"Kenapa?" Fino menatapku lekat. "Apa kamu masih mencintai Ferdi?" tebak pemuda itu cepat. Matanya tidak berkedip memindai aku. Aku sendiri refleks menggeleng dengan cepat juga. Entah bermaksud menyangkal atau apa. Namun, yang pasti aku enggan menanggapi ungkapan hati seorang Fino. Pemuda itu sering kali berbuat iseng. Aku tidak mau kena prank lagi dari dia. Selain itu tentu saja jarak usia kami juga menjadi pertimbangan. Ada juga Davin yang tidak menyukai dirinya. Jujur, aku mendambakan sosok pria dewasa. Baik dari segi umur dan juga pemikiran. Dulu waktu menikah dengan Mas Ferdi, usia kami hanya beda beberapa bulan. Itu menjadikan kami mempunyai ego yang sama-sama masih tinggi. Tidak ada yang mau mengalah. Apalagi Fino yang jelas-jelas usianya lima tahun di bawah aku. Bahkan dia ke

