Kayleen

2127 Kata
Malamnya, Bastian membantu di dapur seperti biasa, sambil sesekali matanya melirik ke arah Meylan yang terus diam sejak keluar dari kamar.  Hatinya semakin merasa kalut, karena baru kali ini ibunya marah.  Setelah restoran tutup, Bastian bergegas menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia ingin berbicara dengan Meylan dan meminta maaf.  "Ma, temenin Tian ke mini market ya," ujarnya di telinga Meylan. “Mau ngapain? Kan bisa sendiri,” sahut Meylan dingin. “Pengen sama Mama, boleh kan? Kita kan udah lama nggak jalan berdua bareng,” bujuk Bastian. Meylan menghentikan kegiatannya membersihkan meja-meja di dalam ruangan dan menatap tajam pada Bastian. Hatinya masih sedikit merasa kesal karena kejadian tadi, dan juga sekaligus sedih karena merasa sangat menyesal tidak melarang saat Jimmy mengijinkan Bastian berlatih bela diri pada Aliong. “Memang kamu mau beli apa?” tanya Meylan mengalah. “Permen, cokelat, keripik, masih banyak lagi,” ujar Bastian. “Tumben kamu pengen makan yang begituan?” “Tian mau ujian Ma, dan akan belajar sampe larut, jadi butuh asupan tenaga yang banyak.” Meylan tertawa mendengar jawaban putranya. Sejak Bastian bersekolah, anak itu memang selalu membeli jajanan jika akan menghadapi ujian, padahal sehari-hari, anak itu selalu menjaga pola makannya. “Baiklah, ayo Mama temenin.” Meylan menaruh kain lap dan mencuci tangannya, kemudian pergi bersama Bastian menuju mini market yang buka dua puluh empat jam. “Mama marah ya sama Tian?” tanyanya dalam perjalanan ke mini market. Meylan hanya diam dan terus berjalan di sisi Bastian.  “Kalo Mama diam, berarti beneran marah sama Tian, iya kan?” “Sembarangan aja kalo ngomong!” sahut Meylan. Bastian melingkarkan lengannya ke bahu Meylan dan memeluk wanita itu dengan penuh kasih.  “Maafin Tian ya udah bikin Mama sedih.” “Kamu nggak salah Tian, sama sekali nggak salah,” “Terus Mama kenapa diem aja?” sela Bastian. “Gapapa Tian,” elak Meylan. “Udah sampe kita, sekarang masuk dan pilih apa aja yang mau kamu beli.” “Mama ikut masuk kan?” “Hm.” Meylan dan Bastian masuk ke dalam mini market dan mulai memilih apa saja yang akan dibeli.  “Kamu nggak salah?” tanya Meylan melihat jajanan yang diambil Bastian. “Kebanyakan ya Ma?”  “Nggak sekalian aja kamu borong semua yang ada di sini.” “Boleh?” “Boleh,” sahut Meylan. “Sekalian bilang sama Aliong suruh beli tokonya aja sekalian.” “Kok jadi bawa-bawa Ko Aliong?” tanya Bastian bingung. Namun, hanya sesaat Bastian bingung. Detik berikutnya sebuah pemahaman melintas di benaknya. Meylan bukan marah pada dirinya, melainkan pada kakak angkatnya. Bastian tidak bertanya lagi, dan sengaja mengalihkan pembicaraan. “Jadi Tian boleh ambil semua nggak?” “Lho kok nanya Mama, kan kamu yang beli, berarti kamu yang bayar, ya terserah kamu.” “Yah …, kirain dibeliin sama Mama.” “Enak aja. Mama kan cuma nemenin doang. Yang ada harusnya kamu yang jajanin Mama,” protes Meylan sambil tertawa. “Mama mau? Silakan ambil yang Mama suka, biar nanti Tian yang bayar,” ujarnya sambil menaruh semua bawaannya ke dalam keranjang. “Nggak usah,” sahut Meylan. “Kalo udah selesai, kita pulang yuk, nanti papa nyariin.” “Oke.” Bastian membawa keranjang belanjaan ke kasir dan menunggu hingga kasir selesai menghitung. Setelah membayar, Bastian keluar dari mini market bersama Meylan dan kembali menyusuri jalan menuju restoran. Sambil berjalan, Bastian meraih tangan Meylan dan menggandengnya. “Mama marah sama Ko Aliong karena udah ngajarin Tian ya?”  Meylan tersentak mendengar pertanyaan Bastian.  Dirinya sedikit terkejut karena putranya dapat menebak dengan benar. “Kalo Mama diem, artinya iya,” ujar Bastian lagi. “Mama nggak marah, hanya nggak suka,” “Alesannya?” sela Bastian. “Gimana kalo nanti kamu ikut-ikutan jadi preman kayak dia? Bagaimana kalo nanti kamu juga terjun ke dunia yang dia jalanin? Terus nanti kamu kenapa-kenapa? Mama mesti gimana? Apa mesti diem aja?!” “Ma,” ujar Bastian lembut. “Tian nggak akan ikut-ikutan Ko Aliong, karena nggak boleh sama dia. Dan lagian, Tian pengen sekolah yang bener, terus kuliah.” “Emang kamu udah tau mau kuliah apa?” tanya Meylan yang menjadi bersemangat kembali. Selama ini Bastian selalu diam dan tidak pernah menceritakan impian, apalagi cita-citanya. Mendengar Bastian menyebut kata kuliah membuat dirinya sangat senang. “Masak,” sahut Bastian mantap. “Masak?!” ulang Meylan terkejut. “Hm. Kenapa? Nggak boleh ya?” “Bukan …, bukan gitu., Mama kaget aja dan nggak nyangka aja kalo ternyata kamu beneran serius dengan masak.” “Ma, dari Tian kecil, memang udah tertarik dengan masak. Karena hal itu juga Tian diusir dari rumah. Orang tua kandung Tian, terutama Bapak yang nggak suka liat anak laki-laki masuk ke dapur.” “Mama ngerti Tian.” “Apa Mama sama papa bakal ngelarang juga?” “Kalo memang kami nggak suka, sudah dari awal ngelarang kamu masuk ke dapur. Tapi nyatanya kan nggak. Jika memang itu keputusan kamu, silakan jalani dengan baik.” “Beneran Ma?” “Hm. Tapi Mama mohon, kamu juga bilang sama papa, supaya dia juga tau apa yang kamu pikirin dan inginkan.” “Iya Ma.” “Sekarang kita masuk, beres-beres, dan kamu istirahat,” ujar Meylan sambil menggeser pintu depan. “Siap Ma,” sahut Bastian. “Kalian dari mana?!” ujar Jimmy saat Bastian dan Meylan masuk ke dalam. “Dari mini market Pa,” sahut Bastian. Sedangkan Meylan meneruskan langkah menuju dapur, karena ternyata Jimmy sudah selesai membereskan ruangan yang dijadikan tempat makan. Meylan memakai sarung tangan karet dan langsung mencuci perabot yang bertumpuk di bak cuci dan sekitarnya. Bastian pun mengikuti Meylan membereskan dapur. Dia menyapu, sekaligus mengepel lantai dapur. Setelah semua pekerjaan di dapur selesai, Bastian mematikan seluruh lampu di dapur dan ruang makan, memeriksa pintu depan dan belakang, setelah itu naik ke kamarnya sambil membawa bungkusan berisi jajanan. *** Bel pulang berbunyi dengan nyaring memenuhi koridor sekolah. Bastian langsung membereskan tas dan berjalan keluar kelas. Di pintu dia berpapasan dengan salah seorang siswa perempuan. “Hai Bastian,” sapa Kayleen. “Mau pulang?” “Hm,” sahut Bastian. Kayleen tetap berdiri dan menghalangi pintu, sehingga Bastian tidak dapat meneruskan langkahnya. Dia menatap gadis itu dan berharap Kayleen mau sedikit menggeser kakinya hingga dia dapat keluar. “Permisi, saya mau keluar,” ujar Bastian karena sepertinya Kayleen tidak mengerti arti tatapannya. “Boleh saya main ke rumah kamu?” tanya Kayleen. “What?!”  Bastian tidak habis pikir mengapa gadis yang berdiri di hadapannya begitu berani menanyakan hal itu, padahal selama ini mereka tidak pernah saling bertegur sapa. Kayleen adalah salah satu gadis cantik dan populer di sekolahnya, dan selalu bersikap dingin pada dirinya. “Pulang sekarang?” tanya Zack yang baru tiba di depan kelas Bastian. “Tapi saya nggak bisa lewat karena dia menghalangi jalan,” sahut Bastian sambil menatap datar pada Kayleen. Zack terkekeh mendengar perkataan temannya itu. Sejak kejadian Bastian mengalahkan Rocky dan juga Ben, banyak anak-anak perempuan berlomba untuk mendekati dan mencoba menarik perhatian Bastian, dan selalu ditanggapi dingin  oleh temannya itu.  “Udah, tinggal lewat aja susah amat,” sahut Zack sambil terus tertawa. “Iya Tian, tinggal jalan aja,” timpal Dave yang baru bergabung. “Baiklah.” Bastian memindahkan tas ranselnya ke tubuh bagian depan dan mendorong pelan Kayleen ke samping sehingga ada ruang baginya untuk keluar dari kelas. Terdengar sorakan dari dalam kelas karena Kayleen yang tidak berhasil menarik perhatian Bastian. “Ayo pulang,” ujar Batian pada Dave dan Zack. “Oke,” sahut kedua temannya bersamaan. Mereka berjalan meninggalkan lorong kelas menuju ke pintu keluar gedung. Bastian berjalan dalam diam sampai tiba di gerbang sekolah, dan tidak mengacuhkan Dave dan Zack yang membahas tentang ujian sekolah. “Kamu kenapa diam aja?” tanya Zack sambil menyodok tangan Bastian dengan sikunya. “Gapapa.” “Bohong! Pasti ada yang mengganggu pikiran kamu.” “Sedikit,” ujar Bastian jujur. “Tentang?” “Kayleen.” “Kenapa sama dia? Apa kamu suka?” ujar Dave. “Aku nggak suka dengan dia, hanya bingung dengan sikapnya belakangan ini. Mengapa selalu mendekati dan berusaha mengobrol atau bertanya sesuatu. Padahal selama ini tidak pernah menganggap saya ada.” “Mungkin dia begitu karena tahu bahwa kamu itu sedang jadi pembicaraan semua anak,” sahut Dave. “Memang kamu nggak tau?” tanya Zack. “Tentang?” “Kamu itu sekarang jadi idola baru karena dapat mengalahkan Rocky dan Ben. Anak-anak berlomba mencari tahu di mana kamu belajar bela diri karena ingin berlatih juga,” ujar Zack. “Itulah yang saya nggak suka, dan kenapa selama ini selalu menghindar,” ujar Bastian sambil menendang sebuah batu kecil di dekatnya. “Aneh,” gumam Zack yang tidak dapat memahami jalan pikiran temannya. “Bukankah menjadi idola itu bagus? Kita dikenal oleh banyak orang, bahkan akan banyak mendapat kemudahan.” “Lebih enak menjadi orang biasa Zack,” sahut Bastian. “Percaya sama saya. Hidup kita akan lebih damai dan tenang.” “Sok tau kamu,” sahut Zack sambil menonjok pelan bahu Bastian. “Terserah kamu,” ujar Bastian sambil menggedikkan bahu. Sekian tahun bersama Aliong, membuatnya memahami semua yang dikatakannya barusan pada Zack. Ke manapun dia pergi bersama Aliong, selalu saja bertemu dengan orang yang mengenal kakak angkatnya itu, entah itu kawan ataupun lawan. Dan sampai saat ini hal itu masih membuatnya merasa tidak nyaman.  Karena itu juga, Bastian lebih memilih menghabiskan waktu dengan Aliong saat pria itu mengajaknya ke pondok. Tidak ada yang mengganggu dan dia dapat mengobrol bebas dengan Aliong. Bastian berpisah dengan Dave dan Zack di persimpangan jalan besar, kemudian berjalan sendirian hingga tiba di restoran. “Tian pulang,” sapanya pada Jimmy yang sedang menghitung uang di meja kasir. “Langsung makan,” sahut Jimmy tanpa mengangkat kepala. “Iya Pa,” sought Bastian. “Mama mana?” “Di atas, tadi bilang mau istirahat,” “Mama sakit?” sela Bastian yang urung ke dapur. “Katanya pusing.” Bastian membalikkan badan dan naik ke atas untuk melihar Meylan. Dia membuka perlahan pintu kamar tidur, dan melongokkan kepala. Dilihatnya Meylan berbaring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Bastian berjalan menghampiri tempat tidur, kemudian menyentuh kening Meylan yang terasa panas. Bastian bergegas keluar, turun ke bawah mengambil baskom kecil di dapur untuk mengompres ibunya. “Ngapain lo?” tanya Jimmy melihat Bastian membawa baskom. “Mau ngompres mama.” “Demam?” “Iya Pa.” “Ya udah elo kompres mama. Gua kunci pintu dulu, ntar gua bawain makanan, biar dia bisa minum obat.” “Iya Pa.” Bastian naik ke atas, masuk ke kamar mandi, menuang air ke dalam baskom dan kembali ke kamar untuk mengompres Meylan.  Selesai mengompres, Bastian mengambil kursi dan duduk di samping Meylan. Dia memperhatikan wajah ibunya yang terlihat pucat. Perlahan, Bastian mengulurkan tangan dan merapikan rambut Meylan yang berantakan. “Kamu udah pulang?” tanya Meylan yang terbangun dengan suara pelan. “Udah Ma.” “Udah makan?” “Belum,” sahut Bastian sambil menggelengkan kepala. “Mama kalo sakit kenapa bantuin papa?” tegur Bastian halus. “Emang mau siapa lagi yang bantuin dia?” “Kan bisa minta tolong sama Bibi Su In.” “Tadi pagi Mama udah telepon dia, dan bilang nggak bisa.” “Tau begini, tadi Tian nggak sekolah, supaya Mama bisa istirahat.” “Kamu mau gagal ujian?!” tegur Meylan. “Tapi kan,” “Udah Mama gapapa kok, ntar juga sembuh setelah istirahat,” ujar Meylan menghibur Bastian. “Mending elo makan dulu, terus minum obat, dan tidur. Nggak usah mikirin kerjaan. Ntar malem biar gua berdua sama Tian,” ujar Jimmy yang baru masuk sambil membawa nampan berisi makanan. Jimmy memberikan nampan pada Bastian, kemudian dia membantu Meylan duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. Setelah itu, Bastian meletakkan nampan berisi makanan di pangkuan Meylan. “Yakin bisa?” tanya Meylan sangsi. “Bisa Ma,” sahut Bastian mantap. “Kalo nggak minta tolong Aliong bantuin Ko,” ujar Meylan sebelum memasukkan sesendok sup hangat ke dalam mulut. “Emang dia mau?” tanya Jimmy. “Coba kamu tanya Tian,” ujar Meylan. “Baiklah.” Tian keluar dari kamar, menghampiri pesawat telepon di meja kaca dan menghubungi Aliong. “Halo,” sapa Tian saat telepon diangkat. “Ini siapa?” tanya Alung. “Tian. Koko ada?” “Tunggu sebentar.” “Siapa?” tanya Aliong pelan saat gagang telepon disodorkan Alung padanya. “Tian.” Aliong mengambil gagang telepon dari tangan Alung. “Kenapa?” tanya Aliong. “Ko, kata mama ntar malam bisa bantuin di resto?” “Emang kenapa?” “Mama demam, dan nggak bisa kerja.” “Oke, ntar jam enam gua ke sana,” ujar Aliong tanpa berpikir dua kali.  “Makasih Ko.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN