"Keracunan? Kok bisa?" Sandra memekik heran. Matanya melotot seakan tak percaya dengan omonganku barusan.
"Aku juga gak tahu, Ra. Kata suster yang periksa tadi, aku keracunan." Aku juga belum tau pasti apa yang sebenarnya terjadi. Aku belum bertemu Dokter, hanya Suster aja.
"Siapa yang siapkan makan malam?" tanya Sandra dengan mata melotot. Matanya sudah seperti pedang yang siap menghunus musuh.
" Lika?" tebaknya. Sahabatku itu menjawab sendiri pertanyaannya karena aku hanya diam.
Ku anggukkan kepala seraya mengedipkan mata, sebagai jawaban.
"Ini pasti kerjaan pelakor itu! Aku yakin, pasti dia yang meracuni kamu, Wi! Kita harus beri dia pelajaran! Keterangan dokter nanti bisa kita pakai buat masukin tuh pelakor ke penjara! Sialan memang!" Sandra mengepalkan tangannya. Terpancar jelas kemarahan dari wajah cantik sahabatku itu.
"Tapi, kalau memang Lika ... kenapa Mas Bagas nggak keracunan? Kami makan makanan yang sama, Ra. Aku melihat sendiri Mas Bagas menyendok makanan yang sama denganku. Kenapa hanya aku yang keracunan. Harusnya Mas Bagas juga 'kan? Mana ada bukti buat ngelapor!"
Aku sebenarnya sependapat dengan Sandra kalau ini perbuat madu busuk itu, tapi aku tidak punya bukti. Jika Alika menaruh racun di makanan kami, seharusnya Mas Bagas juga pasti keracunan. Kami memakan makanan yang sama. Alika pasti bisa berkelit. Perempuan itu punya seribu alasan untuk meloloskan dirinya.
"Siapa lagi yang bisa jadi tertuduh. Masa' iya Bibik? Nggak mungkin 'kan. Yang menginginkan kamu lenyap itu hanya dia, Wi!" Wajah kesal di tunjukkan oleh Sandra.
"Iya, Ra. Aku tahu. Seharusnya aku pasang cctv, saat Lika masuk ke rumahku. Biar semua gerak–geriknya terekam," ucapku lesu merasa menyesal. Aku tertinggal satu langkah di belakang Alika. Wanita itu berhasil mengerjaiku.
Semua yang dikatakan Sandra, memang benar. Hanya Lika satu-satunya yang bisa di jadikan tersangka, tapi menuduh tanpa bukti juga akan merugikan diri sendiri. Madu busuk itu bisa balik menyerangku. Wanita licik sepertinya, kita harus cerdik jika ingin menang.
Aku tidak boleh bertindak gegabah. Aku harus mencari bukti akurat untuk bisa menjatuhkannya. Bisa saja aku mengusirnya sekarang, tapi itu malah mempersulit aku mendapatkan bukti. Jika dia masih berada di rumahku sebagai pembantu. Aku bisa menggenggamnya dan dengan mudah mencari tau rencana apa yang akan ia lakukan. Plus bisa kukerjai madu Mas Bagas itu.
Liat saja perempuan busuk! Kau sudah salah bermain-main denganku. Sakitku ini, kau akan merasakan yang lebih pedih lagi. Hanya masalah waktu saja. Cepat atau lambat, kupastikan kau menerima balasannya.
Biarlah aku bersabar dulu sekarang untuk memenangkan pertarungan ini. Tertawalah sepuasnya selagi masih bisa wahai pelakor.
"Sialan memang tuh si Lika! Dasar nggak tau diri. Cocok memang dengan laki-laki brengse* kayak Bagas!" Begitulah Sandra. Sahabatku itu sulit sekali menahan amarah. Sekali saja emosinya naik, maka mulutnya akan nyerocos terus.
Sandra berucap dengan mengeratkan gigi-giginya. Terlihat sekali dia sangat geram dengan kelakuan madu suamiku itu. Aku bersyukur, masih punya sahabat yang begitu sayang padaku. Saat suamiku sendiri berkhianat, dia tak pernah pergi.
"Oh ... iya, sampai lupa. Kamu telpon kemarin, ada apa? Kemarin tuh aku sama Mas Dika, HP kutaruh di kamar," tanya Sandra, membahas telponku kemarin.
Kutarik nafas panjang, agar oksigen masuk ke seluruh ruang di dalam tubuh. Aku butuh asupan udara sebelum bercerita. Semua tentang Mas Bagas dan Lika membuatku sesak nafas.
"Sebenarnya ... aku mau cerita aja, sekalian minta solusi."
"Cerita apa?" Sandra melipat keningnya heran.
