Kenyataan yang Mengejutkan

1825 Kata
“Elo yakin bisa kalahin mereka?” bisik Chen pada Bastian. “Harus yakin Ko, karena Tian nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama Ann,” sahut Bastian mantap. “Oke, kalo gitu gua juga bakal serius,” ujar Chen sambil mengeluarkan pisau dari balik jaket yang dikenakan. “Koko yakin pake gituan?” tanya Bastian sedikit ngeri. “Yakin, dan kita harus cepet supaya bisa segera selesai.” Bastian tidak takut pada Chen yang memegang senjata. Justru yang dia khawatirkan adalah para lawannya. Bastian pernah melihat Chen saat menggunakan senjata, begitu akurat dan sangat mematikan saat benda tajam itu berada dalam genggaman tangan Chen. “Baiklah. Tapi kalo boleh jangan sampe pada terluka parah Ko,” pinta Bastian. Chen menatap Bastian sekilas saat mendengar perkataan yang keluar dari bibir remaja itu.  “Baiklah.” Usai berkata, Chen langsung bergerak maju dengan cepat. Dalam sekejap dia menjatuhkan empat lawan sekaligus dengan sabetan pisau yang diarahkan ke kaki para lawan. Tidak terlalu dalam, tetapi membuat lawannya tidak bisa bergerak lagi karena darah yang keluar cukup banyak. Para gadis yang melihat kejadian tersebut mulai panik dan berusaha menyelamatkan diri dengan masuk ke dalam ruangan-ruangan kosong yang ada di sana. d**k pun melihat hal itu, dan menjadi semakin gentar untuk melawan. Bastian yang melihat hal itu pun langsung bergerak maju dengan tongkatnya. Dia selalu mengarahkan tongkat ke lutut para lawan untuk membuat mereka jatuh, karena Bastian tidak ingin melihat para lawannya terluka. Dalam sekejap, dengan bantuan Chen, semua pemuda sudah jatuh, termasuk Ben. Bastian mengedarkan pandangan mencari d**k, akan tetapi pemuda itu tidak kelihatan. Tiba-tiba pintu ruangan yang biasa ditempati oleh d**k terbuka. Pemuda itu keluar sambil memeluk Ann dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya yang memegang pisau diarahkan ke nadileher Ann. d**k berjalan maju sambil menyeringai puas karena memiliki sandera. “Buang senjata kalian kalau tidak ingin melihat gadis ini terluka!” perintah d**k setelah tiba sekitar delapan langkah di depan Bastian. Bastian menatap Chen sekilas, dan melihat pria itu mengangguk samar. Dengan tenang, Bastian melempar tongkat ke lantai, begitu juga dengan Chen. “Lepasin dia!” ujar Bastian datar. “Nggak akan. Kalo saya lepasin dia, maka kamu akan menyerang saya,” sahut d**k. “Saya janji akan lepasin kamu, asal kamu lepasin Ann.” “Saya nggak percaya. Denger ya, masalah ini belum selesai, dan saya pasti akan buat perhitungan sama kamu.” Perlahan d**k berjalan mundur menuju pintu samping untuk pergi membawa Ann. Bastian mulai merasa marah melihat d**k yang tidak mau melepaskan Ann, dan juga karena melihat leher Ann mulai tergores pisau dan mengeluarkan darah. Perlahan, Bastian mengambil pisau pemberian Aliong dari balik jaket, dan melemparkannya ke arah d**k.  “ARGH!” jerit d**k sambil melepaskan tangan kanannya dari leher Ann. Pisau yang dilempar Bastian, menancap di lengannya cukup dalam, dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Melihat d**k melepaskan Ann, Bastian langsung berlari ke arah d**k, dan menendang pemuda wajah pemuda itu hingga jatuh ke belakang.  “Kamu gapapa?” tanya Bastian pada Ann sambil melepaskan jaketnya dan memberikan pada gadis itu. “S-saya g-gapapa,” sahut Ann gemetar. Sesaat tadi, Ann berpikir akan meregang nyawa saat pisau Bastian mengarah padanya. Meleset sedikit saja, maka dirinya yang akan terkena pisau tadi. Chen juga tidak menyangka jika Bastian akan melakukan hal tadi. Dalam hati, dia bangga pada kemampuan Bastian yang semakin pesat dan juga akurat. Tiba-tiba, pintu dibuka paksa dari luar, dan masuklah Aliong bersama anak buahnya. Dia bergegas menghampiri Chen dan memeriksa keadaan tangan kanannya itu. “Elo gapapa?” tanya Aliong. “Gua baik. Tian juga,” sahut Chen. Aliong berbalik dan berjalan menghampiri Bastian, dan melakukan hal yang sama seperti yang tadi dilakukannya pada Chen. “Elo nggak luka kan?” “Nggak Ko, Tian baik-baik aja.” “Untunglah. Gua lega setelah liat sendiri.” Aliong menoleh dan melihat d**k yang duduk di lantai dengan lengan berlumuran darah. Dia segera mengenali pisau yang masih menancap di lengan d**k. Perlahan, Aliong berjalan menghampiri d**k dengan mata menatap tajam.  Aliong berjongkok di depan d**k, menatap pemuda itu dengan tatapan dingin. d**k merasa gentar melihat Aliong terlihat penuh amarah. Dengan seringai kejam, Aliong menarik pisau yang masih menancap di lengan d**k dalam satu tarikan napas. “ARGH ….!”  Terdengar teriak kesakitan dari bibir d**k saat pisau terlepas dari tangannya. Semakin banyak darah yang keluar, akan tetapi Aliong tidak mempedulikan hal itu. Dia mendekatkan pisau ke wajah d**k dan berkata dengan sangat dingin. “Jangan coba-coba ganggu Bastian, jika masih ingin hidup! Mengerti!” ujar Aliong sambil menekan ujung pisau ke pipi d**k. “I-iya,” sahut d**k ketakutan. Dick merasa ada yang mengalir dari pipinya, dan dia sangat yakin itu adalah darah. Baru kali ini dia bertemu dengan pria seperti Aliong. Pantas saja Bastian dapat dengan mudah mengalahkan teman-temannya yang memang pada dasarnya tidak memiliki ilmu bela diri. Selesai mengatakan hal itu, Aliong berdiri dan kembali ke Bastian yang sudah berkumpul dengan Chen dan yang lainnya. “Mereka mau diapain?” tanya Chen. “Biarin aja. Gua rasa mereka nggak akan berani berulah lagi,” sahut Aliong tenang. “Maaf, tapi saya rasa mereka begini karena disuruh oleh seseorang,” ujar Ann memberanikan diri menyela pembicaraan Aliong dan Chen. “Kamu tau sesuatu?” tanya Bastian. “Kemarin saya sempat melihat Kayleen datang ke sini,” sahut Ann pelan. “Kayleen?” ulang Bastian terkejut. “Iya. Dan saya sempat mendengar bahwa ini harus berhasil, supaya sakit hatinya terhadap kamu bisa hilang.” Bastian terdiam dan terlihat berpikir. Kemudian, dia menghampiri d**k, yang lengannya sedang diperban oleh salah satu anak buah Aliong. “Katakan sejujurnya sama saya, siapa yang suruh kamu lakukan ini!” “Kayleen,” sahut d**k cepat karena melihat anak buah Aliong menatap tajam padanya. “Kenapa dia melakukan itu?” “Sakit hati.” “Ceritakan semuanya dengan benar!” perintah anak buah Aliong sambil menekan luka di lengan d**k. Akhirnya d**k menceritakan semuanya pada Bastian, kecuali apa yang sudah dia lakukan pada Kayleen.  “Apa katanya?” ujar Aliong. “Memang Kayleen yang minta dia ngelakuin ini,” ujar Bastian. “Alasannya?” tanya Ann tidak mengerti. “Sakit hati karena kamu bisa ngobrol sama saya, dan merasa kamu berusaha merebut saya. Juga karena merasa saya itu sombong karena tidak pernah membalas perhatian dia,” “Dasar bodoh!” desis Aliong dongkol. Chen dan Bastian tertawa mendengar gerutuan Aliong yang memang tidak suka dekat-dekat dengan lawan jenis, karena menurutnya perempuan itu menyusahkan dan tidak pernah jelas jika menginginkan sesuatu. Karena itulah, hingga di usianya sekarang, Aliong belum berkeinginan untuk menjalin kasih, apalagi menikah. “Kalo udah selesai, mending kita pulang, supaya tidak menambah kecurigaan Ko Jim,” ujar Aliong sambil berjalan keluar. “Saya antar kamu pulang,” ujar Bastian pada Ann. “Jangan!” seru Ann panik. “Kenapa?” “Saya nggak mau pulang dalam keadaan seperti ini. Nanti orang tua saya pasti marah dan mencari tahu semuanya, dan kamu pasti akan terlibat,” ujar Ann. “Terus kamu mau ke mana? Dan setidaknya harus memberitahu keluarga kamu.” “Saya akan telepon mereka dan bilang menginap di rumah Sofia,” “Tapi Sofia kemarin datang ke rumah kamu.” “Itu masalah mudah. Kamu tenang saja, saya pasti baik-baik saja,” ujar Ann. “Baiklah. Kalo gitu saya antar kamu ke rumah Sofia.” “Elo naik mobil gua Tian,” ujar Aliong. “Iya Ko,” sahut Bastian. “Ko Chen gimana?” “Biar diantar Alung ke tempat dia menaruh mobil.” Bastian menarik tangan Ann keluar dari sana dan membawanya menuju mobil Aliong yang diparkir di depan gang. Aliong mengemudikan mobil ke rumah Sofia setelah diberitahu alamatnya oleh Ann. Sepanjang perjalanan, Aliong diam dan tidak berbicara sepatah kata pun. Dia sedang memikirkan cara membalas perbuatan Kayleen pada Bastian.  Aliong tidak pernah bertoleransi terhadap orang-orang yang mengusik keluarganya. Dan Bastian adalah adik yang sangat disayangi. Jadi, Kayleen harus merasakan akibatnya karena sudah mengusik Bastian. Setelah Ann turun, Aliong langsung meninggalkan rumah Sofia dan membawa Bastian ke apartemennya. Tadi dia sudah meminta Chen untuk memberitahu Jimmy dan Meylan bahwa Bastian berada di tempatnya. “Kenapa ke sini Ko?” tanya Bastian melihat Aliong memarkir mobil di basement apartemen. “Kalo gua bawa elo pulang sekarang, Meylan pasti curiga,” sahut Aliong sambil menunjuk tangan dan baju Bastian yang kotor. “Oh iya,” ujar Bastian setelah melihat tangan dan bajunya. “Cepet turun!” “Iya Ko.” Bastian turun dari mobil dan berjalan di belakang Aliong menuju ke pintu masuk yang berada di basement. Aliong memiliki kebiasaan selalu menggunakan tangga darurat baik saat naik maupun turun, begitu juga kali ini. Bastian mengikuti Aliong menaiki tangga menuju ke lantai lima, di mana kakaknya tinggal.  “Sana mandi, terus ganti baju!” perintah Aliong saat mereka masuk ke dalam apartemen. “Iya Ko.” Bastian mengikuti perintah Aliong. Dia masuk ke dalam kamar yang biasa ditempati Chen untuk mengambil pakaian dan celana bersih miliknya yang memang ada di sana. Selesai mandi, Bastian mencium aroma teh mint dari dapur.  “Udah selesai? Gua mandi dulu.” Aliong meninggalkan Bastian dan berjalan ke kamarnya. Bastian yang ditinggal sendirian, berjalan ke lemari es dan melihat isinya. Dia merasa lapar, dan ingin memasak.  Bastian mengeluarkan sayuran, tahu dan juga daging dari lemari es. Tidak lama kemudian, dia sudah sibuk mengiris dan mempersiapkan bahan untuk membuat tumis kaylan dan sapo tahu untuk makan malam dirinya dan Aliong. “Masak apa lo?” tanya Aliong yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. “Tumis kaylan sama sapo tahu.” “Udah masak nasi?” tanya Aliong yang tiba-tiba lapar karena mencium aroma harum masakan Bastian. “Udah. Sebentar lagi mateng.” “Oke, kalo gitu gua ke kamar bentar.” Aliong membalikkan badan menuju ke kamarnya. Sedangkan Bastian, sambil menunggu sapo tahu matang, mulai menata meja makan, dan meletakkan tumis kaylan di meja, serta menata sumpit, dan sendok di meja. setelah itu, dia menyesap teh mint buatan Aliong. “Ko! Makan yuk,” ujar Bastian sepuluh menit kemudian setelah semuanya siap. “Oke!” sahut Aliong dari dalam kamar. “Tian tunggu di meja makan ya.” Bastian kembali ke dapur, dan duduk menghadap meja makan menunggu Aliong yang datang tidak lama kemudian. “Elo nginep sini aja. Tadi gua udah telepon Ko Jim,” ujar Aliong sebelum makan. “Iya Ko,” sahut Bastian tanpa banyak bertanya. Aliong makan dengan lahap, dan hampir menghabiskan semua makanan yang ada.  “Ko Chen nggak pulang?” tanya Bastian setelah selesai makan. “Bentar lagi pulang, masih ada yang dikerjain,” sahut Aliong sambil menyeka bibirnya dengan tisu. “Terus makanannya gimana?” tanya Bastian sambil menunjuk masakan yang hanya tersisa sedikit. “Dia udah makan. Elo habisin aja.” “Oke.” Tanpa sepengetahuan Bastian, Aliong sudah menyusun rencana untuk memberi pelajaran pada Kayleen karena telah mengganggu Bastian. Tadi di kamar, dia menghubungi Chen yang berada di markas untuk melakukan perintahnya. Karena itulah, Chen belum bisa kembali ke apartemennya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN