Bab 17 Pengusiran

1706 Kata
Plak! Ku beri dia cap lima jari seperti gundiknya. Biar adil. "Aku gak buta, Mas. Aku juga gak bodoh, sehingga nggak bisa mengartikan kejadian barusan." "Dewi!" bentak Mas Bagas, seraya memegangi pipinya. Matanya melotot menatapku sangar. Sepertinya ia tak terima aku menamparnya. Puas sekali bisa memberikan tamparan pada kedua pengkhianat ini. Meskipun, ini tak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan padaku. Mereka tega menyakiti setengah mati. "Kenapa, Mas? Sakit, hah! Itu tidak sebanding dengan sakit yang kurasakan. Kau menancapkan belati tajam tepat di jantung ini, Mas. Kalian b******k!" ucapku membalas tatapan sangar Mas Bagas, seraya menunjuk d**a. Jangan pikir aku takut dengan tatapanmu itu, Mas. Seharusnya kamu lah yang takut dengan marahku ini, karena kamu lah yang bersalah. Diamku selama ini kau salah gunakan. Kamu telah membangunkan singa dari tidur panjangnya, Mas. Sekarang, singa itu meraung menunjukkan taringnya. "Apa maksudmu? Aku menyakitimu apa, Dewi! Sudah kujelaskan, aku hanya meminta tolong Lika, kepalaku sakit!" bentaknya tak mau kalah. Dasar b******n, kadal buntung, cicak kubing. Sudah salah mau berkelit lagi. Apa dia pikir aku ini buta! Astaga ... ternyata begini kelakuan sebenarnya laki-laki yang telah menikahiku selama dua tahun ini. Ternyata sikap manisnya selama ini hanyalah kamuflase belaka. Menyamarkan wujud aslinya, menipuku! Bodohnya aku, baru menyadarinya sekarang. Aku tersenyum miring. "Tanyakan pada hatimu, apa yang telah kau perbuat, Mas! Dasar pngkhianat!" ucapku dengan menunjuk tepat di dadanya. "Maksudmu apa, Dewi!" teriak Mas Bagas lantang. Rupanya ia tak terima dengan ucapanku. Untung saja, tadi sebelum pulang Mas Fiqri mengajakku makan. Aku punya tenaga melawan pengkhianat seperti Mas Bagas. "Nggak usah membentakku, Mas! Kamu pelakor, pergi dari rumahku sekarang juga!" Kutatap Mas Bagas, lalu beralih ke Alika. Perempuan ini pikir aku tidak berani mengusirnya. Kamu salah, Alika sayang! Mata Alika melotot menatapku. Madu busuk itu, seakan tidak terima aku mengusirnya, dan siap untuk berperang. Ok baiklah, siapa takut! Mas Fiqri hanya diam menjadi penonton. Pria berwajah putih dengan kaca mata yang tergantung di kedua telinganya itu, menyaksikan kejadian di depan mata dengan ekspresi yang sulit untuk di artikan. Seperti menahan emosi, namun tidak bisa melempiaskan. Sejujurnya aku malu pada kakakku itu. Ini adalah aib rumah tanggaku, tapi apa boleh buat, semua sudah terlanjur. "Kamu ngak bisa mengusirku, Dewi!" teriak Alika. Wajah perempuan busuk itu memerah, mungkin sedang menahan amarahnya. "Kenapa? Kenapa aku tidak bisa mengusirmu? Kamu lupa, kalau ini rumahku?" Kuberikan dia senyum mengejek. "Kamu tidak bisa mengusirku," ucap perempuan itu pongah. Bibirnya menyungging senyum miring, seolah balas mengejekku. " Kamu tidak bisa mengusirku, karena aku juga–" "Kamu juga istri Mas Bagas! Begitu!" Cepat kupotong ucapannya. Sontak ia terdiam, sorot matanya penuh selidik. Kena kamu perempuan penggoda! Apa yang mau kamu banggakan lagi. Semua rahasiamu sudah kuketahui. Sama halnya dengan sang istri siri, Mas Bagas pun melebarkan mata. Surprise, terkejut 'kan. Laki-kaki itu menatapku tanpa kedip. Kulirik dengan ekor mata, tergambar kegugupan di wajahnya. "Baguslah kalau kamu sudah tau, Dewi! Jadi kami gak perlu lagi main petak umpat, dan kamu tidak bisa mengusirku dari sini," dengan sombong madu busuk itu berucap. "Ha ha ha, Alika ... Alika. Kau mau bukti? Bik ... Bibik," panggilku pada Bibik. Wanita paruh baya itu menghampiri kami dengan sedikit berlari dari arah dapur, saat aku meneriakkan namanya. "Iya, Bu," ucapnya saat sudah berada di antara kami. "Cepat Bibik kemasi semua barang Lika, Bik. Hari ini juga dia harus pergi dari rumahku." Bibik bingung ingin berbuat apa. Antara menuruti perintahku atau madu busuk suamiku itu. Alika mendelik pada Bibik, membuat wanita paruh baya itu takut untuk bertindak. "Bibik nggak usah takut. Aku sudah tau, Bibik bukanlah Ibu dari perempuan ini. Sekarang cepat kemasi semua barangnya dan pastikan jangan ada yang tertinggal," ucapku mengulang perintah pada Bibik. Meski ragu, tapi akhirnya si Bibik melakukan juga apa yang kusuruh. wanita renta itu segera menyeret langkahnya menuju kamar Lika. Lagi-lagi Mas Bagas dan Alika terperangah. Mungkin keduanya bingung, harus berbuat apa, dan bagaimana aku bisa tahu rahasia mereka berdua. Bahagia sekali bisa melihat wajah kaget keduanya. Siapa suruh berani bermain api, 'kan terbakar sendiri akhirnya. "Mas, aku nggak mau keluar dari rumah ini, Mas," Lakukan sesuatu!" ucap Alika pada suami sirinya. Madu busuk itu merengek persis anak kecil minta jajan. Ingin rasanya tertawa jahat melihat ketakutan Lika. Tadi aja sok-sokan, berasa Nyonya. Kamu salah memilih lawan Alika Putri. Aku bukanlah tipe istri yang diam bila ditindas suami. Cinta memang diperlukan dalam sebuah hubungan, tapi cinta bukan jaminan mencapai kebahagian. Meski tanpa Mas Bagas, aku bisa menggapai bahagiaku sendiri. Silahkan kau miliki dia sepenuhnya. Aku lepas tangan. Ku katakan bye bye. "Sa–sayang ... kita bisa bicarakan ini baik-baik, Sayang. Jangan gegabah! Mari kita sama-sama perbaiki lagi dari awal." Mas Bagas merengsek maju mendekatiku. Wajahnya penuh permohonan. Sepertinya, ia enggan jika istri sirinya keluar dari rumahku, namun juga tak mau aku pergi. Dasar egois! Serakah! "Apa yang ingin kau perbaiki, Mas? Aku mati ditangan pelacurmu ini?" tanyaku lantang, menunjuk tepat di wajah Aliika. "Kau pikir aku tidak tahu, jika kau meracuniku, Aliika?" Seketika muka perempuan itu berubah pias. Wanita itu susah–payah menelan cairan dalam mulutnya. "A–apa maksudmu?" gagapnya. "Nggak usah pura-pura!" Madu Mas Bagas itu terdiam. Matanya semakin melotot melihat sosok ibu palsunya muncul di balik pintu dengan koper di tangannya. "Mas ... aku nggak mau pergi, Mas! Aku ini juga istrimu sama seperti Dewi! Kami punya hak yang sama!" teriak Alika. Wanita itu seperti kesetanan, matanya merah menahan emosi. Tanpa peduli dengan kemarahan madu suamiku itu. kuseret ia keluar, tapi, di luar dugaan, perempuan itu malah menarik jilbabku hingga kain yang menutupi mahkotaku itu hanpir saja terlepas dari kepala. Kurang ajar sekali wanita busuk ini. Tanpa melepas kesempatan, tangannya yang sedari tadi berada di pegangan, langsung ku pelintir kebelakang, hingga ia menjerit kesakitan. Tangannya yang masih memegang jilbabku seketika terlepas. "Aduh sakit ... lepaskan setan!" serunya dengan bar-bar, mencoba terlepas dariku. Keluar kelakuan asli yang selama ini ia sembunyikan. "Mas, tolongin! Perempuan gila ini bisa mematahkan tanganku," ucapnya lagi meminta tolong pada Mas Bagas. Mas Bagas serba salah. Pria itu menatapku dengan tatapan memohon, tapi mungkin sedikit ragu melihat besarnya kemarahanku. Selama menikah, dia mengenalku, seorang yang lemah lembut. Tidak pernah membantah apalagi meninggikan suara seperti wanita bar-bar. Namun hari ini, sudah seperti induk ayam yang anaknya di ganggu. "Sayang, lepasin Lika, Yang. Mari bicara baik-baik." Dengan wajah memelas pria brengse* itu mencoba meluluhkan ku . Mengharap belas kasihan dariku, atas nama istri sirinya. Cih, ingin sekali melu*ahi wajahnya. Miris sekali! Di sini akulah yang paling tersakiti dan aku jugalah istri sah, tapi kenapa Mas Bagas malah membela istri sirinya. Meskipun secara halus, tapi itu menambah sakit hatiku. "Sudah aku bilang, Mas! Tidak ada yang perlu diperbaiki. Seharusnya sejak dari awal aku tidak membiarkan perempuan ini masuk ke rumahku, tapi aku terlalu bodoh, hingga membiarkan kalian menipuku. Bahkan hampir saja nyawaku melayang karena ulahnya," ucapku tetap memegang tangan Alika. "Lepas perempuan sialan!" Seru Alika. "Seharusnya kau yang pergi dari sini, karena Mas Bagas lebih memilih aku." Ingin rasanya tertawa mendengar ucapan tidak tau malu dari madu Mas Bagas itu. Apa dia tidak tau, aku bahkan bisa mengusir suaminya dari sini. Wanita itu memberontak. Tangannya semakin kutekuk, semakin ia memberontak, semakin kupererat pegangan tanganku padanya. Hingga wanita itu merasakan sensasi perih yang luar biasa. Sengaja kutancapkan kuku ke kulit tangan madu Mas Bagas itu. Setan seolah berlomba-lomba mendukung, berbisik di telinga kiri dan kanan. "Aww, sakit ... Mas tolong, Mas!" Seru Lika. "Dewi, lepaskan Lika, Wi! Kamu kenapa jadi kasar kayak gini, sih?" Hatiku perih, bak luka di siram air garam. Untuk pertama kali selama pernikahan, Mas Bagas menyebutku dengan nama, tanpa embel-embel sayang di belakangnya. Bahkan ucapannya di iringi bentakan. Badan Mas Bagas terhuyung kebelakang akibat tabrakan dari Lika yang tiba-tba. Dengan sekuat tenaga perempuan busuk itu kudorong. Untung saja ada sofa, kalau tidak pastilah mereka sudah berbaring di lantai seperti film india. Mata terpaku saat Mas Bagas membantu gundiknya yang merintih kesakitan. Bibir tersenyum miring melihat pasangan pengkhianat itu. Alika mengadu memperlihatkan tangannya yang sudah ada bekas kuku pada suaminya. Tingkah wanita itu manja, seakan sengaja memanasiku. Namun sayang, rasaku sudah tidak ada. "Mas, lihat tanganku ... sakit, Mas. Hu hu hu." Madu busuk itu menangis seraya menunjukkan tangannya. Lebih tepatnya memaksa menangis, karena air matanya susah sekali keluar. Kasihan! "Bik, cepat ambilkan kotak obat," suruh Mas Bagas pada Bibik. Bibik yang ingin beranjak, seketika langkahnya terhenti karena teriakanku. "Stop Bik! Mulai sekarang Bibik hanya menuruti perintahku! Kamu Mas, silahkan bawa wanitamu ini keluar dari rumahku," ucapku lantang sembari tangan menunjuk pintu. Mata Mas Bagas mendelik, tatapannya seakan ingin mengulitiku. Aura kemarahan terpancar dari matanya yang tak berkedip. Ya Tuhan ... sampai segitunya laki-laki ini membela madunya. Apa dia lupa jika di sini akulah istri sesungguhnya. Di akui agama dan negara. "Alika tidak akan keluar dari rumah ini! Kamu harus menerimanya mau ataupun tidak!" Tanpa memandangku Mas Bagas mengeluarkan ucapan yang sangat melukaiku. Darahku mendidih naik sampai ke ubu-ubun. Bisa-bisanya laki-laki yang masih sah menjadi suamiku memilih selingkuhannya dan memaksaku untuk ikut menerima. Meski hatiku sudah tawar untuk bersamanya, tapi tetap saja aku terluka. Kutarik nafas panjang ... baiklah, jika memang ini yang kamu inginkan. Aku akan mewujudkan keinginanmu. "Ok, jika memang kamu memilih wanita busuk ini, aku yang akan pergi," ucapku dan langsung melangkah menuju kamar. Baiklah Mas Bagas, kau lebih memilih Alika di banding aku. Aku akan pergi sekarang, tapi kalian jangan senang dulu. Karena aku akan membalas rasa sakit ini berkali-kali lipat. Alika tersenyum lebar saat melihat kumenarik koper. Perempuan itu seperti mendapat angin surga. Aura bahagia terpancar di wajahnya. Mungkin dia pikir sudah menang dan akan menjadi Nyonya di rumah ini. "Sini ... biar Mas yang bawa kopernya." Mas Fiqri mengambil koper saat aku sudah berada tepat di depannya. Kuberikan koper di tanganku ke Mas Fiqri, lalu kami melangkah beriringan. Namun, langkah kami terhenti karena teriakan Mas Bagas. "Berhenti, Dewi! Sekali saja kau melangkah keluar maka ..." Mas Bagas tak melanjutkan ucapannya. Kubalikkan badan demi melihat laki-laki yang sebentar lagi akan ku gugat cerai itu. Setelah kejadian ini, hatiku mantap untuk berpisah darinya. Tiada lagi keraguan. "Maka apa, Mas? Ayo lanjutkan ucapanmu. Kenapa berhenti," ucapku menantangnya. Pria itu menelan ludahnya, terlihat dari jakunnya yang naik turun. "Ok. Biar aku yang lanjutkan. Maka kau akan menalakku, itu 'kan lanjutannya, Mas? silahkan saja!" Kuteruskan langkah yang sempat berhenti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN