“Kamu kenapa gak bilang, sih, kalau mau menikah?” tanya Lubna di sela makan malam.
“Bukan gak bilang, Na ... aku hanya menunggu waktu yang tepat. Kamu masih berduka, apa pantas aku sampaikan kabar bahagia ini?”
Lubna hanya tersenyum. Selama ini dia terlalu sibuk dengan patah hatinya, sampai nyaris membuat hubungannya dengan Nusa ikut hancur. Selama ini kepedulian perempuan itu membuatnya geram dan salah paham. Kini dia sadar, sikap Nusa seperti itu karena dia sayang dan peduli terhadapnya.
“Aku minta maaf, ya ... akhir-akhir ini hubungan kita tidak baik, karena keegoisanku.”
“Aku juga minta maaf, karena selalu menghakimimu, Na.”
Maria tersenyum melihat keduanya yang saling menyadari kesalahan. Hubungan persahabatan sama seperti hubungan lainnya, tidak selalu berjalan mulus dan saling beriringan. Sering kali perdebatan dan salah paham itu terjadi. Namun, itu semua timbul karena rasa peduli.
“Kemarin aku sudah memberikan jawaban lewat Abi ... kalau aku bersedia menerima pinangannya. Rencananya, lusa akan ada pertemuan antara keluargaku dan keluarganya. Kalian ikut, ya.”
“Tentu saja,” ujar Lubna.
“Dengan senang hati, Sa.” Maria menyambung.
Esok paginya, ketiga sahabat itu pergi menuju rumah Nusa di Bogor. Ini adalah kali pertama Lubna datang dengan penampilan barunya. Meski sudah mengetahuinya melalui cerita Nusa, tetap saja penampilan Lubna tanpa hijab membuat kedua orang tua dan saudara Nusa terkejut.
“Apa kabar, Na?” Asyiah—ummi Nusa—membelai wajah Lubna dengan mata menahan tangis.
“Baik, Ummi.”
Seketika Lubna terisak dan langsung memeluknya. Asyiah sudah seperti ibunya sendiri. Hubungan keduanya juga lekat. Pelukan dan belaian jemari wanita itu di kepalanya, membuat hati Lubna seketika menghangat. Dia seperti merasakan kembali hadirnya sang ibu.
“Maaf ... kemarin Ummi dan Abi tidak bisa datang melayat.” Asyiah usap pipi Lubna yang basah, “kuat, ya. Kamu pasti bisa melewati semua ujian ini, Na.”
“Ada tamu kenapa dibiarkan hanya berdiri di luar, Mi.” Hakim—abinya Nusa—tiba-tiba saja muncul.
Kedua sahabat Nusa itu kompak menyalami Hakim. Dipersilakan mereka untuk masuk. Nusa langsung mengajak ke kamarnya. Di ruangan bernuansa biru, Lubna langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Kamar itu rapi dan bersih, meski jarang ditiduri. Setiap hari Asyiah membersihkannya.
Kamar Nusa sangat sederhana, hanya ada datu tempat tidur berukuran 200 cm x 160 cm; lemari pakaian yang terbuat dari jati; rak buku tempat menyimpan koleksi novel dan buku lainnya; ada juga meja rias sederhana dengan ukuran minimalis yang terbuat dari kayu Jepara.
“Kalian mau makan dulu?”
“Tanya Lubna. Aku belum lapar. Ngantuk, pengin istirahat,” balasnya turut merebahkan tubuh di tempat tidur dengan kaki terjuntai menyentuh tegel merah.
“Ya, sudah ... kalian istirahat saja dulu. Aku mau bersihkan tubuh dulu. Sekalian mau salat Zuhur. Kamu salat, Na?”
“Aku masih masa haid, Sa. Kamu saja.”
Lubna berbohong. Padahal dia sudah bersuci sebelum pergi, karena memang masa haidnya sudah berakhir. Meninggalkan kedua sahabat, Nusa pergi membersihkan diri.
Sore hari di rumah Nusa ramai oleh sanak saudara. Mereka sengaja datang untuk membantu Asyiah menyiapkan segala keperluan untuk acara besok. Nusa pun turut terjun langsung membantu sang ibu.
“Lubna dan Maria masih belum bangun, Sa?” tanya Asyiah di sela-sela memasak.
“Belum, Mi. Selesai ini aku bangunkan mereka.”
Asyiah terdiam, memandang lekat gadis kecilnya. Dia kini telah tumbuh dewasa. Sebentar lagi statusnya bukan hanya seorang putri, tetapi juga seorang istri.
Waktu terasa berjalan cepat. Dua puluh empat tahun berlalu begitu saja. Rasanya baru kemarin dia berada dalam gendongan.
“Ummi, kenapa lihatnya seperti itu?”
Wanita berjilbab hitam itu tersenyum. Nusa mendekat kepadanya. Asyiah langsung menggenggam tangan sang putri.
“Terima kasih sudah hadir dalam hidup Ummi. Terima kasih sudah menjadikan Ummi sebagai ibu yang beruntung, karena memilikimu. Ummi, sayang sekali sama kamu.”
“Terima kasih juga sudah menjadi Ummi terbaik untuk kami, anak-anak kalian. Kami juga beruntung terlahir dari rahim wanita sehebat Ummi.”
Di ambang pintu dapur, Lubna berdiri; memperhatikan sepasang ibu dan anak tersebut. Lubna iri melihat mereka. Rindu itu pun kembali menyiksanya.
Beruntunglah yang masih memiliki orang tua utuh; terutama ibu. Bahagiakanlah mereka, karena keduanya tidak akan selamanya ada.
Lubna usap kedua pipi dan kembali ke dalam kamar. Di sana semua emosinya tumpah tercurahkan lewat tangisan.
“Kamu baik-baik saja, Na?”
“Aku rindu Ummi, Mar.” Tubuhnya menghambur dalam pelukan Maria.
“Berduka pasca kehilangan seorang yang paling berharga dalam hidup adalah hal yang wajar. Kamu pasti bisa melewatinya, Na.”
***
Tiba saatnya yang ditunggu oleh Nusa dan keluarga. Perempuan itu sejak tadi gelisah, menunggu kedatangan sang calon imam beserta rombongan keluarganya. Begitu mendengar derak kerikil di halaman rumah yang terinjak ban mobil, Nusa semakin tidak tenang. Tangannya dingin dan berkeringat.
“Tenang, Sa ... tarik napas dan buang pelan-pelan.” Maria kembali menenangkan.
Hakim menyambut hangat kedatangan mereka. Sesekali terdengar kelakar salah satu dari mereka, hingga akhirnya yang lainnya kompak tertawa.
Seseorang kemudian menemui Nusa dan kedua sahabat, meminta mereka untuk segera bergabung di ruang tamu. Tanpa mengulur waktu, diapit Lubna dan Maria perempuan itu berjalan menemui keluarga.
Begitu sampai tangan Lubna otomatis terlepas dari lengan Nusa. Tubuhnya mematung melihat keluarga calon suami dari sahabatnya. Pun dengan mereka yang terkejut melihatnya.
“Duduk di sini dekat Ummi dan Abi, Nak.” Asyiah menggeser tubuhnya dan Nusa mendekat dengan kepala tertunduk.
Lubna dan Maria lekas mengambil duduk dan acara pun langsung dimulai. Takdir selalu penuh dengan rahasia. Siapa sangka, pria yang sempat dia tolak lamarannya kini datang untuk melamar sahabatnya.
Selama acara berlangsung, fokus Lubna terpecah. Begitu juga dengan Badar. Sesekali dia mencuri pandang pada sosok yang saat ini hendak melamar sahabatnya. Ada perasaan aneh mencuat dalam hatinya, ketika Badar menyampaikan langsung niat baiknya untuk melamar Nusa dan perempuan itu menerimanya tanpa ragu. Resmi sudah keduanya saling terikat. Satu langkah menuju pernikahan telah terlewati.
Lubna pandangi wajah sang sahabat. Binar matanya cukup menjelaskan bahwa dia sangat bahagia.
Air muka Lubna tiba-tiba berubah. Nusa telah menemukan kapalnya untuk berlabuh. Sementara dia, kapalnya karam sebelum sampai pelabuhan. Bahagianya turut tenggelam, yang tersisa hanyalah kelam.
"Yaa, Allah ... kenapa Kau ambil semuanya? Apa tidak layak aku bahagia?" lirih suara hatinya berbisik.
Lagi, Lubna meratap dan menyalahkan takdir atas semua yang menimpanya. Sampai detik ini, sulit untuk dia berdamai dengan keadaan. Di tengah lamunan, diam-diam Badar memperhatikannya.
"Tidak ada duka yang bertahan selamanya. Suatu saat kamu akan temukan bahagiamu. Semoga Allah senantiasa melindungimu, Na ... dan menuntunmu kembali untuk istiqamah di jalan-Nya." Kalimat itu hanya terucap dalam hati.