Efek Patah Hati

2301 Kata
“Lubna tidak mengangkat, Bah,” ujar Husen. Sulaiman bergeming dengan wajah kencang. Kedua tangannya terkepal, berada di meja; di sisi kiri, Rukayah duduk bersandar dengan berurai air mata; di sampingnya ada Fatimah yang tak lepas mengenggam tangan wanita paruh baya itu; Hasan duduk di sisi kanan abah dan berhadapan dengan umminya; sedangkan Husen berdiri di antara abah dan saudara kembarnya, yang masih berusaha untuk menghubungi adik bungsunya. “Masih tidak diangkat,” ujar Husen lagi dengan suara lemah. “Anak itu sudah keterlaluan!” umpat Hasan, menggebrak meja. “Mungkin Lubna sudah tidur, Bah. Lagi pula ini sudah pukul sembilan.” Fatimah angkat suara, padahal dia tahu kalau Lubna selalu tidur di atas jam sepuluh malam. Pria bersorban putih itu menggeserkan kursi ke belakang, lalu bangkit. “Siapa di antara kalian berdua yang besok ada waktu luang?” “Hasan, besok tidak ada jadwal mengajar, Bah.” “Kalau begitu temani Abah ke Jakarta.” “Husen, ikut.” Lekas saudara kembar Hasan itu menyambung. “Ummi, juga ikut.” “Fatimah juga.” “Kalau begitu nanti aku minta Winda dan Teh Diana tetap di sini, Bah. Untuk jaga anak-anak dan urus pondok,” ujar Husen. “Iya ...! Istirahatlah. Kita berangkat selepas Subuh,” ujar Sulaiman dingin tak banyak bicara, lalu pergi. Selepas kepergian pria paruh baya itu, Rukayah bersama ketiga anaknya masih belum beranjak. Tangan ketiga anak itu kompak menggenggam tangan sang ibu. Pandangan wanita paruh baya itu kosong, pikirannya terus berkelana. “Mi, istirahat, yuk ...!” ajak Fatimah setelah beberapa saat. Rukayah menoleh. “Ummi, mau tidur bersamamu malam ini.” Fatimah melirik sang kakak bergantian. Keduanya memberi isyarat dengan memejamkan mata beberapa saat seraya mengangguk. “Ya, sudah ... ayo, Ummi.” Seperti yang dikatakan Sulaiman, selepas Subuh dia dan keluarganya berangkat dari Tasikmalaya menuju Jakarta untuk menemui sekaligus menjemput Lubna. Setelah melalui perjalanan panjang, tidak lama lagi mereka sampai. Husen yang mengambil alih kemudi, di sampingnya sang ayah duduk dengan wajah kencang; tangannya memegang tasbih; mulutnya tak hentinya mengucap dzikir. Di belakang, Rukayah duduk di antara Hasan dan Fatimah. Tatapannya kosong dengan kepala bersandar pada bahu sang putra dan kedua tangan berada dalam genggaman anak-anaknya. “A’, jam segini sepertinya Lubna juga masih di Butik. Kita menunggu di mana nanti?” tanya Fatimah melepas keheningan. Di balik kemudi, Husen melirik benda silver yang melingkar di pergelangan tangan. Kurang lebih satu jam lagi mereka sampai. Sulaiman yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. Pria paruh baya itu meminta putranya—Hasan—untuk menghubungi Nusa. Tak menunda lagi, segera Hasan menghubungi Nusa. Sang penerima panggilan terkejut, begitu melihat nama kakak sahabatnya berada di balik layar. “Siapa, Sa?” Maria bertanya begitu melihat air muka sahabatnya yang berubah menegang. Sepasang sahabat yang sedang berada di ruang produksi itu saling melempar pandang. Dahi Maria mengernyit. Disimpan gamis yang sebelumnya ditunjukkan Nusa kepadanya. Dia kemudian bergerak mendekat. Panggilan Hasan keburu berakhir. Tak lama ponsel perempuan asal Bogor itu kembali berdering. Perempuan Batak itu pun sedikit terkejut melihat nama Hasan tersemat di balik layar. “Angkat, Sa ... pasti penting.” Lekas Nusa menggeser gagang telepon hijau. Suaranya bergetar mengucap salam. Tidak lama panggilan itu berlangsung. Usai panggilan terputus, perempuan penyuka cokelat itu terdiam. “Ada apa, Sa? Apa kata kakaknya Lubna?” tanya Maria ingin tahu. “Mereka sedang dalam perjalanan ke sini ... sebentar lagi sampai,” jawabnya dengan lemas. “Di mana Lubna?” sambungnya bertanya. “Dia sepertinya masih melakukan pemotretan sama pembuatan video untuk kebutuhan promosi.” “Kalau begitu aku pulang duluan, ya. Jangan