Di saat semua orang larut dalam mimpi, Lubna masih terjaga. Jarum jam menunjuk angka satu. Kantuk tak juga datang. Perempuan itu duduk memeluk lutut, menghadap jendela yang sengaja dia biarkan terbuka; membiarkan udara dingin masuk dengan bebas.
Pikiran Lubna terus mengawang, memikirkan banyak hal; termasuk tentang umminya. Jauh dari lubuk hatinya, dia gelisah memikirkan wanita yang telah bertaruh nyawa untuknya.
Tiba-tiba saja suara pintu kamar dibuka kasar. Lubna menoleh sedikit terkejut. Maria berdiri di ambang pintu.
“Ada apa, Mar?” tanyanya.
Tidak ada jawaban dari Maria. Dia berjalan cepat dan langsung memeluk sahabatnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya kembali dengan wajah cemas.
“Kamu siap-siap, Na. Kita harus pergi sekarang,” jawabnya, perlahan melepaskan pelukan.
“Kamu gila, ya? Ini jam satu malam, Mar! Kita mau ke mana?”
“Ummi meninggal, Na ...!” Suaranya lirih dan bergetar menyampaikan kabar duka itu. Lubna mematung, cairan dalam netranya mulai berjatuhan. Tubuhnya perlahan melemas.
“Kami bohong, Mar! Bohong, 'kan?” tanyanya getir.
Maria hanya diam dengan kepala menggeleng pelan. Beberapa waktu lalu dia terbangun, lalu saat hendak melihat jam beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Nusa. Lekas dia membaca pesan tersebut.
Pukul sebelas malam Nusa berusaha meneleponnya. Tak juga diterima dia kemudian mengirimkan kabar tersebut melalui pesan. Maria tunjukkan pesan tersebut kepadanya.
“Katakan ... ini bohong ‘kan, Mar?”
Maria menggeleng. Lubna frustrasi, berharap itu semua hanya mimpi. Perlahan pandangannya kabur dan gelap. Lubna tak sadarkan diri.
“Lubna!” Maria memekik, lekas menghampirinya.
“Na, bangun!” teriak Maria berusaha untuk membangunkannya, dengan menepuk pipi sang sahabat pelan.
“Ya, Tuhan, Lubna ...!” Maria semakin panik.
Perempuan itu bangkit mencari minyak kayu putih. Dia usapkan di beberapa bagian tubuh sang sahabat, berusaha untuk membuat Lubna kembali sadar. perlahan sepasang netra milik sahabatnya itu terbuka.
“Kita pulang, ya,” bujuk Maria. Lubna masih belum memberikan respons; masih terduduk dengan pikiran kosong.
***
Setelah menempuh perjalanan panjang Lubna dan Maria akhirnya sampai juga. Setelah sekian lama, akhirnya perempuan itu kembali injakkan kaki di rumah masa kecilnya.
Ribuan orang memadati tempat tersebut. Langkah lemah Lubna menjadi pusat perhatian mereka. Semua pasang mata tertuju kepadanya. Kompak melayangkan tatapan terkejut melihatnya yang kini tak lagi berhijab.
“Ummi di mana, Kang?” tanyanya kepada Kang Apip, salah satu pengurus pondok.
“Di masjid, Teh,” jawabnya lemah.
Langkah Lubna bergerak cepat menuju masjid. Belum juga sampai seseorang menghentikan langkahnya.
“Mau ke mana kamu?” Suara dingin Sulaiman mengemuka.
Lubna putarkan badan. Berurai air mata dia menatapnya. “Lubna mau ketemu Ummi, Bah ...!”
“Pulanglah!” Sulaiman mengusirnya.
“Di saat seperti ini Abah mengusir Lubna?” Wajah Lubna kecewa dengan suara bergetar.
“Untuk apa kamu pulang? Dia sudah tiada! Kehadiranmu tidak lagi kami harapkan. Sebaiknya kamu pergi dari sini! Tidak ada lagi tempat untukmu di sini!"
Teriris Lubna mendengar ucapan sang ayah. Orang-orang di sekeliling mereka menatap kepada keduanya. Maria yang berdiri di samping Lubna, berusaha menenangkan dengan mengelus lembut bahu sang sahabat yang diam tak bersuara. Tak berselang lama pria paruh baya itu mendahului pergi menuju masjid.
“Jangan biarkan anak itu mendekat!” pesan Sulaiman kepada beberapa santrinya yang ada di luar masjid.
Bukan hanya Lubna, Maria pun merasakan sakit melihat sahabatnya mendapatkan penolakan. Namun, sikap Sulaiman dianggapnya wajar. Pria itu sudah pasti kecewa, karena saat istrinya sakit Lubna menolak untuk menjenguknya.
Kini hanya sesal yang perempuan itu rasakan. Andai tahu umminya akan pergi untuk selamanya, dia tidak akan keras kepala menolak saat itu. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Waktu yang berlalu tidak akan pernah bisa kembali.
“Masya Allah ... putri Ummi sudah semakin pintar baca Alqurannya ...!” Sekelebat bayangan tentangnya hadir kembali dalam benak Lubna.
“Kamu tahu, Nak ... kelak bacaan ini akan menolongmu. Ummi, doakan supaya nanti Lubna menjadi penghafal Quran, supaya di akhirat nanti kamu bangunkan istana untuk Ummi dan Abah,” sambungnya lagi kala itu, di tempat yang sama dengan saat ini dia berdiri.
Bayangan Rukayah pergi. Lubna masih belum beranjak, menatap layu ke arah masjid tempat jasad umminya berada saat ini.
“Kenapa kalian berdiri di sini? Ummi sudah dimakamkan?” Nusa baru saja tiba, dia datang bersama kedua orang tuanya.
“Belum, Sa. Jenazah umminya Lubna masih ada di masjid.” Maria yang merespons.
“Ya, sudah ... ayo!” ajak Nusa kemudian.
Maria lempar isyarat dan Nusa mengerti. Dia persilakan kedua orang tuanya untuk melayat lebih dulu. Sepasang orang tua itu lekas pergi.
“Na ...!”
Kompak ketiganya menoleh. Fatimah berjalan mendekat. Dijatuhkannya sang adik dalam pelukan. Tangis putri bungsu itu pecah dalam sekejap. Fatimah berusaha menenangkannya. Diajak dia untuk menuju rumah, tetapi Hasan tiba-tiba saja datang dan langsung menghalau mereka.
“Tidak ada lagi tempat untuk anak ini di sini!” ujarnya dengan tegas.
“A’ ...! Saat seperti ini tolong jangan saling egois. Lubna juga putri rumah ini.”
“Tidak lagi!”
Setelah Sulaiman, kini Hasan yang menolaknya; meminta gadis itu untuk pergi. Lubna terdiam dengan berurai air mata. Dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan.
“Setelah semua yang dia lakukan ... seharusnya dia malu untuk datang!”
“Tahan emosinya, A’ ... kita semua berduka saat ini. Termasuk Lubna.”
Emosi Hasan meledak-ledak. Dia kemudian menyeret Lubna keluar dari area pondok. Tindakan tersebut menyita perhatian semua orang yang ada di sana. Diempaskan tubuh Lubna begitu saja, membuatnya tersungkur.
“Pergi dan jangan pernah datang lagi!” tegasnya.
Hasan pergi. Nusa dan Maria lekas membantunya untuk bangkit. Semua terjadi karena keegoisan Lubna. Hanya sesal yang kini dia rasakan. Apa pun yang dia lakukan; sekeras apa pun dia berusaha melawan, tidak akan pernah bisa mengembalikan umminya.
Selepas Zuhur, jenazah Rukayah di kebumikan. Dari jauh Lubna menyaksikan proses tersebut. Tak hentinya dia menangis.
“Ikhlaskan, Na ... kamu masih bisa mendoakan Ummi, meski dari jarak jauh.” Nusa kembali membuka suara.
“Iya, Na ... jadikan ini semua pelajaran. Mulailah belajar menghargai apa yang kamu miliki. Mungkin ini juga teguran untukmu, Na."
Seketika Maria teringat momen saat dirinya harus kehilangan sang ayah. Dia hancur saat itu, sama seperti Lubna. Separuh hidupnya seperti mati. Itu juga yang Lubna rasakan. Terlebih dia harus kehilangan, di saat hubungannya dengan keluarga sedang tidak baik-baik saja.
“Kenapa Dia selalu merenggut kebahagiaanku dan membuatku kehilangan orang yang aku sayang?” Lubna putus asa.
Tidak ada lagi yang memberikan respons. Nusa dan Maria sengaja diam. Saat ini bukan waktu yang tepat menasihatinya. Mereka tidak ingin membuat Lubna semakin tertekan.
Tiba-tiba saja tanpa sengaja Maria menemukan keberadaan Arka dan Sonia. Keduanya memandang Lubna dari jauh. Maria memilih tidak memberitahunya. Entah sejak kapan mereka datang.
Sampai pemakaman selesai, baik Lubna maupun Nusa masih belum menyadari keberadaan Arka dan Sonia. Maria pun bersikap seolah-olah tidak tahu.