"Kalau kalian bikin Mama marah di sini, Ayah akan buat perhitungan sama kalian." Tama memperingati bocah-bocah itu, tentu saja dengan nada gurauan. Perempuan yang mengenakan piyama satin itu tersipu malu-malu. Perasaan yang makin berkembang dan akan selalu sama seperti saat pertama kali menautkan hati. Itulah yang Nadia rasakan setiap kali berjumpa dengan Tama setelah lama berjauhan. "Nggak, dong. Janji, kan, Ma gak marah?" Arkan memeluk sang mama manja, sementara Jodi ikut menciumi seluruh wajah perempuan yang melahirkannya itu. "Ya, udah, main lagi sana." Tama menghalau duo gemas itu ke ruang TV. "Mas, liburan anak-anak sudah hampir selesai." "Terus?" "Kapan aku dan anak-anak berencana pulang ke Cirebon?" Nadia sudah tak membahas lagi tentang sekolah anak-anak. Ia pasrah jika

