33. Memaafkan

1409 Kata

Suara gorden yang disingkap membuat aku membuka mata. Karena merasa silau oleh cahaya matahari yang menerobos ke kaca. Kutangkap sosok Fino yang sedang membuka gorden-gorden kamar. Pemuda itu sudah tampak rapi dan segar dengan rambut yang basah. Setelah nyawa terkumpul sepenuhnya, aku baru tersadar jika sudah berada lagi di dalam kamar. Tidur di ranjang sendiri dengan selimut tebal yang menutup hingga dagu. Masih teringat jelas, jika semalam aku lebih memilih tidur di kursi balkon untuk menghindari suara dengkuran itu. Jadi, apakah Fino yang memindahkanku ke sini? "Kenapa semalam tidur di luar?" tanya Fino begitu melihatku tengah menggeliat malas. Pertanyaan itu sekaligus menjawab pertanyaan batinku. Sudah pasti dia. Memang siapa lagi? "Cepat cuci muka, kita akan turun sarapan!" ajak sem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN