Sepulang sekolah, Kayleen mendatangi Ben di tempat pemuda itu sering nongkrong. Dia ingin meminta bantuan pada pemuda itu. Tidak mungkin bagi Kayleen menemui Ben di sekolah, karena selain pemuda itu adalah kakak kelasnya, Kayleen tidak ingin orang lain mencapnya sebagai gadis tidak baik. Dia harus menjaga reputasi dirinya sebagai gadis baik-baik.
Kayleen berdiri di depan gang yang terlihat cukup sepi. Ada sedikit rasa takut di hatinya, akan tetapi mengingat perbuatan Ann dan Bastian, menimbulkan keberanian dalam diri gadis itu.
Dengan perlahan, Kayleen memasuki gang dan mencari bangunan kosong tempat Ben biasa berkumpul dengan teman-teman yang usianya jauh lebih dewasa. Kayleen berdiri di depan pintu besar yang terbuat dari besi dan mencari sosok Ben.
“Cari siapa?!” tanya seorang pemuda berambut cepak dan anting di telinga kiri.
“Ben,” sahut Kayleen cepat.
“Tunggu sebentar,” ujar pemuda tadi.
Pemuda itu berjalan menghampiri Ben yang sedang memegang sebotol minuman keras sambil mengobrol dengan pemuda-pemudi yang berkumpul di tengah ruangan.
“Ben, ada yang cari.”
“Siapa?” tanya Ben mengerutkan kening.
“Itu,” sahut d**k, pemuda berambut cepak.
Ben memalingkan wajah ke arah yang ditunjuk d**k, dan melihat Kayleen di sana. Dia meletakkan botol minuman dan menghampiri gadis itu.
“Mau apa ke sini?”
“Saya ada perlu sama kamu.”
“Tentang?”
“Saya mau bikin perhitungan dengan Bastian dan Ann,”
“Karena?” sela Ben.
“Bastian selalu bersikap dingin pada saya, dan saya merasa sangat terhina dengan perlakuannya itu,”
“Saya juga masih merasa sakit hati dengan perbuatan dia beberapa waktu yang lalu,” ujar Ben sambil memegang jemari tangannya yang diinjak oleh Bastian.
“Berarti kamu bisa tolongin saya kan?!” tanya Kayleen penuh harap.
“Mungkin bisa, tapi dengan bantuan mereka,” sahut Ben sambil menunjuk ke tengah ruangan.
“Baiklah, apapun yang kamu minta sebagai bayaran, akan saya berikan, asal saya bisa puas melihat pemuda sombong itu kalah,” ujar Kayleen penuh kebencian.
“Bagaimana dengan Ann? Bukankah kalian berteman?” tanya Ben sedikit bingung.
“Cih! Teman?! Saya tidak punya teman yang seperti dia!” sahut Kayleen kesal.
“Kenapa? Apa dia membuat masalah?”
“Ann mencoba mendekati Bastian. Tadi saya lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka asik mengobrol. Dasar gadis nggak tau diri!”
Ben menyeringai senang melihat raut marah di wajah Kayleen, gadis yang diam-diam disukainya. Ben akan melakukan permintaan Kayleen, supaya dapat memiliki gadis itu.
“Baiklah. Saya akan bicara dulu sama d**k. Nanti akan saya kabari.”
“Oke. Kalo gitu saya pulang dulu,” ujar Kayleen seraya membalikkan badan.
“Eits! Nanti dulu! Nggak segampang itu kamu bisa pergi dari sini,” cegah Ben sambil menahan pergelangan tangan Kayleen.
“Apa lagi?!” tanya Kayleen sedikit tidak suka.
“Ikut saya ke sana, dan kenalan dengan yang namanya d**k. Setelah itu mari kita bersenang-senang.”
Kayleen menatap Ben dengan seksama. Dia tahu jika pemuda Ben menaruh hati padanya. Karena itulah dia ingin memanfaatkan Ben untuk membalaskan sakit hatinya. Kayleen mengalihkan pandangannya ke tengah ruangan dan mengamati sejenak sebelum akhirnya berkata pada Ben.
“Baiklah, tapi hanya sebentar,” ujar Kayleen yang masih membutuhkan Ben.
“Okey, nggak masalah,” sahut Ben senang. “Mari ikut saya.”
Ben menarik tangan Kayleen yang masih berada dalam genggamannya dan membawa gadis itu ke tengah ruangan.
“Hai semua!” ujar Ben dengan suara keras. “Perkenalkan, ini Kayleen.”
“Hai,” sapa para gadis yang ada di sana.
“Hai juga,” sapa d**k dan para pemuda lainnya. "Selamat datang dan selamat bergabung."
"Ayo ikut minum dengan kami," ujar Cassie, salah seorang gadis."
"Maaf, tapi saya belum cukup umur," sahut Kayleen.
"Hahahaha …." d**k terbahak-bahak mendengar alasan yang keluar dari bibir Kayleen.
"Lalu hubungannya apa? Kita semua berada di sini untuk menikmati hidup, jangan permasalahkan usia, nikmati saja."
Kayleen memandang Ben yang tengah meneguk minuman dengan santai. Pemuda itu sebenarnya juga belum cukup umur, akan tetapi terlihat biasa saja.
Akhirnya Kayleen menerima botol yang disodorkan Cassie dan menyesapnya sedikit. Tanpa disadari, dirinya sudah masuk dalam perangkap pergaulan yang membuat dirinya akan menyesal di kemudian hari.
***
Setelah semua orang pulang, Ben menghampiri d**k untuk membicarakan tentang permintaan Kayleen.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Ben yang sedikit mabuk akibat menenggak minuman.
"Silakan," sahut d**k yang ternyata adalah pemimpin di kumpulan itu.
"Kayleen meminta tolong sesuatu pada saya, dan tanpa bantuan kalian sepertinya saya tidak dapat melakukannya sendiri."
"Tentang?" tanya d**k mulai tertarik.
Ben pun menceritakan tentang permintaan Kayleen dan juga bagaimana dirinya dikalahkan oleh Bastian, juga tentang perasaannya pada Kayleen.
"Hm … , menarik juga. Tapi apa imbalannya untuk saya? Kamu tau kan tidak ada yang gratis di dunia ini."
"Saya juga belum tau, tapi Kayleen bilang apapun yang saya minta akan dia berikan. Jadi rasanya apapun yang kamu minta, akan dia berikan."
"Baiklah. Akan saya pikirkan malam ini. Besok saya akan kabari," ujar d**k sambil menyeringai kecil.
"Terima kasih," ujar Ben yang merasa lega karena d**k akan membantunya. "Kalau begitu saya pulang dulu."
"Silakan."
Dick memandangi kepergian Ben dengan seringai jahat di sudut bibirnya. Dia sudah tau apa yang akan dimintanya sebagai imbalan untuk permintaan Kayleen.
***
Tiga hari kemudian, Ben menunggu Kayleen di dekat loker sekolah untuk berbicara dengan gadis itu mengenai permintaannya.
Ketika dia melihat Kayleen berjalan ke arah loker bersama beberapa temannya, termasuk Ann. Dengan pandangan mata, Ben meminta Kayleen berjalan ke arahnya.
Kayleen yang paham, tanpa kentara menekankan langkahnya dan berpindah tempat sehingga berada di posisi yang dekat dengan Ben ketika nantinya melewati pemuda itu.
Dengan gerakan perlahan, Ben memberikan secarik kertas pada Kayleen yang langsung diambil dan disimpan di saku celana okeh gadis itu.
"Hei, sepertinya saya hendak ke kamar kecil. Kalian duluan aja," ujar Kayleen setelah menerima kertas dari Ben.
"Bukankah kita baru dari kamar kecil?" tanya Ann sedikit bingung.
"Perut saya tiba-tiba sakit. Jadi lebih baik kalian duluan."
Usai berkata, Kayleen membalikkan badan dan bergegas ke kamar kecil lagi. Dia penasaran ingin membaca pesan dari Ben, dan berharap itu adalah berita baik.
Setelah masuk ke dalam kamar kecil, Kayleen mengunci pintu dan membuka kertas pemberian Ben. Senyum lebar menghiasi wajahnya setelah membaca isi pesan tersebut.
Ada kabar baik. Datang ke bangunan kosong setelah pulang sekolah.
Usai membaca, Kayleen merobek kertas tersebut dan membuangnya ke dalam closet. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan kembali ke kelas.
Pulang sekolah, Kayleen langsung meninggalkan sekolah dan pergi ke tempat pertemuan nya dengan Ben.
"Sudah datang?" sapa Ben saat Kayleen masuk ke dalam bangunan kosong yang sudah ramai oleh d**k dan yang lain.
"Hai semua," sapa Kayleen sambil tersenyum manis.
"Primadona sekolah sudah datang," goda d**k sambil tertawa.
Kayleen tersipu mendengar pujian yang keluar dari bibir d**k. Tidak dapat dipungkiri jika sebenarnya d**k adalah pemuda yang tampan dengan postur tubuh atletis dan berotot. Kayleen menyukai pemuda itu sejak pertama kali melihatnya.
"Boleh tau jawaban kamu?" tanya Kayleen.
"Tentu boleh, dan yang pasti akan membuat kamu sangat senang," sahut d**k.
"Oh ya? Berarti kalian bisa menolong saya?" ujar Kayleen penuh harap.
"Semua bisa diatur, asalkan imbalannya memuaskan bagi kami," ujar d**k.
"Apapun yang kamu minta, akan saya berikan. Uang bukan masalah bagi saya," sahut Kayleen mantap.
Kayleen berasal dari keluarga berada. Dan sebagai anak tunggal, apapun permintaannya selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Karena itu, dia tumbuh menjadi anak yang sombong dan juga manja.
“Baiklah, kalo begitu semua beres,” ujar d**k santai.
“Maksud kamu?” tanya Kayleen kurang paham.
“Nanti malam, saya antar kamu pulang sekalian menjelaskan detail rencana saya,” ujar d**k.
“Kamu? Mengantar saya pulang?” tanya Kayleen sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Yup. Kalo dijelaskan sekarang, tentunya tidak akan menarik lagi, karena kamu pasti langsung pulang. Sedangkan kita semua yang ada di sini, menginginkan kamu bergabung.”
Kayleen memandangi satu per satu wajah orang-orang yang ada di ruangan, teman-teman yang baru dikenalnya selama beberapa hari, akan tetapi bisa menghiburnya yang kesepian di rumah.
“Baiklah, mari kita bersenang-senang,” ujar Kayleen sambil tersenyum manis.
“HOREE ….!” sorak mereka yang ada di ruangan itu dengan gembira.
Cassie yang duduk tidak jauh dari tempat Kayleen berdiri, menyodorkan sebotol minuman pada gadis itu. Kayleen menerima botol pemberian Cassie dan langsung meminumnya. Dia sudah mulai terbiasa dengan rasa pahit dari minuman keras dan semakin menyukainya.
Kayleen berada di gedung kosong bersama dengan yang lain hingga pukul sembilan malam. Dan karena sejak tadi minum cukup banyak, kepalanya terasa sedikit berat. Kayleen masih berada di gedung itu karena akan pulang bersama dengan d**k, yang terus memperhatikannya sejak tadi.
Melihat Kayleen yang sedikit mabuk, membuat d**k semakin senang, karena rencana nya akan berjalan dengan lancar. Dia sudah menyuruh Matt, orang kepercayaannya untuk menyingkirkan yang lain lebih cepat. Jadi sekarang, di tempat ini hanya tinggal dia berdua dengan Kayleen.
Dick menghampiri Kayleen yang sedang duduk di lantai bersandar pada dinding dengan mata terpejam. Perlahan, dia mengangkat Kayleen dan membopongnya ke dalam ruangan kecil yang sering dipakai dirinya beristirahat.
“Kamu mau apa?” tanya Kayleen yang merasa tubuhnya dibaringkan di matras.
“Tenang saja, semua akan baik-baik saja,” sahut d**k sambil menyeringai senang.
“Lepasin saya,” ujar Kayleen sambil berusaha melepaskan diri dari kungkungan tubuh di yang berada di atasnya.
“Sstt …,” bisik d**k di telinga Kayleen.
Dalam keadaan setengah sadar, Kayleen berusaha melepaskan diri dengan cara memukuli d**k, dan juga menendang. Namun, apa dayanya, karena tubuhnya yang lemah dan juga kepalanya terasa berat, semua usahanya sia-sia, karena d**k jauh lebih kuat darinya.
“Lepasin!” jerit Kayleen sambil menangis.
Namun, d**k tidak menghiraukan isakan dan juga jeritan Kayleen. Dengan mudah, dia merobek kemeja yang dipakai Kayleen hingga memperlihatkan kulit mulus gadis itu.
“Jangan!” rintih Kayleen yang semakin ketakutan. “Tolong biarkan saya pergi.”
“Bukankah kamu bilang apapun yang saya minta, akan diberikan sebagai bayaran? Dan inilah permintaan saya,” ujar d**k datar. “Jadi jangan coba-coba berteriak atau saya akan bertindak kasar!”
Kayleen histeris mendengar jawaban d**k. Dengan sisa-sisa tenaganya, dia mencoba untuk melawan dan berusaha melepaskan diri, akan tetapi sia-sia, karena d**k jauh lebih kuat darinya.
Selesai melampiaskan keinginannya, d**k mengantarkan Kayleen pulang dengan mengendarai mobil. Sepanjang perjalanan pulang, Kayleen terus menangis dan menyesali semuanya. d**k yang mengemudi, menoleh ke samping dan tertawa puas. Ternyata, gadis itu sama sekali belum pernah terjamah oleh laki-laki, dan dirinya adalah yang pertama.
“Sudah sampai,” ujar d**k saat tiba di depan rumah Kayleen.
Kayleen memandang d**k dengan penuh kebencian. Bagaimana mungkin pemuda berani menyentuhnya, dan sekarang bersikap biasa saja. Mengingat kejadian tadi, ingin rasanya Kayleen memukul d**k.
“Jangan menatap saya seperti itu!” bisik d**k dingin. “Saya akan melakukan keinginan kamu, dan saya rasa apa yang sudah saya ambil sepadan dengan permintaan kamu.”
“Saya benci kamu!” desis Kayleen.
“Nggak masalah buat saya. Kapan pun saya mau, akan saya lakukan lagi dengan kamu,” sought d**k santai.
“Dasar manusia jahat!”
“Bukankah kita sama?” tanya d**k sinis. “Kamu tidak berbeda dengan saya. Coba ingat permintaan kamu. Orang yang baik tidak akan pernah berniat mencelakakan orang lain.”
Kayleen terdiam mendengar perkataan d**k yang sepenuhnya benar. Namun, dia tidak akan pernah mengakui hal itu.
“Jangan pernah beritahu mengenai hal ini pada siapapun! Saya punya rekaman video kejadian tadi. Dan jika kamu macam-macam, atau menolak keinginan saya, kamu akan rasakan akibatnya!” ancam d**k sebelum Kayleen turun dari mobil.