Apapun alasannya, Johny amat mensyukurinya. Berkat itu, Jamilah memeluknya dan dia dapat merasakan daada montok gadis itu menekan tubuhnya. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Johny, berlagak menenangkan dia mengelus-elus tubuh Jamilah. “Hei, tak usah takut. Ada saya, Seksii. Saya akan melindungimu. Kamu merasa, kan, betapa saya berusaha menenangkanmu.” PLAK! Jamilah menepuk tangan nakal Johny yang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu. “Menenangkan apa toh? Mengelus-elus iya, tapi bukan di susuku toh!” gerutu Jamilah dengan wajah merah padam. Johny menyengir kuda. “Maklumi saja, Beib. Tangan tak punya mata, dia bisa nyasar kemana saja.” PLAK! Lagi-lagi Jamilah menepuk gemas t

