PoV Nisa
Aku bingung harus mulai mencari dari mana jati diri Syasya. Aku tak terlalu lihai dalam menggunakan medsos. Semua karena aku sibuk mengurus anakku. Tapi, setidaknya aku tahu dan faham.
Aku berfikir sejenak. Aplikasi biru!
Segera saja aku scroll aplikasi pemilik sejuta umat itu. Tak menunggu lama, aku dapat beberapa nama akun yang sama, tapi aku sudah sangat hafal wajah si Syasya itu.
Ketemu! Aku mulai meng-Add ternyata cukup aktif, tak menunggu lama ia meng konfirmasi pertemanan. Mungkin karena aku menggunakan akun Laki-laki hingga responya sangat cepat.
Kuscoll statusnya, yang isinya hanya tentang liburan, makan enak dan jalan-jalan. Lebih kebawah, aku menemukan foto dia berjalan dengan laki-laki gagah yang tentunya bukan suamiku. Beruntung dia juga men-tag akun lelakinya. Aku harus cari tau lewat dia.
Dari laki-laki bernama Samsul itu, aku tahu banyak tentang Syasya. Ternyata dia adalah korban kesekian kalinya dan semua yang pernah dengan Syasya bukan orang sembarangan tapi semua memiliki jabatan. Baik dari yang masih Legan atau bahkan yang sudah beristri macam Mas Arman.
Ini cukup membuat aku dapat membongkar kebusukan Syasya.
[Apa kamu butuh bantuan?] Sebuah pesan pribadi lewat aplikasi biru. Aku mengkerut kan kening, apa mungkin? Sepertinya aku terima, setidaknya untuk cadangan dahulu.
[Boleh, nanti aku kabari jika aku butuh bantuanmu. Tinggalkan nomor yang bisa dihubungi.]
Aku sedikit heran dengan Samsul, Lelaki bergaya mecing dengan jabatan tinggi masih sempat membuka aplikasi sejuta umat. Biasanya kelas kakap macam mereka hanya bermain di IG dan Tweeter.
Kembali, aku juga harus selidiki kekantor Mas Arman. Jika ia pergi selama satu minggu, dan bukan urusan kantor itu artinya ia mengambil cuti. Aku harus segera kesana.
"Bu, aku bisa titip Al dan El dulu sebentar?" tanyaku takut-takut. Karena biasanya akan mendapat penolakan yang membuat hati pilu.
"Kamu mau kemana?" Jawab Ibu sedikit jutek.
Aku berfikir. Tak mungkin berkata jika aku akan kekantor Mas Arman. Pasti dia akan menolak bahkan melarang ku. Apa aku coba cari tahu ya lewat ibu, apakah dia tahu jika Mas Arman menikah lagi.
"Bu, aku mau bicara. Kita sambil duduk." Aku berjalan menuju kursi rotan yang berada di depan rumah ibu mertua.
"Ada apa si, kok kayanya serius banget?" Ibu mulai ngedumel. Aku duduk sambil mengawasi Al dan El yang sedang bermain dedaunan.
"Bu, ibu jangan marah ya sama Mas Arman. Aku hanya ingin menyampaikan agar tak ada salah paham."
Ibu mengangguk, seperti sangat penasaran dengan apa yang akan aku sampaikan.
"Mas Arman menikah lagi," kataku, tak ada sorot kaget jadi aku bisa menduga jika dia tahu sebelumnya. Bahkan mungkin mengizinkan.
"Oh, itu. Kamu sudah tahu? Memangnya Arman sudah jujur?"
Benarkan dugaan ku jika Ibu juga menutupi perselingkuhan Mas Arman.
"Insting istri itu tajam, Bu. Coba saja Bapak menikah lagi! Pasti Ibu akan merasa tanpa Bapak ngomong." Sindirku.
"Hust! Apa-apaan si kamu! Ngga mungkin bapak kaya gitu. Bisa kupotong tuh burung!" Cebiknya. Aku melonggo.
"Apa aku potong saja burung Mas Arman ya, Bu! Hhaa ... Haaa ...." Aku tertawa walau dalam hati menangis.
"Bercanda, Bu!" Aku utarakan itu karena wajah mertuaku sudah tak enak di pandang.
"Aku justru mau ngadain pesta, Bu. Untuk menyambut kepulangan Mas Arman nanti bersama madunya. Ibu bujuk aja Mas Arman pulang dengan membawa Syasya. Aku sudah ikhlas kok tapi jangan bilang aku akan buat kejutan pesta ya, Bu!"
Mata ibu berbinar, dia seperti sangat senang dengan apa yang aku ucapkan. Angin surga aku tiupkan padanya. Hingga ia mau untuk mengasuh Al dan El. Aku beralasan memesan kue dan beberapa keperluan. Soalnya sedikit istimewa aku tak mau mendadak.
"Ya sudah sana! Jangan lama-lama. Kalau bukan urusan Arman, ngga mau Ibu dititipin mereka." Dengus Ibu. Ada rasa nylekit di pojok hati. Begitulah, Ibu tak pernah mau ikut mengasuh cucunya, hingga membuat aku harus selalu repot sendiri. Sedangkan orang tuaku, jauh berada di luar kota.
Aku datang kekantor Mas Arman. Kantor yang berlantai enam itu. Terlihat aktivitas lalu lalang orang keluar masuk walau aku baru di lobi. Ini kali kedua aku menginjakan di kantor Mas Arman yang baru dua tahun Mas Arman di sini.
"Permisi, Pak." tanyaku pada seorang yang tengah berpakaian rapi tapi memegangi baju satpam. Mungkin dia satpam yang belum berganti, tapi ... Ah! Memang satpam sekarang kan tampan-tampan.
"Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" Dengan ramah ia berkata. Aku tersenyum.
"Be-begini, Pak." Aku ragu untuk mengungkapkan.
"Tapi ini rahasia, Bapak jangan bilang sama atasan ya!" Dia menautkan alis.
"Janji dulu!" Aku mengeluarkan jari kelingking untuk di tautkan. Ia ragu, tapi kemudian mau juga. Kubisikan tentang maksud kedatanganku untuk mengecek izin apa Mas Arman kepada kantor.
"Hallo, tolong cek cuti Pak Arman alasan apa?" Dia menelfon entah siapa. Aku senang karena bisa dengan cepat tau tanpa harus masuk.
"Kata pegawai, Pak Arman cuti karena pulang kerumah mertuanya yang sedang sakit."
Deg! Nyeri sekali, aku seketika lemas. Bagaimana ia beralasan pulang kekampungku dan membuat alibi orang tuaku sakit. Sungguh tega kamu, Mas!
"Kamu tak apa-apa?" tanyanya yang melihat aku merembak merah menahan tangis.
"Sini, Pak. Bajunya. Terima kasih sudah bantu pegang kan. Saya jadi ngga enak seorang Direksi mau membantu."
Apa? Di-dia Direksi disini? Aduh mati kalau sampai Mas Arman di pecat gara-gara aku.
"Sa-sa-saya permisi, Pak!" Segera aku berbalik, namun naas aku menabrak tong sampah yang membuat aku jatuh tersungkur.
****
Semua sudah kusiapkan rencana matang. Tentang kepulangan Mas Arman dengan Syasya. Aku tinggal menunggu hari di mana hari terakhir Mas Arman cuti.
"Bagaimana? Apa sudah terkoordinasi! Mereka mau datang?" tanyaku pada Samsul. Ia yang telah mengumpulkan para mantan Syasya yang kelas kakap. Itu saja hanya delapan yang bisa hadir termasuk Samsul diantaranya.
"Siap,Mbak. Kami siap membantu dengan senang hati."
"Terima kasih."
Aku membuka IG, pas dengan Syasya yang baru saja memposting jika dirinya pulang.
"OTW kerumah My husband." Chapter dari foto dirinya yang berpose dengan dress tanpa lengan.
Ini saatnya. Aku hubungi satu nomor lagi. Dia juga banyak membantuku. Dia juga yang menyusun rencana agar aku bisa membuat acara sedemikian rupa.
Kuusap lembut pipiku, air mata ini mengalir dengan sendirinya. Aku tak boleh lemah. Akan aku tunjukan pada mereka siapa Nisa yang sebenarnya. Jangan anggap remeh.
Semua berjalan dengan sebagaimana mestinya. Aku puas melihat Syasya yang gemetar saat mengetahui para mantannya datang, Mas Arman yang wajahnya juga pucat pasi seperti tak berdarah. Juga banyolan tentang Syasya yang di rias seperti badut. Sungguh itu bukan kuasaku. Tapi entah ide siapa. Ternyata itu Pak Denis yang merancangnya. Namun ada beberapa hal yang di luar kendali. Ternyata Syasya tak tahu malu, dia bahkan memanggil teman-temannya hingga membawa minuman keras kedalam rumah.
Semua itu menjadi puncak kemarahan Mas Arman. Ia menyeret ku menuduh aku yang telah melakukan itu. Sengaja membuat Syasya mabuk. Padahal aku tak tahu sama sekali jika Syasya pecandu minuman keras.
Terjadi keributan yang tak kuinginkan. Hampir saja Mas Arman berduel dengan Pak Denis. Aku sedikit tersentak saat Pak Denis dengan terang-terangan dihadapan semua orang bahwa dia akan merebutku dari Mas Arman jika aku terus tersia-sia.
Semua sudah bubar. Kini tinggal aku, Mas Arman dan Syasya yang sudah tertidur. Aku memilih masuk saat pemandangan yang tak enak dipandang.
Mas Arman mengendong Syasya masuk kekamar. Kali ini aku tak kuat, aku lemah. Masih ada rasa tak ikhlas di lubuk paling dalam.
Kututup pintu dengan rapat. Terduduk di belakang pintu, meraung, menangisi nasib. Aku harus kuat, demi memberi pelajaran pada lelaki yang menuntut kesempurnaan dan wanita gila penampilan.
====!!!???====