Pagi ini mentari terlihat indah melukis semesta. Cahayanya malu-malu mengintip di balik jendela kaca yang masih tertutup rapat. Berbanding terbalik dengan hatiku. Kecewa, luka dan amarah ciptakan awan hitam yang tak kunjung hujan. Pengkhianatan dari kekasih hati, menumbuhkan dendam membara yang siap membakar hangus raga ini. Mengubah menjadi sosok yang beda.
Sedari tadi aku hanya duduk termenung di atas tempat tidur. Meratapi nasib diri yang seakan terkena kutukan cinta. Dua kali mencintai dua kali juga di khianati. Tuhan ... apakah cinta tak pantas untukku, ataukah sebaliknya. Kenapa hidup seolah mempermainkanku. Aku percaya akan takdir Tuhan. Namun, aku juga manusia, yang hanya ingin dicintai dan mencintai, mengecapi indahnya rumah tangga bahagia.
"Jangan cengeng, Dewi! Kamu pasti bisa! Kamu wanita pilihan, yakinlah kebahagian menantimu." Hati kecilku berbisik menyemangati diri.
Prahara ini begitu menenggelamkanku ke dasar kesakitan yang teramat dalam. Namun, aku harus bangkit dan melawan kesakitan ini. Memperjuangkan kebahagian agar Mas Bagas dan Lika tahu, jika aku tidak lah lemah. Akan kubuat pria itu menyesal telah menukarku dengan serpihan kaca.
Getaran gawai di atas nakas samping tempat tidur, mengagetkanku dari lamunan panjang. Dengan memutar separuh badan, tangan ini menggapai benda canggih itu. Ada tiga pesan masuk ke aplikasi hijau milikku.
[Morning, siputku.] Isi pesan yang pertaman.
Spontan aku memonyongkan bibir lima senti, kemudian menariknya menjadi senyuman. Ternyata kakakku masih seperti dahulu, ia masih ingat denganku. Seketika ingatanku tertarik ke masa lalu. Masa-masa remaja, masa yang penuh kebahagian. Meski tak pernah merasakan kasih sayang orang tua, tak lantas menjadikanku anak yang kurang kasih sayang. Kasih sayang dari seorang kakak tetap bisa kurasakan. Meski tanpa ikatan darah namun kasih sayang yang ia berikan sangat berlimpah.
[Bersiaplah. Aku akan menjemputmu. Seseorang ingin bertemu denganmu.] Isi pesan yang kedua.
Aku mengernyitkan dahi, heran. Siapa kira-kira gerangan yang ingin bertemu denganku. "Ah, Mas Fiqri bikin penasaran aja." Aku membatin
[Assalamualaikum, Wi. Nanti jam 10 ketemuan yuk! Masih penasaran nih! Ku jemput di hotel. Semangat!] Isi pesan yang ketiga.
Senyum mengembang membaca pesan yang ketiga. Pesan dari Sandra sahabatku. Sandra adalah bukti, darah memang lebih kental daripada air, namun di kehidupan ini, kita lebih membutuhkan air daripada darah. Jika kurang darah, bisa minum obat penambah darah, tapi jika kurang air takkan mungkin bisa meminum darah. itulah yang terjadi antara aku dan Sandra. Persahabatan luar biasa terjalin tanpa pamrih.
Ku akhiri membaca pesan dan meletakkan kembali ponsel ke atas nakas. Jam di ponsel menunjukkan pukul 9 pagi. Ternyata sudah sekian lama aku membuang waktuku. Sekian jam hanya duduk memeluk guling, memikirkan sesuatu yang sia-sia. Memikirkan nasib rumah tangga yang bahkan Mas Bagas sebagai imam saja tidak memikirkannya. Jika memang laki-laki itu memikirkan rumah tangga ini, maka ia akan memperjuangkannya. Ini bahkan hanya sekadar basi-basi pun tidak! Apakah memang pesona Lika begitu besar, hingga mengalihkan dunia pria yang masih sah menjadi suamiku itu.
Sesak di d**a semakin terasa. Mengingat tak ada satupun panggilan atau pesan dari Mas Bagas di HPku. Apakah aku memang sudah tak ada arti baginya, hingga mencariku pun tak ia lakukan.
Sejak aku pergi sampai detik ini, laki-laki itu bahkan tak menanyakan. Pastilah! Mas Bagas lebih memilih Alika, ini adalah bukti jika memang ia sudah tak menginginkanku lagi. Pria itu sudah menggantikanku dengan yang baru.
Kutekan d**a untuk mengurangi rasa sesak. Rasa sakit ini pelan tapi pasti, merebak ke seluruh tubuh. Meski tak berdarah tapi teramat perih sekali.
"Jangan menangis, Dewi! Air matamu terlalu berharga untuk seorang penipu!" Lagi aku mencoba menyemangati diriku.
Lekas ku ambil kembali ponsel yang tergrketak di atas meja samping tempat tidur. Jeritan benda pipih itu mengalihkan fokusku.
Segara kutekan tombol hijau untuk menghentikan nada dering yang serasa memekakkan telinga.
"Halo, Assalamualaikum, Mas," sapaku mengucap salam, saat panggilan tersambung.
"Wa'alaikumsalam. Jangan kebanyakkan bengong, ayo cepat bersiaplah. Seseorang sudah gak sabar ingin bertemu."
Kulipat kening, mencerna ucapan laki-laki yang ada di ujung telpon. Ada rasa heran, bagaimana pria itu bisa tahu, jika aku sedang bengong. Apa dia mempunyai indera ketujuh. Siapa pula yang tak sabar ingin bertemu.
"Cepat mandi!" ucapnya, sebelum memutus sambungan secara sepihak.
Aku hanya mendengus menatap ke arah ponsel, antara senang dan kesal. Senang, ternyata kakakku masih seperti yang dulu. Kesal, karena seenaknya memutus sambungan telpon.
Kulempar HP ke atas kasur, lalu bergegas melangkah ke kamar mandi.
"Dasar, Mas Fiqri." Seiring langkah kaki, mulutku terus meracau.
*****
Di lobi hotel sudah berdiri laki-laki yang dulu selalu menjadi pahlawanku. Pria yang memakai kemeja warna coklat s**u itu terlihat sangat tampan sekali, meskipun, hanya tampak dari belakang. Ia membalikkan tubuhnya saat menyadari kehadiranku.
Kulempar senyum termanis yang aku punya, sebelum menyapa sosok pahlawanku itu. "Tampannya kakak ku." Masih sempat hati kecil ini berbisik.
"Hai, Mas," sapaku saat sudah berdiri di dekatnya. Pria itu balas tersenyuman padaku.
"Hai," balasnya.
Mataku liar menyapu seluruh sudut ruang lantai dasar hotel. Mencari keberadaan seseorang, tapi nihil. Tak seorangpun yang tertangkap pandangan mata aku kenal.
"Nyari siapa?" tanyanya menjentikkan jari di depan mataku.
"Ah, apa, Mas," tanyaku kaget.
"Kamu nyari siapa?" tanyanya mengulang kata
"Oh ... nggak kok. Nggak nyari siapa-siapa," ucapku salah tingkah.
Tadi katanya ada yang ingin bertemu, tapi kok, Mas Fiqri sendiri? Kakakku itu dari dulu, selalu saja jahil, suka sekali mengerjaiku. Pasti dia sengaja bilang begitu, agar aku cepat mandi dan bersiap. Dasar!
Dengan langkah yang sedikit berlari. Aku mengejar langkah lebar Mas Fiqri. Kaki jangkung laki-laki itu membuat langkahnya dua kali lebih jauh dari langkahku.
Kutarik nafas lalu menghelanya perlahan, saat sudah berada di samping mobil Mas Fiqri. Melakukannya berkali-kali agar detak jantung kembali normal. Rasanya seperti baru saja ikut lari maraton, ngos-ngosan. Badan rasanya lemas, cacing-cacing diperut pun ikut berdemo. Bagaimana tidak, belum juga dikasih makan sudah diajak maratonan.
Gerakan tangan yang hampir saja menggapai pegangan pintu mobil, seketika terhenti.
"Kamu duduk belakang aja," ucap Mas Fiqri.
Aku melongo mendengar ucapannya barusan. Tega-teganya menyuruh ku duduk di kursi penumpang. Seperti orang lain saja.
"Ihh, nyebelin banget, sih," ucapku dengan nada kesal, tapi pria itu tanpa peduli melanjutkan membuka mobil lalu duduk di kursi supir.
Dengan gerakan kesal, aku membuka pintu lalu masuk menghempaskan tubuh di atas kursi. Masih dengan ekspresi merengut sebagai bentuk protes.
Mataku membulat sempurna, saat menyadari sosok wanita cantik dengan gamis warna pastel disempurnakan dengan jilbab lebar menutupi hingga bagian d**a. Benar-benar sempurna, bak bidadari turun dari kayangan. Mukaku memerah karena malu mengingat kelakuanku barusan. Wanita bak bidadari itu tersenyum lembut, selembut sutra. Ya Tuhan ... senyumnya manis sekali. Tanpa kedipan mata, aku seakan terhipnotis.
"Awas, menetes air liur," ucap Mas Fiqri.
Aish ... Mas Fiqri ini, bikin malu aja, spontan kutundukkan kepala. Menyembunyikan wajah pas-pasanku dibalik jilbab segi empat yang melekat di kepala. Malu rasanya, apa lagi bidadari di depan ku ini tetap menatap dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
"Kenalkan, ini Nabila. Kakak iparmu. Istri Mas mu ini." Ucapan Mas Fiqri otomatis membuat aku mengangkat kembali kepalaku. Menatap bidadari cantik yang masih setia tersenyum padaku itu.
"Ka–kak i–par?" ucapku. Mengeja huruf demi huruf membentuk dua kata.
Masya Allah ... Terima kasih Tuhan. Engkau mengembalikan kakakku dengan bonusnya sekali, cantik pula bonusnya. Semoga cantik wajahnya mewakili sifatnya. Aamiin.
Wanita cantik bak bidadari itu mengulurkan tangannya padaku tanpa berucap, tapi senyum manis tetap terukir di wajah cantiknya. Kusambut uluran tangan kak Nabila dengan perasaan campur aduk. Senang, bahagia, malu semua jadi satu.
jeritan ponsel dalam tas menghentikan aktifitas labay ku.
Sandra?
"Astaghfirullah. Aku lupa mengabari Sandra," ucapku spontan.
Dua pasang manusia yang sedang duduk di kursi depan itu menatapku penuh tanya.
"Mas, Sandra. Sahabatku," ucapku bingung. Masih dengan ponsel di tangan, kemudian menekan tombol hijau lalu menempelkan di kuping, aku menatap Mas Fiqri.
Mas Fiqri menganggukkan kepala, seolah mengerti akan tatapanku.
"Suruh ke kafe aja. ketemuan disana," ucapnya menyebut nama kafe.
Kumasukkan kembali ponsel kedalam tas, setelah memberitahu Sandar nama kafe tempat bertemu.
Mas Fiqri menjalankan mobilnya perlahan menuju kafe. Sepanjang jalan, tak ada cerita yang tercipta antara kami. Hanya ukiran senyum saat mataku dan mata Mbak Nabila bertemu. Begitupun Mas Fiqri, kakakku itu seolah mengerti. Memberiku ruang untuk menyesuaikan diri.
Setelah beberapa menit membelah jalanan, akhirnya sampai juga di kafe. Tak lama kemudian Sandra juga sampai. Setelah memperkenalkan Sandra kepada Mas Fiqri dan Kak Nabila, kami mengisi perut terlebih dulu. Karena pembahasan nanti bakal menguras tenaga dan emosi. Kami butuh asupan bergizi untuk menghadapinya.
"Apa rencana mu?" tanya Mas Fiqri setelah kami selesai makan.
"Cerai, Mas," ucapku mantap.
"Setuju! Tinggalin aja laki-laki penipu itu," ucap Sandra. Entah kenapa sahabatku itu sangat mendukung perpisahanku dengan Mas Bagas. Dari dulu ia tak menyukai suamiku.
"Ambil semua milikmu. Jangan sampai pelakor itu menikmatinya. Semoga hari ini Mas Diki bisa mendapatkan tanda tangan Bagas. Biar dia nggak bisa nuntut gono gini." Sandra berucap kembali.
Ku anggukkan kepala tanda setuju dengan omongan Sandra. Sedikitpun aku tak ikhlas Alika menikmati milikku kecuali Mas Bagas. Ambil sajalah.
"Oh iya. Besok anniversary perusahaan Bagas. Kamu ikut aku ya ... aku punya rencana. Pasti Bagas akan mengajak Lika bukan kamu." Ucapan Sandra menyentil hatiku. Seharusnya besok aku yang akan ikut sebagai nyonya Bagas. Namun, apakah Mas Bagas akan mengajak Alika? Mungkin saja, Alika pasti punya banyak cara agar bisa ikut dan Mas Bagas pasti tidak akan bisa menolak. Aku terusir aja Mas Bagas santai tak mencari.
Mataku memanas, bukan karena cemburu tapi kecewa. Tak apa aku kecewa saat ini, daripada menangis nanti saat semuanya sudah terlambat.
"Jangan sedih, ya siput. Kamu harus kuat. Sekarang ada Mas sama Mbakmu, kamu nggak sendiri," ucap Mas Fiqri. Kakakku itu menatapku dengan penuh kasih sayang. Sama seperti waktu dulu.
Ku anggukkan kepala lemah.
"Ra, setelah ini temanin aku ke rumah, ya. Aku ingin mengambil mobilku." Sandra mengacungkan dua jempol sebagai jawaban.
*****
PoV Author
Sementara Alika mengacak semua isi kamar Dewi. Mengubah ruangan segiempat itu bak kapal pecah, berantakan. Emosinya semakin tak terkendali tatkala barang yang dicarinya tak juga kunjung ketemu.
Arggggh!
"Sialan! Dimana sih perempuan itu menyembunyikan semuanya!" ucapnya dengan amarah memuncak. "Ternyata dia sudah mempersiapkan semuanya. Sialan! Sialan!" ucapnya lagi sambil menyeret langkah mendekati brangkas.
"Ini lagi, kenapa harus mengganti kode segala!" Bentaknya pada benda mati tersebut. Lalu melayang tangan memukul kota besi itu. Alika memang mengetahui kode brankas, dia sudah bertanya pada Bagas. Wanita itu tidak sabar ingin memiliki semuanya.
"Aw, sakit," pekiknya. Tangannya memerah akibat sentuhan dari benda mati berbahan besi itu.
"Sialan ...."
Ternyata usahanya untuk menguasai semua surat berharga musnahlah sudah. Dewi bukan kaleng-kaleng. Wanita itu ternyata jauh lebih pintar darinya. Bahkan Bagas sekalipun tak menyadari kalau kode brankas telah di ganti.
"Siapa?" Teriaknya nyaring saat pintu kamar di ketuk dari luar.
"Bibik, Nyonya," sahut suara di balik pintu.
Dengan langkah gontai, dan wajah yang masih di kuasai amarah. Alika menyeret kakinya melangkah menuju pintu.
"Nyonya, diluar ada yang nyariin," ucap bibik pelan. Sejak Dewi meninggalkan rumah kemarin, Alika berubah menjadi Nyonya yang seakan berkuasa.
"Siapa, Bik?"
"Itu, Nyah ...." ucap bibik tergantung .