Bab 4 Pulang Sejenak

1414 Kata
Setelah menghabiskan setengah jam untuk mandi dan berpakaian Rizfan keluar memastikan Shafia masih berada di apartemennya, setidaknya kalau perempuan itu pulang dan Agatha masih berada di luar, besar kemungkinan mantan kekasihnya itu tidak akan berpikiran kalau ini semua hanyalah sandiwaranya saja. “Kamu sedang apa di dapurku?” Rizfan mendapati gadis itu sedang berjibaku di dapurnya. “Astaga bapak, anda mgagetkan saya saja,” tukas Shafia mengusap dadanya. “Anda tidak lihat saya sedang apa? Nggak mungkin dong saya nyuci baju.” Mendengar nada sindiran Shafia, Rizfan tersenyum tipis. “Kamu bisa masak?” Shafia mengambil segelas air untuknya yang tiba-tiba merasa gerah padahal ia baru saja selesai mandi. “Tidak terlalu, tapi yang pasti saya sudah lapar dan ayam ini bisa busuk kalau tidak langsung dimasak. Maaf saya lancang masuk ke dapur anda, habisnya saya bingung kalau cuma diam aja nggak ngapa-ngapain, jadinya saya masak aja di sini, saya lihat kulkas anda juga ada isinya, saya juga masakkan untuk anda,” ujar Shafia meletakkan dua buah mangkuk untuknya dan untuk Rizfan, “Bagiaman dengan luka bakar kamu, Shafia?” Shafia mengehntikan kegiatannya mencicipi kuah sup buatannya, membalikkan badannya, ingatannya teralihkan pada pagi itu. “Menurut anda? Kopi itu bahkan baru selesai disedu, ah, bahkan saya belum sempat mencobanya.” Rizfan mengangguk singkat. “Kirimkan aku nominal biayanya, bahkan kalau masih harus perawatan lanjutan akan saya tanggung seluruhnya.” Shafia menggeleng kuat. “Tidak perlu, Saya punya asruansi yang bisa meng-cover pembiayaan perawatan saya.” Rizfan tampak tidak suka dengan jawaban dari Shafia. “Tapi, Pak. Saya punya satu permintaan, selama bapak di sini tolong jangan bongkar hubungan saya dengan Radhi selama di kantor, bolehkan?” Rizfan tersenyum miring namun Shafia bingung mengartikan senyuman tersebut, namun entah mengapa ia merasa tersinggung melihatnya. “Enak, kalau gitu kita nikmati sarapannya, saya benar-benar sudah lapar.” Shafia memegang perutnya sendiri, dan tampak antusias melihat hasil karyanya di atas meja makan. “Kamu makan sendiri saja saya mau melanjutkan kerjaan.” Shafia menggeleng pelan, menghalangi langkah Rizfan. “Mana bisa gitu? Saya udah capek-capek masak bukannya dicicip malah ditinggal. Cicip dulu minimal, 20 menit lagi saya juga mau pulang jadi jangan buat saya bosan nunggu sendirian.” “Saya tidak biasa makan apa-apa di pagi hari, jadi lekaslah kamu habiskan sarapan kamu, setelahnya kamu boleh pulang, terima kasih atas bantuan kamu pagi ini.” Setelah mengatakan hal tersebut Rizfan kembali masuk ke kamarnya melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sedangkan Shafia, perempuan itu hanya terdiam menahan kekesalannya pada laki-laki tu. *** Rizfan merenggang kan pinggangnya yang terasa kaku, entah sudah berapa lama ia hanya duduk di depan laptop, laki-laki itu pun tidak menghitungnya, namun yang pasti matahari sudah mulai tergelincir dari posisinya, mungkin sudah tidak terlau terik. Rizfan memutuskan untuk keluar karena air dalam tumblernya telah habis. Di saat menunggu tumblernya penuh, tidak sengaja matanya tertuju pada dua mangkuk sup ayam yang tampak tak tersentuh sedikit pun, tak hanya itu, di dalam pancinya pun masih tersisa banyak. Setelah mendesah panjang akhirnya Rizfan memutuskan untuk memanaskan sup tersebut dan menyantap sup ayam buatan Shafia yang menurutnya biasa saja, bahkan sup buatan Agatha lebih nikmat di lidahnya, meski begitu ia terus mengunyah sup tersebut hingga tak terasa akhirnya Rizfa menghabiskan setengah panci untuknya sendiri. *** “Shafia, tunggu! Jangan biarkan pintunya tertutup.” Tak sampai lima meter dari tempatnya berdiri, Shafia melihat Rizfan berjalan cepat menuju lift yang baru saja ia naiki. Shafia segera menahan tombol membuka pintu lift agar tidak tertutup, dan membiarkan Rizfan masuk. “Terima kasih.” Shafia mengangguk singkat dan mengambil jarak cukup jauh ketika mereka berduaan di dalam lift yang hanya berukuran satu kali satu meter itu. “Kamu mau ke mana Ya?” tanya Rizfan usai menekan tombol tujuannya yang juga tujuan Shafia. “Maaf, anda panggil saya siapa pak?” tanya Shafia memastikan pendengarannya. “Shafia, kamu belum ganti nama kan?” Shafia mendengus pelan, ia yakin kalau laki-laki itu tidak memangglnya seperti itu tadi. “Kamu belum menjawab pertanyaan saya, kamu mau ke mana, Shafia?” “Memangnya penting untuk saya jawab pertanyaan anda, Pak?” “Tidak bisakah kamu menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang benar? Tidak dengan pertanyaan kembali.” Shafia mendengus kecil, meski begitu ia berusaha untuk tetap tenang. “Saya mau pulang ke rumah orang tua.” Rizfan hanya mengangguk saja. “Saya sudah menghabiskan sup buatan kamu, rasanya lumayan tapi lain kali belajarlah masak dengan benar agar ayamnya tidak amis sehingga tidak mengganggu hasil akhirnya.” belum sempat Shafia membalas ucapan Rizfan yang terlalu jujur mengomentari masakannya, laki-laki itu sudah lebih dulu berjalan keluar dari lift. “Lain kali katanya? Jangan harap aku bakalan masak lagi untuk dia. Lagian yang suruh habisin siapa?” Shafia merasa kesal dengan sikap bosnya satu itu namun tidak bisa melakukan apa-apa. Setelah merasa lebih tenang barulah Shafia berjalan keluar menuju mobilnya yang parkir tidak jauh dari tempat Rizfan memarkirkan mobilnya. “Mari, Pak.” Meski kesal dengan Rizfan, Shafia tetap bersikap sopan demi ketenangan hidupnya setelah ini, Shafia menghela napas ketika tak ada balasan dari laki-laki itu. “Nyebelin banget sih tuh orang.” Shafia mengatur napasnya agar bisa bernapas lebih tenang. “Sabar Ya, anggap aja orang itu cuma angin lalu.” Sembari menunggu mesinnya panas, Shafia mengeluarkan ponselnya mengecek kepadatan lalu lintas dan titik macet sehingga ia bisa memilih jalan alternatif agar ia bisa pulang dengan tenang. Selain itu Shafia juga mengirim pesan pada Radhi, mengabari kalau ia akan jalan sekarang. Aku jalan sekarang. Setelah mengirimkan pesan itu, Shafia menyimpan ponselnya ia tahu tidak akan ada balasan dari laki-laki itu, karena laki-laki itu sedang mengunjungi ibu mertuanya yang sedang sakit. Setelah menempuh hampir satu setengah jam perjalanan, Shafia akhirnya tiba dengan selamat tanpa ada kendala apapun. Senyum Shafia merekah lebar melihat adiknya sedang membaca buku di ruang keluarga. “Tumben bu dokter di rumah jam segini?” “Kak Yaya?! Kakak kapan pulang? Kok aku nggak dengar suara mobil?” Shafia mencebikkan bibirnya. “Kamu kalau udah fokus sama satu hal, tetangga teriak maling kamu juga nggak bakal kedengaran dek, kamu sendiri aja? Mama sama papa mana?” “Kayanya masih di kamar deh, heran aku tuh lihat mereka asik dalam kamar mulu udah ngalahin pengantin baru.” Mendengar itu Shafia hanya tersenyum simpul. “Co-Ass kamu bagaimana? Lancar?” tanya Shafia memilih duduk di sebelah adiknya melihat buku apa yang sedang dibaca oleh sang adik. “Lancar nggak lancar kak, mau nyerah sayang banget tinggal 6 bulan lagi selesai. Bantu doa yah, Kak semoga semuanya lancer sampai akhir.” Shafia menepuk pelan lengan kanan adiknya penuh rasa bangga. “Tentu, yang penting kamu tetap semangat dan bisa banggain papa sama mama, anaknya jadi dokter, terus rencananya setelah ini mau lanjut spesialis langsung atau berkarir di rumah sakit dulu?” “Jujur masih ragu, tapi yang pasti aku harus selesain Co-ass ini dulu.” Shafia mengangguk saja, apapun pilihan adiknya bakalan ia dukung sepenuhnya. “Kakak udah makan belum? Jujur aku lapar banget, makan yuk.” “Boleh, aku emang sengaja enggak makan sebelum pulang biar bisa makan masakan mama, tapi aku mau ke kamar dulu ganti baju, kamu duluan aja.” *** “Udah kali mesra-mesraannya ma, pa. Umur udah tua juga, nggak malu apa sama aku sama kak Yaya?” sungut Nadia melihat papa dan mamanya saling suap-suapan seolah keberadaan mereka tidak berarti apapun. Mendengar itu Shafia hanya tersenyum. “Makanya pada nikah, kenapa malah larang papa sama mau mesra-mesraan?” “Tapi nggak ingat umur yah dek?” ujar Shafia menggelengkan kepalanya. “Lho, emang kalau udah tua enggak boleh?” “Yah, bukannya enggak boleh, tapi aneh dan bikin geli.” Nadia tidak mau ngalah dengan membiarkan papanya menang. “Udah, nggak baik ngomel-ngomel depan makanan.” Adik dan papanya kompak diam ketika mamanya sudah bicara, melihat itu Shafia hanya tersenyum saja. “Kamu sampai jam berapa tadi Ya? Kenapa enggak kabari dulu kalau mau pulang? Mama bakalan masak makanan kesukaan kamu kalau tahu kamu pulang.” “Pengen kasih Surperise aja ma, lagian apapun yang mama masak pasti enak dan nggak pernah gagal.” “Jadi besar hidung mama, kakak bilang gitu, menurut aku sih biasa aja.” Nadia ikut menimpali ucapannya dan mamanya. “Owh gitu, yah udah bekal besok pagi enggak usah jadi aja yah? Mama bisa tidur lagi setelah subuhan.” “Yah jangan, iya, aku akui deh masakan mama paling top, chef hotel bintang lima nggak ada apa-apanya dibanding masakan mama.” Semua orang tertawa mendengar kalimat hiperbola dari adiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN