bab 4

1028 Kata
Suasana jalan desa yang sepi. Lampu jalan temaram, beberapa mati. Rumah-rumah penduduk mulai gelap, hanya satu dua yang masih menyala. Suara jangkrik dan kodok mengiringi langkah mereka, menciptakan simfoni malam. Hujan rintik-rintik membasahi aspal dan menciptakan genangan kecil yang memantulkan cahaya bulan yang tersamar awan. Dua remaja berjalan beriringan. Alan dengan tangan kiri yang masih sedikit kaku, Doni di sampingnya setia melindungi. Alan menatap langit mendung. "Makasih ya, Don, lo mau nemenin gue. Padahal lo pasti capek." Dalam hati Alan berkata, lu selalu ada Don, saat aku jatuh, cedera, dan dimarahi ayah. Yang tak terlupakan waktu kecil menjatuhkan telur, kamu juga menjatuhkan dan kita sama-sama dimarahi ibu, dan waktu itu juga ayah membela kita berdua. Air mata Alan mengalir di pipinya, basah bercampur air hujan. Doni menepuk pundak Alan. "Santai aja, Lan. Emangnya lo mau ke mana persisnya? Ada tujuan?" Alan menggeleng. "Nggak tau pasti. Jalan aja. Yang penting keluar dari rumah dulu. Di rumah sesak gue, Don. Kayak dindingnya ngehepin gue." Doni mengangguk mengerti. Doni melihat ke atas, merasa hujan akan semakin lebat. Ia melihat kanan kiri, mencari apakah ada payung tetangga yang tergantung di luar. Matanya tertuju pada sebuah warung kecil dengan lampu 5 watt, berjualan air mineral, keripik, makanan ringan, serta payung bergantungan. Doni menoleh ke belakang. Alan sudah berjalan agak jauh. Doni berlari menyusul. Alan berdiri di pinggir jalan, menatap langit malam yang mendung. Rintik hujan semakin deras, membasahi rambutnya. Jam sudah mendekati pukul sembilan malam. Tiba-tiba, angin dingin berembus kencang, lebih dingin dari biasanya, membawa suara aneh. Suara bisikan seperti angin, seperti dedaunan, seperti air mengalir. "Alan... datang ke sini... ke tempat yang dulu... ada yang bisa menyembuhkan... ikuti suaraku... ikuti..." Alan menoleh kaget, mencari sumber suara. "Ha? Siapa itu? Doni, lo denger?" Suara itu datang lagi, kali ini sedikit lebih jelas, seperti bisikan di belakang telinga. Dingin merambat di tengkuk Alan, mencoba meraba di telinganya. "Di balik pohon besar... di ujung jalan... ikuti jalan setapak... ada yang menunggumu... penyembuhan... untuk tanganmu... untuk hatimu... jangan takut..." Alan bergumam sendiri, bingung. "Tukang urut? Malam-malam gini? Di tengah hujan? Aneh. Mana ada jam segini apa lagi di tempat seperti ini. Itu sungguh aneh." Doni tiba di samping Alan. Ia melihat Alan yang sedang melamun, mulutnya komat-kamit. "Lan, di sana tuh ada payung, minuman, keripik kentang, keripik pisang. Eh... lo ngomong sama siapa? Kok melamun?" Alan masih mencari sumber suara karena penasaran. "Don, lo denger suara tadi?" Doni bingung, menoleh kanan kiri. "Suara apa? Nggak ada suara apa-apa. Cuma rintik hujan sama jangkrik, suara kodok, hembusan angin. Emang kenapa, Lan?" Alan menatap Doni dengan serius. "Ada suara, Don! Suara yang bilang ada tukang urut, ada yang bisa sembuhin bahu gue sempurna kembali. Gue denger jelas, Don! Kayak orang bisik di telinga gue. 'Ikuti suaraku.'" Doni mulai panik dan merasa semakin ada yang aneh dengan Alan. "Jam segini? Malam-malam hujan-hujan? Lan, jangan ngada-ngada! Dan jangan lo datengin! Itu aneh! Nggak wajar! Bisa bahaya! Bisa kesurupan juga!" Alan sudah berjalan mengikuti suara. Matanya kosong tapi penuh tekad serta percaya diri. "Gue denger dari arah sana... ikutin gue, Don! Suaranya makin jelas! Kayak nyanyian!" Doni berlari mengejar. Dalam hatinya ia berpikir, ah lupakan saja payung itu dulu. Lebih baik ikuti Alan dulu, takut dia hilang lagi dibawa oleh hantu. "Lan! Tunggu! Jangan masuk ke dalam hutan! Lo gila? Malam-malam hujan-hujan! Kita nggak bawa senter!" Jalan Setapak Menuju Hutan Alan berjalan cepat, nyaris berlari, matanya fokus ke depan. Doni berusaha mengejar sambil panik, napasnya tersengal. Mereka melewati jalan setapak yang mulai dipenuhi semak-semak dan ilalang basah. Hujan semakin deras, membasahi pakaian mereka hingga menempel di tubuh. Alan setengah berteriak. "Suaranya makin jelas, Don! Kayak nyanyian! Indah!" Doni terengah-engah, basah kuyup. "Lan, ini nggak bener! Gue nggak merem! Balik! Kita balik! Ayah pasti panik! Kita nggak bilang-bilang!" Alan terus berjalan, tak menghiraukan. Tiba-tiba, ia berhenti di depan sebuah tempat yang tampak biasa saja. Sebidang tanah lapang dengan satu pohon besar di tengahnya. Pohon beringin tua dengan akar gantung, dikelilingi semak-semak. Di tengah lapangan, ada kabut tipis yang aneh, tak seperti kabut biasa. Kabut itu bercahaya samar. Alan menunjuk ke depan. "Di sini... katanya di sini. Suaranya dari sini." Doni sampai di samping Alan, napas terengah, basah kuyup. "Ini cuma lapangan kosong, Lan! Lapangan kosong! Yang ada cuma pohon tua beringin! Nggak ada apa-apa! Ayo balik! Gue takut! Serius!" Alan menunjuk ke pohon. "Tapi suaranya dari sini... gue yakin... gue dengar 'di balik pohon besar'." Seketika, suasana berubah drastis. Angin kencang berembus, lebih kencang dari sebelumnya, hampir menerbangkan mereka. Kabut menebal dengan cepat, menutupi segala sesuatu. Doni menoleh ke belakang dan matanya membelalak ngeri. Seketika Doni membeku. Doni berteriak histeris, suaranya memecah malam. "Alan! Liat! Liat itu! Ya Allah!" Di belakang mereka, pohon-pohon bergerak—bukan karena angin. Batang-batang pohon meliuk seperti ular, dahan-dahan merambat dengan cepat, saling bertaut membentuk dinding raksasa, menutupi jalan setapak yang tadi mereka lewati. Jalan pulang tertutup rapat oleh anyaman dahan yang rapat. Alan terbelalak, mundur selangkah, tubuhnya gemetar. "A... apa ini?! Apa yang terjadi?! Don, ini mimpi?" Suara dalam, berwibawa, bergetar di seluruh batang pohon besar. "Jangan takut, anak muda. Kalian telah dipanggil. Telah lama kami menunggu." Doni gemetar hebat, hampir jatuh, memegang lengan Alan. "A... apa?! Pohon bisa bicara?! Ini mimpi?! Lan, ini mimpi, kan?! Tolong bangunin gue!" Alan tak bisa menjawab. Ia hanya terpaku, matanya tak percaya melihat apa yang terjadi. Di sekeliling mereka, kabut semakin tebal, dan cahaya aneh mulai muncul dari balik pohon-pohon. Perlahan, lapangan mulai berubah. Rumput-rumput berkilauan. Bunga-bunga aneh bermekaran. Pohon besar itu berbicara lagi. "Jangan takut. Kami bukan makhluk jahat. Sebaliknya, kami ingin membantu. Terutama kamu, Alan." Alan terbata. "Ka... kenapa gue? Apa yang mau lo bantu?" Pohon itu menjawab. "Tanganmu. Dan hatimu. Ikuti cahaya." Di depan mereka, cahaya semakin terang. Dan perlahan, lapangan kosong mulai memudar, berganti dengan pemandangan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Doni menggigil ketakutan dan berbisik lirih. "Apa yang sebenarnya terjadi... mengapa bisa muncul seperti ini... waktu kecil kita main bareng di lapangan ini... apakah ini sebuah keajaiban datang untuk Alan... kamu Alan seperti diistimewakan... tapi aku merasa bersyukur bersamamu, Alan... tapi mengapa saya bisa hadir di sini menemaniamu... dan itu suatu yang sudah mustahil... betapa aneh... dan semakin aneh lagi." Chak chak chak...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN