Keesokan paginya, Aliong pergi ke tempat Jimmy bersama Bastian untuk memberitahu kedua orang tua Bastian bahwa dia akan membawa pemuda itu bersamanya ke Macau.
“Elo udah siap?” tanya Aliong saat tiba di dekat restoran Jimmy.
“Udah. Turun sekarang?”
“Elo harus siap-siap kalo Ci Mey ceramah panjang,” ujar Aliong. “Dan gua nggak tau gimana caranya, elo harus bisa ngeyakinin Ci Mey dan Ko Jim tanpa bikin mereka curiga tentang kepergian kita ke sana.”
“Siap,” sahut Bastian.
“Kalo gitu, mari kita turun.”
Aliong turun dari mobil, diikuti oleh Bastian. Mereka berjalan bersama memasuki restoran untuk menemui Jimmy dan Meylan.
“Ko! Ci!” panggil Aliong saat membuka pintu restoran.
Mendengar suara Aliong, Meylan yang sedang berada di dapur, langsung keluar dan terkejut saat melihat Bastian juga datang.
“Tumben ke sini? Kamu juga kenapa pulang? Ada masalah?” tanya Meylan.
“Nggak ada Ci. Gua cuma pengen ngobrol sama elo dan Ko Jim,” sahut Aliong sambil duduk di salah satu kursi di sana.
“Gua jadi penasaran,” ujar Meylan. “Kalo gitu biar gua panggil Ko Jim dulu.”
Meylan naik ke atas untuk memanggil Jimmy. Tidak lama kemudian, dia sudah turun lagi bersama Jimmy yang berjalan di belakangnya.
“Elo mau ngomong apa?” tanya Jimmy setelah duduk.
“Gua mau minta ijin ajak Bastian jalan-jalan,”
“Ke mana?” sela Meylan cepat.
“Macau.”
“Mau ngapain ke sana? Berapa lama? Kan Tian sekolah,” sahut Meylan.
“Satu-satu Ci nanyanya,” gerutu Aliong.
“Pokoknya jawab sekarang!” tuntut Meylan yang sangat penasaran.
“Iya, iya, gua jawab. Mau yang mana dulu?” tanya Aliong.
“Elo ke Macau mau ngapain?” tanya Jimmy yang sejak tadi hanya diam.
“Gua ada urusan dikit di sana, sekalian pengen ngajak Tian liburan dan lagian selama ini kan dia belum pernah pergi jauh dari sini,” ujar Aliong mencoba menjelaskan.
“Tapi itu kan jauh banget Liong!” protes Meylan yang enggan melepas anaknya.
“Elo harus mulai membiasakan diri Ci,” sahut Aliong.
“Harus?! Siapa yang mengharuskan?!” tanya Meylan sedikit histeris.
Meylan seperti itu karena yang ada di benaknya adalah Bastian akan pergi meninggalkan dirinya dan juga Jimmy untuk kembali pada keluarga aslinya.
“Nggak seperti yang elo pikirin Ci,” ujar Aliong yang dapat menebak jalan pikiran wanita itu.
“Terus?”
“Semalem Tian bilang sama gua, kalo dia udah nemu tempat yang cocok untuk kuliah, dan tempatnya bukan di sini. Jadi, selama dia kuliah, elo pasti bakal kehilangan banyak waktu bersama. Dan dari sekarang elo harus mulai ngebiasin diri.”
“Oh …, gua kirain,” sahut Meylan pelan.
“Terus elo pergi berapa lama?” tanya Jimmy.
“Seminggu Ko. Kebetulan Tian juga libur. Jadi gua pikir, waktunya emang tepat.”
Sebenarnya sejak beberapa waktu yang lalu, Jimmy sudah mengetahui apa yang sudah dilakukan Bastian bersama Aliong, akan tetapi Jimmy tidak mengatakan apapun, baik pada Meylan, maupun Aliong. Dia hanya diam dan terus mengawasi semuanya. Jika sesuatu terjadi pada anaknya, barulah dia akan berbicara langsung pada Aliong.
“Baiklah. Tian boleh ikut sama elo, tapi elo harus bener-bener jagain dia. Paham?!” ujar Jimmy dengan nada yang tidak dapat dibantah.
“Siap Ko,” sahut Aliong mantap.
“Terus gimana sama surat-surat Tian?”
“Senin diurus sama Chen.”
“Apa bisa selesai dalam seminggu?” tanya Jimmy sedikit sangsi.
“Tenang aja Ko, pasti selesai. Elo kan tau gimana Chen dalam bekerja dan menyelesaikan tugasnya.”
“Baiklah,” sahut Jimmy sambil melirik istrinya.
“Hm?” sahut Meylan.
“Nggak usah sedih begitu Mey, toh Tian cuma pergi seminggu. Lagian, Tian itu sekarang udah dewasa, biarkan dia menikmati kehidupannya. Selama ini dia selalu nurut sama elo buat tinggal di rumah dan nggak ke mana-mana.”
“Iya Ko, gua ngerti. Gua cuma khawatir kalo sampe terjadi apa-apa sama Tian pas di sana? Kalo dia sakit gimana?” Meylan mengeluarkan kegelisahan hatinya.
“Elo tenang aja Ci. Gua bakal jagain Tian, dan nggak akan terjadi apa-apa sama dia. Gua jamin.”
***
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Bastian tiba juga. Nanti malam, dia akan pergi ke Macau bersama Aliong, Alung, dan juga Ahong.
Begitu bel pulang berbunyi, Bastian langsung keluar meninggalkan kelas dan tidak menghiraukan panggilan kedua temannya Dave da Zack. Dia harus bergegas pulang supaya masih sempat memeriksa bawaan supaya tidak ada yang tertinggal.
“Tian pulang,” ujar Bastian saat masuk ke dalam restoran.
“Cepet juga lo,” sahut Jimmy. “Sana langsung mandi dan siap-siap. Bentar lagi Aliong datang buat jemput elo.”
“Iya Pa.”
Bastian berjalan ke arah dapur, untuk menyapa Meylan. Namun, baru tiga langkah, Jimmy menghentikannya.
“Elo mau cari Mey?” tanya Jimmy.
“Iya Pa.”
“Dia nggak ada di sana. Elo ke kamar aja.”
“Mama sakit?” tanya Bastian.
“Nggak. Dia cuma lagi sedih karena elo mau pergi, jadi milih diem di kamar dari pagi.”
“Memang restoran nggak buka, Pa?”
“Nggak. Dari pagi mama lo ribut pengen ikut nganter ke bandara. Jadi kali ini gua ikutin kemauan dia.”
“Baiklah,” sahut Bastian. “Kalo gitu Tian ke atas dulu.”
Bastian membalikkan badan dan berjalan menaiki tangga menuju ke kamar yang ditempati kedua orang tuanya. Di depan pintu, Bastia terdiam sebentar, kemudian mengetuk pintu perlahan.
“Ma,” panggil Bastian dengan lembut.
“Masuk aja, nggak dikunci,” sahut Meylan dari dalam kamar.
Bastian membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Dia duduk di samping Meylan yang sedang terpekur di tepi tempat tidur.
“Mama kenapa?” tanya Bastian lembut sambil menggenggam tangan Meylan.
“Gapapa,” ujar Meylan sambil mengusap air matanya.
“Bohong,” sahut Bastian sambil tersenyum geli. “Gapapa, tapi nangis.”
“Masih perlu ditanya lagi?!”
“Ma …, Tian pergi kan nggak lama. Hari Sabtu depan udah sampe di sini lagi. Udah bisa makan bareng, sambil ngobrol.”
“Tapi kalo nggak ada kamu, hari tuh jadi kerasa lama banget.”
“Masa sih?” goda Bastian. “Tapi kan biasanya juga Tian kalo sekolah, selalu pulang sore.”
“Tetep aja beda,” sahut Meylan.
“Kalo nggak, minta Fei dateng ke sini buat temenin Mama, atau sekalian minta dia nginep,” usul Bastian.
“Ah iya …, beneran boleh?”
“Hm.”
“Tapi gimana bilangnya? Mama kan nggak punya nomor Fei.”
“Tenang aja Ma, ntar Fei juga ikut ke bandara kok. Jadi Mama bisa ketemu dan ngomong langsung sama Fei.”
“Beneran?” tanya Meylan dengan wajah berseri.
“Hm. Mama seneng?”
“Iya.”
“Kalo gitu, Tian mandi dulu ya.”
Setengah jam kemudian, Bastian keluar dari kamar sambil membawa koper dan tas. Dia turun ke bawah, dan melihat jika Aliong sudah datang bersama Chen, dan juga Fei.
“Tuh anaknya udah turun,” ujar Jimmy. “Kalo gitu kita bisa berangkat sekarang.”
“Langsung pergi?” tanya Bastian.
“Iya. Kalo nggak kita bisa terlambat sampe bandara,” sahut Aliong.
“Baiklah.”
***
“Fei, bisa bicara sebentar?” tanya Bastian pada Fei saat mereka tiba di bandara.
“Boleh.”
Fei mengikuti Bastian dari belakang menuju ke tempat yang agak sepi supaya dapat berbicara dengan leluasa.
“Ada masalah apa?” tanya Fei.
“Nggak ada kok.”
“Terus?”
“Saya mau minta tolong sama kamu boleh?”
“Temenin mama Mey?” tebak Fei.
“Iya, betul. Mama udah ngomong sama kamu?”
“Iya. Tadi pas saya dateng, mama langsung narik tangan saya dan minta saya untuk menginap. Awalnya saya keberatan karena nggak ada kamar lagi di sana kan. Tapi kata mama, saya bisa pake kamar kamu selama kamu pergi.”
“Jadi kamu bersedia?”
“Tentu aja. Kalo untuk mama Mey, saya pasti mau.”
“Karena?”
“Saya sudah menganggap mama Mey seperti orang tua sendiri. Selama ini saya hampir tidak pernah merasakan kasih sayang dari mama karena dia selalu sibuk bekerja setiap malam, dan selalu tidur dari pagi sampai sore. Jadi saya senang sekali saat mama Mey memperlakukan saya seperti anak sendiri.”
“Terima kasih banyak Fei. Saya seneng banget kalo kamu sayang sama mama.”
“Jangan bilang gitu. Seharusnya saya yang ngomong terima kasih ke kamu, karena udah ijinin saya main ke rumah dan ketemu sama mama Mey, dan papa Jim.
Bastian menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika mendengar perkataan Fei. Entah mengapa ucapan gadis itu membuatnya malu, hingga bingung untuk berkata apa. Beruntung, Chen datang menghampiri mereka.
“Tian, elo udah harus masuk.”
“Sekarang?”
“Hm.”
“Baiklah,” sahut Bastian. “Ayo kita ke sana Fei.”
Bastian berjalan ke arah Meylan yang terlihat sedang menunggunya. Wajah ibunya terlihat sedih, dan air mata menggenang di kedua bola matanya. Bastian berhenti tepat di depan Meylan dan memeluk ibunya dengan erat.
“Tian pergi dulu ya Ma.”
“Hati-hati di sana ya,” ujar Meylan sambil melepaskan pelukan Bastian.
“Hm.”
Meylan merangkum pipi Bastian, kemudian berjinjit untuk mengecup kening anaknya dengan penuh kasih.
“Mama tunggu kamu pulang minggu depan. Jaga kesehatan kamu, dan nurut sama Aliong. Mengerti?!”
“Iya Ma.”
“Ci, Ko, gua pergi dulu,” ujar Aliong.
“Hati-hati,” ujar Jimmy.
“Siap Ko.”
Aliong menepuk pundak Bastian supaya mengikutinya berjalan ke antrian yang akan berangkat dengan tujuan Macau. Bastian masih sempat menoleh ke belakang dan melambaikan tangan pada Jimmy, Meylan, Chen, dan Fei.
“Ko,” panggil Bastian.
“Hm?”
“Tian ngerasa aneh sama sikap papa belakangan ini.”
“Aneh kenapa?”
“Nggak tau juga, cuma ngerasa sepertinya papa tau apa yang Tian lakuin kalo lagi sama Koko.”
“Perasaan elo aja tuh.”
“Nggak tau juga Ko. Tapi semalem papa tiba-tiba masuk ke kamar dan ngobrol sama Tian.”
“Ko Jim bilang apa?” tanya Aliong yang menjadi penasaran.
“Papa bilang, jaga diri jangan sampe kenapa-kenapa, dan harus selalu hati-hati, juga waspada. Jangan langsung percaya sama orang yang baru dikenal, dan untuk selalu ngikutin instruksi Koko. Aneh kan?”
“Iya, agak aneh juga,” sahut Aliong. “Kalo emang Ko Jim tau, kenapa dia diam aja. padahal dulu jelas-jelas dia bilang ke gua buat nggak ngajak elo terlibat dengan apa yang gua kerjain.”
“Aneh kan Ko.”
“Harus gua akui. Tapi untuk saat ini kita harus fokus sama tujuan kita ke Macau. Setelah kita pulang, gua kan cari waktu yang tepat buat ngobrol sama Ko Jim.”
“Iya Ko.”
“Sebenernya kita ke Macau mau ngapain Ko?” tanya Bastian.
“Nanti di pesawat gua kasih tau, sekalian elo mulai belajar baca dokumen penting untuk tahu detil yang akan kita kerjain di sana.”
“Siap Ko.”