32. Bermalam Di Hotel

1131 Kata

Betapa shock-nya diriku, saat mendengar penuturan Fino yang mengharuskan kami menginap dalam satu kamar. Berulang kali kuminta padanya agar mencari hotel lain yang masih menyediakan kamar kosong. Namun, pemuda berhidung bangir itu sama sekali tidak menggubris permohonan yang kuajukan. Dirinya bersikeras tetap ingin menginap di hotel ini. "Aku capek dan ingin segera beristirahat. Gak ada waktu lagi buat nyari hotel. Tolonglah ngertiin aku!" pintanya datar. Tanpa bicara lagi, dia lekas berjalan menuju lift. Meninggalkan aku yang masih bingung hendak berbuat apa. Maka dengan sedikit menghentakan kaki karena gondok di hati, aku berlari menyusul pemuda bermata hitam teduh itu yang sudah berdiri di depan pintu elevator. Begitu pintu lift terbuka Fino dan aku bergegas masuk. Ternyata tidak ada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN