Persiapan

1993 Kata
Tengah malam, Chen membuka pintu apartemen dengan perlahan, Dia tidak ingin membangunkan Aliong dan juga Bastian. Namun, alangkah terkejutnya Chen saat mendapati Aliong sedang duduk di sofa sambil menonton televisi dengan suara yang kecil. “Elo belum tidur Ko?” “Belum. Gua emang nungguin elo dateng.” “Mestinya elo tidur aja Ko. Kalo gua nggak pulang gimana? Emang elo mau duduk di situ sampe pagi?” “Elo nggak mungkin nggak pulang Chen. Mana mau elo tidur di markas kalo nggak kepaksa. Dan paling anti tidur di hotel kan,” sahut Aliong santai. Chen tersenyum kecil mendengar perkataan bos nya. Memang benar yang dikatakan Aliong. Dirinya tidak akan tidur di markas jika tidak ada hal mendesak yang harus dilakukannya. Dan tidak mau bermalam di hotel, karena tidak ingin kejadian beberapa tahun yang lalu terjadi lagi, di mana dirinya hampir meregang nyawa karena ulah seorang wanita. Sejak itulah Chen tinggal bersama Aliong dan tidak lagi ingin menjalin hubungan dengan wanita.  “Semua udah beres?” tanya Aliong setelah Chen kembali dari dapur sambil membawa dua botol bir dingin. “Semua persiapan udah beres, tinggal eksekusinya aja,” sahut Chen sambil menyodorkan satu botol bir pada Aliong. “Kalo itu anak udah kita bawa, baru kita kasih tau Tian, supaya dia bawa temennya ke sana.” “Oke Ko.” “Gimana sama yang luka?” “Udah beres juga. Gua minta tolong sama King yang beresin.” “Baguslah.” “Ko, apa nggak sebaiknya Tian kita ambil aja? Semakin hari kemampuan itu anak semakin baik. Instingnya juga bagus. Andai dia gabung, kita bisa makin kuat.” “Resikonya terlalu besar Chen, apalagi gua udah janji sama Ko Jim untuk nggak libatin dia. Bukan gua nggak tau kemampuan dia. Gua masih ragu, dan masih pengen liat dia sukses meraih mimpinya. Dan kalo bisa jangan sampe jadi kayak kita gini.” “Tapi, andaikan Tian memilih ikut elo gimana Ko?” “Itu juga yang gua khawatirin. Gua yakin, dia sebenernya udah tau kerjaan kita, karena Tian itu cerdas. Gua masih agak nggak rela aja kalo dia ikut sama kita.” “Itukah sebabnya elo masih nolak keinginan Bos buat ketemu sama Tian?” “Hm,” sahut Aliong pelan.  Jack, pimpinan tertinggi Delapan Naga sudah mengetahui tentang Bastian, bahkan pernah bertemu dengan anak itu secara tidak sengaja saat bersama Aliong. Sejak saat itu, beberapa kali Jack meminta Aliong untuk membawa Bastian ke markas besar karena ingin berkenalan langsung dengan anak itu.  Dengan berbagai alasan, Aliong berusaha menolak permintaan Jack. Dia belum siap jika sampai Bastian terlibat dengan dunia hitam yang selama ini dijalani olehnya. Dan Aliong akan terus berusaha menjauhkan Bastian sampai memang tidak ada jalan lain. “Gua ke kamar dulu,” ujar Aliong sembari beranjak dari sofa. “Iya Ko,” sahut Chen. “Elo tenang aja, gua juga akan berusaha semampu gua buat ngejauhin itu anak dari Bos.” “Hm.” *** “Ko, Tian berangkat dulu ya.” “Hari ini elo nggak usah sekolah,” sahut Aliong yang sedang minum kopi. “Kenapa?” “Bisa nggak elo nurut aja sama omongan gua?” “Nggak bisalah. Tian harus tau apa sebabnya. Kalo memang alasannya masuk akal, Tian baru nurut!” sahut Bastian tegas. Aliong meletakkan gelas berisi kopi di meja, kemudian mengangkat kepala dan menatap Bastian. Remaja di hadapannya, terlihat begitu tenang, akan tetapi sinar matanya menunjukkan ketegasan. Sejujurnya, Aliong bangga dengan perkembangan Bastia, baik dalam hal fisik, pola pikir, dan nalurinya dalam bela diri. Namun, mengingat pembicaraannya semalam dengan Chen, terselip rasa takut di hatinya. “Duduk dulu,” ujar Aliong. Bastian mengikuti perintah Aliong. Dia menarik kursi dan duduk berseberangan dengan Aliong. “Gua pengen ngasih pelajaran sama anak perempuan di sekolah lo,” ujar Aliong setelah beberapa saat. “Koko mau ngapain dia?”  “Gua cuma mau kasih dia pelajaran sedikit. Tenang aja, itu anak nggak akan kenapa-kenapa,” ujar Aliong saat melihat Bastian hendak protes. “Yakin?” “Hm. Gua cuma pengen itu anak tau besarnya resiko jika bermain dengan kekerasan.” “Terus kenapa Tian nggak boleh ke sekolah?” “Kalo dia liat elo sama temen lo, pasti dia langsung tau kalo usahanya gagal.” “Tapi kalo dia nggak liat Ben, juga pasti tau kalo niatnya nggak berhasil.” “Elo tenang aja, semua udah gua atur sama Chen. Elo sama temen cewek lo tinggal liat hasilnya.” “Berarti hari ini Ann juga nggak dateng ke sekolah?” “Hm.” “Baiklah. Kalo gitu hari ini Tian bisa santai-santai di sini.” “Enak aja! Elo tetep harus masak! Kalo bukan elo, siapa lagi yang masak?” “Kan ada Koko,” sahut Bastian seenaknya sambil menyeringai jahil. “Minta diketok lo?!” ujar Aliong. Bastian terkekeh mendengar sahutan Aliong. Pria itu memang pandai dalam segala urusan, akan tetapi paling anti jika harus ke dapur. Bukan berarti tidak bisa memasak, hanya tidak suka. “Iya, iya, Tian yang masak. Koko mau makan apa?” “Bukannya sebentar lagi kita harus ke markas?” sela Chen yang baru keluar dari kamar. “Berarti nggak jadi dong?” ujar Bastian. “Hm.” Aliong berdiri dan berjalan ke kamar untuk berganti pakaian. Tidak lama kemudian, Aliong kembali ke dapur, sudah memakai setelan berwarna hitam.  “Wuih …, keren banget Ko,” puji Bastian yang pangling melihat penampilan Aliong yang sangat berbeda. “Biasa aja,” sahut Aliong. “Jadi pengen kayak Koko,” ujar Bastian. “Ngaco lo!” sentak Aliong yang tidak suka mendengar ucapan Bastian. Bastian langsung terdiam mendengar nada suara Aliong yang dingin. Dia menatap pria itu dan melihat wajah Aliong yang berubah menjadi keras dan datar. “Maaf,” ujar Bastian pelan. “Elo diem aja di sini, jangan ke mana-mana. Kalo ada yang datang, jangan bukain pintu! Paham?!” “Iya Ko.” “Gua pergi dulu,” ujar Aliong sambil berjalan ke arah pintu. “Gua tinggal dulu,” ujar Chen. “Iya.” “Oh iya,” ujar Aliong saat mencapai pintu. “Nyalain tivi, suaranya pelan aja, supaya nggak ada orang yang tau kalo ada orang di sini.” “Iya Ko.” *** Selesai menghadap dan memberi laporan pada Jack, Aliong dan Chen meninggalkan tempat markas besar. Aliong adalah anak kesayangan Jack, karena hasil kerjanya selalu memuaskan dan Aliong juga orang yang dapat dipercaya serta setia.  “Sekarang kita ke mana?” tanya Chen yang memegang kemudi. “Ke gudang,” sought Aliong. Gudang yang dimaksud adalah markas milik Aliong. Di sanalah dia mengendalikan dan mengontrol pekerjaan anak buahnya. Gudang kosong yang disediakan oleh Jack, disulap oleh Aliong sebagai tempat tinggal, tempat latihan untuk para bawahannya.  Saat Han yang mengawasi layar monitor melihat mobil Aliong, dia langsung memerintahkan penjaga untuk membukakan gerbang. Begitu mobil berhenti, beberapa anak buah Aliong sudah berdiri dan menyambutnya. “Semua beres?” “Beres Ko.” Aliong berjalan ke dalam dan memperhatikan beberapa anak buahnya yang sedang berlatih tanding. Kemudian meneruskan langkah menuju ke ruangannya. Setelah memeriksa beberapa laporan, Aliong memanggil Alung. “Kenapa Ko?” tanya Alung setelah masuk ke ruangan Aliong. “Elo kan yang bertugas bawa anak di sekolahan adik gua?” “Iya Ko.” “Inget jangan main kasar, cukup bawa itu anak dan taruh di lokasi.” “Siap Ko.” “Ada yang perlu elo laporin?” “Nggak ada, semua lancar.” “Oke. Elo boleh keluar.” Aliong tetap berada di ruangannya memeriksa laporan demi laporan yang ada di mejanya hingga telepon yang berada di meja berbunyi. Chen langsung mengangkat telepon dan mendengarkan sebentar. “Ko, anaknya udah dibawa.” “Hm.” “Alung bilang, karena itu anak histeris, terpaksa mulutnya disumpal.” “Oke. Biarin aja dia sana semalaman. Besok baru kita bawa Tian sama temennya.” “Siap.” *** Keesokan harinya, Bastian berangkat sekolah diantar oleh Aliong. Bastian sangat menikmati berduaan dengan kakaknya itu, dan sudah melupakan kejadian kemarin. “Tian, ntar pulang gua jemput,” ujar Aliong ketika Bastian hendak turun. “Iya Ko.” “Elo ajak temen lo yang cewek.” “Iya Ko.” “Ada lagi?” “Nggak. Sana turun, ntar telat.” Bastian turun dari mobil dan berjalan memasuki gerbang sekolah sambil memikirkan cara mengajak Ann ikut bersamanya tanpa menimbulkan kecurigaan Dave, Zack, dan anak-anak lainnya.  “WOY! Ngelamun aja!” ujar Zack sambil menubruk Bastian. “Sakit Zack,” ujar Bastian sambil tertawa. “Kemarin kenapa nggak masuk? Sakit?” tanya Dave yang sudah bergabung bersama Zack dan Bastian. “Gapapa.” “Ann juga kemarin nggak masuk lagi,” timpal Zack. “Kalian janjian?” Bastian mendengkus mendengar gurauan Zack, akan tetapi tidak memberikan jawaban. “Sepertinya saya mencium aroma percintaan di sini,” ledek Zack sambil mengenduskan hidungnya. “Ngawur!” seru Bastian sambil berpura-pura akan memukul Zack. “Bagaimana kalo nanti kita ke rumah kamu?” tanya Zack saat mereka hampir tiba di kelas Bastian. “Maaf, tapi hari ini nggak bisa.” “Kenapa?” tanya Dave. “Saya ada sedikit urusan sama Ko Aliong,” ujar Bastian. “Ada masalah?” tanya Dave lagi. “Nggak. Saya masuk kelas dulu ya.” Bastian sengaja langsung masuk ke dalam kelas karena tidak ingin mendengar pertanyaan dari kedua temannya yang pasti penasaran ingin tahu. Dia memang sudah bertenan cukup dekat dengan Zack dan Dave, akan tetapi, Bastian belum yakin untuk membuka diri lebih dalam pada mereka.  Sebenarnya Bastian sudah mengetahui pekerjaan Aliong sejak dua tahun yang lalu. Saat itu, dia mendengar pembicaraan antara Aliong, Chen, dan ayahnya secara tidak sengaja saat hendak turun ke dapur. Mendengar percakapan mereka, Bastian urung turun dan mendengarkan dengan seksama sehingga akhirnya mengetahui semuanya. Karena itulah, dia tidak ingin Dave dan Zack mengetahui semuanya. “Kamu baik-baik saja?” tanya Ann. Bastian mendongak dan melihat Ann sudah berdiri di hadapannya. Sudut bibir gadis itu masih terlihat sedikit luka, tapi selebihnya tampak baik-baik saja. “Ya , saya baik-baik saja. Kamu?” “Saya juga baik. Terima kasih karena sudah menolong saya.” “Sama-sama,” sahut Bastian. “Oh ya, saya ada perlu sama kamu. Bisakah bicara?” “Baiklah. Saat istirahat, gimana?” “Oke. Tapi jangan sampai orang lain tau.” “Baiklah,” sahut Ann. “Kalo gitu saya pergi dulu.” Ann meninggalkan Bastian dan kembali ke mejanya sambil tersenyum kecil. Hatinya merasa gembira karena Bastian ingin berbicara dengannya. Ann berharap itu adalah hal yang menyenangkan, seperti yang selalu diharapkannya. *** “APA?!” tanya Ann tidak percaya. “Kamu nggak lagi bercanda kan?”  “Nggak. Saya serius.” “Tapi kakak kamu mau bawa saya ke mana?” “Saya juga nggak tau Ann. Tapi alangkah baiknya kamu ikut sama saya, supaya kita bisa tau, gimana?” “Kapan?” “Setelah pulang sekolah.” “Lama nggak? Saya sebenernya penasaran, tapi kalo terlalu lama, mama pasti akan marah lagi.” “Semoga tidak. Tapi untuk berjaga-jaga, bilang saja kamu ke rumah saya, bagaimana?” “Baiklah.” “Tapi kamu beneran akan ikut kan?” “Iya.” “Kalo gitu, saya kembali ke kelas dulu,” ujar Ann. Ann membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Bastian menuju ke kelas. Ketika jam istirahat, Bastian membawanya ke lantai atas dan berbicara di salah satu ruang kelas yang tidak terpakai. Sepanjang sisa pelajaran, Ann tidak dapat berkonsentrasi. Dia terus memikirkan perkataan Bastian, dan menebak-nebak ke mana kayak Bastian akan membawanya. Sejak kejadian kemarin, Ann menjadi sedikit takut bertemu dengan teman pria. Apalagi kali ini akan pergi dengan kakak Bastian yang wajahnya terlihat dingin dan menakutkan. “Semoga bukan sesuatu yang buruk,” gumam Ann. “Hei, kenapa bicara sendiri?” tegur Sofia. “Bukan apa-apa,” sahut Ann perlahan. “Kenapa Kayleen nggak dateng?” tanya Sofia. “Saya nggak tau,” sahut Ann datar. Sejak mengetahui jika kejadian kemarin adalah hasil perbuatan Kayleen, Ann menjadi hilang respek pada temannya itu, dan tidak ingin mengenal ataupun berteman dengan Kayleen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN