Deritaku, bukan deritamu!

1004 Kata
PoV Nisa. "Nis! Aku pulang ...." Suara Mas Arman dari arah pintu langsung membuat aku yang tengah sibuk mengasuh putra kembarmu bergegas menyambutnya. Kucium tangannya dengan takzim walau penuh perjuangan, karena kedua tanganku mengendong Al dan El. "Anak papa udah mandi?" tanya Mas Arman mencoel pipi Al dan El. "Udah dong, Pah." Aku yang menjawab, kini El berusaha berontak meminta turun dari gendongan. Mas Arman tak membantu, dia malah memberikan tas yang ia bawa. Aku makin kesusahan. "Anaknya udah mandi, ibunya masih kumel. Suami kerja disambut sama daster bolong. Emang ngga ada baju lain?" Mas Arman ngedumel sambil berlalu tanpa menatapku. Aku menghela nafas berat. Andai kamu tahu, Mas. Menjaga anak kembar yang sedang aktif-aktifnya itu menguras tenaga. Jangankan untuk mandi, boker aja mesti di tahan sampai mereka atau salah satunya tertidur. Hufh ... Tentu semua hanya aku ucapkan dalam hati. "Nis! Buatkan aku kopi!" teriaknya dari depan TV. Aku yang tengah menyuapi Al dan El di depan rumah langsung bergegas masuk. Tentu membawa mereka. "Jagain sebentar, Mas!" titipku pada Mas Arman yang hanya di jawab anggukan tanpa beralih matanya dari layar handphone. Baru sampai dapur, sudah terdengar tangisan kedua anakku. Aku langsung berlari. Benar dugaanku jika mereka berebut mainan yang akhirnya membuat salah satu diantara mereka mengalami bibir pecah. Mungkin karena kena lempar mainan. "Mas di suruh jagain aja sebentar udah kaya gini!" Gerutuku karena sedikit kesal. "Lah, salah mereka. Ngapain berebut. Sesama saudara itu harusnya akur. Ajarin dong!" "Astaghfirullah!" Aku hanya beristigfar. Bagaimana caranya agar anak usia dua tahun tahu jika mereka harus berbagi. Mereka belum memiliki nalar. Aku mengelus d**a. Ia tetap tak bergeming, hanya memainkan HPnya. "Nis!" Aku tersentak kaget, saat Mas Arman membangunkanku di kamar anak-anak. "Iya, Mas?" Aku mengucek mata. "Kenapa ketiduran? Uhh ... Masih bau lagi! Kamu belum mandi?" tanya Mas Arman. "Maaf, Mas. Aku kecapaian. Ngga sempet mandi. Ngga ada yang gantiin jaga Al dan El." "Alasan kamu! Bagaimana suami mau betah kalau begini!" Dia ngedumel sambil berlalu. Aku bangkit dan pindah kekamar, setelah sebelumnya mandi dan salat. Aku mencari Mas Arman, tapi tak kutemukan. "Kemana dia?" batinku. Aku mencari kedepan kedapur hingga sampai di belakang. Aku mendengar sesuatu. Mas Arman tengah menelfon? Siapa yang dia telfon. Aku berjalan mengendap, memposisikan agar Mas Arman tak tahu jika aku menguping. Nyatanya Mas Arman tengah melakukan VC yang entah dengan siapa. "Andai istriku bisa cantik seperti kamu tiap hari. Pasti aku ngga merasa kecewa. Kamu cantik dengan berdandan seperti itu." Deg! Hati ini bagai di tusuk sembilu, ternyata Mas Arman suka memuji wanita lain. Ada sakit di d**a sini. Aku memilih meninggalkan tempat itu. Telingaku panas mendengar Mas Arman terus memuji wanita dalam HPnya. Air mata menitik. Segera aku usap secara halus. Aku tak boleh menangis. Aku memang salah, aku tak bisa secantik dulu. "Mas, bagaimana kalau kita cari baby sitter agar aku tak kewalahan mengasuh Al dan El. Agar aku punya waktu merawat diri." Pintaku kala itu, saat Mas Arman tengah membuka lembaran maps didepannya. Sedetik ia menghentikan aktivitasnya, "kalau kita pake baby sitter bagaimana aku bisa punya mobil baru!" Jawaban itu membuat aku bungkam, aku mencoba memahami kondisi suamiku. Berharap ia juga mengerti kondisiku. Namun, nyatanya aku dibuat makin tak berdaya saat aku mengetahui tanpa sengaja chat mesra dari seorang wanita. "Syasya!" nama yang tertera di layar. Dengan chat sebuah ucapan terima kasih karena telah datang melamarnya. Ada yang patah didalam hati. Tak menyangka jika Mas Arman menghianati pernikahan kita sampai begitu jauh. Apa aku akan mendapat madu? Aku menangis sendiri. Nyatanya seseorang yang bisa tegar pasti pernah merasa terpuruk serendah-rendahnya. Aku menangis saat Mas Arman pergi dan berusaha bersikap biasa saat dia di rumah. Bukan? Bukan aku tak mau protes atau mengungkap perselingkuhan nya. Namun, apa yang akan kita dapat saat seseorang sedang di mabuk asmara, kemudian diganggu harus di bubarkan. Hasilnya jelas mengecewakan. Aku ingin Mas Arman sadar dengan sendirinya dan mengakui segala kekhilafan nya. Aku berfikir keras untuk segera membuat Mas Arman sadar. Jika istrinya yang di rumah itu lebih mulia. Akan aku cari siapa dan bagaimana seluk beluk pacar Mas Arman. Jika dia lebih shalehah. Aku akan ikhlas untuk berbagi hati, namun jika ternyata dia hanya bongkahan batu, aku akan mengungkapnya hingga Mas Arman sadar dan kapok. Bagaimana aku mulai mencari tahu tentang Syasya? Aku mengetuk meja dengan satu tangan di kepala. "Media sosial!" Aku yakin dari medsos dapat aku temukan jejak Syasya dan pasti mereka berteman. Aplikasi bergambar kamera, kuklik. Kucari nama Syasya pada pengikut Mas Arman. Ternyata tak terlalu susah. Aku menemukannya. "Syasya Kumala!" Nama lengkap di IG-nya. Kuikuti dia, tentunya dengan akun palsu dan foto palsu. Bisa curiga kalau pake nama asli. Berhasil! Tak menunggu lama, aku dapat melihat postingannya. Tak salah jika itu Syasya yang sama yang saat itu WA Mas Arman. Aku mencoba memahami setiap postingan nya. Nyatanya ia lumayan aktif pada aplikasi itu. Setiap kegiatan selalu ia posting. Bahkan sampai saat makan dengan Mas Arman. Walau ia hanya memoto tangannya dan tangan lelaki itu, tapi aku seorang istri tak akan pangkling dengan suaminya. Aku mulai membiasakan diri, menata hati, mengurangi frekuensi rasa cinta pada Mas Arman agar tak merasakan terlalu sakit. Aku fokuskan untuk sepenuhnya mencintai anak-anakku saja. Sulit? Sulit sekali, tapi nyatanya aku sedikit bisa, tak terlalu terbawa perasaan saat melihat Mas Arman senyum sendiri dengan HPnya. Akan aku lepaskan dengan ikhlas tanpa beban namun, sebelum itu. Aku akan membuat Mas Arman menyesali setiap perbuatannya. "Satu minggu menuju SAH." Status yang baru saja di kirim Syasya membuat aku membelalakkan mata. Artinya seminggu lagi Mas Arman akan menikahi Syasya tanpa sepengetahuanku? Oke! Kita lihat sampai mana kebohongan Mas Arman untuk ini? "Nis! Mungkin Minggu depan Mas di kirim ke Surabaya selama satu minggu." Katanya bagi itu saat aku meletakan pakaian kerjanya. aku melirik. "Baik, Mas! Apa perlu aku siapkan keperluanku?" "Ta-tak usah, biar aku saja yang memilih baju mana yang akan di bawa. Kamu urus Al dan El saja. Awasi dia jangan sampai terluka." Cuih! Manis sekali, apa dia kira aku tak tahu maksud dibalik ucapan yang manis tapi sebenarnya racun? Baik! Kita mulai sandiwara ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN