Bab 18 Maling teriak maling

1494 Kata
"Berhenti, sekali saja kau melangkah ke luar maka ..." Mas Bagas tak melanjutkan ucapannya. Ku balikkan badan demi melihat laki-laki yang sebentar lagi akan kugugat cerai itu. Iya, setelah kejadian ini, hatiku mantap untuk berpisah darinya. Tiada lagi keraguan. "Maka apa, Mas? Ayo lanjutkan ucapanmu! Kenapa berhenti," ucapku menantangnya. Pria itu menelan ludahnya, terlihat dari jakunnya yang naik turun. "Ok. Biar aku yang lanjutkan. Maka kau akan menalakku, itu 'kan lanjutannya, Mas? silakan saja!" ucapku lalu meneruskan langkah yang. sempat terhenti. Langkah kakiku ini, adalah awal dari kehancuran kalian. Lihat saja! "Dewi, tunggu! Sayang ... Yang jangan pergi. Jangan begini, Yang! Jangan tinggalin Mas." Dasar pecundan*! Dia pikir ancamannya mempan. Tidak lagi sekarang, aku bahkan sudah siap ditalak olehnya. Dengan sedikit berlari Mas Bagas menyeret kaki mendekat. Pria itu melepas pegangannya pada madu busuknya, mencoba mencegahku, tapi aku tak peduli. Tekatku sudah bulat, hari ini ku pastikan aku atau Alika yang pergi. Muka Lika cemberut saat Mas Bagas mengabaikannya dan memilih menghalangi kepergianku. Wanita itu menghentakkan kakinya menyusul Mas Bagas. "Yang ... Sayang! Plis jangan pergi!" ucap Mas Bagas mencekal tanganku. Raut wajah mohon berharap simpatiku ia perlihatkan, tapi kebencianku lebih besar dari rasa apapun. Apalagi simpati! Tidak! sama sekali aku tidak merasa simpati padanya. Sebagaimana ia yang membiarkanku sendiri di rumah sakit hanya demi istri simpanannya. "Lepas, Mas! Kau telah memilih mempertahankan Alika. Itu berarti kau dengan suka rela melepasku!" bentakku menyingkirkan cekalan tangan Mas Bagas. Secepat kilat Alika menghampiri Mas Bagas, suaminya dan juga suamiku yang sebentar lagi menjadi mantan. Wanita busuk itu menatapku sinis. Ingin sekali ku congkel biji matanya keluar dari tempurungnya. "Ya sudahlah ya, Mas. Kalau dia mau pergi biarkan ajalah. 'Kan masih ada aku di sini. Aku bisa kok bahagiain kamu lebih dari Dewi!" ucap madu busuk itu manja. Mau muntah rasanya. Bukannya cemburu jijik iya. Ku sungging senyum tipis pada pasangan di depanku ini. "Tuh dengar, Mas, apa kata pelacu*mu." Aku melirik Alika dengan ekspresi mengejek, lalu bola mata bergulir menatap Mas Bagas. Muka Alika memerah bak kepiting rebus. Mungkin amarahnya sudah di ujung, sisa meledak saja. Tak terima dengan ucapanku, wanita busuk itu mengeratkan gigi-giginya. Puas sekali melihat raut wajah Alika. Lagian, apa yang aku bilang benar adanya. Apa namanya, masuk merusak hubungan orang lain secara diam-diam, kalau bukan pelacu*. "Jaga ucapanmu, Dewi!" teriaknya. Wanita itu tidak terima aku menyebutnya pelacu*. Aneh! Kenyataannya seperti itu, kenapa harus marah. "Kenapa, kau tak terima?" tanyaku tersenyum jijik. Wanita busuk itu mendelik, matanya seakan ingin keluar dari tempurungnya, tapi aku tak peduli. Bahagia rasanya bisa membuatnya merasa terhina. Bukankah, perbuatannya melakor itu memang hina. "Sayang! Tolong jangan pergi, Yang! Tolong pikirkan rumah tangga ini." Lagi-lagi Mas Bagas mencoba memohon agar aku tidak pergi. Tanpa peduli aku berlalu dari hadapannya. Sakit hati telah menguasai penuh diri ini. Luka yang Mas Bagas goreskan masih terlalu basah. Wajah memohonnya tidak mampu menahanku. Seharusnya dia bisa menahan diri dan tidak berkhianat, jika memang memikirkan rumah tangga ini. "Apa karena laki-laki ini? Karena dia kamu tega menghancurkan hubungan yang telah lama kita bina, hah!" Suara lantang Mas Bagas menghentikan langkahku. Seketika kubalikan badan menatap lekat kedua bola mata pria yang masih bergelar suamiku itu. Dia bergeming di tempatnya berdiri. Laki-laki itu menantang sorot mataku. Rasa benci menguasai raga. Dia yang berkhianat, tapi kenapa memutar balikkan fakta. Menuduhku sedangkan dialah penjahat sesungguhnya. "Apa maksudmu, Mas?" tanyaku. Kuangkat dagu pongah. Ucapannya barusan, benar-benar membuat darahku mendidih, sedikit saja maka akan memuntahkan laharnya. "Halah ... iyalah, Mas! Sudah pasti itu selingkuhannya. Palingan juga habis ini mereka tinggal bareng. Dasar muna!" ucap Lika tanpa di saring. Benar-benar gak tahu malu. Maling teriak maling! Ucapannya madu busuk itu barusan benar-benar melukai harga diriku. Wanita itu menyamakan aku dan dirinya, padahal antara kami sangat berbeda. Bagai langit dan bumi. Aku mengucap istighfar berulang kali menenangkan hati yang rasanya ingin mengamuk. Pelakor ini menguji kesabaranku. Mas Fiqri terlihat santai menghadapi tuduhan Mas Bagas dan Lika. Pria itu tak terpengaruh sedikitpun, bahkan dia memperlihatkan senyum manisnya. "Jangan samakan aku dengan dia, Mas! Diriku terlalu berharga jika kau sejajarkan dengan perempuan busuk ini meski seujung kuku." Aku menatap rendah pada Alika. Perempuan itu melotot seakan tidak terima. "Satu lagi, Mas! Bukan aku yang menghancurkan rumah tangga ini, tapi kamu! Suatu saat kamu pasti akan menyesal! Camkan itu, Mas!" ucapku, penuh penekanan. "Nggak usah banyak cing-cong. Kalau mau pergi, pergi aja gak usah banyak drama!" Ingin rasanya ku olesi sambal sekilo, mulut minim akhlak wanita busuk ini. Jika saja membunuh di perbolehkan, aku akan berlari ke dapur mengambil pisau, lalu menancapkan ke dadanya, hingga menembus hati busuknya itu. Sabar Dewi, sabar ... menghadapi orang yang tidak punya urat malu harus punya stok sabar yang banyak. Balas mereka dengan cara halus tapi menusuk perih sampai ke jantung. Pelan tapi pasti. Aku mensugesti diri. "Tenang aja, sayang. Aku akan pergi kok, tapi sebelum itu biar ku luruskan dulu, supaya suamimu ini tau bedanya aku denganmu," ucapku, melangkah maju ke arah Lika. "Dia adalah kakakku di panti asuhan dulu, dan hari ini aku baru bertemu dia. Dia yang merawatku yang hampir mati karena racun madu busuk sepertimu. Sementara suamiku lebih memilih bersama pelacu*nya dari pada istri sahnya," Aku menatap Mas Bagas dan madunya bergantian, kemudian melangkah mundur. Hati rasanya lega seiring langkah kaki. Apa yang selama ini ku simpan dalam d**a kini tercurah sudah Seorang pengkhianat, akan selalu berpikiran kotor. Selalu mencari cara menutupi tingkah busuknya dan berprasangka buruk terhadap orang lain. Meski sudah di jelaskan berulang kali, mereka tidak akan percaya. Kerena selalu di bayang-bayangi oleh kelakuan mereka sendiri. Jadi percuma saja. Aku dan Mas Fiqri melanjutkan kembali langkah kami yang sempat terhenti. Sementara Mas Bagas masih tetap mengejar, mencoba menghalangi kepergianku. Begitupun Lika, perempuan itu terus saja memepet suaminya. Menjijikan sekali tingkahnya. Lebay bin alay. "Oh iya, Mas ... silakan kalian nikmati sepuasnya tinggal di rumah ini sebelum ku usir keluar. Nikmati hari-hari terakhir kalian, karena aku pasti akan kembali mengambil semua milikku" Kumantapkan hati melangkahkan kaki ke luar dari rumah yang sebetulnya akulah pemilik sebenarnya. Biarlah dulu, madu busuk itu menikmati mimpinya menjadi Nyonya dirumah ini sebentar saja. Karena setelah ini, kupastikan akan mengambil semua yang menjadi milikku kecuali Mas Bagas. Ku ikhlaskan pria itu pada istri sirinya. "Dewi ...." Mas Bagas memanggil namaku, sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Kulihat dari balik kaca, laki-laki itu menatap sendu ke arah mobil Mas Fiqri. Selamat tinggal, Mas! Hubungan ini sudah benar-benar berakhir. Kuhela nafas panjang setelah duduk menyandarkan belakang ke sandaran kursi mobil. Hari ini sangat melelahkan, penuh drama dan menguras emosi. Pertengkaran dengan Mas Bagas dan Alika bukan saja membuatku sakit, namun juga lelah jiwa dan raga. Aku tidak menyalahkan takdir atas retaknya pernikahanku. Mungkin Tuhan ingin menaikan levelku dengan adanya ujian ini. Layaknya anak sekolah yang harus menghadapi ujian agar bisa naik kelas. Bukan kecewa karena tersingkirkan, tapi kecewa karena tiada kejujuran dalam pernikahan yang mati-matian kujaga segenap jiwa. Perih yang terlalu dalam kurasakan karena pengkhianatan Mas Bagas. Dua tahun menjalin ikatan, tak ada angin tak ada badai tapi kapal pernikahan yang baru saja berlayar karam di lautan dusta. Cinta dan kesetiaan yang selama ini ku persembahkan, dan kujaga segenap jiwa dan raga, musnah sekelip mata. Rumah tangga bahagia yang pernah Mas Bagas janjikan dulu, runtuh di timpa prahara yang ia ciptakan sendiri. Bahkan mataku pun sudah tak sudi mengeluarkan airnya. Menangisi pengkhianat cinta seperti Mas Bagas. "Mau ku antar kemana?" Suara lembut Mas Fiqri membuyarkan lamunanku. Masalah demi masalah menyita konsentrasiku. Sehingga aku lupa pada kebahagian di depan mata. Kebahagian bertemu kembali dengan Mas Fiqri, pahlawanku. "Atau, mau ke rumahku?" tanyanya lagi, karena tak mendapat jawaban dariku. Ku gelengkan kepala pelan tanda penolakan. Aku tidak mau membawa Mas Fiqri masuk ke dalam masalahku. Jika aku ikut dengannya, maka dengan begitu mudahnya Mas Bagas akan membolak-balikan fakta. "Antar aku ke hotel aja, Mas. Aku nggak mau Mas terlibat masalahku. Mereka akan dengan mudah memfitnahku, jika aku ikut denganmu," ucapku pelan. Hanya anggukan sebagai tanda setuju dari Mas Fiqri. Pria yang sudah kuanggap kakak itu tidak banyak bertanya. Hanya menjadi pendamping dan pendengar setia. Bersyukur sekali, disaat seperti ini aku tidak sendirian. ***** Kurebahkan badan di atas ranjang setelah masuk ke dalam kamar hotel. Mas Fiqri langsung pulang setelah mengantarku sampai ke depan kamar. Ingatanku menelusuri, mengingat satu per satu kejadian yang menimpa. Mulai dari mengetahui fakta Mas Bagas menikah lagi kemudian membawa madunya masuk ke rumahku. Dan kejadian-kejadian lain yang menghancurkan hatiku berkeping-keping. Rasa kecewa kian memuncak, mengetahui bahwa faktanya ibu mertua juga ikut terlibat dalam menipuku. Meski di awal pernikahan Ibu Mas Bagas menolakku dengan alasan asal-usul yang tak jelas, tapi perjuangan Mas Bagas bisa meluluhkan hati Ibunya. Walaupun Ibu tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya, tapi beliau juga tak pernah menunjukkan kebencian padaku. Selama pernikahan dengan Mas Bagas, semua berjalan normal, tapi sekarang, perjuangannya dahulu sirna hanya karena orang ketiga. Jeritan ponsel di dalam tas yang kuletakkan di atas meja membuyarkan lamunan tentang kenangan bersama Mas Bagas.. Segera kuangkat tubuh dari baring dan menggapai tas di atas meja. Sandra!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN