2. Louve

747 Kata
Mata indah yang setajam elang itu, memandang deretan gedung-gedung tinggi yang tampak dari jendela kantornya. Baru dua hari ia menempati ruangan ini, menggantikan CEO sebelumnya yang mendadak mengundurkan diri. Perusahaan yang ia pimpin adalah perusahaan keluarga yang bergerak di bidang properti dan telah malang melintang selama puluhan tahun di dunia bisnis. Berawal dari usaha kecil-kecilan oleh sang kakek yang nekat merantau ke Indonesia, menemukan tambatan hati lalu tertatih-tatih mengembangkan usaha. Kini, perusahaan tersebut telah melebarkan sayapnya di berbagai kota besar di penjuru Asia Tenggara, dikelola oleh dua orang putera yang sama-sama berbakat. Ia meminta sekretarisnya membereskan berkas-berkas yang diperlukan sebelum menghadiri rapat antar para kolega yang bekerja sama dengan mereka. Ada berbagai pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan resort mewah bernilai miliaran tersebut dan ia tidak ingin melakukan kesalahan sekecil apapun dalam mengemban tugas pertamanya ini. “Sudah siap semua?” Tangannya memeriksa dan membolak-balik tumpukan berkas di atas meja. “Sudah, Bu,” jawab sang sekretaris menganggukkan kepala. Ia mengambil napas panjang. “Ayo!” ajaknya sambil berdiri dan berjalan menuju ruangan lain untuk menghadiri rapat pertamanya sebagai pemimpin. *** Suara detak stiletto menggema ke dalam ruangan yang diisi mayoritas oleh kaum lelaki tersebut. Beberapa di antara mereka membawa sekretarisnya yang bertugas sebagai notulis dalam rapat negosiasi proyek siang itu. Belasan pasang mata menghunus mengiringi langkahnya yang berjalan dengan dagu terangkat. Ada yang sembunyi-sembunyi menatap tubuhnya yang tinggi semampai penuh kekaguman. Tatapan pria-pria setengah baya berperut buncit dan menjijikkan yang seakan menelanjangi tubuhnya bulat-bulat. Ada juga yang terang-terangan menatap dengan tatapan meremehkan. Bibirnya tersenyum masam. Seumur hidupnya, ia sudah kenyang mendapat tatapan semacam ini. Terkadang, ia merasa dikutuk terlahir sebagai perempuan. Sayangnya, itulah faktanya. Dimana-mana, perempuan seakan dipaksa menjadi makhluk kelas dua di dalam tatanan sosial yang didominasi maskulinitas kaum berjakun dan membuatnya muak. Ia mengambil tempat duduk di ujung ruangan. Matanya memandang berkeliling ke semua anggota rapat, berusaha menunjukkan d******i bahwa ia bukan perempuan yang gampang diintimidasi. Mulutnya berdecak sinis. Di ujung sana, matanya menangkap dua di antara empat sosok yang paling tidak ingin ia lihat di muka bumi saking tingginya rasa benci dalam hatinya atas masa lalu dan hubungan yang membelenggu mereka. “Kenapa perusahaan ini harus dipimpin oleh perempuan?” tanya salah seorang peserta dengan nada sinis pada peserta lain di sebelahnya. Wanita itu mengangkat sebelah alisnya tanda tidak suka. Rapat belum dimulai dan ia sudah terang-terang didiskreditan berdasarkan jenis kelaminnya. “Ada yang tidak suka dengan keberadaan saya di sini?”  Pria yang tadi berbisik-bisik, menatapnya jengah dan serba salah. “Jika ibu Anda yang seorang perempuan hadir di sini mendengar perkataan Anda, tentunya ia malu pernah melahirkan laki-laki bermulut busuk seperti Anda,” sindirnya tajam. Dua pria yang tadi berbisik-bisik, menunduk menyembunyikan muka yang merah padam dan rona geram dari wajah mereka. “Silakan angkat kaki dari sini bila ada yang tidak menyukai keberadaan saya sebagai pemimpin Harald Corp. Kami tidak butuh bekerjasama dengan manusia-manusia picik yang memandang manusia lain hanya berdasarkan keberadaan p***s dan v****a di s**********n. Kita tidak punya banyak pilihan, bukan?” Kesemua peserta rapat tersentak. Mereka tak menyangka, perempuan cantik di depan mereka bermulut tajam bagai ular berbisa. Semuanya terdiam, dan tak ada lagi yang berani bicara diluar konteks pekerjaan yang mengikat mereka. Rapat negosiasi tersebut berjalan lancar tanpa hambatan. Wanita itu tersenyum puas mensyukuri kesuksesannya memenangkan proyek pertamanya. Ia menunduk memijit pelipisnya dengan kedua ibu jari. Mengabaikan, atau lebih tepatnya melupakan keberadaan dua pria yang menatapnya salah tingkah dari seberang meja. Ia mengangkat tubuhnya dan bergegas berjalan beriringan dengan sang sekretaris yang telah selesai membereskan berkas-berkas yang tadi mereka bawa. “Val!” Seorang pria memanggil dan mencegat tangannya. Ia seketika berhenti berjalan dan membalikkan tubuh dengan malas. Tangannya bergerak kasar mengibaskan tangan pria tersebut dengan tatapan jijik. “Ada yang bisa saya bantu, Sir?” sahutnya dingin. Matanya menghunus setajam pedang “Seingat saya, rapat kita sudah selesai. Saya tidak punya waktu membicarakan hal-hal yang sifatnya pribadi.” Pria itu berdehem meredakan kerongkongannya yang tersumbat. “Val, Papa...” “Sepertinya ini memang pembicaraan yang bersifat pribadi. Anda salah menanyakan perihal keberadaan ayah saya. Karena dia sudah lama mati!” potongnya tak berperasaan. Pria setengah baya di depannya terdiam. Kerongkongannya semakin tercekat. Matanya berkaca-kaca penuh luka dan penyesalan membayang di sana. “Kak!” bentak seorang pemuda berusia pertengahan dua puluhan muncul dari belakang pria itu dengan nada tidak suka. Wanita yang dipanggil Val itu, memutar bola matanya malas. ”Shut up, boy! You don't have any rights to speak with me, do you?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN