bc

Tiga Wanita dan Krisis Kehidupan Mereka - series 1

book_age18+
189
IKUTI
1.0K
BACA
others
love-triangle
sex
family
time-travel
drama
no-couple
serious
first love
friendship
like
intro-logo
Uraian

Menjadi tempat untuk orang-orang menuangkan segala bentuk masalah yang dihadapi mungkin sudah bukan hal asing lagi bagi Luna terlebih ia memang selalu dihadapkan dengan orang-orang yang memiliki banyak masalah dan berkonsultasi padanya karena ia adalah seorang psikolog klinis. Di samping itu, ia sendiri memiliki masalah akan tuntutan dari orang-orang terdekatnya yang selalu memintanya segera menikah. Tekanan demi tekanan membuatnya jadi bingung dan gelisah dengan masa depannya apalagi umurnya sudah mau menginjak kepala tiga. Bukan hanya itu, masalah lainnya adalah ia juga harus menghadapi pasiennya, Lara yang mentalnya sudah dibuat hancur. Lara adalah siswi remaja yang memiliki permasalahan dalam hubungan toxic. Dari Lara inilah Luna mengenal kakaknya, Juna. Juna dan Luna sering bertemu hanya untuk membicarakan tentang perkembangan psikis Lara tapi semakin lama bertemu, tumbuh perasaan yang sering keduanya sangkal. Terlebih pada Luna yang sebetulnya menjalani hubungan tanpa status dengan mantannya sewaktu kuliah. Mereka dipertemukan kembali dan melanjutkan kisah yang sempat berhenti tapi ada berbagai konflik yang harus Luna hadapi apalagi posisi keduanya menjalani LDR. Belum selesai dari itu, kedua lelaki itu, ada Mahesa sahabatnya yang juga menyukai Luna. Luna begitu bimbang untuk harus mempertahankan hubungannya dengan Andhra apalagi jika ditanya pernikahan, Andhra seperti selalu membuatnya menunggu tapi tanpa ada kepastian. Sementara dengan Juna, ada rasa yang Luna rasakan tapi Luna meragukan akan satu hal. Lalu dengan Mahesa, keduanya sudah saling mengenal tapi apakah Luna dapat mencintai Mahesa nantinya jika seandainya Luna menerima Mahesa.

Krisis dalam kehidupan tentang jodoh, itulah yang harus Luna hadapi dengan berbagai macam lelaki yang mendekatinya. Mampukah Luna untuk menemukan pasangan yang dapat membuatnya merasa dicintai dan dihargai keberadaannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Kapan Menikah? [ Bag. 1 ]
Bab. 1 : Kamu Kapan Menikah? “Kita tak bisa menghindari hal-hal yang menyebalkan di dalam hidup kita di usia ketika kita dipertanyakan 'kapan menikah?' Tekanan lainnya bisa jadi membuat diri ini ingin menyerah. Tak memungkiri diri ini dilingkupi oleh rasa amarah. Percayalah, dibalik semua itu pasti ada hikmah. Pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan kita senyumin saja. Hidup tak seberat itu bila tidak memikirkan omongan mereka. Lakukan saja apa yang membuat diri kita bahagia.” * Luna           Luna Linara. Itulah nama lengkapku. Aku terlahir dari orang tua yang sangat disiplin, tegas, keras dan sangat menghargai waktu. Tentunya menjadikan diri aku sebagai pribadi yang tidak suka dengan yang namanya kata 'ngaret', lelet, atau lambat. Ya, intinya sesuatu hal yang mengundur-ngundur waktu, menunda-nunda pekerjaan, itu adalah hal yang tidak aku sukai. Terkesan aku memang orang yang tidak sabaran. Dan apa-apa pengen cepet. Karena memang, aku sudah diajarkan untuk menjadi pribadi yang dapat menghargai waktu sehingga tanpa sadar, karena didikannya dari orang tuaku terutama dari mamahku ya akhirnya membentuk diriku menjadi seorang perempuan yang perfectionist.            Dari kecil aku memang sudah dibiasakan untuk menjadi perempuan yang disiplin. Sebenarnya bukan hanya perempuan saja, sih, tapi anak lelaki juga sama dibiasakan untuk bangun pagi. Bukan cuma disiplin pada waktu saja, tapi mamah lebih tepatnya orang yang sangat-sangat memerhatikan kebersihan. Jadi, karena aku dari kecil sudah terbiasa dengan hal-hal yang bersih, suka kesal juga kalau sudah melihat yang namanya kotor atau berantakan. Aku benar-benar nggak betah banget, sumpah deh. Terlebih aku juga punya kulit yang sensitif, kalau ada kena debu atau yang namanya di tempat yang kotor, kulit aku bakal memerah dan gatal-gatal. Mamah ya, jadi memang memerhatikan juga kebersihan untuk diriku. Pokoknya dari aku kecil, tumbuh jadi remaja sampai aku sudah sedewasa ini mamah bakal tetap perhatian sama anak-anak nya dan tidak sekalipun mengurangi rasa perhatiannya kepada aku ataupun saudara-saudara aku.             Selesai merias wajah dalam waktu yang relatif cepat, lalu memasukkan barang-barang pekerjaanku ke dalam tas. Mengambil jas putihku yang tersampir di gantungan yang ada di dinding dan merapikan sedikit rambutku di cermin. Menatap secara keseluruhan penampilanku yang sudah rapi. Segera bergegas aku turun ke lantai pertama untuk sarapan bersama keluargaku.            Aku anak kedua dari keempat bersaudara. Yang pertama aku punya sosok Abang namanya Rio. Dia bekerja sebagai HRD di suatu perusahaan ekspor dan dia sudah menikah. Mbak Ika, istrinya sedang menyuapi anak lelakinya di pangkuannya yang masih berumur satu tahun.            "Luna, kamu pulang kerja nanti jam berapa?" Aku baru saja duduk di kursi ketika mamah bertanya. Kemudian menarik bangku, dan duduk di samping Papah setelah meletakkan kopi miliknya di atas meja. Aku mengunyah pelan nasi dalam mulutku. Mengingat-ingat kembali jam pulang kerjaku yang sepertinya hari ini bisa dibilang agak padat. Namun, sebelum menjawab, aku harus tahu dulu alasan mamah menanyakan jam pulangku, sebab mamah semestinya sudah hapal jam pulang kerjaku. Jadi, agak aneh kalo harus dipertanyakan lagi kecuali ada satu hal yang ada maksudnya dari tujuan beliau menanyakan jam pulang kerjaku. "Memangnya kenapa Mah?" Mamah melirik papah yang kini sama-sama melempar lirikannya ke mamah. Aku mencuri pandang ke abangku, Rio dan kakak ipar ku juga lalu berpindah pandangan ke adikku perempuan, dia anak ketiga yang bernama Lena---dia masih duduk di bangku kuliah semester akhir----melirik ke adikku yang cowok, Zaki----dia masih kelas dua SMA.             Mereka semua seperti sedang melempar kode. Memberi isyarat yang sudah kuketahui lebih dulu sebelum mereka menyadarinya. Aku merasa mereka seperti sudah tahu maksud mamah atau bukan hanya maksud mamah saja. Mereka tahu apa yang sedang direncanakan oleh kedua orang tuaku, hanya aku saja yang tidak tahu.              Mamah menghela napas sedikit. Menatapku lamat-lamat yang lalu mengatakan kalimat yang kubenci, kalimat yang bikin moodku rusak di pagi hari. Apalagi kalau bukan membahas soal, "jadi ceritanya ini Bagas mau ketemu sama kamu. Dia dari kemaren, lho, dateng ke sini tapi kamu pulang terlambat terus." Memang sengaja kok. Akunya yang nggak mau ketemu sama dia. Lagian dia mau apa, sih? Selalu datang ke rumah... aku, kan, lagi malas meladeni laki-laki. Nggak semua. Khusus sama cowok yang ini aja yang buat aku malas buat bertemu sama lawan jenis. Bukan maksudnya sombong, tapi aku memang tidak suka sama dia. Aku orangnya terang-terangan, bila memang aku nggak suka ya nggak suka. Tidak drama. Ya, memang, sih, nggak secara blak-blakan itu juga. Istilahnya aku mengatakan atau menunjukkan rasa ketidaksukaan ku kepadanya. Sebelumnya, aku sudah menolak baik-baik bahkan dengan cara sangatlah halus namun masih saja, seolah dia tetap terus gencar mendekatiku dan kayak meneror w******p ku. Aku selalu dihubungi yang entah pembahasannya pun tidaklah aku sukai atau bisa aku bilang, ya, kayak gak nyambung aja gitu ngobrol atau chatan sama aku. Ya, mana keburu demen, ilfeel duluan iya. Dia agresif banget masalahnya, itu yang buat aku gak suka. Kayak gerah aja gitu akunya. Arrrghhh! Kesel! Biarin saja, deh, aku balasnya di jam-jam yang memang sangat jauh dari jam ia mengirim pesan kepadaku. Itu juga kadang tidak aku balas pesannya. Aku lebih memilih mengabaikannya saja. Siapa tahu dengan begitu dia bisa menyerah.             "Ya, aku sibuk kerja. Lagian kayak gak ada waktu lain aja," cetusku bete banget.             "Kamu gak usah judes-judes gitulah sama orang. Mau kamu nggak laku? Kita, tuh, perempuan mesti ramah sama lelaki. Kalo gak suka yaudah biasa aja," balas mamah, makin tak kusuka dengan sikap cetusku yang sebetulnya ya salah juga aku bersikap begitu tapi karena sudah berulang kali aku harus menahan kejengkelan yang akhirnya ya begini jadinya. Aku merasa sangat tidak nyaman ujungnya.             "Aku udah bersikap ramah, lho, mana ada aku judes sama orang. Dianya sendiri yang nyebelin, wajar sikap aku lama-lama jadi dingin ke dia," ucapku sedikit meluap emosi. Aku sejak awal sudah bersikap dengan semestinya sebagai perempuan tapi ya balik lagi jika lawan mainku bersikap menyebalkan. Pasti orang juga bakal jengkel. Sama sepertiku. Mamah belum tahu saja bagaimana Bagas itu orangnya.             "Luna, kamunya itu kenapa, sih? Tiap dideketin sama laki-laki pada nolak. Jangan terlalu pemilih, lah, jadi perempuan, mah, takutnya nggak laku. Perawan tua. Mau? Bagas itu udah ganteng, mapan, sopan, kerjaannya juga udah menjanjikan masa depan. Mau yang gimana kamu itu, hah?" cecar mamah yang sebenarnya, yang tidak aku suka dari mamah ini cara bicaranya yang suka nyakitin perasaan. Aku sering kali berdebat sama beliau karena cara pandang yang berbeda. Kadang aku juga sangat lelah di rumah. Merasa semakin dewasa, rumah seperti bukan rumah yang nyaman untuk menjadi tempat aku pulang.            "Ya.. ya hati gak bisa diatur apalagi perasaan. Semisal aku sama dia jadian pun tidak akan langgeng karena aku emang gak ada rasa sama dia," ucapku kesal. Aku gak suka dipaksa-paksa terus. Mamah ini sementang Bagas bagus di matanya malah selalu memintaku untuk menerimanya. Aku tidak peduli mau dia sekaya apa juga. "Udah, ah, aku mau berangkat kerja dulu," ucapku mengakhiri perdebatan pada pagi hari ini untuk kesekian kali. "Bang, ayo," ajakku pada bang Rio.             Bang Rio mengangguk. Sejak tadi ia tidak ikut bicara. Semua tidak ikut bicara karena tidak mau semakin bikin runyam suasana. Lena dan Zaki masuk ke dalam mobil. Mengantar keduanya ke tempat sekolah Zaki dan kampusnya Lena, baru bang Rio mengantarkan aku ke rumah sakit. Aku bekerja sebagai psikolog klinis di rumah sakit ternama yang ada di Bandar Lampung.              "Maksud mamah itu baik, lho, buat kamu, buat masa depan kamu," ujarnya berusaha membujuk diriku yang sebetulnya tidak akan mempan dan tidak akan masuk ke dalam diriku. Cuma masuk kuping kanan dan keluar dari kuping kiri doang. Ya, seperti itulah.             "Dari dulu mamah itu kebanyakan ngasih aturan dalam hidup aku. Dulu aja aku diminta buat fokus saja sama karir di saat aku kepengen banget menjalin hubungan dengan seseorang. Sekarang, di saat aku lagi ingin sendiri, mamah nuntut aku buat menikah dengan inilah dengan itulah. Capek tau gak. Aku kayak gak punya kendali dalam hidup aku sendiri," keluhku emosi. Memijat pangkal dahiku dengan satu tangan yang bertumpu di tepi jendela mobil. Dadaku itu naik turun. Ada gemuruh yang tertahan di dalam dadaku ini.            "Kamu ini... terus kamu marah sama mamah? Iya?" berondong ia memberikan pertanyaan yang seakan terus menyudutkanku. Aku tidak menjawabnya. Aku memang marah. Aku berusaha untuk tidak menyimpan perasaan marah pada mamah sebab aku tidak mau durhaka pada orang yang sudah melahirkan dan membesarkan ku. Aku tidak mau. Hanya saja, aku bingung harus marah pada siapa. Memikirkan tentang masa depanku setelah karir yang kudapatkan, kehidupanku yang nantinya membina keluarga, hidup bersama pada seseorang yang masih menjadi misteri Tuhan, memang menjadi beban bagiku untuk saat ini karena aku belum menemukan tambatan hatiku belum lagi tuntutan-tuntutan dalam hidupku yang terus menekan diriku. "Mamah itu cuma mau yang terbaik buat kamu," lanjutnya kemudian. "Tapi mengabaikan keinginanku. Aku lebih tau mana yang terbaik untuk hidupku sendiri Bang," timpalku setelahnya. []

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Sepenggal Kisah Gama ( Indonesia )

read
5.1M
bc

Jodoh Terbaik

read
183.1K
bc

Suddenly in Love (Bahasa Indonesia)

read
77.9K
bc

Perfect Honeymoon (Indonesia)

read
29.6M
bc

DIA UNTUK KAMU

read
39.9K
bc

CRAZY OF YOU UNCLE [INDONESIA][COMPLETE]

read
3.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook