Jeritan ponsel di dalam tas yang kuletakkan di atas meja samping tempat tidur membuyarkan lamunanku. Segera kuangkat tubuh dari baring dan menggapai tas di atas meja.
Sandra!
Cepat ku angkat panggilan dari sahabatku itu. Hati ini sudah tidak sabar ingin bercerita, bukan untuk mengumbar aib, akan tetapi meminta solusi. Lagipula, tanpa bercerita pun, Sandra sudah tau masalahnya. Dialah yang pertama kali memberitahuku tentang pernikahan Mas Bagas dan Alika. Jika kupendam sendiri hanya akan membuat stres, lebih baik ku curahkan dan Sandra adalah orang yang tepat.
"Halo, Ra. Assalamualaikum," ucapku memberi salam, saat telpon sudah tersambung.
"Halo, Wa'alaikumsalam, Wi," balas Sandra menjawab salamku. "Kamu sudah di rumah, Wi? Maaf ya, tadi aku ada urusan, jadi gak bisa jemput. Lagian malas banget ketemu Bagas," ucap dan tanya Sandra lagi. Sahabatku itu memang sangat perhatian sekali.
Kutarik nafas panjang lalu menghelanya dengan perlahan. Meskipun hanya mulut yang akan bergerak, tapi tetap saja aku butuh tenaga dan udara segar, agar bisa mengendalikan hati. Setidaknya, sesak berkurang.
"Iya ... aku sudah pulang, Ra, tapi aku nggak di rumah. Aku nginap di hotel," ucapku.
Seketika Sandra menjerit. Meskipun, tak dapat kulihat, tapi aku yakin sekali jika sahabatku itu sedang menahan kesal dan otaknya penuh dengan tanda tanya.
"Kok bisa? Apa yang terjadi? Pasti ulah dua pengkhianat itu, 'kan? Uhh ... kesal aku!" Pertanyaan beruntun dari Sandra, membuatku menarik nafas, lemas.
"Iya, Ra. Mas Bagas lebih memilih mempertahankan Alika. Makanya aku memilih mundur. Biarlah!"
Rasa kecewa pada Mas Bagas terlalu dalam. Sehingga sukar untukku bertahan. Mungkin mundur adalah jalan terbaik. Kehidupan rumah tangga bahagia yang ia janjikan dahulu, sirna oleh pesona Alika. Semua janjinya dulu kala berusaha meluluhkan hatiku, ternyata hanya bualan belaka, sebagai pemanis lidah. Omong kosong, buktinya sekarang ada Alika diantara kami.
"Uh ... dasar brengse* memang tuh si Bagas. Rasanya pengen ku jotos aja," ucap Sandra dengan nada kesal mendengar ceritaku. "Ya udahlah, Wi. Biar aja dia memilih pelakor itu. Sekarang kamu fokus aja mengambil semua milikmu. Kalau saranku, baik kamu jual aja tuh rumah," lanjut Sandra memberi saran.
Sebenarnya tanpa saran dari Sandra pun, aku memang sudah kepikiran ingin menjual rumah itu. Terlalu banyak kenangan di dalamnya. Dua tahun melayari bahtera rumah tangga, tak pernah sekalipun terjadi ribut besar antara aku dan Mas Bagas, kehadiran Alika inilah masalah besar pertama yang terjadi.
Lagipula, aku tak sudi jika madu busuk itu menikmatinya. Di sana ada titik peluh ku. Wanita itu sudah mendapatkan Mas Bagas. Aku sudah memberinya secara cuma-cuma, maka jika ingin memiliki istana, dia harus mulai dari awal. Seperti ketika aku dan Mas Bagas dulu. Jangan cuma merampas dan menikmati yang bukan miliknya
"Iya, Ra. Aku juga rencana begitu. Nggak sudi rumahku di tempati madu busuk itu."
"Tenang aja, Wi. Kamu nggak sendiri, aku akan membantumu. Sudah kusiapkan suratnya, tinggal tanda tangan Bagas aja. Besok aku pastikan Mas Diki dapat tanda tangan Bagas, " ucap Sandra. Terdengar sekali kalau sahabatku itu begitu bersemangat. Bersyukur sekali, saat begini dia selalu ada.
"Iya, Ra ... semoga aja besok Mas Bagas tanda tangan tanpa banyak drama. Biar aku bisa cepat ajukan gugatan ke pengadilan."
" Semoga aja, Wi. Ya sudah, kamu nginap di hotel mana? Besok aku samperin. Rasanya ngomong di telpon gak komplit."
"Iya, Ra. Nanti aku kirim w******p, ya."
Ku akhiri obrolanku dengan Sandra. Semoga besok semuanya berjalan dengan lancar. Mas Diki bisa mendapatkan tanda tangan Mas Bagas tanpa pria itu tahu. Ingin rasanya cepat terlepas dari ikatan cinta bersulam dusta, dari laki laki pembohong seperti Mas Bagas. Cinta suci yang selama ini kujunjung tinggi ternyata hanya sia-sia. Mulut manis pria itu ternyata palsu.
Jika bertahan hanya memberi luka, lebih baik mundur menggapai bahagia sendiri. Meski tanpa Mas Bagas hidupku akan tetap berjalan. Tak ada gunanya bertahan, karena hidupku bukan hanya tentang laki-laki itu. Aku yakin, sang sutradara takdir sedang mempersiapkan skenario yang indah untukku.
Ku baringkan tubuh di atas empuknya kasur hotel. Mencharger, agar besok kuat menghadapi hidup yang penuh dengan tipu-tipu. kututup kelopak mata agar malam panjang segera berlalu berganti siang. Segera mengakhiri hubungan yang sudah tidak sehat.
*****
PoV Author
Sementara di tempat lain, setelah kepergian Dewi, Alika merasa sangat senang dan bahagia. Wanita itu berpikir jika telah berhasil menyingkirkan madunya dan menjadi pemenang. Dengan sombongnya ia memerintah Bibik ini dan itu. Berasa telah menjadi Nyonya sesungguhnya. Dengan angkuh ia berbuat semaunya, tak ada lagi drama orang tua dan anak.
"Bik, segera pindahkan semua barang saya ke kamar utama. Mulai sekarang sayalah pemilik kamar itu," ucapnya dengan nada angkuh.
Benarlah, harta itu bikin silau. Selain dendam masa lalu, istana mewah Dewi menjadi incaran Alika. Dengan segala upaya ia menjerat Bagas, agar bisa masuk ke dalam pelukannya kembali. Sungguh, perselingkuhan tak akan pernah terjadi tanpa keinginan kedua pihak. Bagas yang kurang iman terjerat pesona Alika, mantan kekasihnya, meskipun, sebenarnya cintanya besar untuk Dewi, istrinya.
Perlahan wanita itu berjalan mengekor Bibik yang telah lebih dulu melangkah masuk ke dalam kamar utama. Wanita itu berdecak kagum saat kakinya memasuki kamar yang dua kali lipat lebih besar dari kamar yang ia tempati selama di rumah ini.
"Sialan si Dewi! Aku dikasih kamar yang sempit, berdua Bibik pula. Sementara dia enak-enak tidur di kamar sebesar ini!" Alika mengumpat dalam hati.
"Tapi nggak pa-palah. Sabarku selama ini menghasilkan buah manis. Aku berhasil menyingkirkan Dewi dari rumah ini, dan sebentar lagi dari hati Mas Bagas," ucapnya pelan dengan senyum menyeringai.
"Bik ... masukkan semua baju-bajuku ke dalam lemari, dan pastikan nggak ada barang Dewi di dalamnya. Kalau ada bakar aja."
Sorot mata tidak suka terpancar dari matanya, tatkala melihat poto pernikahan Dewi dan Bagas yang tergantung di dinding atas tempat tidur. Ditatapnya poto tersebut. Dewi seakan balas menatapnya dengan senyum mengejek. Dengan terbakar amarah, perempuan itu melangkah lebar naik ke tempat tidur, lalu dengan kasar tangannya menggapai bingkai poto dan melemparnya ke lantai.
Prang!
Serpihan kaca dari bingkai poto berserakan dimana-mana.
"Bersihkan semuanya, Bik! Jangan sampai ada bekas Dewi di kamar ini. Sedikitpun!" perintahnya menunjuk bingkai poto yang sudah pecah. "Ganti juga spreynya! Aku nggak mau pakai bekas Dewi!" ucapnya lagi menambah perintah, tangannya beralih menunjuk kasur.
Setelah memberi perintah, wanita itu melenggang keluar dari kamar meninggalkan Bibik sendirian membersihkan kekacauan yang ia ciptakan. Sama sekali tak berpikir hari sudah malam, Bibik juga butuh istirahat.
"Mas ... Mas Bagas," panggilnya mencari sang suami, tapi tak mendapat sahutan dari pemilik nama yang dipanggilnya.
"Ih, mana sih ini Mas Bagas. Dipanggilin kok nggak nyahut," Alika berdecak sebel, seiring langkah kaki wanita itu mengomel sendiri.
"Mas ...." teriakkannya semakin kencang karena sang suami tidak juga menyahut. "Uh ... sebel deh. Mana sih ini mas Bagas." Mulutnya masih saja mengomel.
Dari ruang TV ia melihat sang suami sedang duduk tertunduk. Kedua tangan pria itu menjambak rambutnya sendiri, persis seperti orang sedang stres.
"Mas, aku lapar," ucapnya manja. Ia melabuhkan badan montoknya di atas kursi samping sang suami.
Menatap suaminya dengan memasang wajah menggoda, tapi sedikitpun tidak mendapat tanggapan dari laki-laki yang sedang duduk tertunduk itu. Jangankan menjawab, sekedar mengangkat kepalapun seperti tak sudi laki-laki itu lakukan.
Merasa diabaikan, Alika memonyongkan bibirnya. Lalu menyentuh lengan sang suami dan menggoncangnya.
"Ih, Mas ... kamu kenapa sih? Kamu mau aku sakit karena lapar? Mau, terjadi apa-apa sama aku? Mau kamu, Mas? ucapnya sedikit mengancam.
"Kalau kamu lapar, suruh Bibik masak," balas Bagas. Lelaki itu mengangkat kepala menatap wanita keduanya itu.
"Tapi, aku mau makan sama kamu, Mas," rengek Alika manja.
"Dek, Mas lagi gak ada selera. Kamu makan sendiri aja, ya."
"Mas, kenapa sih! Kamu masih mikirin Dewi? Di sini tuh aku yang harus kamu pikirin! Aku prioritas kamu, Mas! Bukan Dewi!"
Alika mengangkat badannya dan berlalu dengan menghentakkan kaki, menunjukkan jika ia sedang marah. Berharap sang suami mengejar dan membujuknya. Benar saja dengan langkah lunglai Bagas menghampiri istri sirinya yang sudah duduk di meja makan dengan muka di tekuk. Alika melirik sekilas pada Bagas, lalu melanjutkan ngambeknya.
Dengan meredam emosi, Bagas menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Entah racun apa yang diberikan Alika sehingga laki-laki itu menurut saja seperti terhipnotis.
"Aku minta maaf. Ya sudah ayo kutemani makan," ucap laki-laki itu lembut.
Meski hatinya menangis pilu, tapi ia mencoba menekan rasa. Sudah di tinggal Dewi, jangan sampai Alika juga pergi meninggalkannya. Dia belum siap sendiri untuk saat ini. Biarlah sekarang Lika di sini bersamanya. Ia akan menunggu emosi istri pertamanya mereda, barulah dia akan membujuk. Pria itu yakin jika Dewi pasti bisa terima poligami yang ia lakukan. Hanya masalah waktu saja, mungkin sekarang ia lagi dikuasai emosi.
"Suapin," ucap Alika manja, ia menatap makanan yang sudah Bibik sediakan di meja makan.
Sungguh bahagia yang ia rasakan. Makan malam di suapin suami sirinya. Tak henti wanita itu mengukir senyum, rasanya melayang sampai ke syurga. Selama masuk ke rumah ini, tak pernah sekalipun ia dan suaminya makan bersama seperti sekarang.
Bahagia atas derita wanita lain. Meskipun terdengar jahat, tapi ia tak peduli. Bukankah hidup ini seperti catur, saling memakan demi mencapai kemenangan.
Menikmati makan malam berdua, inilah pertama kali ia merasakan menjadi seorang istri sesungguhnya. Wanita itu tersenyum puas, berhasil menyingkirkan madunya. Dunia serasa milik berdua, yang lain numpang.
"Mas ... aku bahagia sekali. Sudah lama aku menantikan detik ini," ucapnya menatap sang suami penuh cinta.
Bagas membalas tatapan Alika, istri sirinya. Meskipun tak sebesar cintanya pada Dewi, tapi tak dapat ia pungkiri, Alika mempunyai tempat di sudut hatinya. Salahkah jika ia menginginkan keduanya? Egois kah dia bila mencintai dua hati? Cinta itu memang indah tapi rumit untuk di fahami.