Bab 12

1008 Kata
Motor melaju pelan, Nadia masih belum bisa menguasai diri sepenuhnya. Suasana hatinya masih bergejolak dan gugup. Riuh rendah entakan di dadanya membuat jantung berdegup lebih kencang. Sebab itu, ia tidak konsentrasi penuh jika melaju kencang. "Ma, Jodi lapar." Si bungsu tampak mengelus perut yang terasa berbunyi sejak tadi. "Iya, kita makan duli, ya. Jodi dan Arkan mau makan apa? Kita beli di luar saja." Nadia memelankan tarikan gasnya supaya bisa mendengar Jodi di belakang kemudi. Arkan masih membisu, ia memeluk pinggang Jodi dengan perasaan lelah. Nadia berinisiatif meminggirkan motornya sebelum meninggalkan jalan utama kota itu. "Arkan mau makan apa, Sayang?" Kepala yang ditutupi helm itu menoleh ke arah bangku belakang. Dilihatnya wajah kedua bocah itu yang kelelahan. "Aku mau makan telur nasi padang, Ma." Arkan menyebutkan makanan favorit-nya. "Boleh, gak aku minta ayam goreng Mekdi, Ma?" Jodi menawar. Tanpa menunggu lama, Nadia segera menuju tempat yang dimaksud. Memesannya, lalu secepatnya kembali ke rumah. "Besok, Arkan dan Jodi tidak masuk sekolah dulu, ya." Nadia mendekati kedua buah hatinya yang tengah lahap menikmati santapan siang mereka, setelah mengganti baju serangam. "Enak, Ma." Alih-alih merespon ucapan mamanya, Jodi menunjukkan rasa puasnya menikmati ayam goreng yang lezat itu. "Habiskan, Sayang." Sementara Arkan menikmati telur nasi padangnya dalam diam. Biasanya ia banyak bercerita saat sedang makan, sampai-sampai Nadia harus menghentikannya sampai makanannya habis. Ia merasa ada kegelisahan yang dipendam sulungnya. Namun, untuk saat ini sepertinya bukan waktu yang tepat menekannya untuk diinterogasi. Nadia baru teringat dengan ponselnya. Ia segera kembali membuka pekerjaannya yang hampir semuanya dilakukan dengan gadget. Ratusan chat masuk dan belum dibaca, serta beberapa panggilan masuk. Di antaranya pesan dari Bu Rosmia dan Nindi, sementara panggilan masuk terbanyak dari nomor Kak Nina. Seketika Nadia tersadar, ia belum membalas pesan kakaknya itu. Nadia masih belum siap berdebat panjang, jika diteruskan membalas pesan, tetapi sepertinya ada yang sangat penting dari keluarganya sampai-sampai berkirim pesan dan menelepon berulang kali. "Hallo Assalamu'alaikum," sambut Bu Rosmia sedetik saat ponselnya mendapat panggilan dari Nadia. "Waalaikumsalam, Bu. Maaf tadi ada urusan panjang, jadi tidak sempat membuka pesan dan mengangkat telepon." Sambil duduk di ujung ranjang, setelah menyelesaikan salat Isya. "Itu, loh, Nad. Tentang rencana Kak Nina, gimana kamu sanggup gak dengan syarat yang dia ajukan?" "Saya pikir-pikir dulu, Bu. Kalau segitu sepertinya saya tidak sanggup. Banyak pengeluaran untuk sekolah anak-anak, Bu." Terdengar suara napas berembus kasar dari seberang. Nadia paham reaksi ibunya. "Kamu sudah balas pesan Kak Nina?" "Belum, Bu. Ini saja banyak chat customer dari tadi siang, belum saya balas. Pesan Kak Nina nanti saya scroll ke bawah dulu." "Jadi, kira-kira kamu sanggupnya berapa? Soalnya kalau tetap melanjutkan di bank, kan, sayang juga. Entah kapan lunasnya kalo gitu, Nad!" Terdengar Bu Rosmia sedikit mengeluh. Nadia tidak bisa menjawa apa pun untuk saat ini. Pikirannya benar-benar buntu, belum lagi masalah Arkan di sekolah, sekarang harus menghadapi tingkah keluarganya yang tak banyak berubah tentang uang. "Ya, sudahlah nanti Ibu coba bicarakan lagi dengan kakakmu." "Iya, Bu." "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Sambungan pun terputus. Nadia menatap kedua anaknya yang telah terlelap. Terdengar embusan napas terengah-engah dari mulut Arkan dan sedikit mengigau samar. Nadia mencoba menajamkan pendengaran serta memeluk tubuh yang meringkuk ditemani guling kesayangannya. "Ya, Allah. Kamu panas sekali, Nak." Suhu badan Arkan meningkat. Bergegas Nadia mengambil termometer dan alat pengompres siap pakai yang ia selalu simpan dan siapakan di kotak obat. Menyadari Nadia hanya hidup bersama ketiga anaknya. Ia lah satu-satunya orang dewasa di rumah itu. Maka dari itu, ia harus siap sedia apa pun untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Selebihnya ia berpasrah saja kepada Tuhan. Toh, sampai detik itu, ia bisa melewati semuanya sendirian. Melewati berbagai situasi yang tak dapat dilihat oleh keluarga besarnya di sana. Bahkan tidak bercerita banyak kepada Witama, jika situasinya bisa ia atasi sendiri. Apalagi kepada pihak keluarga mertua, tidak sekalipun. Tidak bercerita bukan tak memerlukan bantuan atau menyombongkan kemampuan diri, bukan! Tetapi ada hal yang harus ia jaga, tidak ingin berutang budi dan menyusahkan lagi. "Ya, Allah. 39,65 derajat. Panas sekali." Segera Nadia menempelkan pengompres siap pakai di beberapa bagian tubuh Arkan, supaya segera menurun panasnya. Notifikasi pesan baru masuk lagi, Nadia berusaha membalas semua pesan dari para customer meskipun sangat terlambat. Sebagian tidak merespons, sebagain lagi membalas tapi mereka sudah order di tempat lain. Namun, itu tak menyurutkan jarinya mengetik di atas keyboard ponsel demi mencapai penjualan hari ini. Lalu menyelinap pesan dari Witama. [Assalamualaikum, Sayang. Besok Mas terbang dengan pesawat jam sembilan pagi dari Batam ke Jakarta. Gimana, sudah ada kabar tentang Arkan? ] Nadia lupa, setelah menemukan Arkan, ia langsung pulang dan menguris hal lain yang tidak sempat ia pegang di rumah. Belum lagi dikejar chat customer dan Bu Rosmia. [Waalaikumsalam, Mas. Maaf aku telat kasih tau. Alhamdulillah Arkan sudah ketemu. Tapi sekarang dia demam tinggi sekali.] Percakapan via pesan tak berbalas, selanjutnya Nadia menerima panggilan masuk dari nomor Witama. "Mas, " sambut Nadia dengan suara bergetar menahan tangis. "Di mana sekarang Arkan? Sudah dikasih obat?" "Tadi sore pas sampai rumah, ia makan telur nasi padang lahap sekali. Terus mandi dan sempat mengerjakan tugas sekolah sama Jodi. Tapi tidak seperti biasanya. Jadi murung." Nadia menjeda ucapannya, ia menyusut cairan yang mengaliri pipi dan hidungnya. "Terus sekarang gimana?" Sebetulnya Witama ingin bertanya banyak tentang hal yang terjadi kepada sulungnya, tetapi ia sepertinya mengerti kondisi Nadia. "Dia tidur. Ngigo karena demam tinggi. Aku udah kompres aja." "Tapi syukurlah dia makan sebelum tidur. Besok aku langsung ke rumah. Kalian jangan ke mana-mana, ya." "Iya, Mas. Lagian aku udah bilang sama guru Arkan, besok izin tidak masuk." "Baguslah. Jaga diri juga kamunya, biar gak ikutan sakit. Assalamualaikum." "Iya, Mas. Waalaikumsalam." Setelah tak ada lagi notifikasi dari ponsel yang mewarnai sepi, di kamar itu terasa semakin sunyi. Hening. Nadia hanya menatap kedua jagoan kecilnya. Arkan sudah tak terdengar lagi terengah-engah. Sepertinya alat bantu kompres itu membuatnya sedikit merasa nyaman. Kedua tangan Nadia tertelungkup menutupi wajahnya. Menangis ia dalam sunyi. Bila malam tak dapat menjadi teman membuang sesak, maka izinkan sunyinya menenggelamkan segala lara. Pusat angin melaju kencang dengan tanpa beban, hanya di putaran malam. Jika iya, maka biarkan beban ini meluruh mengikuti putaran malam. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN