“Tian, ayo bangun,” ujar Meylan sambil mengguncang tubuh anaknya.
“Masih ngantuk Ma,” sahut Tian yang belum rela membuka matanya.
“Ayo cepetan bangun!” seru Meylan sambil menarik selimut yang menyelubungi tubuh Bastian.
“Sepuluh menit lagi Ma, nanti Tian turun dan bantuin di bawah.”
“Pokoknya harus bangun sekarang!” perintah Meylan sambil menarik tangan Bastian supaya anak itu duduk.
Dengan terpaksa Bastian mengikuti keinginan Meylan dan duduk di tempat tidur dengan mata terpejam. Meylan tertawa melihat kelakuan putranya yang hari ini genap berusia delapan belas tahun. Tadi pagi-pagi sekali, Meylan sudah sibuk memasak di dapur, membuatkan mie goreng dan beberapa lauk lain untuk dimakan bersama saat sarapan.
Kebetulan sekarang hari Sabtu, dan Jimmy memutuskan untuk libur selama dua hari, karena mereka akan pergi berlibur di rumah peristirahatan Aliong yang berada di luar kota.
“Ada apa sih Ma?” tanya Bastian.
“Pokoknya cepet cuci muka, dan sikat gigi. Mama tunggu di bawah,” sahut Myelan. “Awas kalo tidur lagi!” ancamnya sebelum keluar dari kamar Bastian.
Dengan malas, Bastian turun dari tempat tidur, keluar dari kamar menuju ke kamar mandi untuk melakukan perintah Meylan. Setelah selesai, dia menuruni tangga dan terkejut saat tiba di anak tangga paling bawah.
“Selamat ulang tahun Tian!” seru Meylan sambil bertepuk tangan.
“Selamat ulang tahun!” ujar orang-orang yang berkumpul di ruangan sambil bertepuk tangan.
“Makasih,” ujar Bastian terharu dan senang mendapat kejutan manis di hari ulang tahunnya.
Ada Jimmy, Meylan, Aliong, Chen, Dave, Zack, dan beberapa anak buah Aliong berkumpul di sini. Mereka sengaja ingin memberikan kejutan untuk Bastian, dan sudah merencanakan hal ini dari beberapa hari yang lalu.
Bastian memeluk Meylan dengan erat, kemudian Jimmy, dan terakhir Aliong.
“Kalian kenapa repot-repot begini?” tanya Bastian setelah selesai berjabat tangan dengan semua yang hadir.
“Sekali-kali boleh dong,” sahut Meylan mewakili semua orang. “Selama ini kan kamu cuma ngerayain sama papa, Mama, dan Aliong.”
“Tapi kan Mama jadi repot, mesti masak banyak,” protes Bastian. “Apalagi sampe bawa kado segala,” ujarnya sambil menunjuk ke arah tumpukan kado di salah satu meja.
“Elo tenang aja, kita semua nggak merasa repot,” ujar Aliong. “Sekarang mending makan, gua udah laper. Sengaja nggak sarapan, demi bisa makan masakan Ci Meylan.”
“Baiklah,” ujar Bastian. “Ayo Ma, Tian bantu keluarin makanan.”
Bastian berjalan ke dapur untuk membantu Meylan menyiapkan hidangan di meja-meja. Dia melakukannya dengan hati yang senang. Bastian menikmati sarapan pagi yang tidak biasa, dikelilingi oleh orang-orang yang dia sayang dan sudah menjadi bagian dari hidupnya selama sembilan tahun ini.
Selesai makan, atas permintaan Meylan, Bastian membawa kado-kado yang diterima ke atas. Di kamar, Bastian duduk di tepi tempat tidur, mengambil selembar foto dari dalam dompet, dan memandangi wajah ibunya dengan penuh kerinduan.
“Ibu apa kabar di sana?” ujarnya dengan suara tercekat. “Apa ibu sehat? Gimana bapak?”
Bastian mengelus foto dengan penuh perasaan. Dia merindukan keluarganya, terutama wanita yang sudah melahirkannya. Kenangan bersama ibunya, semakin hari semakin memudar seiring berjalannya waktu. Ada saat-saat dia menangis karena rindu dan ingin pulang.
“Tian di sini sehat bu. Mama Meylan dan papa Jimmy sangat sayang sama Tian. Suatu hari nanti, kalo Tian udah berhasil, Tian janji akan pulang dan kita bisa ketemu lagi ya.”
Meylan yang tadinya hendak masuk, membatalkan niatnya dan hanya berdiri di depan pintu. Dia mendengar semua perkataan Bastian, dan dapat memahami perasaan anak itu. Karena tidak ingin mengganggu, Meylan turun kembali tanpa memanggil Bastian.
“Mana Tian?” tanya Aliong.
“Masih di atas, katanya tunggu sebentar,” sahut Meylan cepat.
“Kita jadi mau pergi?” tanya Jimmy.
“Jadi Ko. Kalian udah siapin semua kan?”
“Udah,” sahut Meylan.
“Kalo gitu kita masukkin ke mobil sekarang. Kalo Tian turun, kita langsung berangkat. Cici udah siapin perlengkapan dia kan?” tanya Aliong.
“Udah.”
“Oke. Kalo gitu ayo kita siap-siap.”
Anak buah Aliong langsung bergerak dan membawa barang-barang ke dalam mobil. Mereka bekerja dengan cepat, sehingga sebentar saja semua sudah selesai.
“Ci, elo panggil Tian lagi deh, supaya kita bisa langsung jalan.”
“Oke.”
Meylan kembali ke atas untuk memanggil Bastian. Di depan pintu, dia sejenak ragu untuk mengetuk. Sementara itu, Bastian yang merasa sudah terlalu lama di kamar, berjalan menghampiri pintu dan membukanya.
“Mama?” ujar Bastian terkejut melihat Meylan berdiri di depan kamarnya. “Ada apa Ma?”
“Eng, mau panggil kamu.”
“Tian kelamaan ya?” ujarnya merasa tidak enak.
“Nggak kok. Ayo kita turun,” ujar Meylan yang langsung membalikan badannya.
Bastian berjalan mengikuti dari belakang. Dan kembali dibuat tertegun melihat semua orang sudah bersiap untuk pergi.
“Kalian mau ke mana?” tanya Bastian bingung.
“Mau pergi, elo udah siap?” tanya Aliong.
“Tian?” tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. “Emang mau ke mana?”
“Udah, nggak usah banyak tanya! Sekarang ayo keluar!” ujar Aliong.
Aliong mendatangi Bastian dan memeluk leher pemuda itu, serta menyeretnya keluar. Bastian mengikuti Aliong sambil tertawa. Hari ini hatinya sangat bahagia, bukan hanya karena sekarang dia sudah dewasa, tapi karena akan berlibur bersama dengan keluarganya.
“Ayo naik!” ujar Aliong sambil membuka pintu mobil bagian kiri depan.
“Tian sama Koko? Papa sama mama?”
“Sama kita juga, mereka duduk belakang.”
“Ko Chen?”
“Mobil yang lain, di depan kita.”
“Zack dan Dave?”
“Bareng juga sama Chen.”
“Oke,” sahut Bastian sambil membuka pintu sebelah kanan.
Tidak lama kemudian Jimmy dan Meylan masuk ke dalam mobil Aliong. Setelah yang lain juga naik ke mobil yang ada, mereka semua pun berangkat menuju rumah peristirahatan Aliong. Mereka berkendara selama kurang lebih tiga jam, melewati pedesaan dengan pemandangan yang sangat indah.
Bastian membuka jendela mobil lebar-lebar, membiarkan udara segar memenuhi mobil. Dia mengeluarkan tangan kanannya dan menikmati semilir angin yang mengenai jemarinya.
“Kayak anak kecil,” ledek Aliong melihat kelakuan Bastian.
“Biarin, sekali-kali Ko. Lagian ini menyenangkan tau,” sahut Bastian.
“Beneran Tian?” tanya Meylan dari belakang.
“Iya Ma, cobain deh.”
Meylan membuka jendela sebelah kanan belakang dan mengikuti Bastian mengeluarkan tangan dan menikmati sentuhan angin di jemarinya.
“Ko Jim, ini beneran asik,” ujar Meylan sambil tersenyum lebar.
“Tambah satu lagi anak kecil di mobil,” ledek Aliong.
“Kalian para pria emang nggak bisa mengerti perasaan wanita,” gerutu Meylan.
“Gua kan nggak ikutan,” keluh Jimmy yang tidak terima terkena semprotan istrinya.
“Sama aja Ko, elo kan juga suka ngeledekkin gua,” sahut Meylan.
“Pa, Ma, udah dong,” ujar Bastian mencoba melerai. “Kita kan mau seneng-seneng, masa pake ribut.”
“Iya, iya,” sought Meylan.
“Sebentar lagi kita sampai. Gimana kalo langsung makan?” tanya Aliong mencoba mencairkan suasana yang tidak nyaman.
“Makan terus aja yang elo pikirin,” timpal Meylan sambil tertawa. “tapi boleh juga usul lo, gua juga udah mulai laper.”
“Baiklah, sepuluh menit lagi kia sampai.”
Aliong menambah sedikit kecepatan mobil supaya bisa segera sampai di lokasi. Melalui alat komunikasi yang terpasang di mobil, dia juga memerintahkan mobil yang lain untuk menambah kecepatan, terutama mobil yang membawa bahan-bahan makanan, supaya tiba terlebih dahulu untuk mempersiapkan makan siang.
Mobil Aliong memasuki pagar tinggi yang terbuat dari kayu pilihan, menyusuri jalan dengan pohon di kanan kiri hingga tiba di pekarangan yang cukup luas. Rumah peristirahatan yang terbuat dari kayu pilihan terletak di tengah.
“Ah …, segarnya,” ujar Bastian saat turun dari mobil.
“Kenapa elo nggak pernah bilang punya tempat kayak gini Liong?” tanya Meylan.
“Gua pernah bilang Ci, bahkan ajak kalian ke sini, tapi nggak mau,” sahut Aliong tenang.
“Oh ya? Kapan? Perasaan nggak pernah tuh.”
“Dia pernah ngomong Mey,” sahut Jimmy.
“Udah, udah, nggak usah dibahas lagi. Yang penting kan sekarang udah ke sini,” ujar Aliong. “Tian, keluarin barang-barang, terus bawa masuk biar kita bisa cepet makan.”
“Oke Ko.”
Bastian berjalan ke bagasi, dan mulai mengeluarkan tas dan barang lainnya. Anak buah Aliong langsung membantu untuk membawa barang-barang ke dalam rumah. Setelah selesai memindahkan barang, Bastian berjalan berkeliling rumah dan melihat ruangan demi ruangan dengan perasaan antusias, ditemani oleh Zack dan Dave.
“Kita tidur di mana?” tanya Zack saat merek naik ke lantai dua.
“Entah, saya belum tanya sama Ko Aliong.”
“Saya harap kita bisa bersama,” ujar Dave.
“Kenapa nggak tanya langsung aja sama Paman Aliong?” usul Zack.
Hubungan pertemanan mereka bertiga semakin akrab, bahkan Zack dan Dave memilih sekolah menengah atas yang sama dengan Bastian sehingga mereka bisa terus bersama. Karena semakin dekat, Zack dan Dave pun dianggap keluarga oleh Jimmy, Meylan, dan juga Aliong.
“Boleh juga usulnya,” ujar Bastian. “Ayo kita tanya.”
Bastian, Dave, dan Zack menuruni tangga dan mencari Aliong di dalam rumah, akan tetapi tidak ada. Kemudian mereka berjalan keluar rumah, dan melihat Aliong sedang duduk di rumput bersama dengan yang lainnya sambil mengobrol santai dan menikmati makanan.
“Tian! Dave! Zack!” Aliong berteriak memanggil ketiga anak muda sambil melambaikan tangan.
“Ayo ke sana,” ujar Zack sambil bergegas ke arah Aliong dan yang lain.
Bastian dan kedua temannya bergabung bersama yang lain sambil menikmati hidangan yang tersedia. Mereka mengobrol dan tertawa bersama melewati siang itu tanpa memikirkan tugas dan pekerjaan, hanya bersenang-senang.
Malam harinya, mereka berkumpul di halaman belakang dan menikmati acara barbekyu. Aliong juga menyediakan minuman keras sebagai teman daging yang disediakan.
“Tian, sini!” panggil Aliong.
Bastian berjalan mendekati Aliong yang sedang duduk di undakan tangga kayu, kemudian duduk di samping pria itu.
“Kenapa Ko?”
“Nih, cobain,” ujar Aliong sambil menyodorkan sekaleng bir.
Bastian menerima kaleng bir pemberian Aliong dalam diam. Dia bingung apakah harus minum atau membiarkan saja.
“Kenapa cuma diliatin?” tanya Aliong.
“Apa Tian harus minum? Nanti kalo nggak bisa berhenti gimana?”
“Selama elo bisa kontrol semua, kenapa harus takut? Elo yang harus pegang kendali, paham?!”
“Belum Ko, baru sedikit.”
“Elo boleh minum, tapi jangan sampai mabuk. Jangan sampai alkohol mengambil alih fokus lo. Sekali elo mabuk, maka akan berbahaya, karena di saat elo kehilangan akal sehat akibat pengaruh alkohol, elo bisa membocorkan rahasia. Paham?!”
“Paham Ko,” sahut Bastian sambil menganggukkan kepalanya.
“Sekarang coba minum.”
Bastian mendekatkan kaleng bir ke bibirnya dan menyesap sedikit.
“Aish!” seru Bastian sambil mengernyitkan wajah
“Kenapa?” tanya Aliong sambil terkekeh.
“Nggak enak Ko, pahit.”
“Coba minum pelan-pelan, dan rasakan sensasinya, maka elo akan menemukan rasa lain selain pahit.”
Bastian mengikuti instruksi Aliong, menyesap bir dengan perlahan. Rasa pahit langsung terasa di lidahnya saat cairan kuning itu mengenai lidahnya. Namun, perlahan rasa pahit itu berubah menjadi manis setelah beberapa saat.
“Manis,” gumam Bastian.
“Betul kan!” seru Aliong senang. “Sama seperti kehidupan, mungkin awalnya terasa pahit dan tidak menyenangkan, tapi kalo dengan tekun menjalani semuanya, maka akan berbuah manis.”
“Iya Ko.”
“Liat elo sekarang. Tentu elo masih ingat kejadian sembilan tahun yang lalu?”
“Inget Ko.”
“Tentunya elo juga masih inget dengan jelas kejadian dari awal sampe elo bisa sampe di rumah Jimmy kan? Apa yang ada di pikiran lo saat itu, saat elo berada di rumah Martin?”
“Pengen mati aja, karena rasanya udah nggak sanggup Ko. Semua terlalu menyakitkan, bahkan untuk bernapas aja, d**a rasanya sakit,” ujar Bastian sambil mengingat semua yang dirasakan saat itu.
“Tapi setelah itu?”
“Mulai membaik seiring berjalannya waktu. Tian bahkan mulai bisa hidup dengan baik dan melupakan kejadian itu perlahan. Apalagi sejak Koko ngajarin Tian cara membela diri, semua menjadi semakin baik.”
“Jalan lo masih panjang Tian. Dan gua harap elo selalu ingat untuk tetap rendah hati, dan tidak memandang remeh lawan. Juga fokus belajar dan raih mimpi lo. Setelah itu, elo bisa pulang ke negara lo, dan tunjukkin sama keluarga lo, kalo elo bisa sukses dengan pilihan lo!”
“Baik Ko.” ujar Bastian. “Tapi Tian mau ngomong sesuatu boleh?”
“Elo mau tanya apa?”
“Karena sekarang Tian udah dewasa dan cukup umur, boleh kan Tian ikut kalo Koko pergi?”
“Pergi ke mana maksud lo?”
“Pergi ngontrol saat malam. Itu juga kalo Tian libur.”
“Mau ngapain?”
“Pengen belajar mengenal kehidupan Ko,”
“Jangan pake bahasa gua!” seru Aliong sambil meninju lengan atas Bastian.
Bastian terkekeh mendengar perkataan Aliong. Senang rasanya bisa menggoda kakak angkatnya itu.
“LIONG!” seru Jimmy. “Jangan di sana aja, ayo duduk sini!”
“Iya Ko,” sahut Aliong.
“Ayo kita ke sana,” ujar Aliong.
“Oke.”