Setahun kembali berlalu, tidak terasa Bastian sudah hampir berusia tujuh belas tahun dan duduk di kelas pertama sekolah senior bersama dengan Dave, Zack, dan juga Ann.
Sejak kejadian setahun yang lalu, d**k tidak pernah menampakkan diri, membuat Bastian merasa lega, dan menjalani hari-harinya dengan tenang.
“Minggu depan elo ulang tahun kan? Mau minta kado apa dari gua?” tanya Aliong saat datang ke restoran setelah tidak melayani pembeli lagi.
“Belum tau Ko, belum kepikiran,” sahut Bastian yang sedang duduk beristirahat setelah memasak.
“Pikirin dari sekarang.”
“Siap.”
“Ko Jim, pas Tian ulang tahun, gua mau pinjem dia seharian ya.”
“Pinjem! Emang elo pikir dia barang?!” protes Meylan. “Lagian kan dia sekolah.”
“Bolos sehari gapapa dong Ci,” sahut Aliong.
“Elo ini! Selalu seenaknya aja kalo ngomong!”
“Emang Koko mau ajak Tian ke mana?” sela Bastian antusias.
“Mancing.”
“Kenapa nggak Jumat malem aja berangkatnya?” usul Jimmy. “Setelah acara makan malam pas dia ulang tahun, elo mau bawa Tian nginep sampe Minggu gapapa.”
“Gimana Tian? Elo setuju?” tanya Aliong.
Bastian berpikir sejenak. Ulang tahunnya kali ini jatuh tepat di hari Jumat. Dan memang besoknya dia tidak sekolah.
“Saran papa boleh juga Ko. Jadi paginya Tian tetep bisa sekolah dulu, terus masih bisa kumpul sama papa, mama. Malemnya baru sama Koko.”
“Oke. Gua nggak masalah. Inget ya, jangan bikin janji sama yang lain.”
“Siap Bos!” sahut Bastian.
Bastian begitu senang akan pergi bersama dengan Aliong, bahkan sampai menginap. Menghabiskan waktu bersama kakak angkatnya adalah hal cukup sulit dilakukan sekarang, karena selain tugas sekolahnya bertambah banyak, Aliong juga menjadi lebih sibuk. Yang biasanya hampir tiap hari datang ke restoran, sekarang dalam seminggu pun belum tentu bisa datang.
Pagi ini Bastian bangun lebih pagi dari biasanya. Sejak malam, dia tidak bisa memejamkan mata karena terlalu senang. Jadi ketika jam menunjukkan pukul empat, Bastian keluar dari kamar dan turun ke bawah, dan terkejut saat melihat Meylan dan Jimmy sudah ada di dapur.
“Pagi Pa, Ma. Kenapa udah pada bangun?”
“Kamu kenapa udah bangun? Ini kan masih gelap?” sahut Meylan.
“Nggak bisa tidur.”
“Kenapa? Karena Aliong?” tanya Jimmy.
“Atau karena sekarang udah gede?” goda Meylan.
Bastian tertawa mendengar perkataan Meylan barusan.
“Kok Mama tau?”
Meylan yang sedang memasak, mengecilkan api dan berjalan menghampiri Bastian. Kemudian dia memeluk pemuda di hadapannya.
“Selamat ulang tahun anak Mama yang paling ganteng,” ujar Meylan.
“Makasih Ma,” sahut Bastian. “Makasih karena udah sayang sama Tian.”
Bastian balas memeluk Meylan dengan segenap perasaan. Dia merasa sangat beruntung boleh memiliki ibu seperti Meylan yang selalu mengasihi, mendidik, bahkan membela dirinya, layaknya anak kandung. Terkadang, Bastian kerap membayangkan akan bagaimana hidupnya jika dulu tidak bertemu dan ditolong oleh Meylan dan Jimmy.
“Sana ke papa kamu,” ujar Meylan sambil melepaskan pelukannya.
Bastian berjalan mendekati Jimmy dan duduk di samping pria itu. Jimmy bukanlah orang yang mampu mengekspresikan perasaannya. Bastian memahami akan hal itu, akan tetapi jauh di dalam hati, Bastian sangat mengasihi, mengagumi, dan menghormati Jimmy.
“Sekarang elo udah beranjak dewasa, bukan anak kecil lagi yang harus selalu diatur dan diajarin. Gua harap, elo makin dewasa, bijaksana dan selalu berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu,” ujar Jimmy.
“Iya Pa.
“Elo juga tau kan, gua selalu ada dan selalu dukung apapun yang elo lakuin. Pesen gua, jaga diri yang bener, jangan sampe ngikutin yang salah.”
“Iya Pa.”
“Selesaiin sekolah lo, terus kuliah yang bener. Tunjukkin kalo pilihan elo itu nggak salah, dan bahwa apa yang elo cita-citakan adalah pilihan yang bener.”
“Iya Pa,” sahut Bastian lagi.
“Ngomongnya udah kan Ko? Sekarang kita sarapan dulu ya,” ujar Meylan sambil meletakkan tiga mangkok mie di atas meja.
“Tapi kan ini masih pagi banget Ma.”
“Biar. Toh elo udah bangun, jadi sekalian aja kita makan. Nggak lama lagi kan elo harus sekolah.”
Bastian kembali tertawa mendengar perkataan Meylan. Sebentar lagi yang dimaksud ibunya itu masih sekitar tiga jam. Namun, dia tidak membantah ucapan Meylan. Bastian mengambil tiga pasang sumpit, dan meletakkan di samping tempat Jimmy dan Meylan.
“Ayo kita makan,” ujar Bastian.
Bastian mengambil mi di mangkok menggunakan sumpit dan memakannya dalam seruputan yang panjang.
“Hm …, ini enak banget Ma,” ujar Bastian dengan mulut penuh.
Meylan tertawa senang mendengar pujian dari Bastian.
“Kalo enak, habisin. Kalo kurang, Mama bikinin lagi,” sahut Meylan.
“Beneran?”
“Hm. Koko mau tambah juga?”
“Boleh.”
“Mama mau ke mana?” tanya Bastian saat melihat Meylan berdiri.
“Mau bikinin mi lagi buat kalian,” sahut Meylan.
“Nanti aja Ma, ini juga masih ada,” ujar Bastian sambil menunjuk mangkoknya. “Lagian Mama makannya juga belum selesai kan.”
“Iya, elo habisin punya lo dulu. Gua juga kayaknya udah kenyang, nanti siang lagi aja,” ujar Jimmy.
“Tapi kan,”
“Tian udah kenyang Ma. Kalo nambah yang ada ntar ngantuk pas di sekolah,” sela Bastian.
“Ya udah.”
Meylan duduk kembali dan meneruskan makannya yang tertunda. Begitu juga dengan Jimmy dan Bastian. Mereka segera menghabiskan makanan masing-masing. Setelah itu, Bastian mengumpulkan mangkok dan alat makan, kemudian mencuci semuanya sampai bersih.
***
“Udah pulang?” tanya Aliong saat melihat Bastian masuk ke dalam restoran.
“Iya Ko. Kapan sampe?”
“Belum lama.”
“Nggak kerja?”
“Udah tadi.”
“Koko udah makan?”
“Udah lah. Begitu sampe langsung dibikinin mi sama Ci Mey. Elo nggak liat perut gua?” tanya Aliong sambil memegang perutnya yang rata.
“Emang makan berapa mangkok?” goda Bastian sambil duduk di seberang Aliong.
“Dua mangkok jumbo.”
“Dahsyat!” seru Bastian sambil mengacungkan dua jempolnya pada Aliong.
“Elo udah beres-beres?”
“Udah dong. Tinggal berangkat aja nanti.”
“Kalian nggak akan pergi dulu sebelum makan malam bersama!” seru Meylan dari ambang dapur yang kebetulan mendengar kalimat terakhir Bastian.
“Denger tuh,” bisik Aliong.
“Tapi kalo nunggu sampe restoran tutup, kita bakal malem banget dong baru berangkat?”
“Tenang aja. Tadi Ko Jim udah bilang sama gua, resto akan tutup lebih awal. Jadi kita bisa segera pergi setelah makan malam.”
“Ko Chen ntar dateng kan?” tanya Bastian.
“Nggak tau. Dia lagi ada kerjaan.”
“Tian! Ganti baju dan taruh tas dulu!” seru Meylan dari dapur.
“Iya Ma,” sahut Bastian. “Ko, Tian ke atas dulu ya.”
Selesai mengganti pakaian, Bastian turun ke bawah dan langsung membantu Meylan di dapur. Bastian tidak berhenti bekerja, dan langsung memasak saat tamu-tamu sudah datang. Dia baru berhenti bekerja ketika restoran ditutup lebih awal, sekitar pukul setengah sembilan malam.
“Tian, sana keluar, istirahat. Sekarang giliran gua yang masak,” ujar Jimmy yang baru masuk ke dapur.
“Iya Pa.”
Bastian melepaskan celemek dan meninggalkan dapur setelah sebelumnya mencuci tangan. Bastian duduk di salah satu kursi dan menyelonjorkan kaki ke depan.
“Nih, minum,” ujar Aliong sambil menyerahkan kaleng berisi minuman bersoda pada Bastian.
“Makasih Ko.”
Bastian langsung membuka kaleng dan menenggak isinya.
“Mending elo mandi biar seger, udah gitu bawa turun barang-barang lo,” ujar Aliong.
“Siap.”
Bastian naik ke atas untuk mandi. Setengah jam kemudian, dia turun ke bawah sambil membawa ransel berisi pakaian.
“Ayo makan,” ujar Jimmy sambil membawa piring terakhir berisi lauk ke meja.
Jimmy, Meylan, Aliong, Bastian, dan Ling Ling menikmati makan malam sekaligus merayakan hari ulang tahun Bastian secara sederhana.
Selesai makan, Aliong langsung pergi bersama Bastian menuju lokasi pemancingan di luar kota. Mereka berkendara sekitar dua jam, dan tiba di sana saat hampir tengah malam.
“Ayo turun,” ujar Aliong setelah mematikan mesin mobil.
“Kita tidur di mana?”
“Turun dan liat sendiri,” sahut Aliong sebelum menutup pintu.
“Baiklah,” gumam Bastian sambil membuka pintu dan turun.
Bastian membantu Aliong mengeluarkan barang-barang dari bagasi, kemudian berjalan mengikuti Aliong hingga tiba di pinggir sungai yang sudah terpasang tenda.
“Ini kapan pasangnya Ko?”
“Tadi.”
“Wah …, ini beneran keren,” ujar Bastian.
“Suka?”
“Banget,” sahut Bastian. “Koko sering ke sini?”
“Lumayan. Kalo gua lagi suntuk, gua selalu ke sini, kadang sendiri, atau sama Chen.”
“Kenapa baru sekarang ngajak Tian ke sini?”
“Karena elo sekarang udah dewasa, jadi udah boleh dateng ke sini.”
“Terus mancingnya kapan?”
“Emang elo nggak cape?”
“Nggak.”
“Kalo gitu ayo kita mancing.”
Aliong mengajarkan pada Bastian cara memasang umpan pada kail. Setelah itu melemparkan kail ke sungai, dan meletakkan pancing di tanah. Mereka menunggu sambil duduk di kursi dan menikmati teh hangat.
“Ko, Tian boleh tanya sesuatu?”
“Tanya aja.”
“Kenapa nggak pernah kasih tau pekerjaan Koko?”
“Maksudnya?!”
“Tian sebenernya udah tau apa yang Koko kerjain selama ini, dan,”
“Elo tau dari mana?!” sela Aliong dengan nada datar.
Bastian terdiam mendengar nada suara Aliong yang dingin dan tidak bersahabat. Baru kali ini Aliong berbicara dengan nada seperti itu padanya.
“Cepet jawab!”
“Tian denger langsung waktu Koko lagi ngobrol sama papa dan Ko Chen, tapi nggak sengaja,” ujar Bastian cepat.
“Terus?!”
“Tian mulai cari tau tentang semuanya, dan akhirnya mengerti sedikit.”
“Yang elo mau tau apaan?!” tanya Aliong dengan nada suara yang sudah biasa kembali.
“Koko itu sebagai apa di kelompok? Gimana caranya Koko bisa masuk ke sana? Dan gimana caranya bisa kenal sama papa dan mama?”
“Pertanyaan lo terlalu banyak.”
“Ayolah Ko. Ini tuh kado yang mau Tian minta dari Koko,” ujar Bastian sambil menatap lurus ke mata Aliong.
Aliong mengebuskan napas kasar mendengar perkataan Bastian. Saat ini dirinya benar-benar merasa serba salah. Menjawab semua pertanyaan Bastian, artinya anak itu akan mengetahui semua hal yang dia coba sembunyikan selama ini. Tidak memberitahu artinya dia mengecewakan Bastian.
“Kalo elo udah tau semuanya, elo mau apa?”
“Tian penasaran, selama ini Tian selalu menebak-nebak kenapa Koko jago berkelahi, dan memegang senjata, juga kenapa harus selalu dijaga sama Ko Chen. Dan kenapa Tian, papa, dan mama juga harus dijaga? Pasti ada alasannya kan?”
“Gua pertama kali ketemu sama Jack saat umur sembilan tahun. Saat itu gua dalam keadaan babak belur karena habis dikeroyok sama pemuda-pemuda yang sedang mabuk. Dia bawa gua ke markas, ngobatin sampe gua sembuh. Setelah dia tau kalo gua ini yatim piatu, akhirnya gua disuruh tinggal di rumah dia. Sejak saat itulah gua belajar semuanya, serta sekolah sampe lulus.”
“Sekarang Tian mulai ngerti kenapa dulu Koko nolongin Tian,” ujarnya perlahan.
Ternyata nasib mereka hampir sama, dan terjadi di usia yang sama. Jika ini yang disebut takdir, maka Bastian mempercayainya.
“Terus Ko?”
“Setelah itu, gua mulai mengerjakan tugas-tugas sederhana dari Jack, dan selalu berhasil dengan baik. Dua tahun kemudian, gua mulai dikasih tugas-tugas yang lebih penting, semua berjalan dengan sangat memuaskan. Dari situ, posisi gua mulai naik dan dikasih memegang kelompok kecil.”
“Terus gimana caranya ketemu sama Ko Chen?”
“Panjang ceritanya. Intinya, waktu itu ada anggota yang sakit hati sama gua, dan berbalik ke kelompok lain. Dia berhasil ngejebak dan bikin gua hampir meregang nyawa. Saat itu gua ditolongin sama Chen, dan disembunyiin di tempat Ko Jim. Sejak itu, Jack nyuruh Chen yang awalnya adalah orang kepercayaan Jack buat jadi tangan kanan gua.”
“Terus Ko?”
“Nggak ada terus lagi. Selebihnya kan elo udah tau.”
“Tian boleh tau markas Koko?”
“Gua nggak mau elo terlibat lebih jauh.”
“Karena?”
“Jack udah tau tentang elo, dan pengen banget kenalan sama elo. Gua sama Chen sama-sama berusaha bikin semua itu nggak terjadi.”
“Kenapa?”
“Ini udah jam dua, elo nggak mau tidur? Gua cape,” ujar Aliong mengelak menjawab pertanyaan Bastian.
“Terus mancingnya?”
“Lanjutin besok, toh belum dapet juga kan.”
“Koko duluan aja. Tian masih mau duduk di sini.”
Aliong berdiri dan masuk ke dalam tenda. Sementara itu, Bastian masih duduk di luar mengamati langit yang dihiasi bintang. Terlihat indah, ditambah suasana yang hening, jauh dari kota, dan juga tidak terdengar suara mobil lewat, seperti di rumah.