"Ra, Mas Bagas tuh, bukain Lika usaha. Aku gak ikhlas, Ra! Enak betul dia di modalin. Gak ikhlas aku, Ra!"
Sandra mengepalkan tangannya mendengar ceritaku. Seperti aku yang tidak terima, begitupun dengan Sandra. Sahabatku itu menatap tajam padaku.
"Terus, apa rencanamu?" tanyanya tanpa kedip.
"Aku mau, semua jatuh ke tanganku! Semua yang kami hasilkan bersama dalam pernikahan. Aku nggak terima dunia akhirat madu busuk itu menikmatinya, meskipun seujung kuku.
Dunia akhirat aku tak ikhlas. Aku yang mengurus Mas Bagas luar dan dalam, eh dia yang baru masuk, enak-enak datang langsung menikmati hasil. Enak sekali, aku juga mau seperti itu, tanpa bersusah–payah.
"Sekarang teruskan saja aktingmu. Pura-pura aja nggak tau, sambil kumpulin bukti. Seiring kamu cari bukti, buat surat perjanjian. Siapa yang berkhianat maka tak ada harta gono–gini saat bercerai. Semua jatuh ke tangan yang diselingkuhi," ucap Sandra membuka pikiranku. Benar kata sahabatku itu, aku ingin lihat, jika Mas Bagas Miskin Alika masih mau sama dia.
" Tapi, bagaimana caranya, Ra? Mas Bagas pasti nggak mau tanda tangan jika tau isinya. Lah wong dia memang selingkuh."
"Itu urusan gampang! Nanti aku minta tolong Mas Dika supaya bisa dapat tanda tangan Bagas. Sekarang mereka lagi ada proyek barang, Bagas nggak akan curiga."
Seketika mataku berbinar. Senangnya bukan main, semoga saja semuanya berhasil. Tunggulah, Mas. Kau yang membuat aku jadi jahat begini. Setengah mati aku menjaga kesetiaan hanya untukmu, ternyata seenak jidatmu menipuku. Bahkan kau membawa selingkuhanmu ke rumahku, dan sekarang nyawaku hampir saja melayang akibat ulahnya. Akan kubalas setiap luka yang kalian torehkan di hati ini. Luka yang meski tak berdarah, tapi sakitnya setengah mati.
Kata orang cinta dan bodoh itu beda tipis. terlalu bucin, akan membuat kita bertindak di luar akal, tapi tidak denganku, aku memang mencintai Mas Bagas, tapi aku tidak bucin hingga menutup mata dan telinga. Menerima semua perlakuannya.
Kehadiran Lika diantara kami, sedikit banyak mengikis rasa cintaku. Belati yang ia tancapkan dihati ini, telah menutupi semua rasaku padanya. Yang ada hanya dendam membara. Siap-siaplah kalian, sebentar lagi api dendam akan membakar hangus kalian berdua.
"Dari tadi aku nggak liat tuh, suami brngse*mu? Kemana dia?" tanya Sandra memecah keheningan sesaat diantara kami.
"Mungkin lagi asyik sama bini muda. Dari semalam pulang ambil baju ganti, sampai sekarang nggak balik," ucapku seraya mengangkat kedua bahu.
Dari semalam Mas Bagas pulang, sampai sekarang tida menampakkan batang hidungnya. Sampai hati dia membiarkan aku sendiri di sini menahan sakit. Sungguh virus Lika luar biasa, Mas Bagas sampai nggak peduli padaku. jangankan menelpon, ia bahkan tega membiarkan aku melewati malam sendiri, entah hidup atau mati! Sungguh tega kamu Mas!
"Nggak usah sedih! Buang-buang energi aja. Pengkhianat seperti Bagas, tak pantas mendapatkan sedihmu. Mending sekarang susun rencana, bikin kedua pengkhianat itu menyesal. Sampai menangis bombay."
"Iya, Ra. Akan kubuat Mas Bagas menyesal telah menggantiku dengan ALika, madu busuknya. Akan kubuka matanya sehingga melihat yang mana berlian dan serpihan kaca." Sandra mengangguk tanda setuju.
Mas, lihat saja. takkan ada kata maaf bagimu. Meski kau menangis darah sekalipun. Aku benci! Sakit hatiku, ternyata kau lebih memilih bersama Lika dari pada aku yang hampir mati akibat ulah madu busukmu itu. Iya! Aku yakin ini semua ulah Lika, dia yang telah meracuniku.
"Wi, dua hari lagi, kantor Bagas Mau adakan anniversary gitu. Mas Dika dapat undangan. Bagas sudah bilang gak?" tanya Sandra.
"Anniversary? Mas Bagas belum bilang, Ra. Mungkin semalam mau bilang dia, tapi keburu pingsan akunya," jawabku, jujur ada rasa kecewa dihati. Nampaknya Mas Bagas tidak berniat memberitahuku. Karena dari kemaren, pria itu tidak membahas masalah anniversary. Entahlah, semoga saja aku salah. Semoga Mas Bagas tidak berniat membawa Alika, istri sirinya.
Entah kenapa, aku sekarang begitu sensitif. Dikit-dikit baper. Mas Bagas dan Lika berhasil mengubahku menjadi orang yang penuh dengan prasangka dan emosi.
Ditengah obrolanku dan Sandra. Perlahan pintu kamar terbuka. Dibalik pintu muncul sosok Mas Bagas. Panjang umur, baru saja dia menjadi topik pembicaraanku dan Sandra
Kulirik jam yang tergantung di dinding kamar, kemudian beralih kepada sosok pria yang sedang melangkah mendekatiku dan Sandra. Ia menyungging senyum manisnya, tapi sedikitpun tak menimbulkan gairah di hatiku. Hatiku seolah mati pada sosoknya.
Setelah sekian jam di sini, laki-laki ini baru muncul. Suami macam apa yang membiarkan istrinya terkapar sendiri melewati malam yang teramat sulit.
"Assalamualaikum, Sayang," sapanya setelah berdiri di dekat ranjang.
Kupandangi wajahnya tanpa menjawab dan tanpa senyum. Pria yang masih bergelar suami sahku itu telah begitu tega menyakitiku sedalam ini. Sampai hati dia!
"Ya, udah, Wi. Aku pulang dulu, nanti aku telpon," ucap Sandra pamit dengan membuka jempol dan kelingking, lalu menempelkan di kupingnya. Sebagai kode akan menelponku nanti.
Sahabatku itu pulang tanpa menyapa Mas Bagas. Setelah cipika–cipiki padaku, ia langsung membawa langkahnya menuju pintu, lalu menghilang perlahan. Terlihat sekali rasa benci terhadap Mas Bagas di wajah Sandra.
Setelah kepergian Sandra, aku kembali membaringkan badan di atas kasur, lalu memejamkan mata. Tanpa mempedulikan Mas Bagas, hatiku masih teramat kesal padanya.
"Yang," panggilnya lagi. Tangannya meletakkan tas pakaian yang sedari tadi dipegang ke lantai di bawah tempat tidur.
Aku tak menjawab panggilannya. Biar saja dia tahu jika aku sedang marah. Suruh siapa, istri sah lagi sakit, eh, malah enak-enakan sama madu busuk. Huh! Mengingatnya lagi hatiku jadi jengkel. Dasar manusia tak ada otak. Ingin rasanya berteriak dan berkata kasar mengusir laki-laki ini pergi.
"Maaf ya, Sayang, baru datang sekarang," ucapnya. Tampang bersalah yang di tunjukkannya padaku, sama sekali tidak membuatku tersentuh. Malah hanya bikin bertambah muak.
"Iya lah, Mas ... kamu baru datang. Mana ingat kamu sama aku, kalau lagi enak-enakan," ucapku dengan mata tetap terpejam. Meskipun aku mengucapkannya dengan pelan tapi aku yakin, pria itu mendengar dan mengenai tepat di jantungnya.
"Apa maksudmu, yang! Semalam aku ketiduran, makanya gak datang!" ucapnya dengan nada di sentak.
Sudah salah bukannya minta maaf, malah ngeles lagi, dasar buaya!
"Ketiduran atau tidur-tiduran, Mas! Sudahlah, jika kamu ke sini hanya ingin menambah sakit hatiku, baik kamu pergi aja, Mas. Mungkin ada yang lebih penting dari aku," balasku mengusirnya. Kubuka mata yang sedari tadi terpejam. Enak aja main bentak, dia pikir aku nggak tau.
"Maaf, yang, tapi kamu sudah keterlaluan! Apa maksud omonganmu. Seakan aku punya selingkuhan saja, di curigai terus." Mas Bagas menatapku tajam. Benar-benar sudah berubah, Alika pantas mendapatkan penghargaan, telah berhasil merubah suamiku menjadi kasar begini.
Tapi aku gak takut, toh mereka yang bersalah telah menipuku.
"Kamu tau, Mas, aku itu keracunan?" tanyaku dengan membalas tatapannya. "Aku, keracunan setelah makan masakan Lika, Mas! Apa ada yang ngak aku tahu, Mas? Kenapa Lika bersikap seolah-olah bukan pembantu di rumaku ? Lalu apa maksudnya meracuniku?" tanyaku dengan bertubi-tubi membuat wajah Mas Bagas pucat pasi. Pria itu menelan cairan di mulutnya. Terlihat sekali jika ia sedang gugup. Mungkin takut kebusukannya aku tahu. Kasian kamu Mas, aku sudah tau semuanya!