“Ko, gua mau ajak Tian nginep di rumah. Nanti Minggu malam gua anterin balik.”
“Hm.”
“TIAN! Elo mau ikut gua?” teriak Aliong.
“Mau Ko.”
“Buruan!”
“Siap.”
Bastian berlari ke atas untuk berganti pakaian dan membereskan sedikit barang yang akan dibawa ke apartemen Aliong.
“Ayo Ko,” ujar Bastian saat sudah tiba di bawah lagi.
“Nggak makan dulu?” tanya Meylan.
“Nanti aja Ci, sama gua. Biar dia sekali-sekali nikmatin makan di luar.”
“Ya udah.”
“Ma, Pa, Tian pergi dulu ya.”
“Hm,” sahut Jimmy.
“Iya, hati-hati,” sahut Meylan.
“Ko, Ci, gua pulang dulu.”
“Hm,” sahut Jimmy.
“Gua titip Tian, jagain baik-baik,” ujar Meylan sambil menepuk punggung Aliong.
“Siap.”
Aliong keluar dari restoran, berjalan ke mobil yang terparkir tepat di seberang restoran. Tampak Bastian sudah menunggu di samping mobil bagian kanan depan.
“Kita langsung ke apartemen Ko?” tanya Bastian saat mobil sudah meninggalkan restoran.
“Nggak. Gua ada perlu sebentar.”
“Ke?”
“Gua perhatiin, akhir-akhir ini elo sering banget pake baju dan celana hitam, kenapa?”
“Biar keren kayak Koko,” sahut Bastian.
“Aneh.”
“Biar.”
“Tapi boleh juga gaya lo,” ujar Aliong sambil memarkir mobil.
“Kenapa berhenti di sini?” tanya Bastian bingung saat Aliong menghentikan mobil di depan sebuah klub malam.
“Udah, elo diem aja, dan ikut turun sama gua. Inget, tetep di belakang gua dan jangan macem-macem. Paham?!”
“Iya Ko.”
Bastian turun dari mobil dan berjalan di sisi Aliong memasuki klub malam tersebut. Suasana temaram, dan musik yang keras langsung menyambut ketika Bastian tiba di sebuah ruangan yang besar. Banyak orang sedang menari, minum, tertawa bercampur jadi satu di sana. Lampu sorot berbagai warna menyorot bergantian, membuat kepala Bastian menjadi sedikit pening.
“Kenapa lo?” tanya Aliong dengan suara keras.
“Pusing Ko.”
“Karena?”
“Banyak banget orang di sini, belum suara musik yang kenceng banget.”
Aliong berhenti di depan sebuah pintu kayu yang berada di lantai dua bagian belakang.
“Masuk,” ujarnya pada Bastian.
“Wah …,” ujar Bastian yang takjub melihat ruangan yang berada di balik pintu.
Sebuah ruangan yang cukup besar dengan banyak layar yang terhubung dengan kamera pengawas dari berbagai area di seluruh klub malam itu.
“Inilah kehidupan malam yang sesungguhnya. Segala jenis orang ada di sini, dari yang cuma pengen minum, bersenang-senang, bahkan ada yang membicarakan bisnis di sini. Dan inilah salah satu dunia yang gua jalanin.”
“Terus Koko ngawasin mereka semua?”
“Hm. Tapi kalo gua nggak di sini, Hansen yang bertugas mengawasi,” ujar Aliong sambil menunjuk seorang pria yang berdiri tidak jauh dari Aliong.
“Oh ….”
“Terus Koko ke sini buat ngontrol semua?”
“Hm.”
“Tian baru tau yang namanya klub tuh kayak gini. Kenapa Koko bawa Tian ke sini?”
“Gua mau elo belajar dan mengenal kehidupan yang sesungguhnya. Jangan sampe nantinya elo diperdaya orang.”
“Iya Ko.”
“Ikut gua ke bawah,” ujar Aliong.
“Iya Ko.”
Aliong meninggalkan ruangan bersama Bastian dan Chen yang belum lama tiba. Mereka menuruni tangga dan menuju ke bar dan duduk di sana.
“Malam Bos,” sapa bartender pada Aliong.
“Hm.”
“Yang biasa?”
“Hm, sama tolong kasih kola buat dia,” ujar Aliong.
“Siap.”
Bartender membawakan gelas tinggi berisi es batu beserta sebotol kola dan menyerahkannya pada Bastian.
“Makasih,” ujar Bastian sopan.
Setelah itu, barulah bartender meracik minuman untuk Aliong dan Chen.
“Itu apaan Ko?” tanya Bastian penuh minat.
“Sesuatu yang enak, dan elo boleh cicip setelah tahun depan,” sahut Aliong.
“Tumben elo bawa Tian?” bisik Chen.
“Biar dia belajar.”
“Terus kalo dia makin tertarik gimana?”
“Ya resiko. Karena biar gimana, dia harus ngerti yang kayak ginian. Coba elo bayangin, kalo dia sama sekali buta hal kayak gini, tau-tau dibawa sama orang dan dicekokin segala gimana? Nggak selamanya kita bisa awasin dia kan.”
Tiba-tiba, dari tengah ruangan terdengar ribut-ribut yang menarik perhatian Aliong dan Chen. Mereka yang tadinya duduk menghadap bar, membalikkan badan untuk mengamati keadaan.
Seorang pria yang sudah mabuk, mengganggu gadis yang ternyata datang bersama kekasihnya. Dan keributan tidak dapat dihindari ketika kekasih gadis itu meninju wajah pria mabuk dengan keras.
“Suruh Hansen siap-siap,” ujar Aliong datar.
“Siap.”
Bastian mendengar percakapan singkat antara Aliong dan Chen barusan. Mengikuti naluri, Bastian mengedarkan pandangan dan bersiaga. Tiba-tiba, dari arah depan datang sekumpulan pria sambil membawa tongkat dan senjata lainnya.
Para tamu mulai panik, terutama wanita. Mereka berlari sambil berteriak untuk menyelamatkan diri. Ada yang bersembunyi di bawah meja, masuk ke dalam toilet, bahkan ada yang bersembunyi di dalam bar.
Bartender yang sudah bersiap, mengambil tongkat dan meletakkannya di atas meja. Aliong, dan Chen langsung mengambil tongkat tersebut dan berjalan mendekati para pria tidak diundang tersebut.
Secara naluri, Bastian juga mengambil tongkat pemukul untuk berjaga-jaga. Dan mau tidak mau, akhirnya Bastian ikut berkelahi ketika salah seorang dari pembuat kerusuhan mendatanginya sambil mengacungkan golok.
Dengan tenang Bastian mengelak dan langsung memukul pergelangan tangan pria tersebut dengan keras menggunakan tongkat, sehingga golok langsung terlepas. Sebelum pria itu menyerang balik, terlebih dahulu Bastian memukul lutut bagian belakang dengan keras, sehingga pria tadi langsung roboh.
Bastian mengambil golok di lantai dan meletakkannya di meja bartender. Setelah itu, Bastian kembali duduk. Dia terus memperhatikan Aliong dengan seksama. Jika Aliong membutuhkan pertolongan, Bastian akan langsung datang ke Aliong.
Dari arah pintu utama, Bastian melihat empat orang pria datang sambil membawa golok panjang dan langsung menghampiri Aliong yang saat itu tengah berhadapan dengan orang lain. Melihat hal itu, Bastian langsung berdiri dan berlari untuk menolong Aliong.
“TRANG!”
Aliong menoleh untuk melihat apa yang terjadi di dekatnya. Ternyata Bastian sedang menahan golok yang mengarah ke dirinya dengan golok juga.
“ELO MAU MATI?!” teriak Aliong.
“Justru Tian nolongin Koko!”
“AWAS!” teriak Aliong saat melihat lawan Bastian sedang mengayunkan goloknya kembali.
Dengan sigap, Bastian mengelak sambil menjulurkan kakinya ke arah lawan. Saat itu juga lawan Bastian langsung terjerembab ke depan.
“Yes!” desis Bastian senang.
Melihat Bastian dapat menjatuhkan satu lawan, Aliong mendekat dan menempelkan punggungnya dengan punggung Bastian.
“Elo tau nggak kalo ini bahaya?”
“Tau Ko.”
“Terus kenapa elo ke sini?!”
“Tian nggak mau liat Koko luka.”
“Oke, kalo gitu, cepet selesaiin dan jangan terluka, paham?!”
“Siap.”
“Tetep di deket gua!”
“Iya Ko.”
Aliong dan Bastian sama-sama berjuang untuk mengalahkan lawan dan tidak terluka. Bastian berusaha tidak melukai lawan, walaupun di tangannya ada golok. Setengah jam kemudian, keadaan sudah tenang, para pembuat kerusuhan dikumpulkan di tengah ruangan yang porak poranda.
Beberapa anak buah Aliong yang terluka sudah dibawa ke atas untuk diobati oleh dokter yang bekerja pada Jack. Terlihat beberapa anak buah Aliong lainnya sedang melucuti senjata yang mungkin masih disimpan oleh para pembuat onar.
“Mereka mau diapain Ko?” tanya Hansen.
“Seperti biasa.”
“Baik.”
“Mereka dari mana?”
“Yang bikin masalah, beberapa orang dari Naga Api, selebihnya bukan.”
“Hebat juga Xiao Wen ngebiarin anaknya begini,” ujar Aliong datar. “Chen, hubungin Xiao Wen.”
“Siap.”
“Sen, pisahin mereka.”
“Siap Ko.”
Baik Chen, maupun Hansen langsung melaksanakan perintah Aliong. Bastian memperhatikan dalam diam. Dia semakin kagum dengan cara Aliong menangani semuanya, tanpa emosi dan selalu berbicara dengan nada datar, akan tetapi terkesan dingin dan menakutkan.
“Mereka siapa Ko?” tanya Bastian penasaran.
“Yang mana?” tanya Aliong santai.
Sikap Aliong langsung berubah, sorot matanya kembali tenang, begitu juga nada bicaranya.
“Itu yang duduk di pojok.”
Aliong memicingkan mata untuk melihat lebih jelas.
“Mereka itu dari kelompok Naga Api.”
“Lawan?”
“Bukan.”
“Teman?”
“Hm.”
“Gimana ceritanya Ko?”
“Jack itu pimpinan tertinggi Delapan Naga. Dia memiliki tujuh cabang yang masing-masing cabang dipegang oleh orang kepercayaannya,”
“Kalo Koko?”
“Apanya?”
“Kan mereka Naga Merah, kalo Koko?”
“Naga Emas.”
“Wah …, keren namanya.”
“Terus mereka mau diapain?” tanya Bastian sambil menunjuk ke arah pojok.
“Tergantung Xiao Wen. Gua nggak akan ikut campur.”
“Terus yang gantiin kerusakan siapa?”
“Mereka, karena mereka kan yang bikin kacau.”
“Elo ada luka nggak Tian?” tanya Chen yang baru datang sambil memeriksa tubuh Bastian.
“Nggak ada Ko.”
“Baguslah. Gua sempet kaget ngeliat elo dateng,” ujar Chen.
“Apa kata Xiao Wen?” tanya Aliong menyela pembicaraan Chen.
“Sebentar lagi dateng.”
“Kalo gitu, elo anter Tian pulang sekarang,”
“Kenapa Ko?” sela Bastian.
“Ini udah larut, dan elo mesti istirahat.”
Bastian ingin membantah lagi, akan tetapi tangannya dicekal oleh Chen, dan dia melihat Chen menggelengkan kepalanya. Akhirnya Bastian diam, dan berjalan mengikuti Chen untuk pulang. Sedangkan Aliong sudah naik ke atas menuju ke ruangannya dan menunggu kedatangan Xiao Wen.
Tiba di apartemen, Chen langsung pergi lagi setelah mengantarkan Bastian sampai ke unit tempat tinggal Aliong.
“Jangan bukain pintu kalo ada yang datang,” ujar Chen.
“Iya Ko.”
“Kalo laper, bikin mi instan aja. Nanti gua bawain makanan.”
“Iya Ko,” sahut Bastian tidak bersemangat.
“Gua tinggal dulu, elo hati-hati di rumah.”
Chen menunggu sampai Bastian menutup dan mengunci pintu, setelah itu dia kembali ke klub untuk mendampingi Aliong.
***
Aliong tiba di apartemen menjelang subuh, dan dia menemukan Bastian tertidur di sofa, dan televisi dalam keadaan menyala. Aliong berjalan ke kamar, mengambil selimut untuk Bastian.
“Mau kopi Ko?” tanya Chen.
“Boleh juga.”
“Mau makan sekalian?”
“Nggak Chen, makasih. Elo aja.”
Aliong duduk di sofa, di dekat Bastian sambil memperhatikan anak itu. Sejujurnya dia tidak menyangka jika tadi Bastian begitu berani, bahkan terbilang nekat dengan masuk ke dalam sebuah perkelahian. Bukan hanya itu saja, anak itu bahkan membawa golok, walaupun tidak digunakan untuk melukai. Semua itu semakin membuat Aliong kagum, tapi juga khawatir.
“Apa gua salah mendidik dia ya?” ujar Aliong pelan saat Chen datang membawa dua gelas kopi.
“Kenapa ngomong begitu?” sahut Chen.
“Elo tadi juga liat dia kan? Nggak keliatan takut, dan terus maju.”
“Hm, dan harus gua akui, gerakan dia semakin baik, dan akurat. Kecepatannya juga sangat baik, begitu juga pengendalian emosinya. Itu artinya, elo berhasil mendidik dia dengan baik Ko.”
“Justru itu yang jadi masalah Chen. Ngeliat dia tadi, hati gua jadi makin nggak tenang. Semoga apa yang gua takutin nggak terjadi.”
“Kenapa elo mesti takut dan mikirin sampe segitunya Ko. Takdir orang itu udah ditentuin dari awal. Dia akan jadi apa ke depannya, itu udah diatur dari awal. Apapun itu, elo harus bisa terima.”