Tentang maut dan jodoh, tidak pernah ada yang tahu kapan akan datang. Untuk itu yang harus dilakukan adalah mempersiapkan dan memantaskan diri.
***
Berangsur pelayat pergi. Hanya tinggal Sulaiman di sana. Pria itu berjongkok dengan satu tangan berada di nisan yang bertuliskan nama sang istri. Perlahan jemarinya bergerak membelai dengan lembut. Mulutnya terkunci; sinar di matanya redup, mengisyaratkan kehilangan yang teramat dalam.
Nyaris empat puluh tahun Sulaiman dan Rukayah menikah. Pahit getirnya kehidupan sudah mereka lalui bersama. Kini, pria itu harus melepasnya hidup dalam keabadian.
Dari jauh, Lubna masih mengamati dengan pipi yang sudah kembali basah. Tidak lama dari itu Sulaiman bangkit dan berikan kecupan pada nisan sang istri. Langkahnya kemudian bergerak pergi.
Usai dipastikan Sulaiman pergi, Lubna bergerak mendekati gundukan tanah yang masih basah. Di dalamnya terkubur jasad sang ibu, yang tidak sempat dia temui di detik-detik terakhirnya. Sesal teramat dalam memenuhi ruang hatinya. Lubna pun kembali terisak.
“Na ... tahan jangan sampai air matamu tumpah. Itu bisa memberatkan Ummi.” Nusa mengingatkan.
“Seharusnya aku ikuti kata-katamu waktu itu, Sa ... seharusnya aku pergi temui Ummi.” Lubna menyesal.
Maria kemudian genggam tangannya dan mengelus lembut punggung tangan sang sahabat. Kehilangan ibu seperti kehilangan cahaya kehidupan. Sakitnya sudah pasti tidak ada duanya. Dia sudah merasakan kehilangan salah satu dari orang tuanya dan sampai saat ini luka itu masih pekat, meski berusaha untuk tidak dia ingat-ingat.
“Kita tidak bisa melawan takdir, Na ... apa yang terjadi itu kuasa-Nya. Jangan meratap seperti ini. Insya Allah Ummi mendapat tempat terindah di sisi-Nya. Dia orang baik ... ibu dan istri yang luar biasa hebat.” Lagi Nusa berusaha menguatkan.
“Tuhan terlalu menyayangi ummimu, Na. Itu sebabnya Dia bawa Ummi pergi.” Maria menambahkan.
Lubna meremas ujung bahunya. Selama ini dia telah mensia-siakan waktu bersama wanita yang telah bertaruh nyawa untuknya. Hal yang paling dia sesali adalah ketika pertengkaran itu terjadi. Kalimat kasar dia ucapkan kepadanya, padahal selama ini wanita itulah yang selalu berada di garis terdepan untuk membelanya dari sang ayah.
Saat ini Lubna sadar, waktu tidak akan pernah terulang dan ibunya tidak akan hidup selamanya. Bagaimana bisa dia bodoh membuang waktu berharga bersamanya, hanya karena ego yang menguasai diri.
Di tempat lain—masih di tempatnya berdiri—Arka dan Sonia menatap Lubna dari jauh. Tubuh pria itu terpasung, tak sedikit pun bergerak. Sonia kemudian menoleh. Duka mendalam dia rasakan, ketika melihat sorot matanya.
“Kembalilah pada Lubna, Ka. Dia membutuhkanmu.”
Arka menoleh. “Aku mencintai Lubna, Son ... tapi aku juga mencintaimu.”
Sonia tarik satu sudut bibirnya. “Untuk apa kita sama-sama, kalau nyatanya hatimu tidak bisa beralih darinya? Untuk apa kita sama-sama, kalau nyatanya hubungan kita membuat hati yang lain terluka? Aku lebih bahagia, jika melihatmu dan dia kembali bersama.”
Arka bungkam. Tak bisa menjawab lagi. Dia memang egois dan sangat egois. Dia tidak ikhlas kehilangan Lubna, tetapi tidak sanggup meninggalkan Sonia. Hatinya sakit melihat Lubna terpuruk seperti itu, sama sakitnya ketika dia harus melihat Sonia terluka, karena menjadikannya yang kedua.
“Lubna sudah mengorbankan semua demi kamu, Ka. Lihat dia ... betapa hancurnya dia saat ini. Dia kehilangan banyak hal dan kini dia harus kehilangan umminya. Apa tidak sedikit pun kamu merasa bersalah terhadapnya?”
“Aku tahu ... itu sebabnya aku pergi. Dia layak mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku. Laki-laki yang bisa mencintainya dengan sepenuh hati. Bukan yang hatinya terbagi sepertiku.”
Sonia tahu ini pun berat untuk Arka, karena itu juga berat untuknya. Dia telah terjebak oleh cinta atas nama janji. Hubungan itu sangat melelahkan baginya, karena bertahan maupun berpisah sama-sama menyakitkan.
“Sebaiknya kita pulang!” Arka putar badan, meninggalkan pemakaman tanpa menemui mantan kekasihnya.
“Kamu ingin pergi tanpa menemui Lubna ataupun keluarganya?” Sonia menyusul, menyejajarkan langkah.
“Ka, tujuan kita datang untuk menemui mereka. Setidaknya sampaikan ucapan duka pada Lubna.”
“Jika aku temui Lubna atau keluarganya ... itu hanya akan menambah masalah baru, Son. Aku tidak ingin itu terjadi, apalagi harus kembali membuat Lubna terluka.”
“Lantas untuk apa kamu memaksaku dan mengajak ke sini? Jika untuk menghadapi mereka saja kamu tidak punya nyali!”
Arka menghiraukan pertanyaannya. Dia memang tidak memiliki nyali untuk bertemu Lubna, apalagi keluarganya. Dia memang pengecut. Langkahnya mulai bergerak pergi. Sonia terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya dia menyusul pergi.
Usai kepergian Arka dan Sonia, di dekat pusara Maria menoleh dan tidak mendapati Arka di tempat pria itu mengamati mereka. Pandangan gadis itu beredar, mencari sosoknya. Namun, tidak dia temukan jejaknya.
“Seharusnya kita tidak perlu buang-buang waktu untuk datang ke sini.” Sonia kembali bersuara, sesampainya di dalam mobil.
Mobil yang dikendarai Arka melaju tinggalkan pemakaman. Pria itu tak menanggapi ucapan sang kekasih. Dia fokus pada kemudi. Di tepi jalan, Lubna berdiri, menatap kepergian mobil hitam milik sang mantan kekasih. Maria dan Nusa memeluknya dari samping.
“Dia datang, tapi tidak menemuimu. Dasar pengecut,” maki Nusa, memasang wajah kesal.
“Sudahlah lupakan. Jangan bahas apa pun tentang dia untuk saat ini.” Maria menghentikan obrolan, dia tidak ingin Lubna terus terpikirkan tentang pria itu.
“Kamu mau ketemu abahmu dulu, Na?” tanyanya kemudian.
Lubna menggeleng. “Kita pulang saja.”
Perempuan itu pergi lebih dulu, melangkah dengan sendu. Kedua sahabatnya lekas menyusul. Di dalam mobil, Lubna kembali melamun, dengan perasaan yang berkecamuk dalam d**a. Lagi, cairan bening dalam netranya terjatuh. Bayangan tentang Rukayah kembali muncul dalam benaknya; tentang pertengkaran itu, semua terputar secara otomatis.
Maria mulai melajukan roda empatnya. Di balik kemudi, dia dan Nusa sesekali menengok Lubna melalui kaca spion. Wajah cantiknya tak b*******h, penampilan yang biasanya rapi pun, kini berantakan. Tidak mencerminkan Lubna yang selalu ingin terlihat sempurna.
Tentang maut dan jodoh, tidak pernah ada yang tahu kapan akan datang. Untuk itu yang harus dilakukan adalah mempersiapkan dan memantaskan diri. Nusa pun menghela napas, mengingat nasihat umminya.
***
“Jadi, Ummi dan Abi memintamu pulang untuk membahas perjodohan?” Maria memastikan, di tengah makan siangnya bersama Nusa.
Nusa mengangguk dan menceritakan semuanya. Dia sudah setuju dengan rencana perjodohan itu. Jika tak ada aral melintang, bulan depan kedua belah pihak akan bertemu.
“Jadi kalian belum pernah bertemu sekali pun?”
“Tapi dia sudah tahu aku ... lewat foto yang Abi tunjukkan.”
“Kamu sendiri?”
“Aku sengaja tidak ingin melihat fotonya. Biarlah aku menerima dia apa adanya, bukan karena fisik semata. Aku yakin, dia adalah jawaban untuk doa yang setiap malam aku pinta, Mar.” Nusa mengambil jeda sebelum melanjutkan bicara.
“Setelah membaca CV tentang pria itu ... aku semakin yakin. Tidak ada alasan untuk aku menolaknya. Berdasarkan syariat agamaku, dia sudah masuk dalam kriteria, meski aku tidak pernah tahu seperti apa rupanya," imbuhnya lagi.
Senyum Nusa mengembang, dengan pandangan menerawang. Belum pernah Maria melihatnya seperti itu. Dia persis seperti seorang yang sedang jatuh cinta. Ironi memang, satu sisi sahabatnya—Nusa—sedang berbahagia, di sisi lain Lubna merasakan sebaliknya.
“Semoga dia memang yang terbaik untukmu, Sa. Aku bahagia ... kalau sahabat-sahabatku bahagia.” Maria mengutas senyum.
“Eh, tapi Mar ... jangan dulu beritahu Lubna, ya. Rasanya tidak pantas memberikan kabar bahagia di tengah dia yang sedang berduka.”
Maria mengangguk pelan. “Iya, Sa ... mana tega aku bilang ini sama dia.”
Sudah satu jam lebih mereka bicara. Hari ini Lubna tidak pergi bekerja. Pasca ditinggal umminya, perempuan itu membutuhkan waktu untuk bisa pulih. Nusa dan Maria tidak ingin membebaninya dulu dengan pekerjaan. Setidaknya sampai kondisinya jauh lebih baik.
Entah berapa lama Lubna akan kembali pulih. Duka karena kehilangan tidak akan bisa sembuh begitu saja. Itu yang Maria rasakan sampai saat ini, setelah ditinggal sang ayah.