Bertarung Demi Teman

1798 Kata
“Bastian!” teriak Dave dari depan pintu kelas. “Ya?” Dave bergegas menghampiri Bastian yang masih berada di mejanya dan sedang membereskan meja. “Zack,” ujar Dave begitu tiba di meja Bastian. “Kenapa sama Zack?” “Dibawa ke belakang.” “Sama?” “Sama Rocky. Tapi kali ini ada anak lain yang bantuin dia.” “Kita ke sana,” sahut Bastian sambil meninggalkan mejanya dan membawa tas di punggung. Bastian berjalan mengikuti Dave menuju ke belakang sekolah sambil berusaha menenangkan diri. “Memang apa yang terjadi?” tanya Bastian dalam perjalanan. “Tadi siang, Zack dihadang sama Rocky, dan bilang mau adu tanding sama kamu, tapi dia nggak mau nyampein pesen. Makanya tadi begitu bel pulang, Zack langsung dibawa pergi sama Rocky. Dan dia nyuruh aku buat bilang ke kamu.” Bastian mendorong pintu besar yang mengarah ke belakang sekolah, dan langsung berlari untuk menolong Zack. Hatinya tidak tenang membayangkan temannya sendirian di sana dikelilingi oleh Rocky. Benar saja dugaannya, begitu tiba di sana, Bastian melihat Zack baru saja menerima sebuah pukulan di bagian perutnya. Amarah timbul di hati Bastian melihat perlakuan Rocky. “Berhenti!” ujar Bastian datar. Rocky menolehkan kepala dan langsung menyeringai saat melihat Bastian datang, begitu juga dengan keempat teman Rocky, dan beberapa anak yang tidak Bastian kenal. “HAH! Jagoan sudah datang!” ejek Rocky. “Lepasin dia!” ujar Bastian lagi dengan suara dingin. “Gua akan lepasin dia, sebagai gantinya, elo maju ke sini!” tantang Rocky dengan angkuh. “Baik,” sought Bastian tenang. Bastian berjalan mendekati Rocky dengan tenang, akan tetapi tubuhnya sudah bersiaga penuh untuk mengantisipasi gerakan dari mereka, Melihat Bastian maju dengan langkah tenang, membuat Rocky semakin kesal. Dengan kasar, dia mendorong Zack ke depan, tepat ke tubuh Bastian.  Dengan tenang, Bastian bergeser sedikit ke kiri, dan menahan tubuh Zack dengan tangan kanan.  “Kamu gapapa?” tanya Bastian pelan. “Gapapa. Kamu yang harus hati-hati.” “Kamu tenang aja,” sahut Bastian pelan. Rocky memberikan tanda pada teman-temannya untuk menyerang Bastian. Mendapat tanda,  teman-teman Rocky langsung menyerang Bastian bersamaan. Mereka tidak ingin kalah seperti waktu itu yang melawan Bastian sendiri-sendiri. Kendati demikian, mereka semua bukanlah tandingan Bastian yang sudah mendapatkan latihan yang keras dari Aliong dan Chen. Dengan mudah, Bastian dapat menjatuhkan tiga orang, tersisa enam lagi. Bastian berpikir cepat supaya semua ini berakhir cepat, dan supaya dirinya tidak terluka. Ben, orang yang diminta tolong oleh Rocky, maju dengan cepat sambil melayangkan tinjunya. Bastian yang tidak melihat, langsung bergeser, akan tetapi dia sedikit terlambat sehingga pipi kirinya terkena tinju Ben. Bastian terhuyung ke belakang, akan tetapi dapat kembali berdiri tegak. Ben menyeringai puas karena dapat mengenai Bastian dan melihat darah dari sudut bibir lawan. Bastian kembali bersiap dan menanti serangan berikutnya. Dia menenangkan diri dengan mengembuskan napas perlahan, seperti yang diajarkan Aliong. Begitu Ben, dan kedua temannya menyerang, Bastian langsung bergerak cepat mengayunkan kaki dan menendang pinggang Ben yang langsung jatuh karena tidak menduga serangan Bastian. Setelah itu, dengan cepat Bastian menjatuhkan kedua teman Ben dengan pukulan yang mengenai wajah dan mengakhiri dengan membanting ke bawah. Bastian menghampiri Ben yang masih terbaring di bawah, menginjak jari tangan Ben dengan cukup keras. “ARGH!” pekik Ben. “Masih mau lagi?” tanya Bastian dingin. “Lepasin!” teriak Ben. “Sampe kamu menyerah dan nggak ikut campur urusan saya sama Rocky.” Bastian menatap Ben dengan pandangan dingin, menunggu dalam diam, serta menambah sedikit tekanan di jemari anak itu. Sementara itu Rocky yang sedari tadi mulai merasa gentar, menunggu dengan tegang reaksi Ben. Dia sungguh tidak menyangka jika Bastian bisa setangguh itu, padahal selama ini selalu terlihat seperti orang lemah.  Sementara itu, melihat Ben jatuh, tidak ada lagi yang berani maju untuk menghadapi Bastian. Jika Ben saja, yang bisa bela diri kalah, bagaimana mereka yang hanya merasa jago karena berkawan dengan Ben. “Oke, saya menyerah,” ujar Ben saat tidak dapat lagi menahan rasa sakit di jemarinya. Bastian melepaskan injakannya dan perlahan berjalan menghampiri Rocky dengan wajah keras. Rocky mundur dua langkah ke belakang, dan semakin ketakutan melihat wajah Bastian yang dingin, dan tatapan matanya yang begitu tajam. “Kamu lupa dengan peringatan saya?!” tanya Bastian dengan dingin. “Apa saya perlu membuat kamu babak belur dulu baru kamu mau berhenti?!” “Saya nggak lupa, tapi saya memang ingin mengalahkan kamu!” bentak Rocky untuk menutupi ketakutannya. “Mengalahkan saya?!” tanya Bastian sinis. “Liat aja, suatu saat saya pasti bisa mengalahkan kamu!” ancam Rocky. “Jangan pernah ganggu saya dan kedua teman saya lagi!” ujar Bastian. “Atau kamu akan merasakan akibatnya!” bisik Bastian perlahan di telinga Rocky. Setelah itu Bastian membalikkan badan menuju ke tempat Dave dan Zack yang berdiri menunggu dirinya di tempat yang tidak begitu jauh. Sebenarnya, Bastian ingin sekali memberikan pelajaran pada Rocky, akan tetapi dia ingat pesan Aliong untuk tidak bertindak gegabah, apalagi menyerang orang yang sudah kalah. Karena itu, dia menahan keinginan hatinya itu. “Kita obati luka kamu,” ujar Bastian saat tiba. “Saya gapapa,” sahut Zack. “Bibir kamu berdarah,” ujar Dave. “Hanya luka kecil,” sahut Bastian enteng. “Hei, kamu nggak liat mereka sedang memperhatikan kamu,” bisik Zack. “Biarin aja, bukan urusan saya.” “Duh, jawabannya dingin banget,” goda Zack. "Ayo kita pulang," ujar Bastian tidak menanggapi godaan Zack.  Banyak anak sedang berdiri di sekitar sana yang sejak tadi memperhatikan saat dirinya sedang berhadapan dengan Rocky. Mereka mendengar berita bahwa Zack sedang bermasalah dan mengikuti untuk melihat apa yang terjadi. Oleh karena itu saat Bastian dapat mengalahkan Rocky dan juga Ben, Anak-anak yang berkerumun bersorak kegirangan.  Bastian berjalan bersama Zack dan Dave menerobos kerumunan. Banyak anak-anak yang melontarkan ucapan kekaguman dan juga pujian, akan tetapi Bastian tidak menanggapi semuanya. Yang ada di benaknya adalah keluar dari sekolah dan pulang, serta bagaimana menghadapi Meylan yang pasti akan melihat luka di sudut bibirnya.  "Kenapa sih kamu selalu bersikap dingin seperti ini?" tanya Zack penasaran saat mereka sudah tiba di luar gedung sekolah.  "Saya tidak terbiasa dengan perhatian yang berlebih," sahut Bastian tenang. "Lagipula apa yang dapat dibanggakan dari semua itu?" "Kamu memang benar-benar aneh dan unik," sahut Zack yang semakin menyukai sikap rendah hati Bastian.  Awalnya Zack juga tidak pernah menganggap Bastian, karena selain pendiam, mereka juga berbeda dalam banyak hal, terutama warna kulit. Tapi semakin mengenalnya, Zack semakin menghargai Bastian.  "Saya nggak aneh Zack, hanya tidak suka menjadi pusat perhatian." "Itu semakin aneh lagi, asal kamu tau aja. Banyak anak berlomba-lomba untuk menjadi populer dan terlihat hebat di sekolah, tapi kamu?" sahut Zack lagi.  "Kalo kamu masih mau bahas hal ini lagi, saya akan pergi!" ujar Bastian yang merasa risih.  "Baiklah," ujar Zack dengan terpaksa.  Dave hanya tersenyum melihat kedua temannya berdebat. Dua orang dengan karakter, dan pembawaan yang sangat berbeda dapat menjadi temannya sangat membuat hatinya senang. Hidupnya terasa berbeda sejak kedua orang itu hadir dalam hidupnya, apalagi Bastian yang selalu menolongnya.  "Terima kasih," ujar Dave saat mereka hampir tiba di tempat Bastian?  "Untuk?" tanya Zack.  "Kenapa?" tanya Bastian.  "Karena mau menjadi teman yang baik dan selalu menolong saya." "Bukan masalah," sahut Zack santai sambil merangkul bahu Dave hangat. "Itulah gunanya teman." Bastian tidak membalas perkataan Dave, karena jauh di dalam hati, dialah yang merasa bersyukur karena Zack dan Dave mau berteman dengan dirinya.  "Mari masuk," ujar Bastian.  "Tunggu sebentar!" ujar Zack.  "Kenapa lagi?" tanya Bastian.  "Bagaimana dengan itu?" ujar Zack sambil menunjuk sudut bibir Bastian.  "Oh ini," sahutnya sambil memegang sudut bibirnya. "Tenang saja, tidak akan jadi masalah." Usai berkata, Bastian mendorong pintu ke samping dan melangkah masuk ke dalam. Ada Jimmy, Meylan, dan tentu saja Aliong, serta Chen di sana.  "Tian pulang," ujarnya sambil membungkukkan badan pada keempat orang dewasa yang sedang duduk di meja yang tidak jauh dari pintu.  "Muka lo kenapa?" tanya Aliong dengan tatapan menyelidik saat melihat sudut bibir Bastian.  Dave dan Zack langsung bergeser dan sedikit bersembunyi di balik punggung Bastian saat mendengar nada suara Aliong yang tajam.  "Ya Tuhan … , Tian kamu kenapa?!" seru Meylan yang langsung berdiri dan menghampiri Bastian.  "Tian gapapa Ma," ujarnya mencoba menenangkan Meylan.  "Gapapa dari mana?!" seru Meylan sedikit kesal.  "Biarkan saja! Namanya juga anak laki-laki, luka sedikit itu biasa," ujar Jimmy.  "Koko!" seru Meylan kesal melihat tanggapan suaminya yang biasa saja.  "Memang mau bagaimana?" sahut Jimmy tenang. "Suatu saat dia juga pasti akan menemukan masalah, dan mustahil tidak berkelahi. Kalau dia sampai babak belur, baru gua kaget, toh cuma luka kecil." Aliong tersenyum kecil mendengar jawaban Jimmy.  "Kamu menang kan?" tanya Jimmy pada Bastian.  "Menang Paman," sahut Zack cepat.  "Itu baru namanya anak gua," ujar Jimmy bangga.  "Wah  … , baru kali ini gua denger elo bangga sama apa yang dilakuin Tian," ujar Aliong sambil melirik jahil pada Jimmy.  "Sejujurnya gua bangga sama dia, karena bisa membuktikan bahwa dia bukan anak yang lemah," sahut Jimmy.  "Emang gimana ceritanya elo bisa berantem?" tanya Aliong sedikit penasaran.  "Bastian nolongin saya Paman," sela Zack.  "Coba ceritain," ujar Aliong. Zack pun menceritakan kejadian di sekolah tanpa ada yang ditutupi dengan singkat dan jelas.  "Bagus! Memang harus begitu, supaya itu anak nggak makin berulah dan makin sombong!" ujar Jimmy sambil mendengkus. "Nggak sia-sia elo ngajarin dia Liong." "Kalian memang keterlaluan!" sungut Meylan yang semakin kesal. "Anak luka malah bangga!" Jimmy terkekeh mendengar gerutuan istrinya. Dia memang sudah menjauhi dunia seperti itu semenjak menikah dengan Meylan, dan selalu berusaha untuk tidak membuat istrinya cemas.  "Biarin Mey, sepanjang Tian dapat menjaga dirinya. Jangan terlalu dikekang, biarkan dia menikmati masa mudanya. Toh, suatu saat akan ada waktunya dia bakal kayak gua," hibur Jimmy.  Kesal mendengar jawaban Jimmy, Meylan beranjak ke atas. Lebih baik menenangkan diri sejenak, daripada dirinya emosi dan membuat keadaan menjadi tidak nyaman untuk semua.  Bastian memandang Meylan dengan perasaan sedikit galau. Di satu sisi dia tidak ingin membuat ibunya sedih, akan tetapi Bastian juga tidak bisa diam saja melihat perbuatan Rocky dan teman-temannya.  "Udah, nggak usah bingung kayak gitu. Biarin mama tenang dulu, nanti juga baik lagi dan bisa memahami apa yang elo lakuin. Gua juga nggak masalah dengan yang elo lakuin, selama itu untuk hal yang benar," ujar Jimmy yang mengerti perasaan Bastian. "Tapi gua akan marah besar kalo elo coba-coba cari masalah!" "Iya Pa." "Mending kalian ke kamar," saran Aliong. "Sekalian obati luka temen lo." "Iya Ko," sahut Bastian. "Ayo ke kamar." Bastian berjalan ke arah tangga diikuti Dave dan Zack yang sejak tadi merasa tidak enak.  "Maaf ya, karena nolong saya, mama kamu jadi marah," ujar Zack setelah tiba di kamar.  "Nggak masalah," sahut Bastian yang sudah kembali tenang. "Tunggu di sini sebentar." Bastian keluar dari kamar, dan mengambil obat untuk luka Zack dan berhenti sejenak di depan kamar Meylan. Tangannya terulur untuk mengetuk pintu, akan tetapi dia langsung mengurungkan niatnya karena mengingat perkataan Jimmy. Akhirnya dia kembali ke kamar.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN