"Maaf, Pak! Jangan campuri urusan keluargaku. Aku hanya mendidik istriku agar tak kur*Ng ajar!" Aku sudah betul-betul emosi, lelah! Padahal belum ada sehari aku membawa Syasya satu rumah dengan Nisa.
"Ini menjadi urusanku ketika kamu sudah mulai ringan tangan kepada perempuan! Kamu sudah keterlaluan memperlakukan dia, Man. Dia sudah berbesar hati menerima poligami tapi kamu justru makin semena-mena!" Lagi, Pak Denis seperti membela penuh pada Nisa. Aku makin curiga mereka memiliki hubungan.
"Tapi yang ia lakukan sudah salah! Dia membawa barang haram kerumah!" Aku tak mau disalahkan.
"Kamu yang harusnya mikir, tanyakan apa benar dia yang membawa minuman itu kesini dan memberikan pada Syasya?!"
"Tak perlu, aku sudah tahu semuanya, dia biang kerok dari semua masalah, bahkan Tek segan mempermalukan Syasya didepan semua orang." Aku kembali menarik tangan Nisa. Nisa tak melawan tapi tatapan matanya sudah menyiratkan kemarahan besar. Bodo amat!
"Kamu!" Pak Denis maju, mencekal kerah bajuku dan menepis tanganku yang tengah memegangi tangan Nisa.
"Kalau kamu berbuat kasar pada Nisa! Jangan salahkan aku merebut paksa darimu!" Aku membelalakkan mata, tak menyangka jika pak Denis benar memiliki rasa pada Nisa. Sial! Tak akan aku biarkan.
Dia melepaskan tangannya pada kerahku dengan kasar. Membuat aku terhuyung hampir oleng. Untung aku berusaha menyeimbangkan bobot.
Aku membenarkan kerah bajuku yang kusut akibat cekalan Pak Denis. Ia bisa sombong padaku tapi tak mudah baginya merebut apa yang sudah menjadi milikku!
"Aku tak takut padamu, Pak!" Hentakku dengan menggulung lengan. Siap untuk beradu.
"Hentikan!" Kali ini suara lantang Nisa terdengar. Sepertinya ia ingin menjadi pahlawan kesiangan.
"Kamu, Mas!"
Plakk!
Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Berani benar ia menamparku, tak tahukan aku bisa mencekiknya sekarang juga.
Nisa memalingkan badan, diseretnya kedua wanita yang dari tadi terlihat ketakutan.
"Tanyakan padanya, siapa yang menyuruh membawa masuk minuman keras itu!" Nisa menyodorkan wanita itu tepat di hadapanku.
"Ma-maaf, Pak. Sa-saya hanya di suruh membeli oleh Syasya. Di-dia bilang sudah minta izin sama Bapak!"
Apa? Aku membelalakkan mata tak percaya, kutatap Syasya yang terlihat santai. Aku yakin dia sudah terpengaruh oleh minuman itu.
"Jangan kamu memenupilasi, Nisa! Memutar balikan fakta." Aku masih belum yakin tentang penuturan kedua wanita itu.
Nisa tersenyum mengejek.
"Secinta apa kamu pada wanita itu, hingga kamu tak mempercayai semua apa yang ia perbuat, Mas!" Kali ini nada Nisa sudah tinggi. Baru kali ini aku melihatnya. Wajah yang kulihat tenang dalam setiap pembawaan, bahkan saat aku tadi datang bersama Syasya. Kini nampak sudah bagai singa yang siap menerkam.
"Kalau kamu lebih percaya padanya! tanpa dia menjelaskan sekalipun seperti ini. Maka aku putuskan, untuk menggugat cerai sekalipun kamu tak mau menceriakan ku! Tak Sudi aku berbagi suami yang sama sekali tak bisa adil!"
Krees!
Kata-kata Nisa mampu menamparku, kenapa aku seperti ini ... Kenapa aku emosi sampai tak melihat mana yang benar dan mana yang salah. Aku menghakimi Nisa dengan satu pihak tanpa mendengarkan pihak lain. A-aku sudah dzolim pada Nisa didepan umum, bahkan menantang Pak Denis atasanku. Pasti dia akan segera memecatku secepatnya.
"Nisa." Kali ini aku memanggil dengan nada pelan, aku sadar aku telah salah dan khilaf.
Dia melengos, membuang wajah padaku. Aku merasa kali ini benar-benar salah. Aku terlalu terbawa emosi hingga tanpa sadar aku telah memfitnahnya. Mungkin ini efek karena lelah. Lelah dengan keadaan ini, lelah dengan semua yang awalnya aku buat sendiri. Andai ... Aku tak menikahi Syasya. Mungkin ... Ah! Kenapa aku jadi menyesal. Bukankah, aku juga sudah mereguk manisnya madu bersamanya. Aku bukan lelaki pengecut seperti para mantan Syasya, yang melepaskan begitu saja setelah mencicipi. Namun, jika dengan kehadiran Syasya membuat rumah tanggaku dengan Nisa hancur! Lantas apa yang aku perjuangkan. Huffh ....
"Jaga istrimu baik-baik, hargai dia, hormati dia dan sayangi dia! Kalau tidak selain akan saya pecat, saya juga akan mengambilnya!"
Deg!
Ucapan Pak Denis seperti menamparku. Bagaimana seorang Direksi masih mau dengan Nisa yang notaben-nya hanya ibu kumel yang malas dandan. Sedangkan Pak Denis memang kutahu masih bujang. Usianya denganku saja lebih muda sekitar 7 tahunan.
Aku terpekur, saat Pak Denis pergi dan rekan-rekan lain meninggalkan rumah ini. Mereka pergi dengan tawa dan mengejek. Seolah apa yang terjadi padaku semua, hanya lelucon saja.
Aku mendengus kesal, mencari Syasya yang ternyata sudah tidur di kursi. Dia sepertinya mabuk berat. Aku begitu kesal padanya. Kenapa ia tak tepati janji untuk tak kembali menyentuh minuman har*m itu!
"Sya, Bangun!" Aku menguncang tubuhnya, dia sama sekali tak bergerak. Duh ... Menyusahkan saja. Terpaksa aku harus mengendongnya.
Suasana sudah lengang. Tak ada satu orangpun yang masih terlihat. Bahkan aku tak melihat Nisa. Mungkin kah sudah masuk kamar? Biarkan saja.
Aku angkat tubuh Syasya yang bahenol, dia melingkarkan tangannya pada leher, walau dengan mata tertutup aku yakin dia merasakan gendonganku. Ih, dia manis sekali. gumamku melangkah kan kaki masuk kekamar tamu.
Aku segera beranjak keluar saat Syasya sudah terbaring di ranjang. Tadinya aku ingin memberi tahu jika Nisa harus merapikan semuanya seperti semula. Namun, sebenarnya bukan cuma itu, aku juga kangen dengan Nisa.
Masih mau kah dia aku rindukan? Sedangkan peristiwa tadi pasti sangat membuat luka hatinya makin mengangga.
Maafkan aku, Nisa!
===!!??!!===