Operasi Pertama Bastian

2067 Kata
“Kenapa teriak?” tanya Aliong. “Kenapa mesti nyebut Tian chef segala sih?!” ujar Bastian sedikit tidak suka. “Lho? Emangnya gua salah? Kan emang bener elo mau jadi chef?” “Tapi kan belum Ko, masih lama juga. Kuliah aja belum!” sungut Bastian dongkol. Fei tersenyum samar mendengar perdebatan antara Aliong dan Bastian. Baru kali ini Fei melihat Aliong bisa bergurau dan berbicara dengan nada yang ramah dan menyenangkan. Fei semakin ingin mengenal sosok Bastian yang mampu membuat pria dingin seperti Aliong menjadi berbeda. Fei berjalan semakin dekat ke dapur, dan berhenti di meja makan. Saat Fei berjalan, perhatian Bastian teralihkan, dan membuatnya menjadi sedikit gugup karena kehadiran gadis itu. “Duduk Fei,” ujar Aliong datar pada Fei. “Iya.” Fei menarik kursi untuk dirinya sendiri, dan duduk di sana. Sementara itu, Bastian segera membalikkan badan dan kembali menyelesaikan masakannya. Fei menopang dagu sambil memperhatikan semua yang dilakukan oleh Bastian, walaupun hanya dari samping. “Woy!” Aliong melambaikan tangannya di depan wajah Fei. “Paman ih!” desis Fei tersipu. “Kenapa?” bisik Aliong. “Elo suka sama adik gua?” “Apaan sih!” timpal Fei sambil berbisik. “Tian itu belum pernah pacaran.” “Terus?” Aliong mengangkat bahu sebagai jawaban. Fei bingung dengan reaksi Aliong yang seperti itu. Namun, di satu sisi, Fei senang ketika Aliong mengatakan kalau Bastian belum pernah berpacaran, yang artinya saat ini pemuda itu belum memiliki tambatan hati.  “”Ko, sarapannya udah siap. Mau langsung makan?” tanya Bastian sambil meletakkan piring berisi lauk di meja makan. “Sekalian yang dari Leony,” sahut Aliong. “Koko aja yang siapin. Tian mau panggil Ko Chen dulu.” Bastian melepaskan celemek, menggantungnya dan berjalan meninggalkan Aliong menuju ke kamar Chen untuk memanggil pria itu.  “Kelakuannya mirip banget sama Paman,” ujar Fei setelah Bastian pergi. “Bagus kan.” “Bagus apanya?!” “Biar nggak sembarang gadis yang deketin dia.” “Tapi emang bener dia belum punya pacar?” tanya Fei memastikan. “Hm.” “Tadi pagi mama bilang kalo Paman dateng dan bawa dia. Tadinya saya pikir mama asal ngomong, karena setau saya Paman kan nggak punya adik. Ternyata omongan mama benar. Tapi kenapa warna kulit dan bentuk matanya beda sama Paman?”  “Karena,” “Eh ada kamu Fei,” ujar Chen yang baru datang ke dapur. “Pagi Paman,” sapa Fei santun. “Ngapain ke sini?” tanya Chen.  “Disuruh mama anterin sarapan.” “Mama lo?” “Tidur,” sahut Fei. “Tian mana?” tanya Aliong. “Mandi,” sahut Chen. “Kita disuruh sarapan duluan.” “Oke,” ujar Aliong. “Ayo Fei, sarapan sama-sama.” “Baik Paman,” sahut Fei sedikit kecewa. Tadinya Fei berharap bisa sarapan bersama Bastian, dan mengetahui lebih banyak tentang pemuda itu. Namun, sepertinya harapannya sia-sia, karena Bastian tidak ikut sarapan bersama. Sedangkan, Bastian sengaja berlama-lama di kamar mandi agar tidak perlu sarapan bersama. Dia tidak ingin Aliong ataupun Chen mengetahui tentang debar jantungnya yang begitu keras karena berdekatan dengan Fei. Berbeda dengan yang dirasakannya pada Ann. Selesai mandi, Bastian sengaja tetap di kamar, dan menunggu sampai Fei pulang.  “Elo nggak mau sarapan?” tanya Aliong yang sudah berdiri di depan pintu kamar. “Mau Ko.” “Sana makan!” usir Aliong. “Tamunya udah pulang kan Ko?” “Emang kenapa?” “Gapapa.” “Kenapa?!” tanya Aliong lagi. “Risih Ko.” Melihat Bastian seperti ini, Aliong menjadi serba salah. Andai tau akan seperti ini, tentunya Aliong akan mengajari Bastian tentang asmara saat anak itu memasuki masa puber. Tapi memang saat itu, Bastian sama sekali tidak pernah bertanya tentang gadis. Aliong menghampiri Bastian yang sedang berbaring di tempat tidur, dan duduk di samping Bastian. “Kenapa elo risih? Boleh gua tau alasannya?” tanya Aliong hati-hati. Bastian mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap Aliong beberapa saat. Selama ini, dia memang lebih banyak bercerita dan bertukar pikiran dengan Aliong ketimbang Jimmy dan Meylan. Bastian merasa lebih nyaman untuk terbuka dengan kakak angkatnya.  “Nggak ngerti juga Ko,” sahut Bastian. “Dari tadi, hati rasanya deg deg an terus tiap kali ngeliat atau ngedenger suara Fei.” Sebenarnya Aliong ingin tertawa, akan tetapi dia mencoba menahannya karena tidak tega melihat raut wajah Bastian saat ini yang terlihat bingung. “Karena itu elo nggak mau gabung?” “Iya. Ini namanya apa? Soalnya Tian baru kali ini begini,” keluhnya putus asa. “Itu yang namanya menyukai lawan jenis, dan itu wajar. Emang Ci Mey nggak pernah ngajarin?” “Nggak. Dan selama ini nggak pernah kayak gini, padahal sering deket-deket juga sama Ann, atau temen cewek di sekolah.” “Ya kalo nggak ada rasa apa-apa, itu artinya elo emang nggak tertarik sama mereka. Rasa suka itu kan bukan sesuatu yang bisa diatur kapan datengnya. Itu timbul dari hati.” “Terus Tian mesti apa?” “Ya jalanin, karena itu adalah hal yang normal.” “Caranya?” “Ampun ini anak!” seru Aliong. “Masa minta diajarin?! Itu kan proses, jalanin sendiri.” Bastian meringis mendengar seruan yang keluar dari bibir Aliong. Hatinya sekarang sudah sedikit lega setelah bercerita pada kakaknya.  “Kelakuan lo semalem juga sebenernya bikin gua gregetan pengen ngegetok kepala lo!” “Karena?” tanya Bastian tidak mengerti. “Masa dideketin sama cewek, malah ngumpet ke gua! Gimana mau ikut gua kalo kayak gitu?!” “Maksudnya?” “Tian …,” ujar Aliong berusaha sabar. “Di dunia gua, kita juga harus bisa ramah dengan wanita, karena terkadang mereka lebih banyak tau info dibanding kita kaum pria.” “Tapi Ko,” “Nggak ada tapi-tapian!” sela Aliong. “Kalo elo mau ikut gua, elo harus belajar jadi orang yang supel, bisa bergaul dengan semua orang, tapi jangan pernah percaya sepenuhnya dengan omongan mereka.” “Kayak yang selalu Koko tunjukkin ke orang-orang?” “Hm.” “Memang harus kayak gitu Ko?” “Gua nggak tau Tian, karena gua selalu bersikap apa adanya. Gua ya begini, susah bersikap baik sama orang lain, kecuali gua udah kenal deket dan ngerasa nyaman.” “Ko,” panggil Chen dari depan kamar. “Hm?” “Kita dipanggil Jack.” “Kenapa?” “Xiao Wen.” Aliong tidak bertanya lagi, dan segera meninggalkan kamar Bastian untuk bersiap-siap pergi. Pasti terjadi sesuatu dengan Xiao Wen. dan itu pasti bukan hal yang baik.  “Kenapa sama Xiao Wen, Ko?” tanya Bastian pada Chen. “Entah, gua juga belum tau pastinya. Cuma sepertinya bukan berita baik. Kenapa?” “Tian pengen ikut, boleh kan?” “Kalo itu, langsung tanya Ko Aliong.” “Oke.” Bastian berlari keluar dan mengetuk kamar Aliong dan langsung membuka pintu tanpa permisi. “Ko, Tian ikut ya.” Aliong yang sedang mengancingkan kemeja, mengangkat kepala dan memandang Bastian melalui cermin. “Emang elo nggak mau pergi ke rumah Dave atau Zack?” “Nggak.” “Terserah lo.” “Oke. Kalo gitu Tian ganti baju dulu. Jangan ditinggalin.” Bastian kembali ke kamar dan langsung mengganti pakaiannya. Lima menit kemudian, dia sudah keluar kamar, mengenakan kaos panjang warna hitam, celana panjang hitam, dan juga topi dengan warna yang sama.  *** Aliong, Chen, dan Bastian berjalan menuju ke ruangan Jack dengan sedikit tergesa. Jika Jack memanggilnya untuk sebuah masalah yang terjadi pada pimpinan kecil, kemungkinan besar masalah yang terjadi cukup rumit. “Ada siapa di dalam?” tanya Aliong pada penjaga yang berjaga di depan pintu ruangan Jack. “Nggak ada. Bos lagi nunggu elo dari tadi.” “Oke.” Penjaga membukakan pintu untuk Aliong, Chen, dan Bastian, dan membiarkan mereka masuk ke dalam. “Apa kabar?” sapa Aliong pada Jack sambil membungkukkan badannya. “Duduk Liong,” ujar Jack. Aliong duduk di salah satu kursi dan menunggu Jack membuka pembicaraan. Namun, perhatian Jack teralih saat melihat Bastian masuk. Jack sedikit bingung, akan tetapi di satu sisi merasa senang karena dia sangat berharap pemuda itu membantunya kali ini. “Sebenernya ada masalah apa?” tanya Aliong. “Elo belum denger?” sahut Jack. “Belum.” “Semalam ada yang nyerang klub di wilayah Xiao Wen,” “Siapa?!” sela Aliong datar. “Max.” “Gimana kejadiannya?” tanya Aliong. Jack pun menceritakan kronologis kejadian semalam dengan singkat dan jelas. Aliong diam dan menyimak semua perkataan bosnya. Chen dan Bastian yang duduk tidak jauh dari sana pun mendengarkan semuanya. “Terus elo maunya gimana Ko?” tanya Aliong. “Gua belum mutusin, karena mau denger pendapat elo dulu.” “Xiao Wen sendiri sekarang di mana?” “Ada di bawah.” “Chen!” ujar Aliong. Chen berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan. Dia turun ke bawah, menuju ruangan paling pojok. Chen mengetuk dua kali dan menunggu sebentar sebelum pintu dibuka dari dalam. “Mana Xiao Wen?” tanya Chen datar. Penjaga menggeser badan ke samping dan memperlihatkan Xiao Wen yang duduk di sofa dengan wajah terluka, tubuh dan tangan yang dibalut diperban. Chen mengembuskan napas panjang melihat keadaan rekannya. “Bawa dia ke atas!” perintah Chen datar.  Dua orang pria maju dan memapah Xiao Wen dengan hati-hati dan membawa pria itu ke atas, menuju ruangan Jack. Chen berjalan di depan sambil mengepalkan tangan, menahan emosi melihat keadaan salah Xiao Wen. Tiba di ruangan Jack, kedua pria meletakkan Xiao Wen di sofa, di samping Aliong dengan hati-hati.  “Kenapa muka lo ancur begitu?” tanya Aliong. “Sevtan lhoe,” ujar Xiao Wen yang kesulitan membuka mulutnya karena bibirnya yang bengkak. “Ghua udhah beghini mafsih diledhek uhga.” “Mending elo diem deh! Gua pusing ngartiin bahasa lo!” ujar Aliong ketus. Bastian tertawa kecil mendengar perkataan Aliong yang terkesan tidak peduli. Memang terdengar lucu, akan tetapi Bastian tahu jika sebenarnya Aliong khawatir dengan situasi saat ini. “Siapa yang kemarin ada di sana nemenin elo?” tanya Aliong. “Elo jangan jawab, cukup tunjuk atau tulis aja!” Dengan mata bengkak, Xiao Wen melotot pada Aliong. Namun, akhirnya, Xiao Wen mengeluarkan ponsel dan menulis nama orang yang bersamanya kemarin, kemudian menyerahkannya pada Aliong. “Chen!”  Chen mendatangi Aliong, dan mengambil ponsel dari tangan pria itu, membacanya, dan segera keluar untuk memanggil Asen. “Coba elo ceritain kejadian yang sebenernya,” ujar Aliong pada Asen. “Semalem, seperti biasa Ko Wen ke klub untuk mengecek keadaan di sana. Sekitar dua jam kemudian, saat Ko Wen lagi duduk di bar, serombongan pria dateng dan langsung menyerang secara membabi buta. Beberapa pengunjung ada yang terluka, selebihnya mereka semua langsung lari untuk menyelamatkan diri. Salah satu pria mendatangi Ko Wen dan langsung nyerang, dan akhirnya Ko Wen kalah karena kita kekurangan personil.” “Elo tau permasalahannya?” “Mereka bilang, Ko Wen ngerebut kekasihnya Max.” “HAH?!” seru Aliong. “Emang bener?!” lanjut Aliong sambil menatap tajam Xiao Wen. “Ngghak. Elho khan thau gua.” “Pilihannya cuma dua,” ujar Aliong. “Max sengaja mengarang alasan supaya bisa nyerang lo, atau elo pernah deketin cewek yang ternyata adalah pacar dia.” “Jangan-jangan Vivi,” celetuk Asen. “Vivi?” ulang Aliong. “Iya Ko. Gadis yang kerja di salah satu karaoke.” “Wen?!” ujar Aliong datar. “Ko Wen juga nggak tau Ko,” sela Asen cepat membela atasannya. “Selama ini juga nggak pernah yang gimana-gimana. Kalo ketemu cuma ngobrol biasa.” Aliong menatap Jack sejenak sebelum akhirnya berkata. “Elo mau gimana Ko?” “Elo tau mesti gimana Liong,” sought Jack datar. “Kapan?!” “Secepatnya! Elo atur sendiri!” “Oke!” sahut Aliong singkat. “Ayo Chen, kita pulang!” Aliong meninggalkan ruangan Jack bersama Chen dan Bastian menuju ke mobil. “Chen, kita ke gudang,” ujar Aliong setelah berada di dalam mobil. “Oke!” sahut Chen singkat. Chen mengendarai mobil menuju ke markas Aliong, dan memberitahu mereka yang di sana melalui ponsel, jika Aliong sedang mengarah ke sana. “Rencana lo apa Ko?” tanya Chen sambil melihat melalui spion tengah. “Gua belum pasti. Tapi elo tau kan Jack kayak gimana.” “Dia gimana?” tanya Chen sambil menoleh ke arah Bastian. “Terserah dia. Keputusan ada di tangan Tian.” “Tian ikut,” sahutnya cepat dan mantap. “Elo denger kan?” ujar Aliong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN