Pasca ciuman nekat akibat godaan s*tan yang terkutuk, Al tak berani lagi keluar dari unitnya. Ia teramat malu. Sepanjang malam ia habiskan sendirian. Matanya sulit terpejam. Puluhan kali ia mengganti posisi tubuhnya dengan berguling ke kiri dan ke kanan, tetap tidak berhasil. Ia berulang-ulang mengusap bibir, tersenyum, merona, kembali ke tindakan pertama dan begitu seterusnya. Rasa manis yang tersisa dari bibir Lio masih terasa di bibirnya. Bila dilihat sekilas, ia sudah persis macam orang gila. Cengengesan tidak karuan. Kakinya berjalan mondar mandir di depan unit tersebut. Tangannya pasang surut hendak membunyikan bel. Sebelah tangannya lagi menjinjing kantong berisi sarapan pagi. Penampilannya sudah rapi. Kemeja kerja lengkap dengan dasi di lehernya. Sepatunya mengetuk-ngetuk lanta

