Penyesalan

1215 Kata

Senyum Nusa lagi-lagi terlukis. Sesekali dia tertawa. Begitu juga dengan Badar. Keduanya disibukkan dengan mengurus kebutuhan pernikahan. Tidak hanya mereka, Maria dan Lubna turut membantu. Sejak tadi pandangan Lubna tertuju kepada keduanya. Kali ini mereka sedang berada di percetakan milik salah satu sahabat Badar. Sepasang calon suami dan istri itu berdiskusi terkait desain undangan pernikahan mereka nanti. “Na ... menurut kamu bagus yang mana?” Nusa menunjukkan dua contoh desain undangan berwarna hitam dan silver yang ada di laptop. Bukan menjawab, Lubna malah melamun. Sekali lagi sesal tumbuh dalam hatinya. Andaikan dia tak menolak Badar, mungkin saat ini dirinya tengah berbahagia. Dirinya yang berada di posisi Nusa. “Na!” Suara Maria kini yang mengemuka. Badar dan Nusa kompak hen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN