Di pagi hari di koridor sekolah
Suasana sekolah pagi yang ramai. Siswa-siswa berdatangan dengan seragam putih abu-abu yang rapi. Loker berjejer di sepanjang koridor, beberapa terbuka menampilkan buku dan peralatan sekolah. Papan pengumuman penuh selebaran kegiatan ekstrakurikuler.
Alan berjalan pelan memasuki gerbang sekolah, tas ransel disandang di bahu kanan. Tangannya yang cedera kemarin kini sudah bisa digerakkan, hanya sedikit kaku. Ia bernapas lega. Semoga hari ini normal, pikirnya.
Ternyata malah sebaliknya.
Dari kejauhan, Bagas—teman satu tim yang berpostur sedang dengan rambut spike, sering dipanggil “Si Gacor”—melihat Alan. Ia tersenyum sinis, lalu memberi kode pada dua temannya, si kembar yang selalu mengikutinya. Mereka berjalan mendekati Alan dengan gaya angkuh, membentuk formasi mengepung.
Bagas, nada mengejek dan sengaja dikeraskan:
“Wih, kiper bintang datang juga! Gimana tangannya? Udah sembuh? Atau...”
Ia mendekat, berbisik sinis.
“Emang dari awal nggak sakit-sakit amat? Pura-pura, ya?”
Alan kaget, berhenti, tasnya hampir jatuh.
“Apa maksud lo, Gas?”
Bagas berdiri dengan tangan bersedekap, dikelilingi dua temannya yang menyeringai.
“Kemarin kita kalah 0–1 setelah lo keluar. Padahal kita masih punya waktu lima menit plus injury time tiga menit. Total delapan menit, lo!”
“Kiper cadangan—si Budi—g****k banget, kebobolan gol konyol di menit akhir! Kalau lo nggak pura-pura sakit, pasti kita bisa menang! Lo tahu berapa banyak yang berharap sama kita?”
Alan mengerutkan kening, nadanya mulai naik.
“Pura-pura? Lo gila ya? Tangan gue ”
Bagas memotong, maju selangkah.
“Apanya yang sakit?! Lihat!”
Ia menunjuk tangan Alan dengan kasar.
“Sekarang jalan biasa aja. Nggak pakai perban, nggak pakai apa-apa. Bahkan lo udah bawa tas!”
“Kemarin lo cuma takut kebobolan, makanya pura-pura cedera! Atau...”
Ia tersenyum jahat.
“Lo dijagain bokap biar nggak main? Mental lo lemah. Kiper sampah.”
Alan menahan emosi, suaranya bergetar, tangan mengepal.
“Jangan ngawur lo, Gas! Ayah gue—”
Bagas memotong lagi dengan kasar.
“Udahlah! Males gue sama lo! Lo tuh cuma modal tampang! Nggak punya nyali! Dasar anak ayah!”
Bagas dan teman-temannya pergi, meninggalkan Alan yang terdiam di koridor. Beberapa siswa lain melirik dengan tatapan aneh, berbisik-bisik.
Siswi 1 berbisik:
“Itu kiper yang cedera kemarin? Kok sehat?”
Siswi 2 membalas:
“Katanya pura-pura. Biar nggak kebobolan. Biar catatan clean sheet-nya aman.”
Siswi 1:
“Ih, pengecut amat. Masa demi statistik ngorbanin tim?”
Alan mendengar semua itu. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan langkah dengan berat.
Ruang ganti-jam istirahat
Ruang ganti sekolah terasa lembap. Bau kaus kaki, minyak kayu putih, dan keringat bercampur jadi satu. Lampu neon berkedip-kedip, menciptakan suasana mencekam.
Alan masuk dan duduk di bangku panjang kayu yang catnya terkelupas. Beberapa teman setim sudah berkumpul, termasuk Andi, Bagas, dan beberapa pemain lain. Suasana tegang, seperti bisa dipotong pisau.
Teman setim 1 berbisik cukup keras:
“Itu tuh... si pengecut... datang juga.”
Teman setim 2 menimpali:
“Katanya pura-pura cedera kemarin. Biar clean sheet-nya aman.”
Andi berdiri, bersuara keras:
“Alan! kita perlu bicara! sekarang!”
Semua mata tertuju pada Alan. Ia berhenti, bingung dan waspada.
Alan:
“Ada apa, Di?”
Bagas maju ke depan, tersenyum puas, mengelilingi Alan seperti predator.
“Kita dengar dari sumber terpercaya, lo pura-pura cedera kemarin biar nggak kebobolan, ya? Biar catatan clean sheet lo aman?”
“Egois banget. Dasar kiper sampah! Kalau lo takut kebobolan, ngomong! Jangan ngorbanin tim! Kita udah latihan berbulan-bulan!”
Alan mulai panas, nada bicaranya naik.
“Siapa bilang? Tangan gue beneran sakit! Bahkan ayah gue sendiri yang ngobati! Bahu gue sempat bergeser!”
Teman setim lain menyela:
“Alasannya bagus. Tapi kenyataannya sekarang lo baik-baik aja. Nggak ada bekas cedera! Kemarin bengkak, sekarang normal? Keajaiban apa? Lo kira kita bodoh?”
Alan frustrasi.
“Ya karena udah diobati! Ayah gue bisa ngobati patah tulang, geser sendi, semua!”
Bagas tertawa sinis.
“Percaya sama lo? Buktinya mana? Resep dokter? Surat keterangan? Rontgen? Nggak ada, kan? Lo cuma mainin emosi kita!”
Alan:
“Gue nggak sempat ke dokter—”
Andi memotong keras:
“Berarti lo bohong! Nggak ada bukti!”
Suasana memanas. Alan dikerumuni beberapa orang. Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat.
Alan:
“Denger, gue nggak bohong! Kalau gue bohong, sumpah ”
Bagas:
“Sumpah apa? Udah deh, ngaku aja lo pengecut! Dari dulu gue tahu, lo anak ayah! Manja! Nggak punya nyali!”
Andi maju dan mendorong d**a Alan dengan keras hingga ia mundur.
“Gue kesel banget sama lo! Karena lo, kita kalah! Harusnya lo tanggung jawab!”
“Jadi kiper jagoan, tapi malah ngehancurin tim! Kalau takut, nggak usah jadi kiper!”
Alan terpancing.
“Jangan dorong gue, Andi! Gue bilang jangan!”
Andi membuka tangan, menantang.
“Kenapa? Mau lawan? Sini!”
Alan menahan diri.
“Gue nggak mau cari masalah... gue cuma—”
Andi semakin emosi.
“Dasar pengecut! Di lapangan pengecut, di luar juga pengecut!”
Tanpa peringatan, Andi melayangkan tinju keras ke arah Alan. Alan refleks menghindar, tapi pukulan tetap mengenai pelipisnya. Kepalanya pusing, telinganya berdenging.
Alan membalas dengan dorongan keras ke d**a Andi, membuatnya mundur.
Bagas berteriak:
“Berani lawan? Serang! Keroyok!”
Dua orang ikut maju. Perkelahian pecah. Andi mencoba memukul lagi, Alan menangkis dengan tangan kiri. Dua pemain lain menarik kerahnya dan menjambak rambutnya.
Dalam keributan itu, tangan kiri Alan terpelintir keras ke belakang.
Crack!
Suara tulang berbunyi, lebih keras dari sebelumnya.
Semua orang terdiam.
Alan berteriak kesakitan:
“Aaaaaaargh! Tangan gue! Tangan gue!”
Ia memegangi bahu kirinya. Rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh lengan hingga ke leher. Ia jatuh berlutut di lantai, wajah pucat, keringat dingin mengucur deras. Tubuhnya gemetar tak terkendali.
Andi mundur, suara bergetar:
“Jangan pura-pura lagi lo! Gue nggak percaya!”
Alan terbata, hampir menangis:
“Bukan... pura-pura... sumpah... sakit... tolong... gue nggak bisa...”
Teman-teman mulai panik.
Rinto berlari masuk setelah mendengar keributan.
“Ya Tuhan... itu Alan! Lihat tangannya! Biru lagi! Bengkak parah! Cepat panggil guru!”
Lengan Alan membengkak dalam hitungan detik, membiru mengerikan. Ia hampir pingsan, tubuhnya limbung.
Suasana ruang ganti yang tadinya penuh amarah berubah menjadi kepanikan.
Pintu ruang ganti terbuka. Seseorang masuk.