itu hanya menatap Lubna dengan satu tangan terkepal
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN