"Bunda, bagaimana keadaan Om Fino? Om Fino masih hidup kan? Dia selamat kan?" tanya Davin antusias. Namun, wajahnya menunjukan rasa ketakutan yang mendalam. Pucat pasi dengan peluh membanjiri muka bocah itu. "Kak Davin jahat! Kenapa tadi sengaja mendorong Om Fino?!" omel Abella dengan mata yang membulat marah pada sang kakak. Mendengar penuturan polos Abella, aku terkejut bukan kepalang. Tak percaya anak lelakiku bisa kelewat nakal seperti itu. "Davin! Kenapa kamu bisa nakal seperti itu?!" marahku dengan mata yang melotot kesal. Melihat aku mendelik kaget bercampur marah pada Davin, bocah itu tertunduk dengan sedih. "Maaf, Bunda. Davin tadinya cuma iseng. Hanya main-main saja," sesal Davin lirih. Kini bocah berambut lurus cepak itu telah berurai air mata. Matanya menunduk ke bawah ta

