Itung-Itung Liburan

2005 Kata
Bastian memapah Chen sampai ke mobil, kemudian dengan hati-hati dia membantu Chen duduk di kursi belakang. Setelah itu, dia langsung berlari ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin mobil, serta menunggu Aliong masuk. “Kita ke mana Ko?” tanya Bastian saat Aliong masuk. “Dokter! Cepet!” “Oke.” Bastian mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi menuju ke tempat dokter. Sebentar-sebentar, dia melirik melalui spion tengah untuk mengecek keadaan Chen. Dua puluh menit kemudian mereka tiba. Sebelum Bastian mematikan mesin mobil, Aliong sudah keluar dan membopong Chen. Bastian berlari mengikuti Aliong dan langsung menggedor pintu berkali-kali, walaupun saat ini sudah lewat tengah malam. “Masuk!” ujar dokter saat membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Aliong masuk dan meletakkan Chen di sofa, sementara dokter pergi ke sebuah ruangan . Tidak lama kemudian, dokter keluar sambil membawa peralatan dan langsung memeriksa keadaan Chen.  Bastian berdiri di samping Aliong dan melihat bagaimana dokter dengan cekatan membersihkan luka di perut Chen serta menjahitnya.  “Selesai,” ujar dokter sambil membuka sarung tangan karet yang digunakan. “Boleh langsung gua bawa pulang?” tanya Aliong. “Boleh aja, kalo elo siap liat dia sekarat!” sahut dokter dengan nada datar. “Memang Ko Chen harus beristirahat berapa lama dok?” tanya Bastian. “Tergantung ketahanan badan dia, karena Chen banyak mengeluarkan darah,” sahut dokter. “Apa elo orang nggak cape hidup kayak begini terus?! Nggak pengen hidup normal kayak orang lain?!” “Jangan bahas tentang itu lagi, bisa?!” ujar Aliong datar. “Elo kan tau kenapa kita semua begini!” “Terserah elo aja Liong! Gua cuma minta jangan sering-sering luka, karena taruhannya nyawa lo!” Bastian menyimak semua pembicaraan antara Aliong dengan dokter. Dan Bastian yakin, hubungan antara kakaknya dengan sang dokter, bukanlah sekedar dokter dan pasien. Pasti ada sebuah cerita tentang mereka berdua. Namun, dia memilih diam untuk saat ini. Bastian akan menanyakan hal tersebut saat keadaan sudah lebih baik. “Mending kalian beristirahat sambil nunggu Chen sadar,” ujar dokter sambil membereskan peralatannya. “Makasih dok,” sahut Bastian sambil berjalan ke pojok ruangan dan langsung duduk di lantai. “Elo mau kopi?” tanya dokter pada mereka berdua. “Boleh,” sahut Aliong. “Elo?” tanya dokter sambil memandang Bastian. “Teh hangat.” Dokter berjalan menuju ruangan yang tadi dia masuki, kemudian tak lama kemudian keluar dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan kopi dan teh bagi tamunya. . Karena lelah, setelah menghabiskan tehnya, Bastian tertidur dengan posisi duduk bersandar pada tembok. Begitu juga dengan Aliong yang duduk tidak jauh dari adiknya. Melihat kedua tamunya tertidur, dokter melangkah ke dalam kamar untuk mengambilkan selimut. *** Sekitar pukul delapan pagi, Chen mulai tersadar. Dia membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan untuk mengetahui sedang berada di mana. Ketika itulah dia melihat Aliong dan juga Bastian tengah tertidur di pojok dalam posisi duduk. “Udah sadar lo?” tanya dokter yang kebetulan baru keluar dari kamar. “Iya.” “Luka gua gimana?” tanya Chen. “Masih hidup aja udah bagus!” sahut dokter datar. “Makasih udah tolongin gua lagi,” ujar Chen. “Elo mesti istirahat, minimal tiga bulan.” “Mana bisa!” seru Chen dengan suara pelan. “Harus bisa! Kalo elo masih mau hidup lama!” “Itung-itung elo liburan Chen,” sela Aliong yang baru bangun dan mendengar pembicaraan antara Chen dan dokter. “Tapi Ko,” “Nggak ada tapi-tapian!” sela Aliong tegas. “Elo kan masih tetep bisa kerja, tapi di markas atau di apartemen.” “Terus elo gimana Ko?” tanya Chen. “Elo tenang aja. Ada Alung, Ahong, juga Tian.” “Ko, gua mau pulang. Lebih enak istirahat di rumah,” ujar Chen. “Oke.” *** Hari Jumat sore, sepulang sekolah, Bastian tidak ke rumahnya, melainkan langsung ke apartemen Aliong. Kemarin dia sudah memberitahu Meylan jika hari ini akan langsung ke tempat Aliong. Bastian membuka pintu apartemen dengan kunci duplikat yang diberikan Aliong untuknya sehingga dia dapat dengan mudah keluar masuk. Bastian masuk dan menemukan Chen yang sedang duduk di sofa sambil mengerjakan sesuatu di laptop. “Udah makan Ko?” tanya Bastian. “Udah. Elo kenapa ke sini?” “Ini kan Jumat Ko,” sahut Bastian. “Gua juga tau. Tapi kan biasanya malem baru ke sini.” “Tian pengen liat kondisi Koko.” “Seperti yang elo liat, gua sehat-sehat aja,” sahut Chen. “Luarnya iya, dalemnya? Kan Tian juga udah pernah ngalamin Ko.” “Belagu lo!” “Kenyataan kan,” sahut Bastian sambil berjalan ke dapur untuk mencuci tangan dan membuatkan minuman hangat untuk Chen dan dirinya. “Elo lagi ngapain?!” teriak Chen dari ruang tamu ketika mendengar suara kompor dinyalakan. “Bikin teh.” “Kalo udah, bisa tolong ke sini sebentar?” “Oke Ko.” Setelah membuat teh, Bastian kembali ke ruang tamu sambil membawa gelas. Dia meletakkan salah satu gelas di dekat Chen, kemudian duduk di karpet, di seberang pria itu. “Kenapa Ko?” tanya Bastian. “Gua mau minta tolong sama elo.” “Apaan?” “Tolong temenin Ko Aliong bisa?” “Kapan? Di mana? Ngapain?” Bastian memberondong Chen dengan pertanyaan beruntun. “Masalahnya itu di hari elo sekolah, dan nggak mungkin elo bolos sekolah. Itu yang dari tadi ngeganggu pikiran gua.” “Karena?” “Saat ini gua nggak bisa percaya sama orang lain selain elo. Dan gua yakin elo cuma elo yang bisa jagain Ko Aliong dengan sangat baik.” “Kan ada Alung sama Ahong, Ko,” ujar Bastian sambil meminum teh nya pelan-pelan. “Mereka juga lagi ada tugas sendiri. Dan yang bisa temenin Ko Aliong, cuma tinggal Asin, dan gua nggak yakin dia bisa,” sahut Chen setelah meminum teh nya. “Tian sih nggak masalah. Tapi Ko Aliong nya mau nggak?” “Kita tunggu dia pulang aja,” “Tapi sebenernya ke mana sih Ko?” tanya Bastian penasaran. “Ke Macau. Dan itu perginya juga agak lama, sekitar satu minggu.” “Kapan Ko?” “Harusnya dua minggu lagi. Kenapa?” “Eh, kalo minggu depan, kebetulan Tian libur.” “Serius lo?” “Hm.” “Kalo gitu, gua tinggal ngomong dan ngeyakinin Ko Aliong.” “Sambil nunggu dia pulang, Tian mau masak dulu buat makan malam.” Bastian bangkit berdiri, mengambil gelas Chen yang sudah kosong dan membawanya ke dapur. Setelah itu, dia mulai memeriksa bahan yang ada di lemari es, dan mengeluarkan sebagian. Bastian terus bekerja sehingga tidak mendengar ketika Aliong pulang. “Masak apaan lo?” tanya Aliong yang berdiri di belakang Bastian. “Masakan rumah sederhana Ko. Tumben udah pulang?” “Gua tadi ke tempat Ko Jimmy mau ngejemput elo, ternyata kata Ci Mey elo langsung ke sini setelah pulang sekolah.” “Kenapa nggak langsung tanya sama Tian?” “Nanya ke elo?! Dikasih ponsel aja nggak pernah dibawa, gimana mau nanya?!” ujar Aliong dongkol. “Ribet Ko,” sahut Bastian tenang. “Tapi selalu dibawa kok, cuma nggak pake suara, takut ngeganggu pas di kelas.” “Sama aja!” “Udah ah. Daripada marah-marah, meding kita makan. Tolong panggilin Ko Chen.” Aliong meninggalkan dapur untuk memanggil Chen yang tadi pamit akan berisitirahat ke kamarnya. Aliong mengetuk pintu, akan tetapi tidak terdengar sahutan dari dalam. Karena itu, dia membuka pintu dan melongok ke dalam. Dilihatnya Chen berbaring di tempat tidur dengan posisi memunggungi pintu.  “Chen, bangun!” ujar Aliong sambil menepuk punggung pria itu. Begitu punggungnya ditepuk, secara reflek, Chen langsung bangun dan duduk dengan sikap waspada. Saat melihat Aliong, Chen mengembuskan napas lega. “Gua kirain siapa,” ujar Chen. “Masih seperti itu Chen?” “Kebiasaan Ko,” sahut Chen. “Tapi ini di rumah. Siapa juga yang berani masuk ke sini?” “Kita nggak pernah tau kan Ko. Lebih baik berhati-hati dan selalu waspada.” “Ayo keluar, kita makan. Tian udah selesai masak,” ujar Aliong yang tidak ingin berdebat dengan Aliong. “Oke.” Chen turun dari tempat tidur dan berjalan mengikuti Aliong keluar kamar menuju ke meja makan. Di meja makan, sudah tersedia beberapa masakan yang harumnya menggoda lidah.  “Ayo kita makan,” ujar Aliong yang memang sudah kelaparan. “Siap,” sahut Chen dan Bastian bersamaan. Mereka makan dengan lahap sambil mengobrol ringan hingga selesai makan. Bastian berdiri dan membereskan peralatan makan, kemudian membawanya ke tempat cuci piring. “Ko, ada yang mau gua omongin,” ujar Chen saat Bastian sedang mencuci piring. “Apaan?” “Tentang pergi ke Macau,” sahut Chen. “Kenapa? Apa ada masalah?” “Nggak ada,” “Terus?!” sela Aliong. “Gua nggak bisa biarin elo pergi sama Alung ataupun Ahong yang temenin elo ke sana. Gua nggak tenang Ko, karena gua nggak bisa temenin elo.” “Terus mau gimana lagi? Emang elo punya solusi lain?” “Ada, tapi rasanya elo bakalan nggak suka,” ujar Chen hati-hati. “Apa?!” “Tian.” “TIAN?!” ulang Aliong dengan nada tinggi. “Elo udah nggak waras?!” “Gua waras Ko, sangat waras sehingga memutuskan hal ini,” sahut Chen tenang. “Terus kenapa elo ngajuin dia buat ikut sama gua?!” tanya Aliong sambil menunjuk Bastian yang tengah mengelap peralatan makan. “Karena gua percaya sama dia, dan yakin kalo Tian bisa ngejaga elo dengan sangat baik.” “Elo nggak mikirin umur dia?! Lagian dia kan sekolah!” “Dua minggu lagi Tian libur Ko, jadi bisa temenin Koko,” sahut Bastian yang sudah selesai dan duduk kembali di kursi makan. “Bukan cuma itu masalahnya. Elo kan nggak tau apa yang bakal elo hadapi di sana, juga bagaimana cara kerja mereka semua. Apa elo yakin bakal bisa nanganin semuanya? Mereka di sana lebih kejam dan nggak kenal belas kasih.” “Tian tau Ko, dan akan tanggung semua konsekuensinya,” ujar Bastian dengan mantap. “ARGH! Pusing kepala gua karena kalian berdua!” Aliong bangkit berdiri, berjalan ke lemari pendingin dan mengambil tiga kaleng bir dingin dari sana dan memberikannya pada Chen dan Bastian. “Makasih Ko,” ujar Chen dan Bastian. Mereka bertiga membuka kaleng bir dan meneguk isinya dalam diam. Sementara itu Bastian memeperhatikan ekspresi wajah Aliong dengan seksama untuk memastikan kalau kakaknya tidak akan emosi lagi saat dia berbicara. “Jadi boleh kan Ko?” tanya Bastian. “ELO!” “Kenapa Ko?” tanya Bastian pura-pura tidak mengerti. “Kenapa elo keras kepala banget dan tetep pengen ikut, walaupun tau itu bahaya?!” “Sejujurnya Tian nggak mikir ke sana Ko,” “Terus?!” “Tian seneng aja kalo bisa pergi sama Koko, dan ngabisin waktu lebih banyak sama Koko, nggak peduli apakah itu bahaya atau nggak, karena nggak lama lagi Tian kan nggak di sini.” “Maksud lo?!” “Kan Tian mau kuliah. Dan kebetulan, Tian udah nemuin tempat kuliah yang cocok.” “Di?” “Ada lah Ko. Nanti kalo Tian udah bener-bener yakin, baru Tian kasih tau. Papa sama mama juga belum tau kok.” “Baiklah. Apapun itu, gua harap yang terbaik. Tapi sepertinya bukan di sini kan?”  “Bukan Ko. Makanya, sebisa mungkin Tian mau ngabisin waktu sebanyak-banyaknya sama kalian berdua.” “Elo denger Chen? Kalo udah gini, gua mana bisa bilang nggak ke dia?!” Chen tertawa mendengar perkataan Aliong. Bosnya ini sudah banyak berubah sejak bertemu dengan Bastian. Hanya pemuda itu yang mampu membuat seorang Aliong kehabisan kata dan tidak dapat menolak permintaan Bastian. “Baiklah! Baiklah! Elo ikut gua ke Macau,” ujar Aliong. “Tapi elo harus selalu di deket gua. Paham?!” “Iya Ko,” sahut Bastian. “Sekarang tinggal urus masalah sama Ko Jimmy dan Ci Meylan.” “Jangan lupa urus surat-surat dan paspor Tian Ko,” timpal Chen. “Oh iya, itu juga. Senin bakal gua urus,” ujar Aliong. “Kalo urusan itu, biar sama gua Ko, biar lebih cepet,” sahut Chen. “Oke.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN