Bab 11

1032 Kata
Obrolan Bu Rosmia masih terus berlanjut membahas tentang penjualan tanah Kak Nina. "Itu jalan satu-satunya yang Ibu pikir cepat. Karena mau nawarin ke siapa yang sanggup membeli tanah dengan cepat?" "Coba tawarin Tante Yoshi, Bu. Kan, si Maya baru dapet pencairan katanya dari suaminya yang kerja di perusahaan tambang itu." Nindi mencoba memberikan ide. Tantenya yang selalu membawa berita tentang anaknya setiap kali berkunjung ke rumah. Tante, yang pernah memberi ide keapda Nadia untuk tidak terlalu bodoh jadi istri. "Hhmm, dia katanya baru beli sawah kemarin kata Tante Yos. Mungkin uangnya udah habis. Lagipula, mana mau beli tanah kita. Paling, juga ditawar murah nanti." Bu Rosmia mencebik, seperti sudah mengenal baik watak sepupunya itu. Keduanya saling berpikir keras bagaimana cara menjual tanah itu secepatnya. *** Sekolah benar-benar telah kosong. Arkan masih belum juga ditemukan. Entah di mana anak itu berada. Apakah ia bersembunyi? Tapi untuk apa dan kenapa kalau ia harus melakukan itu. Nadia makin gelisah. Jodi yang tertidur, kini sudah terbangun lagi. Ia mulai merasa lapar. Kebingungan mulai bertumpuk di tempurung Nadia. Dadanya berpacu antara menahan sesak dan harus menekan luapan rasa yang menimbulkan kepanikan. Tenang Nadia, tenang! "Sabar, ya, sayang. Kita tunggu Arkan dulu. Nanti kita pulang. Mama janji, kita beli makan kesukaan Jodi dan Arkan." Bergetar suara Nadia. Semua petugas keamanan sudah kembali ke tempat di mana Nadia menunggu, begitu juga Bu Guru Vania. Mereka semua menggeleng putus asa. Lalu, bagaimana dengan Nadia? Ia pasti lebih putus asa. "Bu, saya yakin anak ini ada di suatu tempat atau keluar sekolah lewat jalan belakang. Kebetulan gerbang belakang sedang ada perbaikan CCTV, jadi bagian itu tidak bisa saya cek. Saya yakin itu." "Lalu, di mana dan bagaimana dia sekarang? Anak sekecil itu, Pak. Mana mikir untuk kabur?" Bulir bening kembali lolos dari kelopak Nadia. Tiba-tiba terdengar langkah berat seperti diseret dari lorong arah gerbang belakang, memasuki kirodor kantin, menuju tangga kelas. Suara kaki kecil yang lemah. Hentakan sepatunya bergema di antara gedung yang sepi dan kosong. Sontak Nadia berlari menuju lorong koridor dalam, ke arah tangga kelas. Terasa anjlok hatinya, melihat sosok kecil itu. Kaki kecil itu berhenti melangkah saat mendengar suara embusan napas bercampur tangis yang tertahan. Ia menoleh ke arah bawah tangga. Mata Nadia memburam, kaca-kaca menghalangi pandangan sepenuhnya. Hingga lolos berderai berjatuhan dengan sangat deras. "Mama...!" Begitu dilihatnya sosok sang ibu berlutut di bawah tangga. Nadia tak mampu lagi berkata-kata, hanya kedua lengannya ia bentangkan menyambut lelaki kecilnya yang sedari tadi entah menghilang ke mana. Refleks Arkan kembali menuruni tangga dan meraih tubuh sang ibu. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan ketakutan. Ada getaran yang tak biasa saat Nadia memeluk tubuh kecil itu. Lalu mengelus punggungnya halus dan mengucapkan kata maaf berulang-ulang di tepi telinga Arkan. Bayangan yang muncul sejak mengetahui Arkan tiba-tiba hilang adalah saat Nadia selalu memberikan hukuman dan bentakan karena tingkah kedua bocah kecil itu yang kadang membuat Nadia naik darah. Meskipun hal-hal kecil, itu sangat mengganggunya. Apalagi jika Nadia tengah fokus dengan pekerjaannya, lalu Arkan atau Jodi menyela untuk sesuatu yang sepele. Ya, terdengar sepele, tetapi itulah cara mereka untuk bisa merasa dekat dengan ibunya. Hanya itu! Guru wali kelas dan beberapa petugas keamanan yang masih berada di tempat semula, segera menghambur ke tempat di mana Nadia dan Arkan berpelukan. Semuanya tampak menghela napas lega berbarengan. "Arkan, baik-baik saja, kan?" Bu Vania bertanya dengan hati-hati, seraya menyentuh bahu Arkan lembut. Lelaki kecil itu melepas pelukan ibunya dan beberapa saat masih bengong dan tampak bingung, melihat orang-orang dewasa bersikap sangat mengkhawatirkannya. Terutama sang mama yang menangis sangat hebat. Ia menoleh ke arah sang guru, kemudian mengangguk. "Sekarang, Arkan pulang sama Mama, besok Bu Vania mau ngobrol sama Arkan, ya?" bujuk sang guru. Lagi, anak lelaki berambut sedikit gondrong itu mengangguk. "Tidak, Bu." Nadia langsung memotong. "Saya mohon izin untuk besok Arkan dan Jodi tidak masuk sekolah dulu. Biar saya yang akan menangani anak-anak." "Baik, Bu Nadia, silahkan nanti diinfokan via admin untuk absensinya." Bu Vania mencoba mengerti keputusan Nadia. Masih dengan hati yang bergetar hebat, Nadia memboyong Arkan dan Jodi menuju tempat ia memarkirkan motornya. Kembali membelah jalanan di bawah terik kota udang yang terasa begitu pengap hari ini. Di sini, Sayang. Kita masih harus berjuang. Memesan seporsi kebahagiaan, tetapi tak luput sejumput duka pun datang. Ketahuilah, Nak, bahwa itu adalah selingan di setiap menu yang dipesan. *** "Bu Vania, mohon untuk tidak membuka kejadian ini ke pihak manapun. Biar kita selidiki dulu. Jangan sampai bocor ke pihak luar. " Tiba-tiba Kepala Sekolah muncul dari balik punggung wali kelas Arkan itu. Pernyataan yang serupa peringatan itu hanya direspon anggukan oleh Bu Vania. Gegas ia membereskan barang-barangnya sebelum meninggalkan sekolah. Saat menuju ke basement di mana mobilnya terparkir, Bu Vania sempat berpapasan dengan salah satu petugas keamanan sekolah yang tiba-tiba muncul dari arah pintu gerbang belakang setelah Arkan kembali. Pengamatan itu tak lepas dari pemikiran apakah sebuah kebetulan? Lantas Bu Vania berinisiatif menanyakan kepada yang bersangkutan. Bu Vania memutar langkah, mengejar petugas keamanan itu. "Sepertinya memang ada yang tidak beres. Aku yakin, Arkan tidak mungkin melakukan itu atas keinginannya sendiri." Gegas Bu Vania memperlebar langkah, agar tak kehilangan jejak petugas keamanan itu. "Pak!" serunya. Pak petugas keamanan yang dimaksud seketika berhenti dan berbalik ke sumber suara. "Iya, Bu." "Saya mau memastikan aja, apakah benar CCTV di gerbang belakang sampai ke basement sedang ada perbaikan?" Petugas keamanan itu tampak sedikit gugup, tetapi ia mencoba untuk terlihat tenang. Bu Vania menunggu jawaban dengan pandangan yang menelisik. "Benar, Bu." "Terus tadi Bapak, kok, datang dari gerbang belakang pas Arkan masuk? Apa Bapak yang menemukan Arkan? Terus kenapa gak bilang?" Pak Mardi, petugas keamanan itu, tercengang mendengar pertanyaan Bu Vania. Ia berpikir tidak ada yang melihat dari arah mana ia masuk. Entah mau menjawab apa, bingung. "Bu, kejadian ini jangan sampai bocor keluar. Biar pihak sekolah yang menyelesaikan. Itu saja yang bisa saya jawab." "Maksudnya?" Bu Vania makin tidak mengerti. Rasanya ada kejanggalan. Ia terus berpikir bagaimana bisa kata-kata Pak Mardi sama persis dengan yang diucapkan Kepala Sekolah padanya beberapa menit lalu. Pak Mardi tak menjawab lagi, ia langsung pamit karena sudah waktunya menutup sekolah. Masih belum habis pikir, guru yang baru saja bergabung di sekolah itu dua bulan lalu, merasa ada hal yang aneh, tetapi mencoba disembunyikan oleh pihak sekolah. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN