"Kamu tau, Mas, kalau aku itu keracunan?" tanyaku dengan membalas tatapannya. "Aku, keracunan setelah makan masakan Lika, Mas! Apa ada yang nggak aku tahu? Kenapa Lika bersikap seolah-olah bukan pembantu di rumahku, dan apa maksudnya meracuniku?" tanyaku lagi dengan bertubi-tubi, membuat Mas Bagas pucat pasi.
Seketika muka Mas Bagas berubah pucat. Mungkin takut kebusukannya aku tahu. Kasian kamu Mas, aku sudah tau semuanya.
"Ke–ke–keracunan ...." jawabnya terpotong-potong. Gugup terlihat jelas di wajah tampannya. Suaranya bergetar, mengulang ucapanku.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Aku tahu gugupnya hanya ingin menyembunyikan kesalahan, bukan karena rasa khawatir atau kaget. Aku sangat yakin Mas Bagas tau, jika Alikka memang telah meracuniku.
"Sudahlah, Mas! Percuma juga ngomong sama kamu! Toh, aku nggak penting juga 'kan," ucapku, lalu memejamkan mata kembali. Rasa benci mendominasi otak, ingin rasanya men–smackdonw pria kadal ini.
"Sayang, kamu ngomong apa sih? Tentu saja kamu itu penting buatku," ucap Mas Bagas. Lelaki itu membelai kepalaku yang tetap memejamkan mata.
Belaiannya sama sekali tidak membuatku merasa nyaman. Hatiku sudah tawar, sejak tahu ia membagi cintanya dengan Lika. Setiap sentuhannya membuat aku merasa jijik, membayangkan, jika tangan itu juga membelai wanita busuk itu.
"Sudahlah, Mas! Baik kamu berangkat kerja aja, aku mau istirahat." Aku menyisihkan tangan Mas Bagas dari kepalaku. Risih rasanya!
Kudengar pria menarik nafas panjang lalu menyentaknya dengan kasar. Lama tidak ada pergerakan. Aku membuka sedikit kelopak mata, ternyata mas Bagas sedang asyik dengan ponselnya. Entahlah, siapa yang dia hubungi.
Sekitar kurang lebih lima menit bermain dengan benda canggihnya. Mas Bagas berdiri dari duduk, tapi aku sedikitpun tidak tertarik untuk membuka mata.
"Sayang, Mas berangkat kerja dulu ya. Sore Mas datang lagi," ucapnya tanpa ada respon dariku. Perlahan kudengar laki-laki itu menyeret langkahnya, semakin menjauh dan hilang seiring suara pintu tertutup.
Kubuka mataku pelan, ada yang teriris di dalam d**a. Sesak rasanya, seakan d**a ini terhimpit beban berat. Menangis pun tiada gunanya lagi. Air mataku terlalu sayang untuk pengkhianat seperti Mas Bagas.
Sebenarnya, aku membutuhkan suamiku di sini, tapi apalah daya, orang yang dibutuhkan menempatkanku di urutan terakhir dalam agenda hidupnya. Bahkan aku tidak lebih berharga dibanting seorang Alika Putri. Entah virus apa yang Lika tularkan ke Mas Bagas, sehingga mengabaikanku. Betapa malangnya nasibku. Aku yang dulu adalah penguasa hati, kini di tempatkan di sudut ruangan dalam kamar hati.
Setelah kepergian Mas Bagas, tubuh rasanya lelah sekali. Mungkin efek keracunan masih ada sehingga membuat tubuh melemah. Kupejamkan mata agar rasa lelah berkurang. Bukan hanya lelah fisik saja, namun juga lelah hati dan pikiran. Lelah pikiran memikirkan nasib diri yang di khianati suami. Seseorang yang seharusnya menjadi tempat bersandar.
Antara sadar dan tidak, lamat-lamat kudengar suara orang sedang ngobrol. Pelan kubuka mata, ternyata Mbak perawat yang tadi pagi bersama satu temannya. Di tangannya memegang sebuah map.
"Selamat pagi ... pengecekan Dokter ya, Bu," sapa si Mbaknya, ramah.
"Pagi, Mbak," balasku tersenyum. Katanya pengecekan Dokter, tapi mana Dokternya? Dengan rasa penasaran aku hanya bertanya dalam hati.
Pintu terbuka perlahan dari luar. Setelah pintu terbuka muncul sosok seorang laki-laki berjas putih ala Dokter. Sepertinya familiar sekali, tapi siapa ya? Dengan perasaan bertanya-tanya kupandangi sosok yang kian mendekat itu, pria menyungging senyum padaku.
"Selamat pagi, Bu Dewi. Kita periksa dulu ya, jika racunnya sudah tidak aktif, kemungkinan sore sudah bisa pulang," ucapnya panjang lebar menjelaskan.
"Mas, Fiqri?"
Laki laki berjas putih itu tersenyum saat aku menyebut namanya. Ya Tuhan ... ternyata setelah sekian lama tak bertemu, dia muncul di depanku dengan impian yang telah ia capai.
Seorang yang akan berada di baris terdepan saat ada yang menggangguku. Seseorang yang dulu mengatakan akan menjadi seorang Dokter untuk bisa mengobatiku di saat aku sakit.
***
Teringat kala itu ....
Aku dan Mas Fiqri sedang duduk di teras panti asuhan. Tergambar kesedihan mendalam di wajah kami. Kesedihan atas perpisahan antara aku dan dia yang sebentar lagi akan terjadi.
"Mas, janji ya. Jangan lupain Dewi," ucapku kala itu.Kutundukkan wajah dengan memainkan kesepuluh jari tangan.
Dengan mata berkaca-kaca, tapi sekuat tenaga kutahan agar air mata tak keluar dari tempurungnya. Di satu sisi aku gembira, karena kakakku mendapatkan jalan mencapai cita-cita, tapi di sisi lain, aku sangat sedih, karena akan kehilangan sosok yang selalu membela dan melindungiku.
"Iya, Wi. Mana mungkin aku akan melupakan kamu. Siputku," ucap Mas Fiqri yang sedang duduk disampingku, lalu mengacak rambutku dengan sebelah tangannya.
"Ih, Mas ... aku bukan siput," ucapku memonyongkan bibir, merajuk karena dijuluki siput oleh Mas Fiqri.
"Iya deh ... bukan siput"
Kami berdua saling terdiam, terbawa perasaan masing-masing. Hubungan yang terjalin di panti asuhan, saling membutuhkan menjadikan kami saling menyayangi antara satu sama lain. Di bawah asuhan seorang Ibu yang luar biasa mengikat tali persaudaraan antara kami, meskipun tanpa adanya hubungan darah.
Aku dan Mas Fiqri tumbuh bersama, kami di besarkan oleh Ibu Rosmina, pemilik panti asuhan. Mas Fiqri adalah paling besar diantara kami, adik-adiknya. Menjadikan kakakku itu sosok pelindung, bukan hanya kepadaku saja, tapi juga pelindung bagi Ibu dan juga adik-adik yang lain.
"Mas akan belajar sungguh-sungguh, biar bisa menjadi Dokter. Supaya bisa melindungi kalian." ucapnya kala itu.
"Semuanya sudah normal ya, Bu. Sore Ibu sudah bisa pulang," ucap Dokter yang kuyakini kakakku itu. Menarikku kembali dari ingatan sekitar sepuluh tahun lalu.
Aku hanya menatap sedih ke arah Dokter Fiqri, pelindungku dahulu. Sekarang ia bukan yang dulu lagi , ia menjelma menjadi sosok berbeda.
"Baiklah, Bu, silakan istirahat," ucap Mbak perawat, segera ku tundukkan kepala. Kecewa, ternyata Mas Fiqri telah berubah.
Ketiganya berlalu meninggalkanku yang sedang tertunduk sedih.
Melihat langkah kaki Mas Fiqri yang semakin menjauh, entah dorongan dari mana.
"Mas Fiqri," ucapku, spontan menghentikan langkah kaki pemilik nama yang kusebut tadi.
Lelaki itu berbalik lalu melangkah pelan ke arah ku.
"Mas kerja dulu. Nanti Mas ke sini lagi setelah jam kerja habis," ucapnya lalu mengusap kepalaku.
Kuanggukkan kepala tanpa bisa berkata-kata. Dalam hati bersyukur, ternyata sosok pahlawanku belum berubah. Ia masih seperti yang dulu. Kakakku masih mengenaliku, ia tidak melupakanku.
Setelah sosok Mas Fiqri hilang di balik pintu, tanpa terasa bibir melengkung dengan sendiri, senang dan bahagia. Ternyata Allah itu maha adil, di saat Mas Bagas sebagai tempatku bersandar berkhianat, Allah hadirkan kembali sosok yang dulu selalu memberikan pundaknya untuk tempatku bersandar.
Dan ini membuat aku semakin yakin untuk berpisah dengan Mas Bagas. Aku yakin dia bukanlah jodoh terbaik untukku. Pengkhianatannya adalah bukti.
Mungkin Allah menghadirkan Mas Bagas dalam hidupku, hanya sebagai satu pelajaran hidup. Agar aku bisa memetik hikmah untuk kehidupan selanjutnya, dengan jodoh sesungguhnya.
*****
Jam menunjukkan pukul setengah enam sore, saat mobil Mas Fiqri tiba di depan rumahku. Sengaja Mas Fiqri memarkirkan mobilnya di pinggir jalan karena memang berniat langsung pulang setelah mengantarku. Keadaan rumah terlihat sepi, tapi di teras mobil Mas Bagas sudah terparkir. Menandakan pemiliknya sedang berada dirumah.
Lagi-lagi hatiku merasa perih. Aku di rumah sakit sendirian, tidak ada yang menemani. Mas Bagas malah lebih memilih pulang ke rumah menghabiskan waktu bersama madu busuknya, membiarkanku sendirian. Sungguh tega kamu Mas!
"Assalamualaikum," salamku, tapi tak mendapat sahutan dari dalam.
Saat hendak membuka pintu, ternyata tak dikunci. Aku segera menyerat langkah masuk ke dalam rumah. Seketika terlintas di kepala, ingin memergoki kelakuan Mas Bagas dan Lika saat aku tak ada di rumah. Pasti mereka lagi asyik, hingga tak menyadari kedatanganku.
Langkah lebar, segera ku aktifkan ponsel di tangan, ingin merekam semua kejadian nanti. Siapa tau bisa dijadikan bukti. Karena terlalu semangat ingin melihat kelakuan Mas Bagas dan Lika, aku sampai lupa mempersilakan Mas Fiqri masuk, tapi biarlah, memergoki Mas Bagas dan Lika lebih penting.
Saat kakiku melewati pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang TV. Di sana sudah terpampang pemandangan yang sangat mengiris tipis hatiku. Dengan tidak tahu malunya Mas Bagas berbaring di pangkuan Lika. Laki-laki yang masih sah bergelar suamiku itu, tersenyum menatap wajah istri sirinya. Seketika kemesraan mereka terhenti, persis seperti maling mangga kepergok yang punya, saat menyadari kehadiranku.
"Apa-apaan ini, Mas! Pantas saja kamu tak ada waktu buatku. Tenyata begini kelakuan kamu?" tanyaku dengan sedikit berteriak. Wajah Mas Bagas pucat ketakutan.
Dengan tergesa Mas Bagas bangkit dari pangkuan Alika, istri sirinya. Aku menyungging senyum sinis. Dasar b******n! Aku setengah mati di rumah sakit akibat ulah gundiknya. Di sini mereka malah asyik bersenang-senang.
"Sa–sayang ...." ucap Mas Bagas gugup. Pria itu menyeret langkahnya mendekatiku. Ia tak melanjutkan ucapannya tatkala netranya menangkap sosok Mas Fiqri di belakang.
Tanpa peduli, aku melewatinya yang masih terpaku menatap ke arah Mas Fiqri.
Plak! Plak!
Dua tamparan bolak–balik. Setelah sekian lama menanti, akhir tercapai juga keinginanku menghadiahi madu busuk ini cap lima jari. Malah dua sekaligus, kiri dan kanan.
"Aww!" pekiknya, seraya memegangi kedua pipi dengan kedua tangannya.
Spontan Mas Bagas menoleh. Lelaki itu langsung berlari menghampiriku dan istri sirinya
"Sayang, kamu kenapa, sih?" tanyanya dengan nada sedikit membentak.
"Aku, kenapa? Kamu tanya aku kenapa, Mas?" tantangku dengan menatapnya tajam. "Kamu pikir aku buta, hah! Hingga tidak bisa melihat kelakuan kalian barusan? brengse* kamu, Mas."
"Yang, kamu salah faham. Itu nggak seperti yang kamu kira. Aku cuma minta tolong Lika memijat kepalaku yang sakit," ucapnya menjelaskan. Terus saja kamu berbohong.
Plak! Plak!
Kuberi Mas Bagas cap lima jari seperti gundiknya, biar adil.
"Aku nggak buta ya, Mas. Aku juga nggak bodoh, sehingga nggak bisa mengartikan kejadian barusan."
"Dewi!" bentak Mas Bagas, seraya memegangi pipinya. Sepertinya ia tak terima aku menamparnya.
Puas sekali bisa memberikan tamparan pada kedua pengkhianat ini. Meski ini tak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan padaku. Mereka tega menyakiti setengah mati.