“Hei, kamu kenapa Kay? Sakit?” tanya Ann saat Kayleen masuk ke kelas dua hari kemudian dengan wajah pucat.
“Gapapa.”
“Yakin? Wajah kamu masih terlihat sangat pucat,” ujar Ann.
“Saya gapapa!” sahut Kayleen dengan nada sedikit tinggi.
“Baiklah. Maaf, jika membuat kamu tersinggung,” ujar Ann merasa tidak enak.
Kayleen memandang Ann sekilas, kemudian meninggalkan gadis itu dan berjalan ke mejanya. Saat melihat Ann, amarahnya kembali muncul. Karena ingin membalas perbuatan Ann, dirinya harus mengalami kejadian buruk.
Keinginannya untuk membalas dendam pada Ann semakin besar. Kayleen ingin gadis itu juga mengalami hal yang sama seperti yang terjadi padanya.
Ann memandang Kayleen yang menjauh dengan hati sedih. Bagaimana mungkin, teman yang selama ini selalu baik, tiba-tiba berubah dengan drastis. Pandangan mata Kayleen juga tidak lagi sama seperti biasanya.
“Kamu kenapa?” tanya Dave saat jam makan siang pada Ann.
“Gapapa, hanya sedang ada sedikit pikiran yang mengganggu.”
“Bastian?” tanya Dave.
“Bukan. Ini tentang Kayleen,”
“Kenapa sama dia?” tanya Zack yang baru tiba sambil membawa nampan berisi makanan bersama Bastian.
“Saya merasa Kayleen sedikit berbeda, tapi saya nggak tau apa itu,”
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” ujar Zack.
“Entahlah. Perkataannya, tingkah lakunya tidak seperti biasa. Sorot matanya juga sangat berbeda.”
Bastian menyimak semua perkataan Ann, walaupun dia tidak menunjukkannya. Bastian memang tidak mengenal Kayleen, tapi dia pun merasakan hal yang sama. Sepanjang pelajaran tadi, Kayleen banyak melamun, dan juga kerap mengepalkan tangan seperti sedang berusaha menghilangkan amarah.
“Mungkin Kayleen masih belum sehat,” ujar Dave.
“Mungkin juga,” sahut Ann mencoba menenangkan hatinya sendiri.
“Kalo gitu, cepat habiskan makanan kalian,” ujar Bastian yang sudah selesai makan.
Melihat tempat makan Bastian sudah bersih, ketiga temannya langsung makan dan tidak ada yang berbicara lagi sampai semuanya menghabiskan makan siang dan kembali ke kelas., untuk menyelesaikan pelajaran hari itu.
Selesai sekolah, Bastian langsung pulang ke rumah karena sudah berjanji pada Meylan akan membantu ibunya membuat pangsit untuk pesanan keluarga Yang. Karena itu, dia sama sekali tidak mengetahui ketika d**k datang ke sekolah dan membawa paksa Ann.
***
“Hei Bas, apa kamu bertemu dengan Ann kemarin?” tanya Sofia, salah satu teman Ann saat melihat Bastian masuk kelas.
“Kemarin?”
“Iya. Kemarin malam saya datang ke rumahnya, akan tetapi kata ibunya dia belum pulang, Dan hari ini juga sepertinya tidak masuk.”
“Saya terakhir bertemu sesaat setelah pulang sekolah.”
“Terus? Kalian tidak pulang bersama?”
“Nggak. Kemarin saya langsung pulang karena ada yang harus dikerjakan,” sahut Bastian sedikit khawatir. “Mungkin dia sakit.”
“Mungkin juga. Kalo gitu, sepulang sekolah saya akan ke rumahnya,” ujar Sofia. “Terima kasih.”
“Sama-sama,” sahut Bastian.
Sepanjang pelajaran, Bastian tidak dapat berkonsentrasi karena memikirkan perkataan Sofia. Dia memang tidak mengenal Ann secara dekat, tapi Bastian tahu kalau Ann bukanlah gadis yang suka membolos, apalagi pulang malam.
Saat jam makan siang tiba, Bastian pergi ke ruang makan bersama Dave dan Zack. Dia mengambil makanan dalam diam dan memilih duduk di sudut. Tiba-tiba dia melihat Kayleen yang sedang tertawa keras dan terkesan sedang sangat berbahagia.
“Coba liat kelakuan Kayleen,” ujar Dave pelan. “Seperti orang yang menang lotre aja.”
“Iya, sejak tadi terus tertawa, dan terlihat sangat berlebihan,” timpal Zack.
“Biarin aja. Mungkin memang dia mendapat kejutan sehingga sangat senang,” sahut Bastian kalem.
“Betul kata Tian,” ujar Zack. “Nggak usah mikirin Kayleen. Lebih baik kita makan, setelah itu kembali ke kelas.”
“Kalau begitu, saya mau ke kelas duluan,” ujar Bastian sambil berdiri dan meninggalkan kedua temannya.
Bastian keluar dari ruang makan dan berjalan ke kelas. Semalam dia tidur sangat larut, sehingga merasa sedikit mengantuk, dan ingin tidur sebentar sebelum pelajaran dimulai kembali. Tiba-tiba, Ben menghampiri dan berdiri di depan Bastian sambil tersenyum mengejek.
“Kamu mau apa?” tanya Bastian datar.
“Jangan bertingkah sok jago!” ledek Ben.
“Maaf, saya nggak punya urusan sama kamu, jadi tolong minggir,” ujar Bastian tetap tenang dan tidak terpancing oleh Ben.
“Tapi saya punya urusan sama kamu,” ujar Ben pelan.
Ben mengambil sebuah amplop dari saku jaket jeans dan menyerahkannya pada Bastian.
“Ada yang minta tolong untuk memberikan ini sama kamu.”
“Apa ini?”
“Mana saya tau,” sahut Ben dengan sinis. “Silakan liat sendiri.”
Ben meninggalkan Bastian setelah sebelumnya dengan sengaja menabrak bahu Bastian dengan keras. Bastian membalikkan badan dan terus menatap Ben sampai anak itu menaiki tangga. Setelah itu, Bastian kembali meneruskan langkah menuju ke kelas.
Setelah duduk, Bastian membuka amplop dari Ben, dan menatap foto yang baru dikeluarkan dengan tatapan tidak percaya. Foto Ann yang tangannya terikat ke belakang, sudut bibir terluka, serta pakaian yang sobek sedang duduk bersandar di dinding. Bastian membalik foto dan menemukan sebaris pesan.
JIKA INGIN MENOLONG GADIS INI, DATANG DENGAN BEN SETELAH PULANG SEKOLAH.
Sepanjang sisa pelajaran, Bastian tidak dapat konsentrasi karena memikirkan foto Ann dan cara untuk menolong gadis itu. Biar bagaimanapun, dia tidak dapat membiarkan Ann menderita seperti itu.
Saat bel berbunyi, Bastian tetap duduk di kelas, menunggu hingga semua anak keluar. Setelah ruangan kosong, perlahan dia bangkit berdiri dan meninggalkan kelas.
"Tian!" seru Zack sambil menghampiri Bastian. "Ayo pulang."
"Maaf, sepertinya kalian harus pulang sendiri," ujar Bastian pada kedua temannya.
"Kenapa? Kamu mau ke mana?" tanya Dave.
"Ada sesuatu yang harus saya kerjakan," sahut Bastian tenang.
Bastian tidak ingin melibatkan kedua temannya dalam masalah Ann. Jika Zack dan Dave ikut, dia khawatir konsentrasinya akan terpecah karena harus menjaga kedua temannya.
"Apa yang mau kamu kerjakan? Biarkan kami ikut," ujar Zack.
"Maaf. Tapi kali ini saya harus mengerjakannya sendiri. Lebih baik kalian pulang duluan."
Usai mengatakan hal itu, Bastian berjalan meninggalkan kedua temannya, karena dia melihat Ben sedang berdiri menunggunya.
Ben yang melihat Bastian berjalan ke arahnya, perlahan berbalik dan kembali berjalan. Sesuai perintah d**k, dia harus membawa Bastian tanpa menimbulkan kecurigaan.
Tiba di depan sekolah, Bastian melihat Chen yang berdiri di dekat mobil. Bastian berpikir cepat mencari cara memberitahu Chen tanpa membuat Ben curiga. Karena Chen pasti bingung jika dia tidak pulang dengan pria itu. Bastian teringat akan gantungan yang berfungsi sebagai pelacak dan tanda bahaya yang diberikan Aliong padanya. Bastian memencet tombol di gantungan itu dua kali, menunggu dengan cemas sambil terus berjalan satu langkah di belakang Ben.
Chen yang memang sedikit bingung melihat Bastian tidak menghampirinya, merasa saku celananya bergetar. Dia mengambil alat pelacak dari saku dan melihat lampu merah berkedip-kedip. Tahulah Chen jika Bastian sedang berada dalam masalah. Tanpa banyak kata, Chen masuk ke dalam mobil dan mengikuti Bastian dalam jarak aman.
Chen menghubungi Aliong melalui radio pemancar yang ada di mobil, dan memberitahu atasannya mengenai Bastian.
“Ko, sepertinya ada masalah sama Tian.”
“Elo di mana?”
“Di mobil, lagi ngikutin dia.”
“Terus Tian?”
“Lagi jalan ngikutin anak muda.”
“Oke. Kalo ada apa-apa, hubungin gua lagi. Tapi kalo elo bisa urus sendiri.”
“Siap.”
Sejak tadi, Bastian sudah tau kalau Chen sedang mengikutinya. Hatinya merasa sedikit tenang, bukan karena takut, tapi karena dia yakin, jika sampai terjadi sesuatu, Chen pasti akan langsung menolongnya.
“Kita mau ke mana?” tanya Bastian setelah mereka berjalan cukup jauh.
“Kenapa?! Takut?!” ujar Ben dengan nada mengejek.
“Saya hanya bertanya, karena sejak tadi kamu terus berjalan. Dan sepertinya kita mengarah ke bangunan-bangunan kosong.”
“Tunggu dan lihat saja,” sahut Ben datar.
Sambil terus berjalan, mata Bastian tidak berhenti untuk memperhatikan sekitar, mencari tahu apakah ada yang mengawasi mereka, sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan jika Chen masih tetap bersamanya dalam jarak aman. Sejak beberapa waktu lalu, Chen mengikuti Bastian dengan berjalan kaki, lebih cepat dan supaya lebih mudah bergerak jika sampai terjadi sesuatu pada Bastian.
Tidak lama kemudian, Ben berbelok ke sebuah gang dan terus melanjutkan langkah hingga ke bangunan paling ujung. Bastian mengikuti Ben sambil tetap waspada. Dia memasang telinga untuk mendengar suara apapun di sekitarnya. Tubuhnya sudah bersiaga jika harus melakukan serangan ataupun bertahan.
Melihat Bastian berbelok ke gang, Chen mengeluarkan radio pemancar dan memberitahu Aliong lokasi tempatnya sekarang.
Ben mendorong pintu besi besar lebar-lebar, dan menoleh ke arah Bastian untuk melihat reaksinya. Namun, Bastian sudah bersiap hingga tidak terkejut saat melihat pemuda-pemuda yang berkumpul di dalam, ada sekitar dua puluh orang, belum termasuk para gadis.
Ben mendorong Bastian masuk, dan langsung mengunci pintu, bahkan menggemboknya. d**k sudah menyuruhnya untuk membuat Bastian tidak dapat kabur dari tempat itu.
Melihat Bastian masuk, dan pintu juga ditutup, Chen mencari cara untuk masuk. Dia mendongak dan melihat sebuah jendela yang pecah di lantai dua. Dengan cekatan, Chen memanjat tembok dan merayap naik ke arah jendela yang pecah. Setelah berhasil masuk, Chen berjalan dalam diam menuju ke bawah untuk mengawasi Bastian, dan akan turun tangan jika diperlukan.
Sedangkan Bastian dengan tenang melangkah maju dan menghampiri d**k. Untuk anak berusia enam belas tahun, tinggi badan Bastian sudah seperti orang dewasa, sekitar seratus delapan puluh sentimeter, sehingga saat berdiri di hadapan d**k, mereka sepantar.
“Mana Ann?” tanya Bastian dengan tenang.
“Ternyata punya nyali juga datang sendiri ke sini,” ujar d**k sedikit kagum dengan keberanian Bastian.
“Saya tanya sekali lagi, mana Ann?” tanya Bastian lagi dengan nada dingin.
“Tenang, pacar kamu masih aman. Tapi saya tidak bisa jamin dia akan baik-baik saja, setelah kamu terkapar nanti,” sahut d**k sambil menunjuk ke arah teman-temannya sambil menyeringai.
Emosi Bastian sedikit terpancing mendengar perkataan d**k barusan. Bagaimana mungkin pemuda itu mempertaruhkan kehormatan seorang gadis dengan melihatnya bertarung. Beruntung saat itu dia teringat perkataan Aliong untuk selalu tenang, dan tidak terusik oleh perkataan lawan. Perlahan, Bastian mengembuskan napas, dan kembali mengendalikan emosinya.
“Kenapa? Takut?” tantang d**k melihat Bastian yang hanya diam.
“Nggak, karena saya nggak salah. Tapi saya nggak suka kamu harus pake cara begini, dan ini adalah suatu kesalahan.”
“Bukan urusan kamu!” sentak d**k tidak suka sambil melambaikan tangan pada teman-temannya untuk menyerang Bastian.
Bastian langsung bersiap ketika melihat beberapa anak muda maju ke arahnya, sedangkan yang lain ada yang mengambil kayu dan senjata lainnya. Dia tahu kali ini bukanlah sekedar latihan, jika lengah sedikit saja, maka dirinya akan terluka dan babak belur.
Begitu pemuda pertama menyerang, Bastian dengan gesit mengelak dan mengirimkan tendangan ke arah ulu hati dengan keras. Pemuda itu langsung jatuh tersungkur dan tidak bisa bangkit lagi karena rasa sakit di bagian yang ditendang Bastian.
“Satu jatuh,” gumam Bastian dan langsung bersiap lagi.
Kali ini dua orang menyerang sekaligus dari arah kiri dan kanan. Bastian merendahkan tubuhnya sedikit dan langsung menonjok ulu hati pemuda yang datang dari arah kanan, setelah itu menjegal lawan yang lainnya hingga jatuh.
Dengan cepat, Bastian langsung berdiri dan mundur beberapa langkah ke belakang, dan mengambil tongkat yang sekilas dilihatnya saat sedang menjegal lawan. Setelah tongkat berada di tangannya, dia semakin merasa mantap, karena para penyerangnya ada yang memakai balok kayu dan juga pisau.
Tiba-tiba Bastian melihat seseorang yang datang ke arahnya dengan cepat. Bastian langsung bersiaga untuk menyerang. Namun, dia langsung mengenali Chen dan menghentikan gerakan tongkatnya.
“Hebat juga lo bisa langsung ngerobohin tiga sekaligus,” ujar Chen sambil tersenyum.
“Tian pikir Koko nggak akan dateng,” sahut Bastian sambil matanya terus memperhatikan lawan.
“Mana mungkin gua nggak dateng,” ujar Chen. “Kapan lagi bisa tarung bareng elo.”
“Ko Aliong tau?”
“Tau, dan sedang ke sini. Elo tenang aja, semua pasti beres.”
Sementara Bastian mengobrol dengan Chen, d**k langsung murka karena melihat ada yang datang membantu musuhnya, dan terlihat lebih hebat dari Bastian.
Sejak Bastian bertarung, dia sudah melihat bagaimana gesit dan akuratnya serangan Bastian, dan sejujurnya itu membuat dirinya sedikit takut. Tapi, dengan cara apapun, d**k harus mampu mengalahkan Bastian, supaya dapat terus memanfaatkan Kayleen dan Ann.
“SERANG SEKALIGUS!” teriak d**k pada teman-temannya. “Kamu juga!” lanjut d**k pada Ben hanya berdiri mematung di dekatnya.
“Saya?” tanya Ben.
“Iya. Pokoknya dia harus kalah, dan kalau perlu sampai meregang nyawa!”
Ben sebenarnya takut pada d**k, tapi dia lebih takut lagi jika harus berhadapan kembali dengan Bastian. Sampai sekarang, Ben masih belum bisa melupakan rasa sakit yang diberikan oleh Bastian saat menginjak tangannya dulu.
Melihat Ben hanya berdiri, dengan gusar d**k mendorong pemuda itu untuk maju melawan Bastian bersama dengan yang lain.