beritahu Lubna kalau keluarganya datang.” Nusa lekas pergi. “Eh, Sa!” Maria berteriak, tetapi tak diindahkan oleh sahabatnya tersebut. Di antar ojek daring Nusa pulang. Hatinya diselimuti gelisah. Kedatangan keluarga Lubna yang tiba-tiba, sudah pasti bukan tanpa alasan. Jalanan cukup padat, ditambah terik matahari yang begitu menyengat, membuat mojang Sunda itu tidak bisa tenang. “Pak, lewat jalan tikus. Di depan ada Gang Melati, lewat sana saja. Biar saya yang arahkan nanti,” ujarnya setengah berteriak. “Baik, Mbak,” balasnya yang juga berteriak. Sepuluh menit perjalanan, akhirnya Nusa tiba di depan rumah bercat hijau. Tempat dirinya dan kedua sahabat tinggal. Rupanya, sedan hitam sudah terparkir di depan rumah. Segera perempuan berlesung pipi itu menghampiri, setelah membayar ongkos ojek. Keluarga Lubna satu per satu turun, begitu mengetahui kedatangan Nusa. Bergantian perempuan itu menyalami mereka. Terakhir kepada wanita paruh baya berjilbab hitam yang terulur nyaris sejajar dengan gamis yang dikenakannya. Wanita tersebut menghambur dalam pelukannya. Teriris hati Nusa mendengar isak tangis wanita itu. Perlahan Nusa lepas pelukan wanita yang telah melahirkan sahabatnya. Jemarinya bergerak mengusap kedua pipi wanita yang sudah dia anggap sebagai ibu sendiri. “Silakan masuk.” Dituntun Fatimah dan Nusa, langkah Rukayah bergerak masuk. Disusul anggota keluarga lain. Suasana rumah begitu sepi, karena memang di sana hanya ditempati Lubna dan kedua sahabatnya. Tak lama setelah mempersilakan keluarga Lubna masuk, Nusa pamit untuk membuat minuman dan membawa makanan ringan untuk tamunya. Sulaiman duduk dengan masih memasang wajah tegang, di apit kedua putra kembarnya. Sementara itu Fatimah dan Rukayah duduk saling bersebelahan. Wanita empat anak itu tampak layu. Tatapannya masih saja kosong dan sendu. Hening menyelimuti ruang tamu. Pandangan Fatimah mulai berselancar, berhenti pada sebingkai potret adik kesayangannya bersama kedua sahabat. Mereka tampak ceria dengan senyum tiga jari. Dalam potret tersebut Lubna mengenakan jilbab biru dipadukan dengan celana denim dan juga atasan putih. “Maaf menunggu.” Nusa kembali dengan lima gelas berisi air jeruk dan beberapa makanan ringan, membuat perhatian Fatimah beralih kepadanya. “Terima kasih, Sa.” Fatimah mengatakan dengan senyumnya yang khas. Nusa kemudian mengambil duduk berhadapan dengan Rukayah dan Fatimah. Selama beberapa saat, masih belum ada obrolan sampai akhirnya sahabat dari Lubna itu mulai membuka suara dengan sedikit basa-basi, bertanya tentang kedatangan mereka. “Ada apa kalian datang?” Tanpa diduga Lubna datang. Semua pasang mata kompak mengarah kepada perempuan yang berdiri di ambang pintu. Satu tetes air mata Rukayah terjatuh tatkala melihat mahkota putrinya kini tergerai bebas, tanpa ada lagi jilbab yang menutupinya. Pandangan Sulaiman dan Hasan tajam dengan napas yang memburu. Sementara Fatimah dan Husen menatapnya berkaca-kaca. Setelah satu minggu, Lubna memutuskan untuk menanggalkan hijab yang selama ini menutupi mahkotanya, untuk pertama kali dia membagikan foto diri pada sosial media dengan rambut cokelatnya yang bergelombang dibiarkan tergerai. Dalam postingan tersebut dia tak memberikan keterangan apa pun. Baru beberapa menit diunggah, kolom komentar akun sosial media selebgram yang memiliki jutaan pengikut itu dibanjiri berbagai reaksi netizen; ada yang terang-terangan menghujat; menasihati; ada pula yang biasa saja dan mendoakan serta memberikan dukungan. Kabar tersebut akhirnya sampai kepada keluarga, setelah salah satu kerabat mengirimkan tangkapan layar kepada Fatimah tentang postingan Lubna. Husen yang pertama kali melihatnya. Seketika hati pria berwajah kalem itu hancur. “Na ... duduk dulu,” pinta Nusa setelah beberapa saat hening menyelimuti. Perempuan itu tidak merespons, dia seolah tak mendengar permintaan Nusa. Rukayah semakin berderai air mata, melihat sikap putrinya yang sama sekali tidak menghormati kedatangan mereka. Rukayah kemudian bangkit. Langkah lemahnya bergerak mendekat kepada sang putri bungsu. Tubuhnya hendak memeluk, tetapi Lubna segera menahannya. Pandangan keduanya saling bertemu. Semua orang membelalakkan mata saat melihat Lubna menolak untuk dipeluk wanita yang telah bertaruh nyawa untuknya. “Tolong, ajak mereka pulang, Mi.” Langkahnya kemudian bergerak hendak menuju kamar. Melihat sikap sang adik bungsu, Hasan bergerak cepat menghalau jalannya. Pria itu kemudian menyeret tangan Lubna dengan sedikit kasar. Sementara itu Fatimah lekas mendekat kepada umminya dan memeluk wanita itu yang menatap Lubna penuh luka. “Minta maaf pada Ummi sekarang juga!” bentaknya, masih belum melepaskan cengkeraman tangannya. “Lepas, A’ ... sakit!” pekiknya. “Minta maaf sekarang juga!” bentak Hasan tidak peduli dengan racauan adiknya yang kesakitan. “Lubna minta maaf, Mi,” katanya tidak ikhlas. Hasan masih tak melepaskan cengkeramannya. Lubna pun memberontak. Husen tidak tahan melihatnya kesakitan. Pria itu meminta sang saudara kembar untuk melepaskan adik bungsunya. Namun, permintaan itu sama sekali tidak diindahkan olehnya. Sementra itu, Nusa menatap nanar kepada sosok sang sahabat. Cinta telah mengubah banyak hal pada diri sahabatnya itu; dia semakin liar dan melampaui batas, hingga tidak lagi menghiraukan ajaran agamanya sendiri. Tidak ada lagi rasa hormat yang dia tunjukkan kepada kakak dan orang tuanya. “Lepaskan dia.” Sulaiman yang sejak tadi diam akhirnya bangkit, bergerak mendekat kepada putrinya. Pria yang rambutnya kian memutih itu, merasakan sesuatu seperti menghantam dalam rongga d**a. Pandangannya menatap Lubna dari ujung kaki hingga kepala. Berakhir menatap wajahnya dingin, dengan cairan bening tergenang di pelupuk mata. “Lepaskan!” pinta Sulaiman sekali lagi, kemudian menoleh kepada Nusa, “Sa ... apa boleh Aang pakai ruangan sebelah untuk bicara dengan Lubna?” “Tentu saja, Ang.” “Kalian semua tunggu di sini. Abah, ingin bicara berdua dengannya.” Sulaiman meraih tangan putrinya; mengajak anak gadis itu untuk menuju ruang tengah yang sekaligus menjadi ruang TV. Di ruang tersebut hanya ada satu sofa panjang yang menghadap TV. Sepasang ayah dan anak gadis itu duduk saling berdampingan. “Kamu kenapa melakukan ini, Lubna?” tanya Sulaiman dengan suara berat, tanpa basa-basi, dan menatap sang putri penuh kecewa. “Apa kamu tahu ... semua ini sungguh sangat melukai hati Abah dan juga Ummi.” Lubna mengunci mulutnya rapat-rapat. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Hanya Sulaiman yang bicara, meluapkan segala bentuk kecewa. Namun, gadisnya itu seolah tidak mau peduli. Dia seolah tuli. “Apa kamu sama sekali tidak memikirkan perasaan kami ... saat kamu memutuskan semua ini?” Suara Sulaiman kini bergetar. “Abah, tidak perlu lagi campuri urusan Lubna. Apa pun yang Lubna lakukan ... Abah, tidak berhak untuk mengaturnya.” Akhirnya Lubna membuka suara. “Jelas Abah berhak!” Sulaiman berdiri, “kamu adalah putri, Abah. Sebelum kamu menjadi seorang istri ... sepenuhnya Abah yang bertanggungjawab atas dirimu!” Setiap kalimat yang keluar dari mulut pria empat orang anak itu penuh dengan penekanan. Lubna lantas tertawa kecil, menanggapi ucapan abahnya. Dia pun turut berdiri. “Bukankah Lubna sudah bukan lagi bagian dari keluarga Abah?” Semakin berani saja Lubna menatap abahnya tanpa rasa hormat. “Kamu yang memutuskan untuk meninggalkan rumah!” “Tanpa api ... mustahil asap itu ada, Bah!” “Berhenti untuk bersikap keras kepala. Segera kemasi pakaianmu dan ikut Abah pulang!” Nada bicara Sulaiman tegas dan dingin. Lubna tertawa kecil; menunduk beberapa saat; kemudian menatap abahnya getir. “Pulang? Rumah inilah tempat Lubna pulang, Bah. Sampai kapan pun ... Lubna tidak akan menginjakkan kaki di rumah Abah lagi. Bukankah itu yang Abah mau?” Sulaiman terdiam. Memori tentang pertengkarannya dengan Lubna kembali berputar dan membuat dadanya sesak. Segera pria itu menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Kemasi pakaianmu dan jangan mendebat!” tegasnya kembali, menghiraukan ucapan Lubna, lalu mulai melangkah. “Jangan pernah berharap kali ini Lubna akan mengikuti kemauan Abah!” Langkah Sulaiman otomatis berhenti. Lubna menatap abahnya yang berdiri membelakangi. “Kalau ingin pergi ... silakan pergi! Lubna tidak pernah meminta kalian untuk datang, apalagi meminta untuk dijemput pulang!” “Beraninya kamu bicara seperti itu kepada Abah!” Hasan yang sejak tadi diam-diam menguping obrolan mereka, datang dengan emosi yang memuncak. Dia hendak menghampiri adiknya. Namun, Sulaiman menahannya. Sejak tadi dia sudah menahan emosi. Kali ini emosinya tak bisa lagi ditahan. “Biarkan Hasan beri dia pelajaran, Bah!” “Tahan emosimu! Kita bicarakan semuanya baik-baik!” Husen turut menahannya. “Jika kalian datang hanya untuk mengomentari keputusanku, sebaiknya kalian pulang!” Tanpa punya hati, Lubna mengusir keluarganya sendiri. “Apa tidak sedikit pun kamu merasa bersalah, Lubna?” bentak Hasan. “Sejak dulu di mata kalian Lubna memang selalu salah, bukan? Ini hidup Lubna ... kalian tidak perlu ikut campur dan mengurusi lagi.” Pertengkaran kembali terjadi di depan mata. Rukayah kemudian bangkit, berusaha meredam emosi putri bungsunya yang mulai meledak-ledak. Namun, hati Lubna seolah sudah tertutup. Dia pun tidak ingin mendengarkan ucapan dan nasihat wanita yang telah bertaruh nyawa, demi dirinya bisa bernapas di dunia ini. “Cukup, Mi ... jangan menjual air mata untuk membuat Lubna bersedia menuruti keinginan kalian! Lubna capek dengan semua drama keluarga ini. Sudah cukup kalian hancurkan kebahagiaanku.” Pandangannya kemudian mengarah kepada Sulaiman, “gara-gara Abah ... Lubna harus kehilangan laki-laki yang Lubna cintai!” “Hanya karena kehilangan laki-laki itu kamu rela menggadaikan agamamu dan bersikap seperti ini pada keluargamu sendiri, Lubna?” Bara dalam hati Hasan semakin menyala. Sulaiman hanya diam, memandangnya dengan tangan terkepal. Pria itu sedang berusaha mengendalikan emosinya. Di sampingnya, Husen berdiri berusaha menenangkan. “Cukup, A’! Aa, sama saja seperti Abah! Kalian egois dan tidak pernah mau memahami apa yang Lubna inginkan! Aku minta kalian pergi dari sini” “Na! Jangan keterlaluan seperti ini!” Nusa pun turut bersuara. “Jangan pernah ikut campur lagi urusanku, Sa.” Tubuh Rukayah melemas; cairan bening dalam netranya semakin tak bisa lagi dibendung. Melihat Lubna saat ini, dia seperti tidak mengenalinya. Banyak sekali yang berubah dari gadis manisnya, sampai wanita itu asing melihatnya. Rukayah nyaris ambruk, bersyukur Husen sigap menangkapnya. “Baiklah.” Sulaiman kembali bicara. “Kami akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi. Lakukan apa pun yang kamu mau, Lubna. Apa pun itu ... Abah, berjanji tidak akan pernah mencampurinya lagi. Kami pun tidak akan mengharapkan kepulanganmu lagi ... sekalipun saat Allah memanggil Abah atau ummimu nanti,” imbuhnya. “Ayo, Mi ...!” Sulaiman memeluk istrinya dari samping. Langkah berat keduanya berjalan pasrah diiringi isak tangis Rukayah, disusul ketiga putra dan putrinya. Nusa mematung menatap kepergian orang tua yang dia anggap seperti orang tuanya sendiri. Bersamaan dengan kepergian mereka, Maria datang. Tubuhnya mematung di ambang pintu. Sementara Lubna, dia pun terdiam dengan pandangan tak terfokus. Napasnya pun tidak beraturan. “Aku kecewa, Na ... aku benar-benar kecewa dengan sikapmu! Suatu saat kamu akan menyesal!” Nusa mengatakannya tepat di depan wajah Lubna. Tak lama dari itu dia pergi, kemudian disusul Maria.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN