“Na!” Nusa berteriak di depan pintu kamar sahabatnya.
“Lubna!” Gedoran di pintu itu semakin kencang.
Di dalam kamar, Lubna melangkah malas untuk membuka pintu. Wajahnya datar menatap Nusa yang sorot matanya dipenuhi kecemasan.
“Ada apa?” tanyanya dingin.
“Ummi kamu sakit, Na. Teh Fatimah berusaha menghubungimu, tapi katanya tidak bisa.”
Lubna mematung dengan pelupuk mata tergenang. Jelas tidak akan bisa, semua akses komunikasi dirinya dan keluarga sengaja dia putus dengan cara memblokir semua kontak keluarga.
“Na ... ayo, siap-siap! Aku dan Maria antar kamu pulang. Mumpung masih jam segini juga. Biar aku minta tolong sopir gudang buat antar kita.”
“Tidak perlu, Sa. Aku akan tetap di sini.”
Kontan saja Nusa membeliak, menatapnya tidak percaya. Seegois itukah sahabatnya? Sekeras itukah hatinya? Sampai mendengar kabar ibunya sakit pun, dia tetap memikirkan egonya.
“Kamu keterlaluan, Lubna! Ummi itu sakit dan kamu seolah tidak peduli?”
Lubna tertawa sinis. “Apa ada di antara mereka yang peduli terhadapku saat ini?”
“Jangan pernah menyalahkan siapa pun, Na. Apa selama ini kamu menghargai orang-orang yang peduli terhadapmu? Tidak, bukan? Semua ini juga terjadi, karena kamu yang bodoh ... selalu menuhankan perasaanmu!” Penuh emosi Nusa mengatakannya.
“Kamu korbankan semuanya, demi laki-laki itu! Kamu tinggalkan Tuhanmu ... yang memberikan kamu kehidupan dan semua nikmat yang kamu terima. Kamu tinggalkan keluargamu ... tinggalkan orang tua yang mencintaimu bahkan sejak kamu belum terlahir di dunia ini! Seperti ini cara kamu membalas semuanya?” Napas Nusa naik turun dan dia begitu emosional.
“Aku bukan robot yang bisa mereka atur dan kendalikan sesukanya. Aku berhak menentukan pilihan, bahkan untuk siapa pun yang ingin aku cintai!”
“Laki-laki yang menolak mencintai dengan jalan legal, tidak patut untuk diperjuangkan. Seharusnya kamu sadar itu, Lubna!” Penuh emosi Nusa mengatakannya.
Lagi-lagi antara dirinya dan Lubna terlibat adu mulut. Tangis keduanya pecah, bersama amarah yang meledak-ledak.
“Stop! Nusa! Lubna!” Maria yang baru saja pulang, langsung menengahi.
“Kalian bisa enggak, sih, sehari aja jangan berdebat! Ada apa lagi? Kenapa lagi?”
“Sahabat kamu itu memang keterlaluan, Mar ... hati dan nuraninya sudah mati, sampai-sampai umminya sakit pun dia tidak peduli!” ucap Nusa begitu menusuk.
“Umminya Lubna sakit?”
Maria baru tahu, karena memang Nusa belum memberitahunya. Dia pun terkejut mendengarnya, lantas mengajak keduanya untuk segera bersiap pergi.
“Aku sudah mengajaknya, tapi perempuan ini menolak, Mar.” Pandangan Nusa tajam mengarah kepada Lubna.
Sesaat kemudian terdengar suara nyaring berasal dari ponsel milik Nusa. Perempuan itu menepi, meninggalkan kedua sahabatnya. Tidak lama dari itu Lubna juga pergi.
Esok harinya, Nusa sudah siap untuk pergi. Bukan bekerja, dia akan pulang. Semenjak Lubna patah hati, dia dan Maria terkena imbasnya juga. Pekerjaan jadi menumpuk dan mereka tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Mereka jadi sulit meluangkan waktu untuk pulang dan bertemu keluarga.
“Sa, sarapan dulu. Aku udah belikan kamu bubur.” Maria melongok di balik pintu.
Nusa yang tengah mengecek ulang barang bawaan menoleh sekilas. “Duluan saja, Mar. Nanti aku nyusul. Eh, nanti antar aku ke stasiun, ya.”
“Oke!” jawabnya sembari berlalu.
Tidak lama dari itu, Nusa datang dan langsung bergabung dengan Maria di meja makan. Tidak ada Lubna di sana. Dia sudah jarang sarapan bersama kedua sahabatnya. Baik Nusa maupun Maria sudah tidak ingin mempermasalahkannya lagi.
“Berapa lama kamu pulang, Sa?” tanya Maria di sela-sela sarapan.
“Tiga hari, paling lama satu minggu.”
“Omong-omong, bagaimana kondisi umminya, Lubna? Apa ada kabar terbaru?”
Spontan Nusa hentikan aktivitas makannya. Dia menggeleng. “Teh Fatimah belum kasih aku kabar lagi.”
Maria memutus obrolan. Dia melamun; memikirkan tentang umminya Lubna. Seketika dia teringat mendiang ibunya yang meninggal satu tahun lalu. Dalam hati dia berdoa, semoga yang menimpanya tidak akan pernah menimpa sahabatnya.
***
Pesan broadcast masuk dari grub alumni; pemberitahuan tentang sakitnya Rukayah. Husen yang mengirimnya. Pria itu meminta doa kepada para santri alumni untuk kesembuhan umminya yang kini dirawat di Rumah sakit.
Badar yang baru saja melakukan kunjungan kepada pasien terdiam usai membaca pesan tersebut. Pria itu semakin merasa bersalah. Sakitnya Rukayah adalah buntut panjang dari rencana perjodohan dirinya dan juga Lubna.
“Maafkan Badar, Ummi ...!” lirihnya berucap.
Pria itu lantas menghubungi ayahnya; meminta beliau untuk mengecek kondisi istri dari sahabatnya tersebut. Namun, amarah masih menggebu dalam hatinya. Pria paruh baya itu menolak dengan tegas.
“Bi, tolong ...! Turunkan ego, Abi. Pergilah untuk menengoknya. Lagi pula, Aang juga sahabat Abi. Lupakan semua masalah itu. Bukankah Abi selalu bilang, agar jangan sampai dalam hati kita menaruh dendam?”
“Hati Abi masih sangat terluka atas perlakuan putrinya Sulaiman. Sudahlah, lanjutkan pekerjaanmu. Abi ada keperluan lain. Assalamualaikum!”
Panggilan itu terputus begitu saja. Hati Badar tidak bisa tenang. Dia tiba-tiba terpikirkan tentang Lubna. Apa perempuan itu tahu kondisi umminya?
Saat ini pasti perempuan itu yang disalahkan atas kondisi Rukayah.
"Maafkan saya, Na ... karena sudah menyeretmu dalam masalah seperti ini." bisiknya dalam hati.
Sementara itu di lain tempat, Lubna disibukkan dengan berbagai aktivitas. Selain mengurus promosi, dia juga disibukkan dengan pembuatan video untuk iklan di sosial media miliknya.
“Na ... Ummi kamu masuk rumah sakit. Tadi Nusa telepon.”
Maria tiba-tiba datang membawa kabar buruk.
Lubna hanya diam tak bersuara. Namun, matanya yang berbicara. Genangan air di pelupuk matanya cukup menjelaskan seperti apa dia saat ini. Sisi lain hatinya ingin pulang dan memastikan kondisi umminya baik-baik saja. Namun, sisi hatinya yang lain kembali teringat ucapan Sulaiman.
“Na ... jangan sampai kamu menyesal. Manusia tidak akan hidup selamanya. Kita tidak pernah tahu kapan Tuhan memanggil untuk pulang.”
Sama sekali Lubna tidak merespons. Dia hanya duduk dengan pandangan hampa. Butiran kristal dalam netranya perlahan merambat turun, menyisakan genangan di pipi. Maria kemudian mendekat dan duduk di sampingnya.
“Aku tahu rasanya dipaksa berpisah itu seperti apa. Itu sebabnya aku tidak ingin menghakimi.”
Lubna masih bergeming. Hatinya dipenuhi dilema. Dia berpikir, mungkin untuk saat ini egois memang diharuskan untuknya, agar hatinya tetap terjaga dan tidak lagi terluka.
“Kisah cintaku jauh lebih tragis, Na. Kamu mungkin masih mengingatnya, Na.”
“Sampai detik ini ... rasa sakit itu belum menemukan obatnya. Aku juga masih berjuang, Na. Berusaha untuk berdamai dengan keadaan. Meski sulit ... aku harus menjalaninya. Begitu pun dengan kamu. Belajarlah berdamai dengan kondisimu saat ini.” Maria mulai menangis.
“Andai dulu aku mengikuti ego ... mungkin aku sudah kehilangan semuanya, termasuk keluargaku. Pulanglah, Na ... Ummi membutuhkanmu. Jangan sampai kamu menyesal.”
Maria adalah orang ke sekian yang mengatakan itu. Namun, alih-alih hatinya luluh, yang ada justru Lubna semakin yakin akan keputusannya. Jika dia pulang, bukan tidak mungkin mereka akan menahan dirinya untuk kembali.
“Maaf, Mar ... aku tidak bisa!” Lubna beranjak, meninggalkan Maria seorang diri.