8. Bukan Kata Mereka tapi Kata Hati yang Bersuara [Bag. 2]

3718 Kata
Datang ke pernikahan sepupu ku dan diri ini masih belum punya pasangan pasti akan selalu dipertanyakan. Atau nanti sudah membawa pasangan pasti bakal disusul dengan pertanyaan lainnya, nikahnya kapan? Serba salah dan itu kenapa aku tidak pernah memedulikan omongan orang lain, justru apa yang mereka katakan tentang aku tidak pernah ku dengarkan. Buat apa? Hanya rasa lelah dan kefrustasian yang didapatkan. Aku sudah mencintai kehidupanku saat ini meskipun aku belum menemukan pasangan. Aku tidak selalu mempermasalahkan hal-hal yang nantinya akan menjadi beban pikiran. Orang-orang di sekitarku saja yang terlalu kelewat rasa kepeduliannya terhadapku hingga melupakan batasan-batasan yang seharusnya mereka sendiri tahu untuk bisa menjaga perasaan. Perasaan siapa? Ya, perasaan seseorang yang mereka bicarakan dan yang selalu mereka berikan pertanyaan, yang menurutku tidak harus dipertanyakan.  Aku bete banget pokoknya selama acara pernikahan itu berlangsung. Bagas selalu saja nempel denganku. Ke mana aja aku pergi, pasti dia bakalan ngikutin aku terus. Apalagi teman-teman Dania yang aku tidak kenal seakan-akan terpesona sama ketampanan Bagas. Sejujurnya, kalau dipikir-pikir pake logika, adanya Bagas itu seolah hal yang menjadi menguntungkan untuk diriku yang masih melajang ini. Pastinya aku gak bakalan terlihat ngenes banget di pernikahan sepupuku dengan usiaku yang sudah mau kepala tiga. Memanfaatkan Bagas! Ya, tapi sayangnya aku tidak bisa. Bukan karena nggak bisa tapi karena nggak mau. Hati dan logika aku tumbenan menolaknya. Biasanya, kadang kala hati dan logika itu suka bentrok, suka nggak selaras, suka nggak sejalan tapi untuk kali ini nggak. Aku jujur kalo emang udah gak seneng sama orang itu mau gimana juga bakal tetap nggak bisa untuk berdekatan dengan orang tersebut. Aku harus punya space antara aku dengan orang tersebut, dengan orang yang tidak aku suka. Dengan Bagas. Jadi, sebetulnya beban aku itu bertambah ketika di mana orang-orang melihat aku hadir dengan Bagas dan Bagas selalu menemani aku, pasti aku bakal dilempari pertanyaan, "kapan nikahnya? Kapan nyusulnya?" Sama saja, kan, bila dibandingkan aku datang sendirian pun. Apalagi yang lebih parahnya, kadang orang tua itu pasti bakal bilangnya, "gak usah lama-lama pacarannya, takut jadinya fitnah. Udah buruan dihalalin, mau nungguin apa lagi?" Astaga. Jujur beban aku itu malah ya bertambah. Bukannya malah meringankan yang seperti itu. Ya, aku tahu pasti banyak yang sudah mengetahui siapa Bagas. Belum lagi dia juga sangat aktif di sosial media. Apalagi dia punya manager buat yang mengurusi instagramnya. Udah kayak artis, ya? Orang-orang yang tinggal di Bandar Lampung pasti sudah tidak asing sama namanya. Pengusaha dari Bandar Lampung, belum lagi selebgram dari Bandar Lampung. Duh, aku mana bisa bersama cowok ini. Apalagi aku tidak suka diriku terekspos di mata semua orang. Bisa-bisa nanti ketenangan ku terganggu karena aku saja sudah mulai merasakan, satu dua tiga orang di sosial mediaku mulai di dm, menanyakan hal-hal yang membuatku risih. Tentang 'kamu siapanya Bagas? Kamu pacarnya Bagas ya?' Astaga! Entah dari mana mereka tahu nama i********: ku. Karena aku sendiri pun tidak punya banyak pengikut di i********: juga jarang memposting foto. Intinya tidak ada banyak yang tahu soal akun i********: ku kecuali mereka yang stalker-stalker ini mencari tahu tentang diriku di sosial media semisalnya akun i********: ku yang dicari oleh mereka diliat di Bagas yang mengikutiku dan langsung diserbu seketika itu juga. Aku sendiri nggak mem-followback akun Bagas. Yaaaa sudahlah. Aku anggap mereka itu netizen super duper kepo.    "Heh! Kak, udah itu suruh aja Luna menikah sama, sih, Bagas. Ih, udah ganteng nunggu apa lagi geh?" Sayup-sayup aku mendengar kakak-kakak sepupuku lagi membicarakan soal aku kepada mamah yang duduk di deretan mereka. Sementara aku sendiri lagi mengobrol sama sepupuku yang seumuran denganku. Tia. Tia umurnya juga yah masih di bawahku, sih, memang hanya beda beberapa tahun saja. "Yah, doain aja, sih, Lun tahun depan gue nikah sama pacar gue. Untung aja gue sabar menunggu kepastian dari pacar gue. Uh! Kalo nggak, mah, nggak kuat-kuat sabar udah gue tinggal, deh." Selagi Tia curhat selagi itu juga aku mencuri-curi pandang ke bagian mamah dan kakak-kakak sepupuku yang tidak terlalu jauh berada di dekatku. "Eh, Lo kapan nikahnya? Betah amat Lo ngejomlo. Dari jamannya Lo pacaran sama, sih, orang Lampung itu sampe sekarang Lo masih ngejomlo, aja Lun." Dia mendecak. Sambil geleng-geleng kepala. "Nyokap Lo, tuh, cerita terus sama kakak-kakak gue. Pernah minta ke kakak-kakak, cariin cowok buat Lo." Kali ini aku fokus dengan omongan dia. Sampai segitunya mamah minta saudara buat cariin aku cowok? Wah! Parah, sih, ini. Udah nggak bener kalau begini caranya. "Apaan, sih? Kapan nyokap gue bilang gitu?" tanyaku beruntun. Bersamaan dengan ekspresi wajahku yang seolah kaget dan campur kesal pokoknya. Mau marah aku ini tapi masih aku tahan.  "Yah, baru-baru ini, sih, karena Lo nolak, sih, Bagas... eh, tapi-tapi, sih, Bagas-Bagas itu juga ganteng, geh, Lo mah. Bukannya diterima aja. Nyarinya yang susah-susah, Luh." Aku menghela napas napas kasar. Tia mah udah urusan cowok ganteng jangan ditanya. Matanya jelalatan. Aku menggelengkan kepala. Kalau udah bahas Bagas, aku udah malas sekali. Aku berniat untuk mengakhiri percakapan ini dengan mengatakan, "Tia, gue ke nyokap gue dulu, ya." Tia sempat heran dan kaget cuma aku langsung bangkit setelah pamitan sama sepupuku. Tia sempat meneriaki dan bilang, "Eh, Lo mau ngapain, Lun!?" Namun tak kuhiraukan dia. Saat aku sudah mendekat ke arah mereka, ke kakak-kakak sepupuku dan mamah. Semua pasang mata menatapku. "Luna... Ayo, sini gabung. Jangan diem-diem aja," ajak salah satu kakak sepupuku yang sebenarnya mulutnya itu tidak kusuka. Tukang nyinyir. "Ini, lho, kita lagi ngomongin soal Bagas. Cocok, lho, kalian berdua," katanya memberikan komentar, padahal aku tidak membutuhkan obrolan basa basi ini karena yang sekarang kubutuhkan adalah bicara sama mamah yang seolah mengabaikan kehadiranku di mejanya. "Udah buruan nikah," sambungnya lagi. Seolah mengompori banget suasana sekarang. Lebih tepatnya mengompori mamah supaya aku bisa secepat itu untuk menikah sama Bagas. "Kak, aku bakal menikah kalau akunya sudah siap, okey?" Akhirnya setelah aku bersuara hanya satu patah kalimat saja mereka langsung terdiam dan bungkam seketika itu juga. Aku nggak bisa diam saja ketika diriku selalu saja ditekan sana sini. Ditekan tiada henti. Ditekan tanpa ada yang memedulikan perasaan ku ini. "Aku mau bicara sama Mamah." Barulah mamah memandangku. "Sekarang," tandasku tegas. * * * * "Mamah udah kelewatan, ya, lama-lama," selorohku ketika aku dan mamah berbicara di luar gedung, tempat yang agak jauh dari sanak saudara dan para tamu. "Maksudnya apa coba Mamah pake segala minta cariin jodoh sama kakak-kakak sepupuku buat aku? Malu, lho, Mah, aku ini. Cara Mamah sama aja yang seolah buat aku jadi keliatan cewek gak laku. Udah kayak menjatuhkan aku tau gak!?" tukasku blak-blakan. "Kamu kalo misalnya laku harusnya kamu udah menikah sekarang!" seru mamah emosi. "Tapi apa? Sampe sekarang kamu gak nikah-nikah." Sumpah itu kalimat nyakitin banget. Udah kayak meragukan diri aku kalau anak perempuannya ini memang tidak laku. "Aku sudah bilang, kan, sama Mamah.. aku belum siap menikah, aku juga belum bertemu dengan orang yang tepat. Ya, jika dipaksain pun nggak akan cocok sama aku. Hati aku nggak bakal nerima. Jadi, Mamah nggak perlu maksa-maksa aku sekarang," jelasku berapi-api dengan nada pelan pada akhir kalimat tapi aku tahu mamah bisa menangkap kalau aku bicara dengan tegas dan tidak main-main. Sebelum mamah menjawab lagi, dia sempat memerhatikan keadaan sekitar dari orang-orang yang memang sempat memerhatikan kami walaupun hanya sekilas saja dan tidak lagi memedulikan justru sibuk dengan aktivitas masing-masing. Keluar masuk gedung. "Percuma, ya, ngomong sama anak keras kepala kayak kamu gini. Kamu tidak mau merasa malu tapi kamu membiarkan Mamah merasa malu di depan keluarga besar karena kamu sampai sekarang belum menikah-nikah. Contoh Dania yang nggak pernah melawan sama orang tuanya. Segalanya nurut nggak kayak kamu. Kamu, yah, kalau sudah perawan tua, baru kamu kerasa hidup kesepian tanpa pasangan itu gimana rasanya. Terserah kamu aja sekarang, Mamah udah nggak peduli lagi. Kamu mau jungkir balik, kek, apa kek. Terserah!!!" tandasnya berupa arti jika mamah sudah sangat marah dan kecewa pada ku. Tepat saat ia meninggalkanku dengan masuk ke dalam gedung, kegelisahan dalam diri ini pun semakin menjadi-jadi. Aku tidak tahu lagi apakah yang kulakukan saat ini adalah sebuah kesalahan yang akhirnya mengecewakan kedua orang tuaku. Aku bingung. Lama-lama ditekan begini aku bisa frustasi pada akhirnya. Mereka menekanku dan terus begitu. Aku seperti menjadi beban pada kehidupan keluarga aku. Karena diriku yang belum menikah yang membuat mereka merasa malu sekali. Ku usapkan wajahku. Aku sudah tidak selera untuk berlama-lama di sini. Aku pun sebelum nanti ketemu Bagas lebih baik pulang saja setelah tadi mamah meninggalkanku dengan api yang membumbung tinggi. Api marahnya yang tidak akan bisa aku padamkan sebelum aku mengikuti keinginan mamah untuk menikah sama pria yang mamah inginkan. Seperti Bagas misalnya. Aku mengeluarkan hpku untuk menghubungi Mahesa. Aku buruh tempat cerita dan hanya dia yang bisa memahami diriku. Sejak aku mengenalnya dari waktu SMA dia tidak pernah berubah. Dia masih menjadi tempatku untuk menampung segala keluh kesahku. Aku berharap saat ini Mahesa tidak ada jam praktek kerja operasi. "Hallo?" "Hallo? Kenapa Lo nelpon gue!" jawabnya sengak. "Yey, sewot banget, sih, itu mulut belum pernah dicium sama ikan cupang Lo, ya," celetukku asal. "B a c o t sekali anda," balasnya mengeja satu kata bahasa kasar itu. "Udah... udah jangan kebanyakan ngomong dulu. Lo sibuk gak? Bisa jemput gue gak? Lo gak ada jam praktek, kan, hari ini?" tanyaku beruntun tak memberinya kesempatan untuk bicara sebab ku dengar helaan napas dan namaku dipanggil tapi ku sela terus karena memang aku lagi panik pasti begitu. Sudah menjadi kebiasaan aku memang. Lagian ini hari Minggu juga, sudah seharusnya Mahesa tidak ada jam praktek di hari weekend. "Neng... neng... sabar, ya, neng. Satu-satu dulu nanyanya. Ini akang bingung, nih, jawabnya yang mana dulu." Aku menarik napas pelan-pelan. Sesekali aku melongok kan kepalaku dari pintu luar untuk memerhatikan apakah ada Bagas atau tidak. Namun, sepertinya tidak ada karena aku tidak melihat batang hidungnya.  "Lo ada jam praktek operasi gak?" tanyaku ulang. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Mahesa di tempatnya. Aku dengar dia sempat berbicara dengan seorang suster baru setelahnya ia mulai bicara lagi denganku. Ah, Mahesa. Jangan kelamaan dong! "Gue baru selesai mandi. Lo mau dijemput di mana?" tanya ia. Mahesa memang lelaki yang bisa aku andalkan. Selalu begitu. Aku harap dia bisa sesegera mungkin datang menjemputku setelah kuberitahu tempat di mana dia harus menjemputku. Suara-suara bising lelaki terdengar sepertinya ada beberapa orang yang ingin keluar gedung. Aku berusaha tidak menampakkan diriku di depan mereka dengan sibuk mengecek hp ku. Ku menolehkan kepalaku saat dirasa mereka para lelaki keluar dari gedung. Mataku tak sengaja menangkap sosok lelaki yang sepertinya aku mengenalinya. Dia mirip seperti sosok lelaki yang pernah hadir di kehidupanku. Dia seperti seseorang yang ada di masa laluku. Aku tidak tahu apakah aku salah lihat dari beberapa lelaki yang berjalan masuk ke dalam mobil mereka, aku langsung ciren dengan postur tubuh salah satu lelaki di antara mereka. Aku masih mengingat postur tubuhnya itu. Rombongan para pria itu pada masuk ke tiga mobil yang terparkir. Aku pasti tidak salah lihat. Aku maju lagi sedikit ke arah depan. Itu pasti dia. Dia yang lagi mengobrol dengan temannya yang hendak mau masuk ke mobil yang lain yang ia juga sudah membuka pintu mobil bagian depan. Dan lalu secara tiba-tiba dia mengalihkan tatapannya dan tak sengaja mengarah ke aku. Aku langsung berbalik badan lagi seperti sebelumnya. Seperti ketika lelaki-lelaki itu keluar gedung. Nggak. Dia tidak boleh melihat diriku. Aku pikir, tadi aku salah lihat. Tapi ternyata memang benar. Itu dia. Lelaki itu yang dulu pernah menjadi masa laluku dan sekarang kita sempat berada di tempat yang sama. Darahku berdesir tiba-tiba seiring detak jantungku yang kian cepat berdetak. Aku memegangi dadaku yang terasa sakit dan terus berdenyut. Kilas balik yang datang tanpa ku minta itu hadir dalam pikiranku, membawa ingatanku itu berselancar pada masa lalu yang seharusnya tak lagi teringat kembali olehku. "Luna!" Aku tersentak kaget. Seseorang menepuk bahuku. Dia Bagas. Dia lagi. Dia yang telah menghancurkan lamunanku, pikiranku. Mau apa lagi, sih, dia? Selalu saja menggangguku. Apa tidak capek kah dia sudah aku campakkan juga. Sudah jelas-jelas ku tolak tapi masih saja mendekatiku. Katanya banyak perempuan yang mau sama dia dan kenapa masih saja menginginkanku? Apa yang dia harapkan dariku memangnya? "Kamu ngapain di sini sendirian. Ayo, masuk." Ajakannya itu seperti sebuah perintah darinya. Aku menoleh ke belakang. Mobilnya sudah tidak ada. Dia sudah pergi. Hati kecilku merasa sangat sedih karena tak sempat untuk melihatnya sekali lagi. "Luna, lagi ngeliatin, apaan, sih? Ayo, masuk!" Ia memaksaku semakin menjadi-jadi. Malah ia dengan beraninya, dengan lancangnya, dengan kurang ajarnya malah menarik tanganku meskipun tidak kencang. "Ih! Apaan, sih! Lepas!" sentakku protes sembari melepaskan tangannya yang tak sopan dari pergelangan tanganku. Aku benar-benar tidak suka dengan manusia satu ini. Semakin ia mendekatiku semakin itu juga aku menjauh dan merasa sangatlah ilfeel dengan sikapnya. "Gak usah seenaknya ya ngatur-ngatur saya!" tukasku. Aku masih waras untuk bertutur kata yang sopan di hadapannya bila aku tidak memandangnya anak teman dari papahku.  Sampai saat ini aku masih menghargainya karena aku masih mengingat papah. Aku tidak mau bikin malu papah karena sikapku yang tidak sopan dengan lelaki ini. Walaupun ada rasa jengkel di dalam diriku. Ada rasa ingin ku ceplas-ceplos dan mengumpat apapun itu kata-kata kasar kepadanya. Aku ingin dia berhenti mengejar ku. Aku tidak mau digangguin terus. Lama-lama aku sendiri bakal merasa risih nantinya. Dan sekarang terbukti, kan? "Oh, gini ya sikap kamu makin berani ngelawan aku. Orang tua kamu mau menjodohkan kita berdua. Jadi, kamu jangan bersikap ngelawan apalagi kurang ajar sama aku, Luna! Belum jadi istri aja kamu sudah berani betingkah begini gimana kalo udah jadi istri aku kamu?" Aku mengernyitkan dahi ku. Ini kupingku nggak salah dengar, kan? Dia malah yang emosi balik ke aku. Seharusnya yang marah itu ya aku dan bukan dia. Ini cowok lama-lama nggak waras, ya. Udah mulai sarap. Udah mulai nggak jelas banget tingkahnya. Bikin aku muak lama-lama melihat sikapnya yang seperti ini. Dan apa? Apa? Hah! Apa? Istri? "Eh, mohon maaf, yang mau jadi istri kamu itu siapa? Saya? Emangnya kapan saya mau jadi istri kamu Pak Bagas yang terhormat?" seruku sinis dan tajam. Membayangkan bagaimana dia akan menjadi suamiku kelak saja sudah membuat aku bergidik ngeri. Nggak! Nggak mau aku juga jadi istrinya. Tanganku tiba-tiba ditarik dan digenggam kuat-kuat. Aku meringis kesakitan tapi aku berusaha tidak menunjukkan kelemahan ku terhadapnya. "Heh! Inget, ya, Lun yang mau sama aku ini banyak. Aku bisa membeli perempuan dengan hartaku. Banyak yang ngantri mau jadi istri aku jadi jangan sok jual mahal kamu cuma karena aku lebih memilih kamu dan ngejer-ngejer kamu. Gak usah sok kecantikan!" Wajah memerah nya sangat dekat dengan wajahku hingga aku merasakan terpaan nafasnya yang berhembus. Matanya melotot seperti ingin menelanku hidup-hidup. Hah? Dia pikir dengan dia menunjukkan emosinya, dengan dia menunjukkan kemarahannya, dengan dia bersikap keras dan kasar begini aku bakal takut sama dia? Nggak! Meskipun jantungku memang berdebar kencang. Namun, tidak! Aku tidak boleh takut sama lelaki yang bersikap kasar sama aku. Aku tidak mau menjadi perempuan yang lemah dan mudah tertindas apalagi sama dia. Dia setan berupa manusia. Dan manusia gak boleh takut sama setan. Sama iblis! Sama jurik! "Kamu yang mestinya denger, ya, orang tua saya memang menjodohkan kita tapi bukan berarti saya mau sama kamu. Jangan keegeran kamu, jangan merasa bangga apalagi merasa menang. Jangan merasa kamu lelaki satu-satunya yang diinginkan perempuan, ya," ucapku telak dan menusuk. Aku ingin dia bisa sadar sama apa yang dia ucapkan. Lelaki sudah punya kekayaan banyak pasti bakal bersikap seolah dia raja yang paling bisa menguasai apa yang dia mau. Yang paling bisa mendapatkan banyak perempuan dan membuangnya dengan sesuka hatinya. "Saya itu nggak sudi semisal harus menikah sama kamu nantinya. Lebih baik saya perawan tua daripada menikah sama lelaki sombong! Egois! Kasar! Dan tempramental kayak kamu! Bisanya merendahkan perempuan saja!" Yah, ya sudah. Sudah kepala tanggung. Bicara pelan dalam suasana hati yang benar-benar diliputi amarah yang membumbung tinggi pun tak akan bisa membuat diri ini puas. Terserah dengan apa yang orang-orang katakan. Terserah dengan maluku yang tak lagi kupikirkan. Terserah juga bila Dania dan keluarga besar dari pihak kami atau pihak suaminya marah. Aku tak tahan bila diperlakukan dengan Bagas seperti ini. Aku punya harga diri dan tidak bisa disamakan dengan perempuan lain. Juga aku sangat membenci lelaki manapun yang merendahkan perempuan hanya karena harta yang dimiliki oleh pria tersebut dan kesombongan yang semakin tinggi. "Kamu mau beli perempuan? Yah, silakan. Tapi jangan kamu pikir saya mudah kamu dapatkan. Nggak peduli saya itu kamu mau sekaya apa. Nggak, Bagas." Semakin kami berseteru semakin itu pula keramaian di depan gedung makin menjadi-jadi. "Diam kamu!" desisnya menunjuk wajahku. Tanganku masih dicengkeram olehnya seperti enggan pula untuk dilepaskan. "Nggak! Saya nggak mau diem. Biarin aja. Biarin semua orang tau terutama perempuan-perempuan yang berebutan kepengen jadiin kamu suami mereka. Biar mereka mikir seribu kali mau jadi istri dari seorang Bagas Pratama. Nanti, kan semua orang tahu dibalik kemewahan, kesuksesan dan ketampanan kamu ternyata seorang Bagas Pratama adalah lelaki yang cuma bisanya merendahkan perempuan saja! Kamu itu nggak lebih dari manusia sampah!" Bagas melepaskan tanganku dan diganti dengan tangannya yang terangkat hendak ingin menampar mulutku yang sudah mempermalukan ia barusan dan juga sudah mencaci makinya habis-habisan. Mungkin bila di film atau di sinetron yang sering ku tonton adegan ini akan menjadi yang paling tepat untuk orang lain datang menahan tangan lawan mainnya dan dianggap seperti pahlawan yang telah menyelamatkan seseorang yang disakiti tapi tidak. Akulah yang menjadi pahlawan untuk diriku sendiri. Satu tanganku yang lainnya ku gunakan untuk menahan pergelangan tangannya. Tangan Bagas terhenti di udara. Iya, dia pasti mikir-mikir juga mau menampar ku di depan orang banyak terlebih juga di depan ke dua orang tuaku yang berdiri paling depan di antara orang-orang yang mengerubungi kami. Kalau itu bisa terjadi. Dia berani menamparku di depan semua orang, aku yakin sekali jika tidak akan ada satu pun orang yang mau membela dan berada di pihaknya. Aku yakin juga pasti karirnya akan hancur berantakan. Aku berharap kejadian ini ada yang memvideokan ya supaya bisa viral dan supaya orang-orang tahu Bagas itu orang yang seperti apa sebenarnya. Sifat buruk dan kejelekannya itu tertutupi karena image dan karirnya yang berada di puncak kejayaan. "Luna!" seru mamah. Bagas menjauhkan dirinya, mundur beberapa langkah dari posisinya tadi. "Apa-apaan kamu ini?" seloroh mamah marah-marah. Mamah kenapa marahnya sama aku dan bukan sama dia? Tatapan bingungku jelas kuperlihatkan pada mamah yang balik menatapku penuh kemarahan yang tak lagi tertahan. "Mah, Mamah mau menjodohkan aku sama pria ini, kan?" Aku sudah tidak takut-takut lagi jika harus bicara untuk kepentingan diriku saat ini karena semakin dipendam saja pun akan menjadi penyakit hati untuk diriku sendiri. "Mamah bisa liat sendiri, kan, apa yang dia lakuin ke Luna barusan. Dia mau menampar Luna, Mah! Pria kasar ini jelas nggak baik dan nggak pantas buat Luna." Mataku sudah memerah, meneriaki apa yang kukatakan barusan dengan suara yang bergetar. Aku menahan tangis dengan tubuhku bergetar hebat juga. Aku menahan diri untuk tidak jatuh. Aku menahan diri untuk tidak lari juga dari seluruh tatapan banyak orang yang seperti menelanjangi ku. Tapi, aku tidak akan berhenti di tengah jalan begitu saja jika aku belum seluruhnya mengeluarkan kalimat yang seharusnya aku katakan sejak lama, sejak aku tahu kebusukan dari aku mengenal pria seperti dirinya ini. "Dia pria b******k yang nggak akan pernah pantas menjadi masa depan aku, Mah," lirihku dan tepat saat itu pula aku merasakan panasnya di pipiku yang mendapatkan tamparan yang melayang di wajahku hingga rasa sakitnya dikalahkan oleh rasa malu dan rasa tak berharganya diriku saat ini di depan semua orang. "Semakin hari semakin kurang ajar aja mulut ya kamu ini," ujar mamah sinis bersama ekspresi datarnya. Keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhku. Riasan make up ku pun sudah berantakan bercampur air mata yang mengalir deras tanpa menangis sesenggukan seperti anak kecil. Aku tahan rasa sakitnya tapi hatiku ditusuk-tusuk berkali-kali dengan belati nan tajam tanpa memberikan jeda untuk menarik napas sejenak demi menetralkan rasa sakit yang tak berujung ini. "Kamu udah mempermalukan Mamah dan keluarga besar kita!" Barulah nada bicara mamah naik lebih tinggi dari sebelumnya juga berapi-api ia mengatakannya. Aku ketakutan. Aku merasa sendirian di sini. Tidak ada yang mau membelaku atau bahkan mau memihakku untuk sekedar melindungi ku. Lena. Dia mau menolongku saat kulihat. Namun, papah menahan tangannya. Menahan diri Lena untuk tidak ikut campur dengan masalahku. Sempat aku tersenyum tipis ketika Lena ingin mendekatiku tapi senyumku pun pudar. Sakitnya bertambah ketika melihat bang Rio sama sekali tak berkutik dengan Mbak Ika pun sama juga Zaki yang lebih dulu pergi tanpa berniat menyaksikan drama ini sampai selesai. "Kamu gak memandang kita semua Luna. Ini pernikahan siapa? Acara siapa? Acara kamu memangnya bisa sesuka hati kamu membuat keributan di sini? Ini acara Dania. Sepupu kamu. Mikir nggak, sih, otak kamu ini?" sambung mamah lagi kemudian. Tidak ku tatap mamah saat dia menyebut nama Dania. Justru Danialah yang kupandangi di tengah-tengah pintu ruang gedung ia berdiri bersama suaminya. Aku bisa melihat kekecewaan di matanya. Dia pun memilih masuk ke dalam gedung disusul oleh suaminya. Semua keluarga menatapku marah seperti menandakan permusuhan. Aku telah menghancurkan acara pernikahan yang sangat berarti bagi Dania, bagi suaminya dan bagi semua orang yang turut merasakan kebahagiaan Dania. Aku telah menghancurkannya. Keegoisanku dan emosiku yang tak bisa ku kendalikan. "Sekarang kamu lebih baik pergi dari sini. Kamu masih punya muka, kan? Masih punya urat malu juga, kan?" Kini tatapanku beralih ke mamah. Aku bisa merasakan seberapa besarnya rasa kecewa mamah terhadapku. "Jangan sekali-kali lagi kamu nampak kan diri kamu di hadapan Dania atau keluarga yang lain. Kejadian ini nggak bisa dilupakan Luna. Mamah malu punya anak perempuan kayak kamu." Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain lari dari sana. Melepaskan diri dari kerumunan orang-orang yang semakin penasaran dengan keributan yang telah aku ciptakan. Bukan. Seharusnya bukan aku tapi Bagas. Harusnya Bagas yang disalahkan. Aku menutup wajahku. Aku menangis deras tiada henti-hentinya. Tiba-tiba seseorang mendorong tubuhku dari belakang ketika aku berlari kencang sudah keluar dari gedung resepsi yang menjadi tempat pernikahan Dania. Aku didorong oleh seseorang sampai ke arah mobil yang tak jauh dari posisi aku. Aku menoleh ke belakang dan ternyata Mahesa yang kini membukakan pintu untukku. "Sorry terlambat nyusul Lo," katanya singkat. Ia terlihat sangat serius untuk saat ini. Tidak ada Mahesa yang iseng dan suka buat aku marah. Tidak ada Mahesa yang jail, yang bisanya suka buat aku naik darah. Saat ini hanya ada Mahesa yang berbeda dari yang ku kenal. Mahesa yang terlihat marah dan tak terima akan suatu hal. Mahesa segera memutari mobil dan masuk lalu duduk di sampingku. Dia menoleh ke aku. Aku sendiri hanya tertunduk lesu. "Kita pergi sekarang," ucapnya lagi. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN