Jamilah hanya bisa terpaku menyaksikan pertempuran dua pemuda tampan yang begitu seru dan mematikan. Namun dia tak menikmati sama sekali. Hadeh, mana mungkin dia bersenang-senang sementara kehormatannya dipertaruhkan dari hasil pertempuran ini? Jantung Jamilah berdebar kencang mengikuti pertarungan yang berlangsung sangat cepat di depan matanya. Gerakan mereka begitu bar-bar, brutal dan mematikan. Hati Jamilah seakan nyaris copot setiap kali salah satu dari mereka hampir terluka. Dia tak tahan lagi! “Berhenti! Stop! Baiklah kita ambil jalan tengah, kita tidur bareng bertiga!” pekik Jamilah tanpa pikir panjang. Setelahnya dia tertegun. Ya Allah, kengawurannya sungguh hakiki! Betapa laknatnya dia menawari mereka memperawaninya bersamaan. Teria

