Kayleen Pindah Sekolah

1900 Kata
Ketika bel pulang berbunyi, anak-anak bergegas membereskan buku dan berlari meninggalkan kelas. Bastian dan Ann pun berjalan meninggalkan kelas menuju ke pintu keluar.  “Ann, kamu jalan duluan. Tunggu saya di dekat toko kue seberang jalan, oke?” “Oke.” Ann berjalan mendahului Bastian keluar dari pintu besar, dan langsung menuju gerbang dan terus ke toko kue yang disebutkan Bastian. Di sana, tepat di depan toko, dia melihat Aliong yang duduk di dalam mobil bersama seorang pria yang kemarin membantu Bastian. Ann mengurungkan langkah dan berhenti tepat sebelum mencapai toko. Dia ragu untuk meneruskan langkah. “Kenapa berhenti?” tanya Bastian dari belakang Ann. “KYA!” pekik Ann terkejut mendengar suara Bastian. “Seperti habis liat hantu,” goda Bastian. “Ayo.” Bastian mendekati mobil, mengetuk jendela, dan membuka pintu belakang untuk Ann. “Ayo masuk,” ujar Bastian melihat Ann hanya berdiri. “Saya duduk di depan aja,” ujar Ann. “Baiklah, nggak masalah.” Bastian membuka pintu depan dan menunggu sampai Ann naik, kemudian menutupnya. Setelah itu, Bastian naik dan duduk di belakang bersama Aliong. Kemudian, Chen langsung menjalankan mobil menuju ke tempat Kayleen dikurung. Sepanjang perjalanan, Ann mencengkram ujung tas nya erat-erat. Apalagi saat mobil mengarah ke dermaga dan menuju salah satu gudang di sana. Keringat dingin mulai membasahi baju yang dikenakannya. “K-kita mau k-ke m-mana?” tanya Ann sambil menoleh pada Chen yang sedang mengemudi. “Tenang saja, kamu aman,” ujar Bastian dari belakang. “Tapi kita mau ke mana?” tanya Ann sambil membalikkan badannya. “Saya juga nggak tau. Tapi saya percaya, selama ada mereka berdua, semua pasti baik-baik saja.” “Baiklah,” sahut Ann yang mulai merasa tenang. Tidak lama kemudian, Chen menghentikan mobil di bangunan paling ujung. Bastian membuka pintu mobil dan keluar duluan. Kemudian, dia membukakan pintu untuk Ann. “Ayo turun,” ujar Bastian pada Ann. “Iya.” Ann turun dari mobil dan berdiri di dekat Bastian. Saat temannya itu berjalan, Ann langsung berjalan di belakang Bastian sambil menggenggam ujung baju bagian belakang temannya itu. Chen mendorong pintu ke samping dan membiarkan Aliong, Bastian, dan Ann masuk. Setelah itu, Chen menutup pintu. Begitu masuk, Bastian tertegun saat dilihatnya di tengah ruangan duduk Kayleen dengan tangan terikat ke belakang, mulut disumpal, dan mata ditutup dengan kain.  “Kenapa dia di sini?” bisik Bastian pada Aliong yang berdiri di sampingnya. “Keren kan?” sahut Aliong dalam bisikan. “Maksudnya apaan?” “Gua sengaja bikin dia kayak gitu, supaya dia juga ngerasain apa yang dirasain sama temen lo,” sahut Aliong. “Koko waras kan?” tanya Bastian yang tidak bisa memahami jalan pikiran Aliong saat ini. “Sangat waras Tian, dan gua sehat. Gua cuma pengen bikin dia kapok doang, dan ngakuin semua kesalahan dia.” Saat Aliong dan Bastian mengobrol dengan suara yang sangat pelan, Ann dapat mendengar percakapan mereka berdua. Dan sepertinya Aliong sengaja membiarkan Ann mendengar pembicaraannya.  “Terus sekarang mau apa?” tanya Bastian. “Elo pengen liat?” tanya Aliong. “Tapi elo sama dia nggak boleh bersuara.” “KO!” desis Bastian. “Tenang aja.” *** “Tian masih nggak habis pikir Koko bisa begitu sama Kayleen,” ujar Bastian setelah semua orang meninggalkan gudang, dan tinggal Bastian, Aliong, dan Chen di sana. “Masih banyak hal yang elo belum tau tentang gua.” “Tapi apa Koko yakin dengan kejadian ini, Kayleen akan jera?” “Kalo dia nggak jera juga, namanya manusia bebal,” sahut Aliong. “Semoga Ko. Tian khawatir, Kayleen akan makin sakit hati.” “Mau sakit hati sama siapa? Dia kan nggak tau kalo elo berdua ada di sini juga.” “Yakin Ko?” “Hm. Udah elo tenang aja. Gua tau elo mikirin keselamatan temen lo, tapi dia juga pasti baik-baik aja.” “Iya Ko.” “Ayo, gua anter pulang. Jangan sampe Ko Jim dan Ci Mey curiga.” “Siap.” Chen kembali ke markas untuk memeriksa keadaan di sana sebelum akhirnya kembali ke apartemen. Sedangkan Aliong mengantarkan Bastian pulang, sekaligus mengobrol dengan Jimmy dan Meylan. “Pa, Tian pulang.” “Hm. Udah makan?” “Udah tadi siang.” “Sana ke atas. Hari ini nggak usah bantuin.” “Iya Pa.” “Sebelum naik, sapa mama lo dulu di dapur. Dari kemarin mikirin elo, sampe nggak bisa tidur, padahal tau elo nginep di tempat Aliong.” “Iya Pa.” Bastian berjalan ke dapur untuk menemui Meylan yang ternyata sedang menguleni adonan bapao. “Ma,” panggil Bastian. “TIAN!” seru Meylan yang langsung meletakkan adonan dan berlari untuk memeluk Bastian, walaupun tangannya belepotan adonan. Bastian balas memeluk Meylan dengan erat. Dia tidak peduli jika bajunya terkena adonan tepung, begitu juga wajahnya saat tangan Meylan merangkum pipinya. “Mama kangen banget gitu sama Tian?”  “Hm.” “Padahal Tian cuma pergi semalem. Gimana kalo Tian perginya lama?” Meylan memukul bahu Bastian dengan keras karena kesal mendengar gurauan anaknya. Bastian terkekeh melihat wajah kesal Meylan. “Sana mandi, terus ganti baju, dan istirahat. Hari ini kamu di atas aja.” “Iya Ma.” Bastian naik ke atas untuk berganti pakaian, setelah itu turun kembali untuk membantu Meylan. Sejak beberapa bulan yang lalu, akhirnya Jimmy memutuskan untuk mempekerjakan orang untuk membantu melayani di restoran karena tamu yang datang semakin banyak, sehingga memerlukan tenaga tambahan.  “Kenapa turun lagi?” tanya Meylan. “Mau bantuin aja Ma, bosen di atas.” “Aneh! Orang lain seneng disuruh istirahat, kamu malah bosen,” dumel Meylan. “Sini biar Tian yang kerjain,” ujar Bastian saat melihat Meylan hendak mencuci bahan makanan dari laut. Bastian langsung mengambil alih pekerjaan Meylan. Selesai mencuci bahan makanan laut, Bastian menyiapkan sayuran dan bumbu yang diperlukan.  “Kenapa elo di sini?” tanya Jimmy. “Kan ada Ling Ling.” “Gapapa Pa,” “Dia bilang bosen di atas,” sela Meylan yang sedang mengisi adonan bapao. “Nanti gua apa elo yang masak?” “Tian aja. Papa sama Mama istirahat aja.” “Terserah elo aja,” sahut Jimmy. Malam itu, Bastian menepati perkataannya. Dia yang memasak pesanan makanan yang datang hingga selesai. Bahkan dia membantu Ling Ling membersihkan meja, dan mencuci semua piring dan peralatan lainnya.  *** “Tian!” seru Zack sambil melambaikan tangan pada Bastian yang baru datang ke sekolah. “Kenapa?” “Kamu sudah danger berita terbaru?” “Tentang?” “Tadi pas lewat kantor kepala sekolah, saya dengar kalo Kayleen akan pindah sekolah.” “Oh ya? Apa alasannya?” “Entah. Saya tidak sempat mendengar lagi, karena Ms. Nancy lewat.” Bastian tidak mendengarkan perkataan Zack lagi, karena memikirkan ucapan temannya tadi. Dia tidak menyangka jika Kayleen memutuskan untuk pindah sekolah. Bastian bertanya-tanya dalam hati, apakah kepindahan Kayleen, akibat kejadian kemarin atau ada hal lain. “Kamu kenapa?” tanya Zack saat menyadari kalau Bastian tidak mendengarkannya. “Gapapa. Saya ke kelas dulu.” Tanpa menunggu jawaban Zack, Bastian berjalan ke kelasnya. Dia juga tidak mengetahui jika Ann terus memperhatikannya. Bastian sedikit merasa bersalah dengan apa yang sudah dialami oleh Kayleen. Tidak dipungkiri jika Bastian marah dengan perbuatan Kayleen yang ingin mencelakakan dirinya dan Ann. Tapi Bastian juga tidak ingin semuanya berakhir seperti ini. Sepanjang hari itu, Bastian sama sekali tidak menyimak semua materi yang diberikan. Dia bahkan melewatkan istirahat dengan tetap berada dalam kelas. Menjelang siang, akhirnya Bastian memutuskan untuk pulang dan memberitahu pada wali kelasnya. Namun, Bastian tidak pulang ke rumah, melainkan menelepon Aliong dan meminta untuk bertemu. Aliong langsung mengiyakan permintaan Bastian tanpa banyak bertanya. Aliong meminta Bastian untuk menemuinya di sebuah kafe yang tidak terlalu jauh dari pusat kota. “Ada apa?” tanya Aliong setelah duduk di hadapan Bastian yang sudah tiba terlebih dahulu. “Tadi Tian denger Kayleen pindah sekolah. Apa ini juga perbuatan Koko?” “Hm.” “Kenapa Ko?” “Gapapa.” “Ko,” ujar Bastian frustasi. “Memangnya kenapa? Elo nggak suka?” “Nggak harus sampe kayak gini kan Ko,” protes Bastian. “Gua begini justru karena nggak mau itu anak dapet malu di sekolah!” “Emang kenapa? Toh yang tau masalah ini cuma Tian sama Ann.” “Betul. Tapi elo kan nggak tau apa yang udah dialami sama itu anak demi balas dendam ke kalian!” “Emang apaan?” tanya Bastian tidak mengerti. Aliong menatap Bastian dan menimbang dalam hati, apakah perlu memberitahu yang sebenarnya pada Bastian. “Yakin mau tau?” tanya Aliong datar. “Iya.” “Gadis itu sebenarnya menawarkan imbalan sama d**k saat meminta tolong untuk membalas kalian berdua. Kesalahan gadis itu adalah mengatakan akan memberikan apapun sebagai bayaran atas kerja d**k,” “Jangan bilang sesuatu yang buruk menimpa Kayleen,” sela Bastian dengan tatapan ngeri. “Itu yang terjadi,” sahut Aliong. “Malam sebelum d**k menculik temen lo, dia merampas kehormatan gadis itu, setelah sebelumnya memberi minuman keras sehingga Kayleen mabuk.” Bastian melotot mendengar penjelasan Aliong. Dia tidak percaya ternyata ada orang yang begitu tega merampas kehormatan seorang gadis demi keuntungannya sendiri.  “Dan itu terjadi bukan cuma sekali. Setelah berhasil menculik Ann, d**k kembali melakukan hal itu sama Kayleen.” “Terus apa hubungannya dengan dia pindah sekolah?” “Elo inget kan prinsip gua?!” “Iya Ko.” “Gua paling nggak suka ada orang yang nyakitin anak kecil dan perempuan. Setelah tau kebenarannya, gua nggak mungkin biarin itu anak ketemu lagi sama yang namanya d**k. Itulah sebabnya, gua nyuruh Chen ngebujuk itu anak supaya pindah sekolah yang jauh, supaya d**k nggak bisa nyari dia lagi. Paham maksud gua?!” “Paham.” “Ada lagi yang mau ditanyain?” “Terus gimana sama Ann?” “Elo kenapa mikirin orang lain sih?! Nggak mikirin diri lo sendiri aja?!” ujar Aliong sedikit dongkol. “Karena Tian bisa jaga diri sendiri. Dan karena yakin Koko pasti jagain. Tapi kan beda sama mereka, lagian kan mereka itu perempuan.” Jawaban Bastian membuat Aliong kehabisan kata dan bingung harus menjawab apa.  “Kok diem?” tanya Bastian. “Gua rasa selama temen lo ada deket-deket elo, dia bakal aman, kecuali,” “Kecuali apa?” tanya Bastian penasaran karena Aliong menggantung ucapannya. “Kecuali yang namanya d**k minta bantuan sama orang lain.” “Maksud Koko?” “Udah ah, gua laper. Elo mau makan apa?” Aliong menghindar menjawab pertanyaan Bastian. Jika menjelaskan yang sebenarnya pada Bastian, sudah tentu Aliong harus membeberkan jati dirinya pada anak itu, bahwa sebenarnya dia adalah anggota geng.  Ada kemungkinan d**k akan mencari anggota geng untuk meminta bantuan. Jika yang diminta tolong adalah sekutu Aliong, maka itu tidak akan jadi masalah. Tapi akan berbeda jika yang diminta bantuan adalah lawan.  Jika benar demikian, maka sudah pasti Jack akan mengetahui semuanya, dan akan lebih sulit untuk menyembunyikan Bastian dari Bos nya. Karena itu, Aliong sudah memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengawasi d**k.  “Kenapa Koko nggak jujur aja sih?” gumam Bastian saat Aliong pergi untuk memesan makanan ke meja kasir. “Tian udah tau kok pekerjaan Koko. Dan sebenernya Tian juga udah tau apa yang Koko maksud tadi.” Sejak mengetahui pekerjaan Aliong, secara diam-diam Bastian mencaritahu semua yang berhubungan dengan anggota geng, dan apa saja yang dilakukan oleh mereka. Namun, Bastian selalu bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa karena tidak ingin membuat kakaknya marah atau menjadi khawatir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN