“Chen, kita ke restoran dulu,” ujar Aliong yang sudah terlihat rapi mengenakan setelan hitam-hitam.
“Makan?”
“Nggak. Jemput Tian.”
“Jemput Tian? Mau ngapain?”
“Biar dia ikut sama kita.”
“Elo yakin Ko?” tanya Chen yang tidak percaya dengan keputusan bosnya itu.
“Yakin.”
Malam ini rencananya Aliong ingin mengontrol karaoke yang berada di wilayahnya. Kali ini dia berniat mengajak serta Bastian, seperti yang diminta anak itu saat berada di rumah peristirahatan beberapa waktu yang lalu.
Sejak saat itu, Aliong terus memikirkan permintaan Bastian dan akhirnya mengambil keputusan untuk menyanggupi permintaan anak itu. Malam ini, Aliong akan membawa Bastian untuk berkeliling dan membiarkan Bastian belajar dari apa yang dilihatnya.
“Jalan sekarang?” tanya Chen yang tidak ingin mendebat Aliong lagi.
“Ayo.”
Aliong berjalan mendahului ke pintu, dan berjalan menuruni tangga menuju mobil yang diparkir di basement. Chen mengikuti dari belakang dalam diam. Begitupun saat mengendarai mobil ke restoran, Chen tetap bungkam karena tidak setuju dengan keinginan Aliong.
“Tumben lo kemari,” ujar Meylan saat Aliong masuk ke dalam restoran.
“Gua mau ajak Tian keluar Ci.”
“Nginep?”
“Iya.”
“Sekarang elo jadi sering ajak dia keluar, sampe nginep segala. Boleh gua tau alesannya?”
“Tian kan udah gede Ci, bahkan udah dewasa. Wajar kan kalo sekarang dia mengenal kehidupan yang lain, bukan melulu sekolah dan restoran doang.”
“Tapi nggak elo ajakin yang salah kan?”
“Elo tanya aja sama anaknya langsung.”
“Kenapa Ma?” tanya Bastian yang baru datang dari dapur.
“Aliong mau ajak kamu pergi sekalian nginep lagi, tapi Mama kurang setuju.”
“Kenapa? Sepi ya nggak ada Tian?” godanya sambil memeluk Meylan.
“Kamu ini,” ujar Meylan sambil terkekeh.
“Gimana kalo gini aja Ma, tiap Jumat sampe Minggu, biar Tian tinggal sama Ko Aliong?”
“Kamu serius?” tanya Meylan.
“Iya.”
“Alasannya?”
“Tian juga pengen menikmati masa muda Ma, ngeliat berbagai macam hal, gapapa kan Ma?”
Meylan yang sedang merapikan alat makan, terdiam dan menghentikan pekerjaannya. Apa yang dikhawatirkannya selama ini, akhirnya terjadi juga. Selama ini Meylan berusaha semampunya untuk membuat Bastian tetap tinggal di rumah, dan menghindari pergaulan yang salah. Namun, sekarang sudah tidak bisa lagi, mengingat usia Bastian yang sudah cukup umur.
“Kalo memang itu mau kamu, silakan. Mama udah nggak bisa larang-larang lagi kayak dulu. Sekarang kamu udah besar, jadi harus bisa lihat dan pilih mana yang benar dan salah. Pesen Mama cuma satu, jaga diri baik-baik.”
“Iya Ma. Pasti.”
“Ya udah, sana pergi, nanti kemaleman.”
“Iya Ma,” sahut Bastian. “Ayo Ko.”
Setelah Bastian pergi, Meylan menutup restoran, dan naik ke atas. Hatinya sedikit gelisah memikirkan anaknya, sehingga tidak meyadari jika dia hampir menabrak pintu kamar.
“Elo kenapa? Lagi mikirin apaan?” tanya Jimmy yang sedang menonton televisi.
“Gapapa Ko,” sahut Meylan.
“Duduk sini,” ujar Jimmy sambil menepuk sofa di sampingnya.
Meylan mengikuti permintaan Jimmy dan duduk di samping suaminya. Walaupun mereka sudah lama menikah, tapi sikap Jimmy tidak sedikitpun berubah padanya. Selalu perhatian, walaupun yang terlihat sebaliknya. Jimmy akan menunjukkan perhatiannya di kala tidak ada orang lain.
“Kali ini apa yang ngeganggu pikiran lo?” tanya Jimmy.
Meylan tidak menjawab pertanyaan Jimmy, karena jika suaminya tahu, pasti akan langsung menegur dirinya dan berkata bahwa dirinya terlalu cemas.
“Tian?” tebak Jimmy.
“Hu uh,” sahut Meylan lirih.
“Sekarang apa lagi?”
“Gua cemas mikirin Aliong yang sekarang sering ngajak Tian pergi. Kalo terjadi apa-apa gimana? Kalo Tian sampe tau kerjaan Liong gimana?”
“Selama ini elo liatnya gimana? Tian selalu baik-baik aja kan?”
“Iya, tapi kan,”
“Ibarat burung, biarin Tian keluar dari sarangnya dan mengepakkan sayapnya. Biarin dia terbang tinggi, dan biarkan dia menghadapi sendiri hembusan angin yang menerpanya. Gua yakin dia pasti bisa. Apapun jalan yang dia pilih, gua yakin itu sudah dia pikirin masak-masak. Tugas kita hanya mengamati.”
“Walaupun mungkin Tian memilih jalan yang sama kayak Liong?”
“Mungkin. Nggak akan ada yang tau Mey,” ujar Jimmy. “Sekarang lebih baik elo mandi, terus istirahat.”
“Iya Ko.”
***
Sementara itu di dalam mobil, Bastian merasa sangat senang karena kali ini Aliong kembali mengajaknya pergi. Saat memperhatikan jalan, dia sedikit bingung karena mobil tidak menuju ke arah klub.
“Kita mau ke mana Ko?”
“Karaoke.”
“Di?”
“Ntar liat aja sendiri. Cuma kali ini elo mesti bener-bener waspada.”
“Iya Ko.”
Bastian sedikit banyak sudah mengetahui dunia yang dijalani oleh Aliong, karena beberapa kali sempat diajak serta. Dan jika kali ini Aliong berkata seperti itu, tandanya tempat yang akan mereka datangi tidak aman, entah di dalam ataupun di luar tempat tersebut.
Chen menghentikan mobil di sudut jalan, dan Aliong langsung turun dari mobil. Bastian juga melakukan hal yang sama, dan berjalan di belakang Aliong bersama Chen. Mereka menyeberangi jalan dan menuju tempat karaoke yang dijaga oleh beberapa orang pria.
Begitu melihat Aliong, para penjaga langsung menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Salah satu penjaga membukakan pintu untuk Aliong, yang langsung masuk diikuti oleh Bastian dan Chen.
Aliong menuju ke ruang pengawas dan melihat dari layar situasi di setiap ruangan yang memang sengaja dipasang CCTV untuk mencegah terjadinya keributan ataupun transaksi terlarang di tempat ini.
“Tumben lo dateng Liong?” tanya seorang wanita yang baru masuk ke dalam ruangan.
“Kenapa? Nggak boleh?”
“Tentu boleh. Elo bawa orang baru?” tanya Leony.
“Hm, dia adik gua!” ujar Aliong dengan nada memperingatkan.
“Ganteng juga.”
Bastian memperhatikan wanita yang sedang berbicara dengan Aliong, terlihat masih cantik walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Sebatang rokok terselip di jari tangannya yang semua kukunya berwarna merah menyala. Bastian sedikit bergidik melihat dandanan wanita tersebut.
“Kenapa? Elo takut?” bisik Chen yang sedari tadi memperhatikan Bastian.
“Dikit Ko. Dandanannya menor.”
“Itu belum seberapa,” bisik Chen lagi.
“Serius?”
“Hm. Ntar elo juga bisa liat sendiri.”
Diam-diam Aliong sejak tadi mendengarkan pembicaraan antara Chen dan Bastian. Lalu timbulah sebuah ide untuk mengerjai adiknya itu. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Leony dan membisikkan sesuatu pada Leony. Tidak lama kemudian, Leony keluar dari ruangan dan melakukan perintah Aliong.
“Tian, ikut gua,” ujar Aliong.
“Ke mana?”
“Udah, ikut aja. Elo juga Chen,” ujar Aliong sambil mengedipkan sebelah mata pada pria itu.
“Oke,” sahut Chen yang mengerti akan kode yang dikirimkan ALiong.
Bastian keluar dari ruang pengawas dan berjalan mengikuti Aliong sambil menerka-nerka akan ke mana mereka. Aliong berhenti di salah satu ruangan karaoke untuk VIP, kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam. Bastian tetap berdiri, dan ragu untuk masuk. Namun, chen yang posisinya di belakang anak itu, mendorong Bastian masuk dan menutup pintu.
“Duduk!” ujar Aliong santai.
Bastian duduk sambil memandang ke sekeliling ruangan yang cukup luas dengan layar lebar di salah satu sisi. Ini kali pertama dia memasuki karaoke, dan cukup kagum melihat isi ruangan.
“Elo bisa nyanyi kan?” tanya Aliong yang berusaha menutupi rasa geli melihat tingkah Bastian.
“Nggak. Koko aja yang nyanyi,” sahut Bastian cepat.
“Gimana kalo kita panggil gadis-gadis?” usul Chen sambil menyeringai jahil.
“Boleh juga,” sahut Aliong cepat.
“Kalo gitu gua bilang dulu sama Leony.”
Baru saja Chen berdiri, pintu sudah dibuka dari luar, dan tampaklah Leony dan beberapa gadis cantik di sana sambil tersenyum manis. Jantung Bastian langsung berdegup kencang melihat penampilan para gadis yang memakai gaun super ketat di atas lutut. Bastian menatap Aliong meminta penjelasan, akan tetapi pria itu hanya mengangkat bahu tidak peduli.
“Anak-anak, ayo sini Mami kenalin sama pemuda paling ganteng di sini,” ujar Leony sambil bertepuk tangan.
“Ko!” seru Bastian panik ketika para gadis mendatanginya.
Bastian langsung melompat ke samping Aliong yang terkekeh geli melihat kelakuan adiknya itu. Selama ini Bastian memang terbilang sedikit kuper dan jarang bergaul dengan lawan jenis. Karena itulah, Aliong ingin adiknya belajar segalanya.
“Kenapa elo ke sini?” tanya Aliong.
“Tian takut Ko.”
“Sama senjata elo nggak takut, masa sama cewek elo jadi begini?” tanya Aliong sambil menahan tawa.
“Beda Ko.”
“Ko Aliong, kenalin kita dong,” ujar salah satu gadis sambil bergelayut manja di sisi lain Aliong.
Sementara itu, gadis lain dengan sengaja duduk di samping Bastian dan menempel erat di tubuh pemuda itu yang semakin merapatkan dirinya pada Aliong.
Sepanjang malam, Bastian berkeringat dingin karena terus menerus digoda oleh para gadis, belum lagi saat mereka menempelkan tubuh padanya. Ingin minta pulang, tapi Bastian segan, karena itu dia berusaha sebisa mungkin tetap duduk di samping ALiong. Sementara para gadis bernyanyi dan berjoget hingga tengah malam.
Menjelang pukul dua, Aliong memutuskan untuk pulang, yang disambut gembira oleh Bastian. Karena Aliong dan Chen minum cukup banyak, jadilah Bastian yang mengendarai mobil menuju apartemen Aliong.
Tiba di apartemen, Bastian langsung membuat teh madu untuk Aliong dan Chen yang berkhasiat menghilangkan pusing akibat minuman keras.
“Minum dulu Ko,” ujar Bastian sambil meletakkan gelas berisi teh di meja.
“Makasih,” sahut Aliong dan Chen.
“Kenapa tadi elo nggak ikutan minum?” tanya Aliong.
“Harus ada yang nyetir kan?”
“Bukan karena takut digangguin sama para gadis?” ledek Chen.
“Kenapa mesti takut?” tanya Aliong.
“Bukan takut Ko, tapi risih.”
“Karena?” tanya Chen penasaran.
“Selama ini kan temen cewek dia cuma gadis yang namanya Ann,” celetuk Aliong.
“Berarti elo mesti banyak belajar mengenal gadis lain Tian,” ujar Chen. “Supaya elo bisa lebih memahami mereka.”
“Elo juga mesti pacaran,” timpal Aliong.
“Kalian berdua dulu yang pacaran, baru Tian nyusul,” sahutnya diplomatis.
“Mulai berani lo ya!” ujar Aliong.
“Tian mau tidur aja.”
Usai berkata, Bastian bangkit dan berjalan menuju ke kamar yang memang disiapkan untuk dirinya jika menginap di sana.
***
Bastian sedang membuat sarapan untuk dirinya, Aliong, dan juga Chen ketika bel berbunyi. Dia bergegas ke pintu untuk melihat siapa yang datang ke apartemen sepagi ini. Bastian mengintip dan melihat seorang gadis berdiri di depan.
“Siapa?” tanya Aliong yang terbangun karena suara bel.
“Nggak tau Ko.”
“Minggir,” ujar Aliong.
Bastian kembali ke dapur, untuk melanjutkan membuat sarapan dan membiarkan Aliong melihat sendiri siapa yang datang.
“Masuk Fei,” ujar Aliong sambil melebarkan pintu. “Kenapa ke sini?”
“Disuruh anterin ini sama mama,” ujar Fei sambil menyerahkan bungkusan pada Aliong.
“Apaan?”
“Sarapan. Kata mama buat kalian bertiga. Emang ada tamu Ko?”
“Bukan tamu, tapi adik gua,” sahut Aliong. “Sini, gua kenalin.”
Aliong berjalan ke dapur diikuti Fei dari belakang. Gadis itu sedikit terkejut ketika melihat punggung seorang pemuda tengah memasak di dapur.
“Siapa Ko?’ tanya Bastian tanpa membalikkan badan.
“Fei.”
“Siapa?” tanya Bastian sambil berbalik.
Detik itu juga, dia tertegun melihat seorang gadis manis, bermata sipit tengah memandangnya.
“Fei, ini Bastian, adik gua,” ujar Aliong pada gadis di sampingnya.
“Hai,” sapa Fei ramah.
“Hai juga,” sahut Bastian yang senang mendengar suaralembut Fei.
“Tian, ini Fei, anaknya Leony.”
Bastian tidak mendengar perkataan Aliong. Matanya menatap lurus pada Fei yang terlihat sangat cantik, walaupun tanpa riasan. Begitu alami dengan rambut hitam sepinggang yang hanya diberi bando.
“WOY!” seru Aliong sambil menepuk bahu Bastian. “Ngeliatinnya sampe nggak berkedip lo!”
“Apaan sih Ko,” sahut Bastian malu.
Fei pun tertunduk malu mendengar perkataan Aliong. Sejak pertama melihat Bastian, hati Fei pun berdegup kencang, apalagi saat mendengar suara Bastian yang sedikit berat, semakin membuat hatinya berdebar kencang.
“Fei, elo belum sarapan kan? Makan bareng gua aja di sini, sekalian nyobain masakan chef Bastian,” ujar Aliong.
“KOKO!” seru Bastian.