"Ma... " Jodi menghampiri mamanya yang tengah terisak tanpa suara di sudut kamar. Tangan kecil itu mengusap air yang menghangat di kedua pipi Nadia. Ia merangkum wajah sang mama dalam kedua telapak tangannya, lalu dikecupnua kedua pipi dan pucuk kepala Nadia. Mata polos jodi menatap pupil basah milik mamanya. "Maafin Mama, Sayang." Nadia semakin tergugu dan memeluk anak bungsunya. Melihat pemandangan itu, Arkan yang baru saja memasuki kamar segera menghambur dan memeluk keduanya. Entah maaf untuk apa, tetapi Nadia sadar ada banyak sekali hal yang ia hilangkan dan abaikan dalam mengurus kedua lelaki kecilnya beberapa tahun terakhir sejak terjerumus dalam pusaran tipu daya itu. Ia terlalu disibukkan dengan pencapaian keuntungan demi membayar cicilan. Sejak membuka mata sampai terti

