Bertemu Jack

2031 Kata
“TIAN!” seru Ann sambil melambaikan tangannya. Bastian balas melambaikan tangan pada Ann yang sedang berlari ke arahnya. Secara kebetulan, dia berada di kelas yang sama dengan Ann, gadis baik hati di sekolah juniornya dulu. “Ada apa Ann?” tanya Bastian ramah.  “Cie …, cie …, cie,” goda Zack sambil menyodok perut Bastian. “Kamu mau pulang?” tanya Ann. “Hm, kenapa?” “Boleh pulang bersama?” tanya Ann sambil tersipu. Bastian memandang kedua temannya meminta pendapat melalui tatapan mata. Dave dan Zack menganggukkan kepala sebagai persetujuan. “Baiklah,” ujar Bastian. “Ayo kita jalan.” Bastian menunggu sampai Ann berjalan, baru dia mengikuti satu langkah di belakang gadis itu, diikuti Zack dan Dave di sampingnya. Mereka mengantarkan Ann sampai ke rumah, setelah itu barulah Bastian, dan Zack pergi ke rumah Dave untuk belajar bersama sebelum Bastian membantu Jimmy membuka restoran untuk makan malam. “Baru pulang?” tanya Meylan saat Bastian masuk ke dapur. “Iya Ma, tadi ngerjain tugas dulu sama Dave dan Zack. “Kamu nggak taruh tas dulu?” tanya Meylan melihat Bastian langsung mengerjakan tugasnya di dapur. “Nanti aja Ma, sebentar lagi kan jam makan malam.” “Terserah kamu aja,” sought Meylan.  “Tian, bisa tolong kerjain pesanan meja nomor tiga?” tanya Ling Ling sambil membawa secarik kertas berisi makanan yang dipesan. “Siap.” Bastian mengambil kertas dari tangan Ling Ling, membacanya sekilas, dan langsung mengerjakannya dengan cepat. Meylan yang berdiri di belakang Bastian, terus memperhatikan cara kerja anaknya yang begitu cekatan. “Ma, ini udah siap,” ujar Bastian setelah menuang masakan pertama di piring saji. Meylan mengambil piring tersebut, meletakkannya di baki bersama mangkuk-mangkuk berisi nasi. Setelah itu membawanya ke depan. Bastian membersihkan penggorengan dengan air bersih, kemudian langsung memasak makanan kedua dan seterusnya. Malam ini tamu yang datang cukup banyak, sehingga Bastian tidak sempat beristirahat hingga masakan untuk tamu terakhir diantarkan oleh Meylan. “Akhirnya …, selesai juga,” ujar Bastian sambil meluruskan pinggangnya yang terasa pegal akibat terus memasak. “Cape?” tanya Meylan. “Sedikit.” “Sana istirahat dulu di depan. Mama bikinin teh buat kalian.” “Biar Tian yang bikin, Mama istirahat aja. Mama kan juga pasti cape.” “AISH!” seru Meylan. “Mau Mama marah?! Atau pilih duduk di depan sama papa?!” Bastian terkekeh melihat ekspresi marah di wajah Meylan, dan memilih ke depan sebelum ibunya bertambah kesal. “Mama mana?” tanya Jimmy saat melihat Bastian duduk di salah satu kursi. “Lagi bikin teh.” "Makan malam siapa yang masak?" tanya Jimmy.  "Biar sama Tian Pa, tapi duduk dulu sebentar." "Sama gua aja, elo keliatannya cape." Usai berkata, Jimmy beranjak dari meja kasir menuju dapur untuk membuat makan malam bagi mereka berempat, termasuk Ling Ling.  Tidak lama kemudian, Meylan datang membawa teh untuk mereka dan duduk bersama Bastian menunggu Jimmy selesai masak.  *** “Tian, kamu langsung pulang?” tanya Zack ketika mereka berjalan keluar kelas bersama. “Hm. Kenapa?” “Mari kita bermain basket sebentar, oke?” “Oke,” sahut Bastian. Bastian dan Zack meninggalkan lorong kelas dan menuju ke lapangan basket yang berada di samping kanan gedung sekolah. Di sana sudah menanti Dave yang sedang melemparkan bola ke dalam ring. Setelah itu mereka bertiga asik bermain basket selama beberapa waktu.  “Permisi,” ujar seorang pria pada Bastian, Dave, dan Zack. “Ya?” sahut Dave. “Saya mencari Bastian,” ujar pria tersebut. Melihat bentuk wajah dan warna kulit pria itu, Bastian yakin, dia adalah salah seorang yang ada hubungannya dengan Aliong. “Ada perlu apa?” tanya Bastian yang masih memegang bola. “Ada yang ingin bertemu dengan kamu.” “Siapa?” tanya Bastian hati-hati. “Jack.” Bastian mengerutkan kening ketika pria di hadapannya menyebut nama Jack. Dia merasa tidak memiliki urusan dengan bos Aliong. Mengapa pria itu tiba-tiba mencarinya, itu yang membuat Bastian terkejut dan bingung. “Ada masalah apa? Saya tidak kenal dengan orang yang bernama Jack,” sahut Bastian tegas. “Tenang, ini bukan seperti yang kamu pikirkan,” ujar Leslie, yang adalah pengawal Jack. Bastian tidak ingin membuat Dave dan Zack curiga. Karena itu dia memutuskan untuk mengikuti pria itu. “Zack, Dave, saya pergi dulu,” ujar Bastian. “Kamu yakin? Ingin kami temani?” tanya Zack yang merasa sedikit aneh melihat sikap Bastian. “Nggak usah. Saya bisa sendiri. Kalian pulang saja.” Bastian berjalan meninggalkan kedua temannya dan mengikuti Leslie menuju ke luar gerbang. Bastian sengaja berjalan selangkah di belakang Leslie untuk memberitahu Aliong tentang situasinya. Perlahan, Bastian menekan gantungan kunci miliknya sebanyak dua kali. Dia yakin, Chen pasti akan tahu dan segera menolongnya. “Kita mau ke mana?” tanya Bastian saat mereka sudah keluar dari sekolah dan berjalan sekitar satu blok. “Sebentar lagi tiba di mobil saya.” “Lalu?” “Saya akan membawa kamu ke markas besar untuk bertemu dengan Jack yang sudah menunggu kamu.”  “Apa Ko Aliong tau?” “Belum, tapi pasti dia akan datang. Tenang saja, kami tidak akan mencelakakan kamu atau membuat Aliong murka. Bos hanya ingin berkenalan dengan kamu.” “Baiklah. Saya pegang kata-kata kamu.” “Silakan masuk,” ujar Leslie yang sudah membukakan pintu untuk Bastian. Bastian mengikuti kemauan Leslie. Dia masuk dan duduk di mobil bagian belakang. Bastian memperhatikan dan mengingat jalan yang dilalui sampai mereka tiba di sebuah gerbang besi tinggi. Saat mobil mendekat, gerbang terbuka dengan sendirinya. Leslie mengendarai mobil hingga tiba di depan bangunan bertingkat tiga, dan dijaga dengan ketat oleh penjaga yang memakai setelan hitam-hitam. Leslie menghentikan mobil di dekat pintu masuk. Setelah turun, dia membuka pintu bagian belakang. “Ayo turun.” Bastian turun dari mobil sambil membawa ransel sekolahnya dan berjalan masuk ke dalam mengikuti Leslie yang sudah lebih dahulu. Leslie membawa Bastian ke lantai paling atas dan menuju ke pintu besar yang ada di ujung ruangan. Setelah mengetuk sebanyak dua kali, Leslie membuka pintu dan mempersilakan Bastian masuk. Bastian melihat seorang pria berusia sekitar di akhir empat puluha, yang masih terlihat gagah dan tampan, juga postur tubuhnya yang atlestis dan berotot, duduk di sofa tunggal. “Silakan duduk,” ujar pria tersebut pada Bastian. Bastian mengikuti perintah Jack, dan duduk di sofa di samping pria itu. Sejak Bastian berjalan memasuki ruangan, dan mendekati meja, Jack tidak sedikitpun melepaskan tatapannya dari anak itu, dan semakin menyukai Bastian yang tidak tampak gentar sedikitpun. “Boleh tau kenapa membawa saya ke sini?” tanya Bastian setelah duduk. “HAHAHA ….” Jack tertawa keras mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Bastian. “Ternyata Aliong nggak salah milih.” “Maksudnya?” tanya Bastian bingung. “Selama gua kenal Aliong, dia belum pernah sekalipun mempunyai murid, ataupun seseorang yang dilindungi dengan sepenuh hati. Baru elo orang pertama yang mendapatkan hak istimewa tersebut. Saat gua tau dia melatih seorang anak, gua amat sangat penasaran dan pengen tau, tapi baik Aliong maupun Chen sangat pinter ngumpetin elo.” “Terus kenapa sekarang bawa saya ke sini?” “Karena gua semakin penasaran, seperti apakah sosok anak yang bisa merubah seorang Aliong.” “Merubah Ko Aliong?” gumam Bastian. Tiba-tiba pintu dibuka dengan keras, dan tampaklah Aliong serta Chen di sana. Wajah Aliong terlihat keras saat melangkah masuk dan berdiri di dekat Jack. “Akhirnya elo dateng juga,” ujar Jack ramah. “Duduk Liong.” Aliong mengikuti perintah bos yang sekaligus kakak angkatnya. Dia memilih duduk di samping Bastian, sementara Chen di seberang Aliong. “Kenapa Koko bawa Tian ke sini?” tanya Aliong. “Karena elo selalu menolak permintaan gua, jadi terpaksa gua ambil langkah sendiri,” sahut Jack tanpa merasa bersalah. “Kan elo udah tau jawaban gua Ko?!” protes Aliong frustasi. “Betul, tapi mau sampe kapan? Dulu elo bilang saat dia umur tujuh belas. Dan sekarang sudah lewat beberapa bulan, tetep aja belum elo bawa ke gua.” “Gua lagi nunggu waktu yang tepat.” “Kapan?” Aliong terdia ditanya seperti itu oleh Jack. Karena yang sebenarnya adalah, dia tidak akan pernah siap mempertemukan Bastian dengan Jack. Aliong tidak pernah merasa takut terhadap apapun, bahkan saat nyawanya sedang terancam. Baru kali inilah dia memiliki rasa takut yang demikian besar, ketika Jack memaksa ingin bertemu dengan Bastian. “Gua tau apa yang elo pikirin Liong, dan gua bisa memahami semuanya, makanya gua nggak marah. Gua cuma mau kenal sama dia, sekaligus pengen tau daya tarik apa yang dia punya sampe bisa bikin hati lo tergerak.” “Sekarang kan elo udah ketemu, udah ngeliat, bahkan udah ngobrol. Jadi gua bisa kan bawa dia pergi?” “Elo takut kalo gua bakal bawa dia masuk ke sini?” tanya Jack sambil terkekeh. “Udah tau masih nanya juga,” gumam Aliong lirih. “Kalo gitu gua mau tanya langsung sama anaknya aja,” ujar Jack. “Ko! Jangan coba-coba!” ujar Aliong. “Emang mau tanya apa?” ujar Bastian penasaran. “Andai gua ajak elo bergabung, apa pilihan elo?” tanya Jack. “Bergabung?” ulang Bastian. “Hm.” “Nggak tau, saya belum pernah mikirin itu semua. Yang saat ini saya pikirin adalah sekolah dan kuliah.” “Kuliah?” “Iya. Saya pengen kuliah dan mewujudkan impian.” “Memang elo mau jadi apa?” “Saya pengen jadi seorang chef dan punya restoran sendiri.” “Impian yang bagus.” “Jika suatu saat elo ingin bergabung, maka tempat ini selalu terbuka buat elo.” “Jika memang itu terjadi, tentunya saya akan bilang dulu sama Ko Aliong. Dan jika dia mengijinkan, maka saya akan datang ke sini,” ujar Bastian dengan mantap. Baik Jack, Aliong, dan Chen terkejut mendengar jawaban yang keluar dari bibir Bastian, terutama Aliong. Dia tidak menyangka jika Bastian akan berkata seperti itu, dan apa yang selama ini ditakutkan ternyata tidak terbukti.  Jack tidak memaksa Bastian untuk bergabung. Bastian pun tidak menunjukkan gelagat untuk bergabung. Hatinya sangat lega dengan semua itu. “Jawaban yang sangat bijaksana,” ujar Jack tulus. “Elo berhasil Liong. Bukan hanya ngajarin bela diri, tapi mendidik dia dengan benar.” “Makasih Ko. Sejujurnya gua juga kaget sama jawaban dia.” “Kapan pun elo butuh bantuan, elo bisa hubungin gua, dan tempat ini selalu terbuka buat elo. Adik Aliong, berarti adik gua juga,” ujar Jack pada Bastian. “Makasih Ko.” “Ini kartu nama gua. Elo simpen dan gunakan dengan baik.” “Siap Ko,” sahut Bastian sambil mengambil kartu nama dari tangan Jack. “Gua boleh bawa Bastian pulang kan?” tanya Aliong. “Hm.” “Kalo gitu gua pergi dulu,” ujar Aliong sambil bangkit berdiri. “Ayo Tian.” “Saya pulang dulu,” ujar Tian sambil mengikuti Aliong. Bastian berjalan di samping Aliong dalam diam, sementara Chen mengikuti dari belakang. Tidak ada yang bersuara hingga mereka masuk ke dalam mobil. “Kenapa elo mau aja dibawa ke sini?” tanya Aliong sedikit kesal. “Tian juga nggak mau, tapi sekaligus penasaran. Pengen tau markas itu kayak gimana, dan seperti apa wajah bos Koko.” “Sekarang udah puas?!” sentak Aliong. “Maaf Ko.” “Untung elo ngasih tau gua, dan gua bisa sampe sana tepat waktu.” Chen yang mengemudi, memperhatikan Aliong dari spion tengah. Dia teringat wajah Aliong saat menuju markas, begitu tegang dan juga menakutkan. Sekarang, walaupun sudah terlihat baik-baik saja, akan tetapi Chen tau, Aliong belum bisa sepenuhnya menghilangkan rasa khawatirnya. “Kan Koko yang bilang, kalo ada sesuatu yang mencurigakan, dan Tian nggak bisa hadapin sendiri, suruh kasih tau kan. Karena itu tadi Tian pencet.” “Bagus.” “Ke depannya elo mesti lebih waspada,” ujar Aliong. “Siap Ko.” “Chen, kayaknya kita nggak bisa ngandelin alat itu lagi. Elo punya sesuatu yang lebih baik?” “Ada. Ntar gua kasih ke elo.” “Oke.” “Sekarang elo turun, dan masuk ke dalem. Bersikap biasa aja. Gua nggak bisa turun karena ada kerjaan,” ujar Aliong saat mobil berhenti tidak jauh dari restoran. “Iya Ko. Makasih,” ujar Bastian sambil membuka pintu dan turun. “Makasih Ko Chen,” ujar Bastian sambil melonggokkan kepala melalui jendela. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN