bab 3

1005 Kata
Pintu ruang ganti terbuka lebar dengan suara keras membentur dinding. Doni masuk dengan cepat, napas memburu, wajahnya merah karena berlari dari lapangan. Matanya langsung tertuju pada Alan yang meringkuk di lantai, dikelilingi teman-teman yang panik dan tak tahu harus berbuat apa. Doni berlari menghampiri, lalu menjatuhkan diri di samping Alan. Suaranya panik bercampur marah. “ALAN! Ya Tuhan, kenapa lagi? Kenapa terus?!” Doni memegang bahu Alan, mencoba menenangkannya. Wajahnya penuh cemas, matanya berkaca-kaca melihat tangan Alan yang bengkak dan membiru. Ia menahan tangis. Teman-teman terdiam, merasa bersalah, mundur perlahan. “Kami... kami cuma...” Doni menatap tajam satu per satu, suaranya dingin penuh kemarahan yang tak biasa. “Kalian apain dia?! Jawab!” Andi tergagap, mundur, tangannya gemetar. “Ki... kita cuma... dia bohong katanya... kita kira dia pura-pura kemarin... kita cuma...” Doni memotong dengan suara lantang yang menggema. “Bohong? Lihat ini bohong?!” Ia menunjuk tangan Alan yang membiru. “Tangannya bengkak, biru! Lo kira ini akting? Lo kira gue bodoh? Dia kesakitan banget! Otak lo ditaruh di mana?!” Doni menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia tahu marah tidak akan menolong Alan. Ia mengeluarkan ponsel dari saku dengan tangan gemetar. Doni, suara bergetar: “Gue telepon ayah dulu. Kalian diam di tempat! Jangan ada yang pergi! Gue hafal muka kalian semua!” Doni menekan nomor ayah sambil sesekali menatap Alan yang hampir pingsan. Doni di telepon, suara cemas: “Yah... Alan cedera lagi di sekolah. Parah. Iya, di ruang ganti. Cepat ke sini, Yah. Tolong... hati-hati di jalan.” Beberapa jam kemudian, di ruang tamu rumah. Alan duduk di sofa dengan wajah pucat, keringat dingin masih membasahi keningnya. Tangannya dibalut kain basah. Doni duduk di sampingnya, memegang kompres es di bahu Alan dengan hati-hati. Sesekali ia mengusap air mata Alan yang jatuh diam-diam. Keheningan hanya diisi suara jam dinding yang berdetak. Pintu terbuka keras. Ayah masuk dengan wajah merah padam, campuran marah dan cemas yang tak terkendali. Ayah langsung menghampiri, suaranya tinggi. “Kenapa bisa lagi? Kenapa terus-terusan?!” Alan hanya meringis, tak bisa bicara, hanya menggeleng lemah. Ayah memegang tangan Alan dengan hati-hati, memeriksa dengan teliti. “Ini parah... bergeser lagi, ditambah ligamen tertarik. Jaringan sekitar juga kena. Sakit banget, kan? Sampai nggak bisa bicara?” Alan mengangguk lemah. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. Ayah marah besar, suaranya menggema. “Kenapa sih kamu ini?! Ayah sudah bilang berapa kali? Jaga diri! Jangan main keras!” “Mau jadi apa kamu kalau cedera terus?! Masa depanmu hancur! Ayah capek sama kamu! Capek!” Doni segera berdiri di antara mereka, suaranya tenang tapi tegas. “Yah, ini bukan salah Alan. Di sekolah, teman-temannya nuduh dia pura-pura cedera. Mereka keroyok Alan, lima lawan satu. Ada yang mukul, ada yang narik. Alan cuma bertahan, nggak nyerang sama sekali. Tangannya dipelintir. Ini penganiayaan, Yah.” Ayah terdiam sejenak. Napasnya berat. “Tapi...” Doni memegang lengan Ayah. “Yah, lihat kondisi Alan. Dia kesakitan banget, hampir pingsan tadi. Kita obati dulu. Omongan nanti. Kasihan Alan. Dia nggak salah.” Ayah menghela napas panjang. Kemarahannya perlahan mereda, berganti rasa bersalah yang tak diakui. Ia duduk di depan Alan dan mulai memijat bahunya dengan lembut namun terampil. Jari-jarinya bekerja hati-hati, mencari titik yang tepat. Ayah berbisik, nada mulai lunak: “Sabar ya, Nak. Ayah obati. Tahan sakitnya. Ayah di sini.” Beberapa menit berlalu. Ayah bekerja dengan fokus penuh. Keringat mengucur di dahinya. Tak ada yang bicara, hanya suara napas dan sesekali erangan Alan. Doni memegang tangan Alan yang lain, memberi kekuatan. Dan terdengar lagi suara itu. Klik! Alan menghela napas panjang. Rasa sakitnya berkurang drastis. Ayah berdiri, nada kembali keras meski matanya berkaca-kaca. “Udah sembuh. Sekarang kamu masuk kamar! Renungkan perbuatanmu! Jangan keluar sampai ayah panggil!” Alan mencoba bicara. “Tapi, Yah, aku—” Ayah memotong. “Diam! Masuk kamar! Ayah nggak mau dengar alasan lagi!” Alan menunduk, berjalan pelan menuju kamar. Pintu tertutup. Ayah menghela napas kasar, duduk lemas sambil memegang kepala. Doni menatapnya dengan iba. Di kamar Alan. Kamar sederhana. Poster pemain bola seperti Beckham, Ronaldo, dan Neuer menempel di dinding. Sebuah bola di pojok ruangan. Meja belajar dengan buku-buku berserakan. Alan duduk di tepi tempat tidur, memandangi tangan kirinya. Wajahnya kusut, matanya sembab. Pintu terbuka pelan. Doni masuk dan menutupnya hati-hati. Doni duduk di samping Alan. “Lan... lo nggak apa-apa?” Alan diam sejenak, lalu bicara dengan nada lelah. “Gue capek, Don. Capek banget. Capek hidup.” Doni menatapnya. “Capek kenapa?” Alan mulai bicara, air matanya mengalir lagi. “Semuanya salah gue. Di sekolah gue dibilang pengecut, pembohong, dikeroyok. Di rumah dimarahin terus. Ayah selalu bandingin gue sama lo.” “Gue kayak nggak berguna. Apa pun yang gue lakuin selalu salah. Main bola salah. Cedera salah. Napas juga mungkin salah.” Doni memegang bahu Alan erat. “Lo nggak berguna? Lo kiper terbaik di sekolah. Lo sudah nyelamatin tim berkali-kali.” “Ayah marah karena sayang sama lo. Dia cuma takut kehilangan lo. Tapi kadang orang tua nggak bisa nunjukin rasa sayang dengan cara yang benar.” Alan menggeleng pelan. “Gue butuh istirahat. Bukan dari sekolah atau bola... tapi dari semua ini.” “Dari tekanan, dari tuduhan, dari omongan orang. Gue mau jalan sebentar. Sendiri.” Doni mengernyit. “Malam-malam begini? Ini hampir jam sembilan.” Alan menatapnya. “Gue tahu tempat yang tenang. Di ujung desa, ada lapangan kosong. Dulu kita pernah ke sana... waktu kita kecil.” Ia berhenti sejenak. “Waktu lo masih...” Doni tersenyum tipis. “Ingat. Kita main bola di sana. Lo nendang bola sampai masuk semak-semak. Kita nyari sampai malam, takut dimarahin ayah.” Alan tersenyum kecil. “Pas ketemu bola, kita senang banget.” Doni mengangguk. “Gue bilang waktu itu, nggak apa-apa... yang penting bolanya ketemu.” Alan menatap Doni. “Malam ini... lo temenin gue?” Doni tersenyum hangat. “Tentu. Lo saudara gue. Ke mana pun lo pergi, gue bakal jagain lo. Sampai kapan pun.” Mereka berdua tersenyum. Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik, mengetuk kaca jendela.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN