Suatu saat cinta sejati itu akan hadir dalam hidupmu. Allah akan menggantinya dengan pria yang jauh lebih baik dari dia. Percayalah, semua luka dan air mata ini tidak akan bertahan lama. Saat kamu mulai kembali jatuh cinta. Satu hal yang harus kamu ingat ... libatkan Allah dalam setiap langkahmu.
***
Satu tamparan melayang tepat di wajah perempuan berambut hitam. Emosi Lubna tak bisa lagi ditahan. Tatapannya buas seperti hendak menerkam.
“Licik kamu, Mbak! Selama ini ternyata kamu ular!” makinya, berteriak.
Sonia berlinang air mata, menatapnya. Seseorang melingkarkan lengannya di bahu perempuan itu. Semua pasang mata tertuju kepada mereka. Orang-orang berkerumun di Alba Kafe.
“Maaf, ya ... kalau mau menyalahkan, seharusnya salahkan Arka bukan Sonia.”
“Kita sama sekali tidak punya urusan! Jadi, jangan pernah ikut campur!” tegasnya menekankan.
“Kita memang tidak memiliki urusan, tapi siapa pun yang mengusik Sonia ... berhadapan dengan saya!”
Perempuan yang bersama Sonia itu menoleh sekitar, lalu tersadar kini mereka jadi pusat tontonan. Ditariknya tangan Sonia. “Ayo, Son! Sebaiknya kita pergi dari sini!”
Tanpa mengatakan apa pun Sonia pergi dengan langkah sendu. Sementara itu, Badar tiba-tiba muncul di hadapannya. Sejak tadi dia turut menyaksikan pertengkaran itu.
“Duduklah dan istigfar."
Lubna terduduk di tempat Sonia, dengan napas yang memburu. Pria itu memanggil pelayan kafe untuk membersihkan meja bekas pakai Sonia dan temannya. Badar kemudian duduk di depan Lubna yang emosinya masih belum stabil.
"Diminum dulu, Na ... Biar hatimu lebih tenang," ujarnya, menyerahkan segelas minuman teh yang dia pesankan.
Perempuan itu hanya diam dengan pandangan kosong. Apa yang tidak sengaja dia dengar berhasil membuat hatinya kembali teriris. Luka yang harus dia terima semakin nyata. Lubna merasa dirinya sangat bodoh, karena telah percaya kepada kedua manusia itu.
“Ternyata aku sudah dikhianati dan ditipu selama dua tahun oleh perempuan dan laki-laki itu.” Lagi, air matanya terjatuh.
Begitu saja Lubna bercerita tentang Arka dan juga Sonia. Dia seakan lupa dengan siapa dia bicara. Badar pun membiarkan perempuan itu bercerita dan meluapkan segalanya.
“Aku bahkan menolak lamaranmu, karena dia ... aku pikir dia tidak akan pernah menyakitiku, tapi ternyata dia penoreh luka paling nyata!” Lubna semakin terisak.
Badar geserkan kotak tissue di meja. Memintanya untuk menghapus cairan bening yang sejak tadi tak mau berhenti mengalir deras.
“Laki-laki seperti itu tidak pantas ditangisi. Bersyukurlah, Allah tunjukkan semua sebelum kalian menikah.” Badar mulai bersuara.
“Tapi aku sangat mencintainya ...!”
“Itu sebabnya Allah pisahkan kalian. Dia cemburu, karena kamu lebih mencintai makhluk-Nya.”
“Kenapa? Bukankah cinta ini Dia yang hadirkan?” Lubna menatapnya sinis.
Badar tersenyum. Lubna pun kembali meradang. “Apa ada yang lucu? Puas kamu melihatku seperti ini?”
“Cinta itu juga ujian, Na. Ujian ketaatan. Seseorang yang taat akan menggapainya dengan cara yang direstui Allah.”
Lubna diam. Dia lelah berdebat untuk saat ini. Semua nasihat itu tidak bisa dia cerna dengan baik.
“Seharusnya kamu bersyukur, Son ... Arka sekarang hanya menjadi milik lo dan kalian tidak harus sembunyi-sembunyi. Sudah cukup selama dua tahun ini lo mengalah pada perasaan lo sendiri. Sudah cukup lo berkorban, Son.” Obrolan Sonia dan sahabatnya terus terngiang di telinganya.
"Suatu saat cinta sejati itu akan hadir dalam hidupmu. Allah akan menggantinya dengan pria yang jauh lebih baik dari dia. Percayalah, semua luka dan air mata ini tidak akan bertahan lama. Saat kamu mulai kembali jatuh cinta. Satu hal yang harus kamu ingat ... libatkan Allah dalam setiap langkahmu."
Lubna masih terdiam dengan pipi yang tak mau mengering. Dia hanya mencintai Arka. Apa bisa dia mencintai pria lain dalam hidupnya?
“Sebaiknya kamu pulang dan tenangkan pikiranmu. Lepaskan semua beban di kepala. Pasrahkan semua kepada-Nya.” Badar kembali membuatnya tersadar.
Lubna angkat wajah kembali menatapnya. Dia usap pipi dan tinggalkan pria itu begitu saja.
***
Di ruang tamu ditemani Maria, Lubna menahan emosi dengan kedatangan Sonia. Perempuan itu tiba-tiba saja datang. Setelah apa yang dilakukan, beraninya dia menemui Lubna. Berurai air mata Sonia meminta maaf. Dia akui dirinya bersalah, karena sudah mengkhianati kepercayaan yang Lubna berikan kepadanya. Dia sadar, hubungannya dengan Arka adalah kesalahan. Tidak seharusnya dia dan Arka bersama dan melukainya.
“Mbak, tahu aku mencintainya ... aku sangat mencintai Mas Arka, lalu kenapa Mbak tega mengkhianatiku?”
“Maaf, Na ...!” Hanya itu yang dia katakan.
“Setelah apa yang kalian lakukan, Mbak mau aku memaafkan kalian?” Berderai air mata Lubna memandangnya.
Semakin deras air mata Lubna berjatuhan. Di sampingnya Maria menenangkan. Selama dua tahun dia tidak sedikit pun menyadari, jika dirinya tengah dikhianati. Mereka berhasil melakukannya dengan mulus. Tangan Lubna semakin bergetar dengan d**a semakin sesak luar biasa.
“Aku sudah berusaha untuk pergi, tapi Arka selalu berhasil mencegahku, Na. Dan ... aku tidak pernah bisa benar-benar pergi, karena aku pun mencintainya.” Sonia tertunduk, akhirnya dia akui perasaannya.
Mendengar pengakuan itu Lubna mengutuk dirinya, kenapa dia begitu bodoh? Dua tahun bukan waktu yang sebentar dan mereka begitu rapi menutupi semua dengan kedok persahabatan.
“Lebih baik kamu pergi dari sini, Mbak! Aku tidak mau melihatmu lagi! Pergi!” Lubna mengusirnya, bangkit dengan tangan menunjuk pintu.
“Aku tidak akan pergi sebelum kamu memaafkan aku, Na ...!” balasnya, juga berderai air mata.
“Tidak akan pernah! Dan jangan pernah berharap aku akan memaafkan kamu, Mbak!”
“Na, tenang dulu ...!” Maria turut angkat suara.
Lubna lantas pergi menuju kamarnya. Sonia berteriak hendak menyusul. Maria langsung menghalanginya.
“Lebih baik Mbak Sonia pulang. Biarkan Lubna menenangkan dirinya. Ini jelas berat untuk dia Mbak ... ini terlalu pahit untuknya. Tolong, jangan paksa dia.” Maria berharap Sonia mengerti.
“Beri Lubna waktu, Mbak ... dia sudah terlalu banyak masalah saat ini,” imbuhnya.
“Aku tidak akan tenang, Mar ... sampai dia memaafkanku.”
“Pulanglah, Mbak ... jangan tambah lagi rasa sakitnya. Sudah cukup, tolong mengertilah ...!” Maria lipatkan kedua tangan
Akhirnya Sonia mengalah, terpaksa dia pergi. Maria terdiam beberapa saat usai perempuan itu pergi, lalu temui Lubna di kamarnya.
“Na ... aku tahu saat ini berat untukmu, tapi kamu harus bangkit. Ingat, Na ... saat manusia sering menyakitimu, Tuhan selalu menyayangimu. Apa pun yang terjadi, pasrahkan semua pada Tuhanmu. Mohon ampunlah.”
Lubna menghambur dalam pelukannya. Jemari Maria membelai, menenangkan. Dia tahu tidak mudah untuk sahabatnya melalui semua, tetapi dia yakin perempuan itu pasti mampu keluar dari masalahnya. Tuhan hanya sedang melatih dia untuk menjadi kuat dan dewasa.
Lubna tidak menyangka, jika kisah cintanya akan berakhir setragis itu. Laki-laki yang dia cintai akan tega mengkhianatinya dan seorang yang sudah dia anggap kakak sendiri, akan menusuknya dari belakang.
Selama ini, Sonia selalu menjadi tempatnya bercerita. Dia menjadi tempatnya berbagi. Siapa sangka perempuan itu ternyata seorang yang membuatnya berada dalam titik terendah. Hilang sudah rasa percaya untuknya, yang tersisa hanya kebencian.
"Aku benci dia, Mar! Aku benci mereka! aku benci perempuan itu!"
Lubna histeris. Maria hanya diam dan memeluknya erat, memberikan dia dukungan.
"Suatu saat kamu akan bahagia dan temukan seorang yang tulus mencintaimu, Na. Percayalah. Tuhan jauhkan dia darimu, karena dia tidak layak untukmu."
Lubna terdiam. Dalam hatinya ada sesal teramat dalam. Dia telah mengecewakan keluarganya. Meninggalkan mereka demi memperjuangkan cinta yang ternyata tak layak diperjuangkan, bahkan dia telah melewatkan pria seperti Badar demi pengkhianat seperti Arka.